
Zhan kembali dengan wajah tidak enak, bukan dia tidak senang karena akhirnya mendapatkan kontrak kerja itu, tetapi wajah kecewa Yibo tidak dapat Zhan lupakan saat meninggalkan ruangan tadi, mungkin semua orang akan melihat kemarahan dan emosi di sana tapi berbeda dengan yang terlihat di mata Zhan.
Setelahnya Zhan menghubungi Jili, dia meminta saran darinya untuk bagaimana menjalani hidup kedepannya bersama Yibo.
Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya Zhan memutuskan tetap bekerja seperti biasa hingga semua benar-benar jelas seperti yang Jili katakan, akhirnya Zhan bisa tidur dengan tenang malam ini.
Pagi-pagi sekali seperti biasa Zhan datang ke apartemen Yibo mempersiapkan sarapan dan membuatkannya kopi. Sedangkan Yibo hanya diam tak bergerak bersandar di tiang pintu memperhatikan Zhan dari belakang, tatapannya tidak bisa di mengerti begitu dalam dan sendu.
"Zhan ... " Tiba-tiba suara serak terdengar di telinganya begitu terasa dekat dan bersamaan itu sebuah pelukkan dia rasakan di tubuhnya, sebuah tangan kokoh melingkar sempurna di pinggangnya, membuat Zhan spontan berontak, tetapi pelukan itu semakin erat dan sebuah rasa dingin dan basah terasa di pundaknya, setelah beberapa saat, terdengar suara isak tangis yang begitu halus, barulah Zhan berhenti meronta, membiarkan seorang yang angkuh itu meluapkan emosinya.
Dengan lembut Zhan sentuh rambut itu dan berkata, "Ada apa? Kau bisa menceritakan keluh kesahmu kepadaku jika kau butuh teman cerita," tawarnya dengan senyum manisnya yang membuat hati menjadi hangat.
"Jangan pergi," hanya kata-kata itu yang bisa Yibo katakan yang membuat Zhan bingung.
"Bukannya kau sangat membenciku? dan sangat ingin lepas dariku?" tanya Zhan yang tak mendapat respon dari Yibo
"Apa pun yang terjadi aku tidak akan memutuskan hubungan denganmu!"
"Bos, apa segitunya kau membenciku, hingga kau tidak ingin melihatku bahagia?" Saat ini Zhan sudah berbalik dan kini posisi mereka saling berhadapan. Ada kilat emosi di mata itu saat dia menatap Zhan.
"Kau anggap aku apa Zhan?" tanya Yibo yang membuat Zhan bingung.
"Kau adalah bosku, kau mau aku menjawab apa?" jawab Zhan yang masih bingung sambil menatap mata indah sayu itu yang saat ini berisi keputusasaan.
"Baiklah, jika kau hanya menganggapku seperti itu." Yibo segera berlalu meninggalkan Zhan , lalu setelah beberapa langkah dia menoleh. "Btw, kopi buatanmu masih terasa manis di lidahku, mungkin kau bisa menambahkan sedikit garam lagi." Zhan membeku, dia begitu khawatir jika bosnya akan membalasnya kembali dan dia juga begitu bingung dengan sikap bosnya barusan yang menangis di pundaknya.
Sungguh anak ini tidak mudah di mengerti.
.
.
.
Hujan turun malam ini begitu deras membuat Zhan tertahan di apartemen Yibo, sebenarnya Zhan telah berada di rumahnya sejak sore, dia sedang bersantai manja saat tiba-tiba suara telpon berbunyi dari Jili yang memintanya untuk kembali ke apartemen Yibo untuk mempersiapkan acara esok pagi.
Zhan begitu jengkel, dia seharian bersama Yibo tapi tidak sekalipun dia bicara tentang acara besok, bahkan saat dia izin pulang pun sikap Yibo biasa saja, tapi setelah dia tiba di rumah, baru orang itu membuat ulah kembali, sepertinya setelah Yibo memeluknya sambil menangis dan setelah mengajukkan pertanyaan konyol itu, sikap bosnya kembali seperti awal, bahkan lebih jauh menyebalkan.
Zhan berjalan mondar-mandir melihat ke arah balkon untuk memastikan hujan telah reda, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, sampai akhirnya Yibo bicara, "Sudahlah, bermalam saja di sini, aku tidak mau gara-gara kamu, kita menjadi telat esok," tawarnya yang terdengar acuh.
"Kau jangan pernah berpikir untuk dapat tidur di kasur yang sama denganku, berbagi selimut denganku, dan saling berpelukan, kau tidur di sofa!" Jelasnya.
