
Audisi sudah di mulai dengan Yibo menjadi salah satu juri. Semua model profesional dan baru, mulai mengikuti arahan panitia audisi. Berbagai model yang telah memiliki nama ikut bersaing kali ini untuk merebutkan posisi sebagai ambasador majalah terkenal yang pastinya akan mengubah nasib siapa pun yang akan mendapatkan kontrak eksklusif itu.
Zhan modar-mandir di depan ruang audisi tidak tenang. Terdengar sorak sorai dari dalam ruangan audisi itu menandakan audisi resmi telah dimulai. Perasaan Zhan campur aduk kali ini, dia begitu ingin mengikuti audisi itu, mewujudkan mimpinya sebagai model internasional. Tetapi di lain pihak, dia harus profesional, karena saat ini dia tengah bekerja, dia harus rela melepaskan kesempatan itu.
"Zhan, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Zhan terkejut saat tiba-tiba Bro Ji menegurnya.
"Ah, Bro Ji, aku ...." Zhan kesusahan mencari alasan.
"Sudahalah, cepat kau kembali ke apartemen Yibo, siapkan baju ganti untuknya."
"Ah, baiklah, Bro Ji," jawab Zhan lemah.
Zhan segera meninggalkan kantor agency itu. Dia diberi tahu jika setelah acara ini selesai, mereka akan langsung menuju lokasi syuting film terbaru Yibo yang berada jauh dari kota, tepatnya berada di daerah pengunungan di pinggir kota.
Dengan langkah lunglai Zhan kembali ke apartemen Yibo dan meninggalkan audisi yang tengah berlangsung.
Zhan kembali setelah acara itu selesai, segelintir orang membicarakan siapa yang terpilih menjadi model majalah itu. Dia menunduk lemah saat nama Mo Xuanyu digadang-gadang sebagai kandidat satu-satunya yang pantas mendapatkan project itu.
Zhan hanya bisa mengembuskan napas kasar sambil bersandar di salah satu pilar bangunan megah Star Agency---meratapi nasib. Tanpa diduga Gege tampan yang memberikannya kartu nama waktu itu melintas di depannya.
"Hai, kau terlambat! Audisi sudah selesai, " sapanya saat melihat Zhan.
"Ah, Gege, maaf aku tidak bisa ikut audisinya," katanya pelan dengan mata menahan tangis.
"Eh, Jangan bersedih." Haikuan Ge mencoba menenangkan Zhan.
"Karena begitu banyak yang berminat mengikuti, maka audisi akan di adakan lagi minggu depan, jadi kau bisa ikut untuk audisi berikutnya," ucap Gege tampan itu.
"Ah, benarkah, Ge?" tanyanya riang tidak percaya. "Terima kasih, Ge!! Aku pasti akan datang minggu depan, pasti!!" ucap antusias Zhan yang tanpa sadar memegang tangan Kuan Ge.
Sedangkan di ujung lorong terlihat Xuanyu sedang memperhatikannya. "Sungguh bajingan kecil itu sangat pandai merayu, setelah Yibo tidak dia dapatkan sekarang dia mengincar kakaknya."
_______
Setelah sekian lama disibukkan, akhirnya malam ini Zhan mempunyai kesempatan untuk menghubungi Leon, dia menceritakan tentang kekesalannya kepada teman terdekatnya itu, tentang audisi model yang harus tertunda gara-gara bosnya. Lalu berlanjut dengan mengadukan sikap bosnya yang mendadak mencurigakan. Dia dengan polosnya menceritakan tentang bagaimana bosnya itu memeluknya dengan paksa dan juga Zhan utarakan bagaimana bosnya itu sering kedapatan tengah memperhatikannya diam-diam.
Awalnya Leon merasa itu hanya halusinasi Rubby, menceritakan dia tidak dapat mengikuti audisi majalah, karena kenyataannya Xuanyu berhasil menjadi yang terfavorit di audisi hari ini, dan tinggal menunggu saingannya minggu depan, lalu para juri memilih yang terbaik. Namun, saat menceritakan sikap bosnya yang memaksanya, tiba-tiba ada rasa marah di hati Leon, membuatnya emosi, setelahnya, mereka kembali menyusun rencana jahat, lebih tepatnya, Leon yang merencanakan itu semua dengan Rubby hanya mengikuti.
____
Beberapa hari telah berlalu, hubungan Yibo dan Xuanyu menjadi semakin akrab, Yibo sebenarnya ingin mengungkapkan siapa dia sebenarnya, tetapi tanggal yang mereka sepakati tinggal beberapa hari lagi, jadi dengan sabar Yibo menunggu kejutan itu.
Yobo awalnya begitu yakin jika Xuanyu adalah Red Rubby teman spesialnya di dunia maya, tetapi semakin dia dekat dan sering mengobrol, banyak kejanggalan yang dia dapati yang membuatnya ragu.
