
Debu menusuk Indra penciuman, ketika hujan rintik tiba-tiba jatuh di siang hari di kota yang sangat padat. Hanya sebentar, sekedar membuat basah tanah yang mulai terlihat gersang, tetapi cukup membuat suasana hati anak muda yang berjalan menunduk itu bertambah melow.
Dia adalah Jiang Cheng yang harus menerima kenyataan, jika akhirnya perjuangannya selama satu bulan untuk bertahan di perusahaan surat kabar abal-abal itu harus berakhir, di tangannya sebuah amplop coklat berisi gaji pertama dan sekaligus gaji terakhirnya dari perusahaan itu. Dengan langkah lunglai dia berjalan dari halte bus menuju rumah petak yang dia sewa selama tinggal di kota ini.
Sebenarnya cita-citanya begitu tinggi dengan datang ke kota, meninggalkan kampung halamannya dengan penuh percaya diri, menjadi model terkenal. Dengan bermodal tubuh tinggi langsing, putih, hidung kecil mancung, dan wajah yang begitu imut, dia berpikir akan begitu mudah mendapatkan pekerjaan itu, nyatanya setelah berkali-kali ikut audisi dan casting, dia gagal.
Tekadnya yang begitu kuat, ditambah harga dirinya yang begitu tinggi, tidak mungkin dia kembali ke kampung halamannya dengan tangan kosong.
Perlahan dia mendengar alunan musik yang hampir tiap saat dia dengarkan, entah terbawa suasana atau apa, lagu itu membuatnya merasakan kerinduan yang sangat mendalam akan kampung halamannya, Yunmeng.
Di sini, di Kota Gusu, kota yang begitu megah dengan bangunan tinggi menjulang seolah-olah sedang mengolok-olok dirinya yang hanya bermodal nekat, tetapi Jiang Cheng tak akan mau mengalah.
Tiba-tiba mata Jiang Cheng bercahaya, saat sebuah bangunan megah di depannya merentangkan spanduk berisi audisi umum untuk model/aktor Star Agency, dengan syarat yang 100% ada di dirinya, percaya diri Jiang Cheng bertambah. Jiang Cheng sekali lagi akan berjuang di kota ini, dan membuktikan kepada keluarga dan kerabatnya jika dia juga bisa.
"Zhan, lihat saja! aku bisa lebih hebat darimu!!" Dengan kilat mata Jiang berapi-api.
.
.
.
Di lain tempat Zhan dibuat kesal setengah mati saat Yibo dengan tidak tahu malu, mengikutinya. Dia tidak bersuara hanya mengikuti ke manapun Zhan pergi, handphonenya berkali-kali berbunyi, tetapi tidak ada yang Zhan angkat, dari mulai nomer Leon, berganti nomer bosnya, terus berbunyi yang membuat akhirnya Zhan menghentikan mobil berwarna silver itu yang sejak tadi jalan pelan mengikutinya.
"Yibo, apa maumu?" ucap Zhan geram, langsung menunduk menghampiri Yibo yang tengah membuka kaca mobilnya dari samping kemudi.
"Cukup kamu membuat hariku berantakan, tolong jangan kau---" katanya terputus berganti dengan sebuah ciuman kilat yang membuat Zhan shock, belum sempat dia sadar tiba-tiba datang beberapa orang meneriaki nama Zhan dan mencoba menghampiri mereka, sepertinya mereka fans, dan wartawan yang memang sudah mengikuti Zhan. Tanpa berpikir pintu mobil dibuka dan Zhan ditarik masuk begitu saja, kaca hitam dinaikkan dan melarikan diri dari tempat yang mendadak ramai itu.
Yibo tertawa bahagia, karena bisa lolos dari kejaran paparazi itu di tambah saat ini posisi Zhan sungguh begitu lucu di matanya. Di tarik tanpa persiapan membuat dirinya jatuh begitu saja dengan tubuh terlungkup di paha Yibo dengan bagian boot tebalnya itu mencuat ke atas, pemandangan yang begitu ambigu, dan membuat Zhan malu. Yibo tetap mengendarai mobilnya tidak memberikan kesempatan untuk Zhan membenarkan posisinya.
"Yibo, hentikan mobilnya dulu, biarkan aku bangun!!" ucap Zhan yang sudah mulai frustasi dengan keadaan dirinya yang memalukan ini.
Setiap dia akan bangun, tanpa sengaja bootnya akan menyentuh lengan Yibo di atasnya yang tengah memegang setir, yang spontan membuat Zhan mengurungkan niatnya. Akhirnya Dia hanya bisa bergeser menuju kursi di sampingnya, hingga tanpa sadar ada bagian yang mengembung di tubuh Yibo yang ikut tergesek dengan bagian sensitif Zhan, terasa ada sengatan listrik saat 'itu' bergesek, membuat Zhan bingung, tiba-tiba saja di bagian bawah itu terasa menjadi mengetat dan sesak.
