
Mentari pagi menyelusup masuk ke kamar mungil dengan suasana bernuansa hitam merah, persis seperti ruang praktek dukun. Langit sudah begitu terang meninggi, tetapi penghuni kamar itu masih terlelap tidur.
Zhan penyuka warna gelap, pemuda manis dengan tinggi 183cm kulit esksotis dan senyuman sejuta watt itu akan langsung jatuh cinta dengan benda-benda unik berwarna merah gelap dan langsung membelinya, walau ujung-ujungnya meminjam uang Jiang Cheng, sepupunya.
Di samping tempat tidurnya saja terdapat sebuah seruling berwarna hitam dengan rumbai merah yang dia dapatkan online, dan beberapa benda aneh lainnya, jadi tidak perlu heran jika di dalam kamarnya, seperti penampungan barang rongsok, begitulah yang dikatakan Acheng.
Tiba-tiba suara panggilan telepon berdering, mengagetkan, hampir saja ponsel itu dia lempar karena berani-beraninya menganggu acara tidurnya.
"Bangun pemalas! Bagaimana? sudah mendapatkan undangan interview?" tanya Leon datar saat panggilan tersambung.
Zhan mendudukkan dirinya, mengumpulkan nyawa. Setelah sadar yang mengganggunya adalah dewa penolong sekaligus dewa sialnya, Zhan mulai serius membuka suara.
"Belum, tapi aku sudah mengirimkan lamaran dan profile ke beberapa tempat agensi."
"Aku mendengar di Star Agency sedang mencari model baru, sebaiknya kau mencoba di sana. Datanglah langsung karena audisinya akan diadakan 3 hari lagi."
"Sungguh? baik, aku akan ke sana. Aku pasti akan mendapatkan pekerjaan, dan membayar hutangku!" jawab Zhan penuh semangat.
"Lakukan yang terbaik, Rubby. Dan ingat, bayar cepat utangmu!"
Sambungan telepon langsung terputus begitu saja, spontan membuat Ruby di dunia maya a.k.a Zhan di nyata memaki-maki Leon. Tidak lama sebuah pesan masuk menampilkan alamat dari Star Agency.
.
.
.
Dengan penuh percaya diri, Zhan melangkahkan kaki saat namanya di panggil, sebuah wawancara singkat dengan pihak agensi tengah dilakukan, tidak beberapa lama akhirnya dia keluar dengan kepala menunduk. Kata-kata salah satu orang yang mewawancarainya sangatlah membuatnya sakit hati, mereka bilang jika penampilannya sangatlah norak dan tidak fashionable. Padahal itu pakaian terbaik yang dia punya.
Dengan langkah gontai dia keluar dari gedung agensi itu. Tiba-tiba kedua netra cokelatnya menangkap sosok yang sangat familiar dan terkenal, dia adalah salah satu model, artis, dan aktor yang tengah naik daun saat ini, Wang Yibo.
Matanya berbinar-binar menatap sosok yang aslinya terlihat jauh lebih tampan itu. Namun, setelah mata mereka bertemu dan setelah Zhan memberikan senyum termanisnya, lelaki itu hanya berjalan melewatinya tanpa ekspresi.
Whattt!! Tidak ada yang pernah mengabaikan senyum manisku! Zhan merutuk dalam hati, dia sangat tahu kelebihannya, maka saat ada seorang yang menolak pesonanya, rasanya ... hmm ...
"Huh, dasar sombong, baru jadi artis saja belagu!" tanpa sadar Zhan mengungkapkan kata hatinya, yang membuat sosok angkuh itu menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap Zhan dengan tatapan mematikan.
Kilatan cahaya tampak dari kedua mata orang itu, persis seperti adegan-adegan di film anime sebelum memulai pertempuran dahsyat. Tiba-tiba saja pandangan mereka teralih saat Wang Yibo dipanggil oleh salah satu orang yang tadi mewawancarainya.
Pandangan Zhan juga teralih oleh sosok mungil yang sedang membawa beberapa tas besar yang membuatnya susah berjalan.
Gubrak!!
Zhan langsung berlari ke arah suara itu yang tidak lain adalah sosok kecil yang jatuh tersandung karena tidak memperhatikan langkahnya---sibuk dengan tas bawaannya yang begitu banyak.
"Hai ... hati-hati, perhatikan langkahmu! Jika kau tidak kuat, kenapa memaksa membawa sendiri? Di mana teman-temanmu?" tanya Zhan beruntun, membuat orang yang diajak bicara itu hanya memperhatikannya bingung.