Salah satunya adalah saat dirinya bertanya tentang turnamen games kepada Xuanyu, dia mengetahui, tetapi tidak sedetail yang Yibo mau.
Terakhir yang membuat Yibo a.k.a Leon menjadi ragu adalah saat dia bertanya kepada Rubby, 'apa kau pernah berciuman sebelumnya?' dengan tertawa dia berkata, jika dia saja belum pernah berpacaran, bagaimana mungkin sudah berciuman, katanya jujur tanpa terlihat adanya kebohongan di sana, lalu ciuman panas di sofa itu? Tiba-tiba kepala Yibo pusing, mendadak dia berharap jika orang yang kemarin dia cumbu dengan mesra itu adalah Rubby, tetapi kenyataanya dia salah orang. Jadi saat ini dia hanya bisa bersabar menunggu waktu di mana mereka akan bertemu, semua pasti akan terungkap.
______
Yibo berjalan bergegas meninggalkan lokasi syuting, menuju lokasi berikutnya. Hari ini sungguh jadwalnya begitu padat, dia harus segera bergegas pergi ke stasiun tv terkenal sebagai bintang tamu di acara talk show live. Sebuah acara yang yang sangat berpengaruh untuk keberlangsungan karirnya sebagai seorang entertainment. Namun, setibanya Yibo di tempat parkir mobilnya, dia benar-benar merasa begitu jengkel. Yibo mendapati ke empat ban mobilnya kempes, tak cukup waktu untuk mengganti, ditambah saat ini dia berada di tempat Syuting yang terletak di tengah gunung yang jauh dari bengkel.
Mereka bertiga hanya menatap lemas ke arah mobil itu. Sekilas tampak terukir senyum di bibir Zhan, tipis, hingga rasanya tak mungkin ketara jika tidak benar-benar diperhatikan.
"Yibo, apa yang harus kita lakukan? Kau harus tiba sebelum pukul tujuh malam dan ini sudah jam empat sore," keluh Ji yang merasa khawatir karena jadwal berikutnya yang begitu penting, sedangkan menuju stasiun tv tempat diadakannya acara itu saja butuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan.
Yibo tampak sedang berpikir, pandangan matanya menjelajah menyusuri ke berbagai tempat, sampai akhirnya matanya tertuju ke sebuah motor sport dengan jok menungging milik salah satu staff film.
Zhan sepertinya sudah bisa menebak, apa yang ada di pikiran bosnya itu. Sebuah ide gila terlintas di pikiran Zhan. Sebelum Yibo membuka suara, dia sudah lebih dulu bicara.
"Bos, tidak mungkin kita mengendarai motor bertiga, jadi lebih baik, kau saja yang pergi berdua dengan Manager Ji jika begitu, biar aku di sini saja menunggu ban mobilmu diganti." Belum rapat mulut Zhan berbicara tangannya sudah ditarik ke arah motor sport itu.
"Aku yang akan mengendarainya, kau ikut denganku!" perintah Yibo yang membuat Zhan pucat, ini tidak seperti yang dia harapkan.
Saat ini, seharusnya Zhanie sedang menikmati indahnya bersantai, berendam air panas pegunungan tanpa ada bosnya di sekitarnya. Bukan seperti ini, malah sedang memeluk dengan kencang lelaki yang sangat dia benci itu.
Sudah beberapa minggu telah berlalu sejak Zhan bekerja dengan Yibo, namun genderang perang di kedua kubu masihlah ditabuh. Zhan yang selalu menjadi korban dan di perlakukan tidak adil oleh lelaki itu, mulai melawan sekarang, tetapi bosnya itu masih saja menyuruhnya melakukan berbagai tugas yang tidak masuk akal, bahkan dia tidak tahu tempat dan waktu, membuat Zhan kesal. Maka, diam-diam dengan temannya Leon, dia merencanakan bagaimana membalas dendam dan mengerjai balik lelaki itu.
Ya, seperti saat ini, keempat ban mobil itu tidak mungkin bocor secara bersamaan, ya ... tepat sekali! itu adalah saran yang diberikan Leon kepadanya, untuk membuatnya kesal. Tetapi apes buat Zhan yang malah dipaksa ikut dengannya, bahkan sekarang Zhani-lah yang menjadi pihak yang dirugikan, karena sudah berkali-kali Yibo menarik tangannya ke perut rata hanya agar Zhan mau berpegangan, ini sungguh tindakan pemaksaan, tetapi mau bagaimana lagi, di udara yang begitu dingin ditambah Yibo mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, akhirnya tidak ada jalan lain selain mereka saling menghangatkan.
Detak jantung Zhan tidak dapat di kontrol saat ini. Harum tubuh Yibo dan parfum tercium dengan jelas, seolah menyatu dan memaksanya untuk menghirup dan mentatoonya di otak permanen.