Mereka saling menatap tanpa ada yang mau bicara. Hingga akhirnya ...
Mobil melaju tanpa tau arah tujuan, hingga akhirnya mereka memasuki pinggir kota, dengan jalan menanjak dan menurun, membuat mereka berdua hanya bisa diam menahan perasaan menggelitik di tubuh.
Sebuah jalan yang tidak terlalu besar, namun bagus terbentang di depan, tetapi jalan itu mempunyai banyak polisi tidur kecil-kecil, membuat tubuh Yibo dan Zhan bergetar, tekanan, demi tekanan di bagian bawah mereka tak lagi dapat membuat Yibo bertahan, dia tutup rapat-rapat mulutnya, menahan rasa yang teramat liar.
Segera Yibo menepikan mobilnya, dan menyuruh Zhan untuk bangun. Dia takut jika semakin lama dalam posisi ini dirinya tidak akan bisa terkendali. Tapi sepertinya keputusan Yibo salah, karena saat Zhan bangkit untuk pindah, kaos Zhan sedikit terangkat menampilkan pinggul ramping yang begitu mulus, dan boot tebal sexy terekpose di depan wajahnya yang sepertinya sengaja menggodanya untuk segera dimakan.
Zhan telah duduk dengan benar di bangku penumpang, tapi mobil belum juga dijalankan oleh Yibo, hingga akhirnya Zhan menoleh kesamping dan mendapati Yibo yang tengah menatap wajahnya begitu dalam, tangannya kini telah melepas sitbeltnya, bergeser semakin mendekat menyondongkan tubuhnya ke arah Zhan.
"Yibo, di mana ini," ucap Zhan yang tiba-tiba menyadari jika sekarang mereka berada di pinggir jalan sepi yang di kanan dan kirinya di tumbuhi tanaman dan bunga sebagai pembatas antar rumah-rumah kecil di sisinya, dengan halaman masing-masing begitu luas, sangat sunyi, tepat yang begitu nyaman untuk menjadi tempat tinggal.
Rumah kecil dengan design dan lingkungan yang menjadi impiannya sejak dulu seolah tergambar nyata di hadapannya, hingga mata itu membola kagum, tempat di mana dia menghayal merebahkan tubuh lelahnya setelah seharian berkutat dengan aktivitas di kota. Pikirnya.
"Apa kau suka rumah itu?" tunjuk Yibo, rumah dengan cat berwarna putih, dengan pot tanaman bergantung, juga terdapat berbagai tabaman bunga di sekitarnya tumbuh subur. "Temani aku, aku akan memberikannya untukmu." Kata-katanya sungguh ambigu, membuat siapa pun pasti akan salah menilai. Ditambah dengan kelakuannya saat ini.
Bulu kuduk Zhan tiba-tiba meremang, Yibo benar-benar telah bergerak di sampingnya, semakin mendekat, yang membuat Zhan tanda sadar semakin menyudut.
"Yibo!!" Tangan Zhan sudah mendorong dada Yibo yang sudah hampir menempel di tubuhnya, Zhan membuang mukanya tepat saat bibir sexy itu hampir saja menciumnya, hembusan napas panas bisa Zhan rasakan di telinga dan lehernya yang membuatnya merasakan sensasi aneh.
Tiba-tiba kursi tertarik ke belakang dan tanpa cukup cepat untuk menguasai keadaan, Yibo sudah berada di atas tubuhnya.
"Yibo, lepaskan aku!!" Zhan terus berontak.
Zhan mencoba mendorong tubuh Yibo di atasnya mencoba untuk menjauh, dia begitu panik apa yang bakal Yibo lakukan kepadanya di tempat seperti ini. Tapi setelah Zhan lelah berontak dan tenang, dia baru menyadari jika tidak ada pergerakan berarti dari Yibo, Hingga akhirnya dia mendengar suara dengkuran halus dari Yibo.
"Apa?!" Zhan meragukan pendengarannya, tapi saat dia menoleh ke samping melihat wajah damai orang yang tengah berada di atasnya dengan kepala terkulai lemah, Zhan baru menyadari. Ternyata orang itu sedang tertidur pulas, Lingkaran hitam di matanya menandakan memang orang itu belum tertidur sama sekali. Dan di titik dia tak sanggup lagi akhirnya dia tertidur.
Zhan hanya bisa diam membiarkan Yibo tertidur di atas tubuhnya lagi, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia tersenyum merutuki kebodohannya, dalam hati kecilnya dia begitu merasa bersalah karena sempat berpikir jika Yibo seorang bajingan.
Pada kenyataannya, Yibo hanyalah seseorang yang butuh di sayang dan di perhatikan, walau dia selalu menggunakan cara yang aneh untuk menarik perhatiannya. Begitulah, saat ini yang tengah Zhan pikirkan tentang Yibo, tanpa tahu orang yang sedang tidur di atas tubuhnya itu sedang tersenyum penuh kemenangan.
TBC ...