Dalam hitungan menit semua tas telah Zhan angkut ala pemudik yang ingin pulang kampung, semua dia pikul di pundaknya.
"Aku harus bawa ke mana barang-barang ini?" tanya Zhan yang membuat lelaki mungil yang agak kemayu itu hanya terpana melihatnya.
"Masuk saja ke dalam, tapi lewat pintu samping. Btw, siapa namamu? Kenapa kau ada di sini?" tanya lelaki mungil yang sedang dibantu itu.
"Aku Zhan, aku datang untuk melamar menjadi model, tapi ...," kata-katanya diputus, dia tidak ingin menambah sakit jika harus mengakui kepada orang baru jika dirinya gagal.
"Terus? Kau ditolak?" jawab lelaki mungil itu tanpa diayak.
"Aish, kenapa kau harus mengingatkan aku lagi, seh!" Dengan wajah Zhan kesal.
"Kau butuh pekerjaan? Bagaimana, jika kau bekerja kepadaku saja?" tawarnya yang spontan membuat mata Zhan berbinar.
"Aku mau ... aku mau ... jadi model kan?" jawabnya percaya diri.
"Asisten artis!" Sambil lelaki itu berjalan mendahului dan membuka pintu ruangan yang tampak mewah itu. "Kau letakan semuanya di sudut sana," perintahnya.
"Bagaimana? Apa kau mau? Ini bukan asisten artis sembarangan, tetapi asisten artis dari artis yang sangat terkenal dan aku managernya. Kamu akan bertemu banyak orang-orang penting nantinya, siapa tahu kau akan dilirik dan bisa menjadi artis juga, anggaplah ini sebagai batu loncatan di karir mu, ok!" tawaran yang sangat menggiurkan buat Zhan, orang yang belum memiliki banyak pengalaman itu, dan tanpa berpikir dia mengiyakan.
____
Sebuah tumpukan kertas berisi kontrak kerja tengah Zhan tandatangani, dalam hatinya bertanya-tanya apa harus seperti ini jika menjadi asisten artis terkenal? Harus menandatangani kertas lebih dari sepuluh kali di atas materai.
"Aku harus menandatangani berapa banyak lagi, Bro Ji?" tanya Zhan dengan nada menyindir.
Zhan dan orang yang dia panggil Bro Ji berkenalan tepat setelah Zhan menyetujui untuk bekerja bersamanya. Jili, atau lebih sering di sebut Bro Ji adalah manager seorang artis yang tengah naik daun saat ini, artis yang jam kerjanya super sibuk dan parahnya Jili yang harus urus semua karena asisten sebelumnya kabur.
Itu salah satu alasan kenapa Zhan harua menandatangani surat kontrak yang banyak itu, karena Ji tidak ingin kejadian kemarin terulang. Terhitung sudah tiga orang asisten mengundurkan diri di bulan ini, dengan alasan sama, mereka tidak sanggup katanya. Kemarin-kemarin mereka dengan bebas dapat keluar dengan seenaknya, tetapi setelah Jili membuat kontrak kerja baru dengan berbagai pinalti jika melanggar, Zhan sepertinya tidak akan pernah bisa lepas.
Satu kesalahan terbesar Zhan adalah, dia lupa menanyakan kepada Jili, siapa artis yang akan menjadikannya asisten.
Drrt ... drttt ...
Suara getar telepon memanggil dan tanpa menunggu Zhan langsung mengangkatnya.
"Bagaimana interviewmu? Apa sudah selesai?" tanya orang dari seberang telepon setelah terangkat.
"Iya sudah, aku sudah mendapatkan pekerjaan. Tenang saja aku akan segera membayar utangku bulan depan!" jawab Zhan penuh percaya diri.
"Hmm ... baguslah jika begitu!"
"Maaf, Leon, aku sangat sibuk hari ini, nanti malam saja teleponnya, aku tidak bisa sering-sering telepon di jam kerja seperti ini lain waktu, aku tidak seperti kau yang tidak mempunyai pekerjaan jelas dan bebas telepon sesukamu!" jawab Zhan yang sepertinya membalikan kata-kata Leon dulu saat dia selalu menggangunya.
Tiba-tiba sambungan telpon terputus, membuat Zhan merasa dongkol, "Kenapa orang itu kembali menjadi orang yang menyebalkan!" gerutunya.
Di hadapannya tampak Bro Ji sedang menelpon seseorang.