Angin dingin menerpa wajahnya, tanpa sadar Zhan mulai menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung bosnya itu, sampai akhirnya motor berhenti di tempat tujuan. Yibo diam sesaat tidak langsung bergerak seolah memberikan waktu orang diboncengannya untuk turun. Namun, dengkuran halus terdengar di sertai perasaan dingin di punggungnya. Wajah Yibo memerah, dia dapat duga jika orang di belakangnya kini sedang tertidur pulas.
"Bisa-bisanya manusia bodoh ini tertidur!" gerutu Yibo, yang langsung turun dari motor dengan sengaja yang membuat Zhan kaget, keseimbangannya goyang, spontan Zhan mencari pegangan sebelum jatuh. Tangannya menggapai apa pun yang ada di depannya dan ....
Breeett ...
Suara bahan tersobek. Zhan menatap takut ke arah lelaki angkuh yang kini berdiri di depannya, matanya membola setelah melihat penampakan kemeja lelaki itu, 2 buah kancing terpental, sebuah robekan memperlihatkan dada bidang di antara lubang yang Zhan buat. Tangannya masih memegang bagian kemeja yang robek dengan linglung. Belum sadar betul apa yang sedang terjadi.
"Ahh ... maafkan aku Bos... aku tidak sengaja!" Zhan mulai panik, setelah baru saja menyadari kesalahannya. Yibo hanya diam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar, lalu berbalik dan langsung pergi segera meninggalkan Zhan di parkiran itu dengan rasa bersalahnya.
.
.
.
Sudah hampir satu bulan Zhan bekerja dengan Yibo, hampir setiap saat hidupnya tidak tenang, asistennya itu selalu buat keributan yang membuat Yibo kesal, berkali -kali Yibo membuat rencana untuk mendepak asistennya itu agar pergi, tetapi selalu gagal. itu waktu di awal, karena saat ini sepertinya Yibo sudah jauh mengenal dan memaklumi semua kelakuan Zhan.
Sebulan sudag berlalu. Hari ini tepat tanggal gajian pertama Zhan, dengan semangat dia meminta izin untuk mengambil libur esok hari kepada bosnya, Awalnya Yibo tidak ingin mengizinkan, tetapi karena Zhan memohon, dan dia menjadi anak baik akhir-akhir ini, Yibo merasa tidak tega juga dan akhirnya mengizinkan.
Setelah di izinkan, Zhan langsung sibuk memainkan ponselnya, sepertinya sedang bertukar pesan dengan seseorang, yang membuat Yibo sedikit curiga, dan tidak lama ponselnya ikut berbunyi dan setelahnya dia sibuk bertukar pesan dengan seseorang yang diam-diam telah mencuri hatinya itu, tidak lagi peduli lagi dengan kehadiran Zhan.
Leon, aku sudah gajian, aku akan membayar hutangku, besok aku free, kita ketemuan, yuk!
Sebuah pesan masuk di nomor ponsel Leon.
Baiklah, di mana kau ingin kita bertemu?
Di depan toko buku di jl xxx jam sepuluh.
Ok
kesepakatan telah dibuat, setelah selesai dengan pekerjaannya, Zhan pergi berbelanja, dia membeli beberapa setel pakaian baru dengan niat akan digunakan saat bertemu dengan seseorang yang special di hidupnya untuk pertama kali.
Malamnya Leon tidak dapat tidur nyenyak, dia memikirkan bagaimana esok hari, jantungnya terus berdetak kencang, begitu tidak sabar.
.
.
.
Keesokan harinya, Zhan menunggu dengan tenang di depan toko buku, dia memakai pakaian baru yang kemarin dia beli, sungguh tampak manis dan imut secara bersamaan, sebenarnya Zhan sendiri merasa aneh, mengapa dia harus berdandan sebegitu keren hanya untuk bertemu seorang Leon? Menjadikannya seolah-olah ini adalah kencan buta pertamanya.
Jantungnya berdetak kencang tidak sabar menunggu sahabat terbaiknya itu yang sudah membantunya untuk bisa bertahan hidup di kota yang sangat kejam ini, dan satu-satunya orang yang mendukungnya saat dia ingin menyerah, Leon.
Sepuluh menit terlewati dari waktu yang telah mereka sepakati, dengan Zhan memeriksa ponselnya setiap menitnya, khawatir jika ada pesan masuk dia tidak mengetahuinya.
Leon kau dimana?
Tidak ada balasan.
Di seberang jalan, tampak pemuda yang sedang berdiri pucat di depan pertokoan, tangannya bergetar sambil memegang cup kopi, dan samar terdengar suara pesan masuk bertubi-tubi dari ponselnya yang dia abaikan. Pemuda itu hanya berjarak sepuluh meter dari toko buku yang mereka telah sepakati. Seorang aktor, model, dan penyanyi yang sedang naik daun itu menggunakan pakaian sangat rapat dan masker yang membuat orang-orang di sekitarnya tidak mengenalinya, pemuda itu adalah, Wang Yibo.