Zhan hanya bisa mengerutkan dahinya, apa yang orang itu baru saja katakan? Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu."
Zhan telah bersiap untuk tidur di sofa, sampai dia merasakan seseorang menghampirinya dan meletakan selimut di tubuhnya, Yibo segera pergi menuju kamarnya, sebelum Zhan mengucapkan terima kasih. Ada perasaan hangat di sana saat mengetahui jika bosnya itu sebenarnya tidaklah seburuk kelihatannya.
Akhirnya Zhan tertidur karena kelelahan, sampai akhirnya dia terjaga kembali karena merasakan kehadiran seseorang di sekitarnya, perlahan dia membuka matanya dan mendapati bosnya sedang memandangnya dan terkejut setelah mata Zhan terbuka, Yibo langsung berpaling dan terburu-buru pergi, sampai akhirnya langkahnya terhenti saat Zhan memanggilnya
"Bos, kemarilah!" Zhan memanggil bosnya tepat setelah dia ingin melarikan diri, Yibo membeku wajahnya begitu merah karena malu, posisinya saat ini persis seperti maling pakaian dalam yang tertangkap pemiliknya, untung saja lampu di ruangan itu mati yang sedikitnya mengurangi wajah merona Yibo.
Sekali lagi Zhan memanggil, "Bos, kemarilah, duduk di sebelahku," akhirnya Yibo menurut. Zhan berdiri menyalahkan lampu, dan setelahnya pemandangan yang membuat udara dingin malam itu mendadak menjadi panas, Zhan hanya memakai celana pendek dengan belahan di kanan dan kirinya (kurang lebih seperti celana atlet vollley pantai cewe, hmm so sexy 😚) dan kaos putih tipis kebesaran dengan kerah V. Dia lalu pergi ke dapur mengambil minyak dan menumbuk kasar bawang merah dan menambah sedikit minyak angin menaruhnya di wadah bening.
"Buka bajumu!" Perintah Zhan yang langsung di ikuti Yibo tanpa bertanya.
"Maksudku cukup angkat bajumu saja, tidak perlu melepas seluruh bajumu!" ucap Zhan sambil tersenyum karena melihat kelakuan Yibo yang seperti anak penurut.
"Bukannya kau tidak bisa tidur?perutmu sakit? sejak tadi bolak-balik ke kamar kecil terus kan?" Analisa sepihak dari Zhan.
Yibo ingin membantah, otak liciknya langsung beraksi, kapan lagi ada kesempatan langka seperti ini.
"Aduh perutku sakit. "Wangji mulai berakting, tidak sia-sia dia berkali-kali mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik jika urusan seperti ini dia gagal mengelabui Zhan.
Yibo memegang perutnya, tapi matanya, tidak sekalipun berkedip mengekor ke manapun Zhan bergerak. Saat ini Zhan sedang duduk bersila, menghadap Yibo yang duduk berhadapan dengannya dengan posisi kaki satu di tekuk dan satu kakinya menjuntai di lantai. Dia mulai mengusap lembut perut itu membuat seluruh bulu di tubuh Yibo bangun dan ada bagian yang menegang.
Sepertinya Zhan tidak menyadari jika dengan duduk posisi seperti itu membuat celana pendeknya semakin terangkat ke atas, memperlihatkan seluruh paha putih mulusnya, di tambah tangannya yang saat ini sedang mengusap perut Yibo membuat dia sedikit membungkuk membuat celah di baju yang dapat Yibo lihat, sungguh pemandangan yang mendadak membuat Yibo pusing dan panas.
"Apa kepalamu juga sakit? Aku melihatmu memegang kepalamu sejak tadi,"
Ya, kepalaku sakit karena harus melihat pemandangan yang membuatku frustasi.
"Sepertinya aku demam, bisakah kau tidur bersama di kasurku malam ini? Aku hanya takut di tengah malam aku butuh kamu," ucap Yibo yang jelas ada niat tersembunyi di sana tapi untuk Zhan yang polos dia sama sekali tidak merasa curiga, dia berjalan begitu saja mengikuti Yibo menuju kamarnya.
"Kenapa kau membawa selimut? tinggalkan saja, selimutku begitu besar untuk kita bisa gunakan bersama jika kau kedinginan." Zhan tidak menjawab, tapi otak kecilnya sedang berpikir, bukannya beberapa saat yang lalu ada seseorang yang begitu lantang bilang tidak ingin tidur dengannya dan berbagi selimut dengannya???
Bersambung ....