"Kau sedang telepon siapa, seh? Aku menelponmu berkali-kali tapi nomermu sibuk terus! Oh iya, aku mau memberitahu jika aku sudah mendapatkan asisten baru untukmu, kau baca lembar kontrak yang telah aku kirim di emailmu, segera kau tandatangani dan kirim balik kepadaku, sekarang juga!"
Setelah bicara dengan jelas, Bro Ji langsung menutup telponnya tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menjawab.
Zhan menatap Ji yang sepertinya sedang memarahi artisnya itu, "Jika bukan dia artis nomor 1 di agensi ini, jika bukan dia adalah salah satu pemegang saham di agensi ini, dan jika bukan kakakku yang menugaskanku menjadi managernya, aku tidak akan sudi bekerja dengannya!" Dengan wajah frustasi, dan hampir menangis Ji berbicara sendiri persis seperti pasien rumah sakit jiwa.
"Oh, iya, Zhan, nanti saat bertemu dengan bos, berbicaralah dengan lembut, dia tidak suka orang yang berbicara keras dan kasar. Juga, gunakan pakaian selayaknya." Sambil Bro Ji memperhatikan pakaian Zhan dari atas sampai bawah. "Pantas saja kau gagal audisi," gumamnya pelan, tetapi masih bisa terdengar oleh Zhan.
"Eh, memang ada yang salah dengan cara bicara dan berpakaianku, Bro Ji?"
"Kau itu sedang interview, bagaimana kau datang ke audisi model dengan menggunakan kemeja dan celana ketinggalan jaman itu, ditambah rambutmu yang berantakan."
"Eh, ini karena aku disuruh melepas topiku tadi di dalam, jadi berantakan," jawab Zhan santai.
"Kau---"
"Sudahlah Bro Ji, tenangkan dirimu. Bagaimana jika habis ini kita makan di luar?" potong Zhan yang langsung mendapat anggukan dan senyum merekah.
.
.
.
Setelah mengabiskan waktu bersenang-senang, akhirnya Zhan mengantarkan Ji pulang ke apartemennya. Tidak di sangka ternyata seorang Ji memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap alkohol, baru minum beberapa tenggak dia sudah kacau, dengan jalan sempoyongan terpaksa Zhan memapahnya memasuki apartemen mewah.
"Bro Zhan ... kau akan tidur di mana malam ini?" tanya Ji setengah sadar saat Zhan membantu menyandarkannya di sofa.
"Ah, aku tidak tahu. Baru hari ini aku tiba di sini, mungkin malam ini aku akan mencari penginapan dan besok pagi aku baru akan mencari tempat tinggal," jawab Zhan santai.
"Ah, baguslah. Malam ini kau menginap di sini saja, besok pagi aku akan menemanimu mencari tempat tinggal."
"Ah, benarkah? Terima kasih Bro Ji." Dengan wajah tersenyum bahagia.
Satu masalah tempat tinggal telah terselesaikan, Zhan bisa bernapas tenang untuk saat ini. Tetapi, itu tidak bertahan lama, sampai tiba-tiba seseorang mendobrak masuk ke apartemen Ji yang membuat mereka berdua kaget.
"Ah, kenapa kau datang ke sini?" tanya bingung Zhan saat melihat sosok yang sangat dia kenal, dia adalah artis sombong yang tadi siang Zhan temui di gedung agensi yang telah menolaknya itu. Wang Yibo.
Lelaki itu berjalan santai mendekati Jili seolah tidak ada dirinya di sana, membuat Zhan semakin membencinya.
"Mana jadwalku untuk besok pagi?" tanya Yibo angkuh tanpa menghiraukan kehadiran Zhan. Lalu dia lanjut bicara sambil melirik Zhan, "Jangan kau biasakan membawa pulang orang terlantar ke rumahmu, Ji," tegur lelaki itu yang sepertinya atasan Jili.
"Apa atasan Jili? Berarti dia???!!!" Mendadak kepala Zhan menjadi sakit.
"Bro Ji, siapa dia?" Sekarang Zhan yang ikut bertanya dan menghampiri Ji yang setengah sadar itu. Dia sudah dapat menduga, tetapi dia ingin mendengar langsung dari Bro Ji selaku yang mempekerjakan dia.
"Mana jadwalnya!! Aku ingin segera tidur!!" tanya Yibo lagi tidak sabar ingin dia yang diutamakan.