Dan setelahnya dia menjatuhkan kopinya dan pergi meninggalkan pemuda satunya lagi yang sedang celingukan di depan toko buku.
Setelahnya sebuah pesan masuk ke ponsel Rubby, dari seseorang yang sejak tadi dia nanti.
Maaf, aku ada pekerjaan dadakan.
Hanya jawaban itu yang Zhan terima, dan dengan wajah kusut dia kembali.
.
.
.
Zhan telah kembali ke kosannya setelah seharian pergi tanpa tahu arah untuk melepaskan kekecewaan dan penat di pikirannya, Leon yang setelah mengirim pesan terakhir tadi, dadakan nomernya tidak dapat di hubungi lagi, membuat Zhan frustasi.
Zhan sedang duduk merenung, sampai akhirnya Bro Ji menghubunginya, dan memintanya untuk menjemput Yibo di salah satu club malam, waktu masih menunjukan pukul sebelas malam, tetapi bocah itu sudah mabuk-mabukan sungguh idol yang tak patut di contoh! Gerutu Zhan.
Zhan tiba setengah jam berikutnya, dan tampak di sana teman-teman Yibo sesama aktor sedang berkumpul, tampak Yibo biasa saja tidak menampilkan orang yang sedang mabuk atau kehilangan kesadaran, membuat Zhan tambah kesal melihatnya.
"Kau bisa pulang sendiri, kenapa harus meminta Bro Ji untuk menyuruhku menjemputmu, di mana ponselmu!" tanya Zhan kesal, karena hari ini harusnya dia tidak lagi berurusan dengan bos yang dia benci itu, tetapi pada kenyataannya, tetap dia harus bertemu dengan bosnya itu. Sungguh takdir mempermainkan mereka. Satu sisi dia berdoa untuk segera bertemu dengan Leon di satu sisi dia berdoa untuk di jauhi dari Yibo. Tetapi doanya hari ini menjadi keterbalikkan semua untuk Zhan.
Pintu apartemen terbuka dan langsung Zhan mendorong Yibo untuk segera masuk, dia ingin segera pulang ke kosannya untuk tidur, tapi sebelum pintu itu ditutup, sebuah tangan menariknya masuk kembali, mendorongnya ke balik pintu yang membuat pintu itu otomatis terkunci.
Belum sempat Zhan mencerna apa yang terjadi, sebuah ciuman paksa dia terima, membuat otaknya tidak dapat berpikir, baru setelah tangan Yibo menyentuh pinggangnya dan mencoba memasuki kaos putih itu Zhan tersentak dengan yang sedang terjadi.
Sekuat tenaga Zhan mencoba melepaskan tautan bibir Yibo yang semakin menuntut, tetapi semakin Zhan berusaha melawan, semakin ciuman itu dalam memaksanya.
Pertahanan Zhan akhirnya ambrol dan membiarkan Yibo menciumnya, baru setelah hampir sepuluh menit ciuman itu terlepas dengan Zhan kehabisan napas.
Saat ini leher jenjang Zhan yang menjadi sasarannya, sebuah kissmark dan gigitan telah tercetak di leher putih itu, spontan Zhan mendorong tubuh Yibo setelah merasa ada celah, dan ....
Plak...!!!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Yibo membuatnya sadar.
Zhan membalikan tubuhnya berniat ingin membuka pintu dan pergi, tetapi pada kenyataannya tangan kekar itu telah lebih dulu memeluknya dari arah belakang. Dia membenamkan kepalanya di leher Zhan sambil memeluk erat, seolah-olah dia tidak rela ditinggalkan.
Zhan terus berontak dan akhirnya berhenti setelah mendengar ucapan Yibo.
"Zhan apa itu adalah ciuman pertamamu?" Pertanyaan Yibo yang membuat hati Zhan semakin sakit dan merasa terhina.
Dia melepaskan pelukan Yibo dan berbalik ke arah Yibo dengan tatapan tajam.
"Apa kau puas sekarang, telah melakukan ini padaku? Apa sekarang kau merasa bangga setelah mempermainkan orang sepertiku?" Dengan air mata yang terus berjatuhan di pipi pucat itu." Tuan, aku memang orang miskin yang datang dari kampung mengadu nasib, tapi aku bukan seorang murahan yang bisa kau perlakukan sesukamu!"
Yibo tersentak dengan kata-kata itu, kata-kata yang sering Red Rubby katakan, dia yang selalu menyebut dirinya seorang anak miskin dari kampung yang pasti menjadi orang sukses di kota.
Suara pintu terbanting membuat Yibo tersadar, jika orang di hadapannya kini telah pergi.
TBC...