Mereka berdua kompak menarik-narik tubuh kecil yang setengah sadarkan diri itu, dari dua arah berlawanan, Agar Ji segera menjawab pertanyaan mereka lebih dulu.
Ji mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa kertas, lalu dia serahkan ke Yibo selembar dan ke Zhan selembar.
"Apa ini maksudnya?" tanya Yibo.
"Mulai sekarang kalian akan saling membutuhkan, jadi dimohon kerjasamanya," jawab santai Ji.
"Argghh!! dia bosku, Bro Ji?" teriak Zhan frustasi, saat membaca isi kontraknya setengah.
"Kalian baca kembali kertas kontrak itu, semua sudah jelas kutulis, dan jangan lupa materai dan tandatangan sudah kalian berdua bubuhi.
Peraturan pertama, Lan Wangji sebagai pihak pertama dan Wei Wuxian sebagai pihak kedua, pihak pertama tidak bisa memecat begitu saja pihak kedua dengan seenaknya sampai batas kontrak satu tahun berakhir, kecuali pihak kedua yang mengundurkan diri. Lalu pihak kedua harus mengikuti aturan dan perintah pihak pertama sebagai pihak yang mempekerjakan, jika pihak kedua mengundurkan diri saat kontrak berlangsung, maka pihak kedua bersedia untuk membayar penalti berupa uang sebesar 100juta. Sekian isi kontrak halaman pertama, apa aku harus membacakan halaman kedua sampai kesepuluh?" tawar Ji, yang membuat mereka berdua pucat.
"Tidak perlu Brother Ji, aku bisa membacanya sendiri," jawab Zhan putus asa.
"Yasudah, kalian tidur sana! Besok pagi kita meeting pertama!" Belum selesai Jili berbicara, Lan Wangji a.k.a Wang Yibo sudah keluar dari pintu apartemen dengan membanting pintu.
"Sid! pantas saja aku tertipu, ternyata di lembar kontrak ini Wang Yibo menggunakan nama aslinya, 'Lan Wangji' jadi selama ini dia menggunakan nama panggung. Cih ...." Zhan terus saja mencibir nama Yibo, padahal di lembar kertas kedua namanya juga menjadi 'Wei Wuxian' di sana. Nama kecil yang ibunya berikan sebelum dia menggantinya menjadi Xiao Zhan sebagai nama panggilan karena sering sakit-sakitan.
___
Malam semakin larut dan akhirnya mereka bersiap untuk istirahat. Apartemen itu memiliki satu ruangan besar dengan tempat tidur sedang di sudut ruangan dan sofa lembut di sebelah kirinya. Dan saat ini Zhan yang menjadi penghuni sofa itu. Dia rebahkan tubuh lelahnya dan mengambil ponselnya, mulai menelepon seseorang.
"Hai, Leon, apa kau sudah tidur?"
"Belum."
"Aku ingin curhat."
"Sama aku juga."
"Aku dulu! Kan aku yang menghubungimu," balasnya tidak mau kalah.
"Baiklah, katakan!"
"Sepertinya hidupku akan susah nantinya, aku bekerja dengan bos yang sangat tirani."
"Bagaimana kau bisa mengatakan dia bos tirani? Memangnya kau sudah mulai bekerja hari ini?"
"Besok, seh, mulai kerjanya, tapi aku bisa mengenali orang dari sekali liat, dia benar-benar bos yang sangat jahat!"
"Hmmm ... jangan kau biarkan dirimu diperlakukan tidak baik Rubby, walau kau bawahannya saat ini, jangan pernah kau tunjukan kau lemah."
"Iya kau benar, bagaimana denganmu?"
"Aku bertemu dengan orang yang menyebalkan hari ini, dia sangat cerewet dan tidak bisa diam, dan parahnya untuk ke depannya aku harus selalu dengannya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku belum tahu, tapi yang pasti aku tidak akan menghiraukannya. Kadang aku berpikir, kenapa tidak kau saja yang bekerja denganku, mungkin akan jauh lebih baik," jawabnya jujur.
"Hahaha ... aku tidak mau punya bos sepertimu, aku takut kau akan jatuh cinta jika melihat ketampananku?"
"Apa!!! Hahahaha."
Mereka tertawa bersama, Zhan lupa dengan suara tertawanya yang sangat keras, mengganggu di tengah malam. Sebuah bantal melayang ke arahnya.
"Hai ... tidur!!" bentak Ji dengan mata tertutup.
"Eh, iya ... iya ... "
TBC...