
Zhan sedang duduk di kasur Jili saat Yibo datang, tanpa dosa Yibo meletakan makanan sehat dan buah yang sama yang biasa Zhan dapatkan dari Leon. Yibo meletakan makanan dan buah itu di nakas samping tempat tidur, seakan-akan dia memang memberikannya untuk Zhan bukan untuk tuan rumah, Zhan membuang muka malas melihat wajah tampan itu yang memiliki lingkaran hitam di sekitar matanya, bukan lingkaran hitam pekat seperti pemeran film horor di film-film hantu, ya, lebih karena dia kurang tidur.
Berbeda dengan Zhan yang terlihat bugar karena baru bangun dari tidur pulasnya, wajahnya juga terlihat fresh walau matanya masih terlihat sembab karena sisa menangis. Di tambah Jili yang baik hati juga membiarkannya tidur di kasur empuknya, yang membuat paginya jadi lebih baik.
Yibo sesekali mencuri pandang ke arah Zhan yang masih betah bermalas-malasan di kasur empuk itu saat dia sedang mengobrol dengan Jili, karena memang apartemen Jili itu terdiri dari satu ruangan besar yang memungkinkan seluruh bagian dapat terlihat jelas tanpa sekat, kecuali kamar mandi di sudut yang bersebelahan dengan dapur yang memiliki pintu, selebihnya tak ada sekat atau pintu.
Sebenarnya Zhan sudah tidak marah lagi dengan Yibo, memang sudah sifatnya yang akan cepat melupakan hal yang menyakitkan. Sebenarnya untuk dia pribadi dia telah menyiapkan mentalnya untuk hal ini, jika sosok Leon yang dia sukai tidak sesuai yang dia harap.
Saat ini sebenarnya, dibandingkan dia marah, karena Yibo menghinanya, atau karena Yibo telah membohonginya, Zhan lebih ke arah malu karena kemarin dia sempat menyatakan suka kepada orang itu, orang yang setiap lima menit sekali akan menoleh ke arahnya saat ini.
Zhan mulai bangkit dari posisi enaknya itu dan berjalan menuju kamar mandi. Dia berjalan di bawah tatapan seorang Yibo yang terus memperhatikan. Awalnya dia hanya ingin cuci muka saja, tetapi kepalanya begitu pusing dan matanya bengkak karena semalam menangis, akhirnya dia memutuskan untuk mandi saja agar terlihat lebih fresh.
Setelah seluruh pakaiannya dia masukkan ke mesin cuci yang berada di dalam kamar mandi, Segera Zhan langsung mandi dan setelahnya ia baru teringat jika dia belum membawa handuk atau pun baju ganti.
Dengan bodohnya dia tatap baju basahnya yang kini sedang berputar-putar di dalam mesin cuci, pikirnya dia akan memakainya lagi nanti setelah bersih, dan untuk sementara meminjam pakaian Jili, tapi gara-gara Yibo datang semua jadi teralihkan, dia jadi lupa meminjam baju dan membawa handuk saat ke kamar mandi.
Hampir 10 menit Zhan terus bolak-balik di dalam kamar mandi sambil beberapa detik sekali melihat pakaiannya yang tengah di putar-putar mesin itu.
"****!! Apa aku harus menunggu sampai baju ini kering? Tidak mungkin aku keluar telanjang! Jika hanya ada bro Ji, aku tak perduli, tapi di luar ada bos Yibo." Tiba-tiba bulu kuduk Zhan merinding mengingat sosok Yibo, sama reaksinya saat dia menonton film horor.
Tok ... Tok ... tok ....
Suara pintu kamar mandi yang diketuk pelan, Zhan begitu senang akhirnya Jili datang juga untuk menolongnya, dengan polosnya Zhan langsung berteriak dari dalam meminta untuk diambilkan bathrobe, orang yang dipinta segera menjauh dan beberapa menit berikutnya dia mengetuk kembali. Zhan membuka pintu sedikit dan hanya menjulurkan tangannya untuk mengambil bathrobe putih dari celah pintu.
Zhan langsung berbalik untuk memakainya, membelakangi pintu tanpa susah-susah untuk menutupnya kembali, bahkan dia sambil menceritakan hal konyol yang dia lakukan barusan, dari tujuan awal yang ingin cuci muka sampai akhirnya dia mandi dan kebingungan untuk keluar karena bajunya basah. Dia sangat bersyukur ternyata Jili sangat peka, dia terus saja mengoceh karena dia tahu orang yang memberikannya bathrobe masih berdiri di depan pintu.
Setelah selesai memakai bathrobenya Zhan berbalik, wajahnya yang terlihat ceria beberapa detik yang lalu, seketika langsung berubah. Bahkan, mulutnya yang masih sibuk mengoceh pun seketika terhenti, wajah Zhan pucat, dia mendapati orang yang sejak tadi dia ajak bicara ternyata Yibo, bukan Bro Ji.
Mereka sama-sama membeku, Yibo yang shock karena baru saja menyaksikan adegan yang lebih hot dari adegan xxx yang biasa dia tonton, sedangkan Zhan membeku shock karena baru saja melakukan hal bodoh.
Bahhkan, pintu terlihat terbuka hampir setengahnya, menunjukan jika Yibo telah melihat dengan jelas apa yang sejak tadi Zhan lakukan, walau dari belakang, tetapi pantulan kaca di sekitar Zhan mempertegas semua, dengan pasti Yibo telah melihat segalanya.
Tiba-tiba Zhan merasakan dejavu, sepertinya dia pernah merasakan keadaan ini, keadaan membeku dan malu karena tertangkap basah, tapi ada yang salah, sepertinya saat itu Zhan yang melihat Yibo tanpa pakaian keluar dari kamar mandi di apartemennya, sekarang Yibo yang melihatnya tanpa pakaian di kamar mandi Jili.
"Arrghhhh !!!" Zhan baru tersadar, dan berteriak seperti seorang gadis yang sedang diintip saat mandi.
Tangan besar itu masih membekap mulut Zhan, mendorongnya ke tembok dengan tangan satunya lagi reflek parkir di dada yang terbuka karena bethrobe yang tertarik saat didorong Yibo. Mata Zhan membulat, padahal awalnya setelah mandi dia akan mencoba bersikap biasa dan melupakan yang terjadi, mencoba berdamai dengan bosnya itu, tetapi mendapatkan perlakuan seperti ini dari Yibo, membuat Zhan kesal lagi.
.
.
.
Seorang wartawan amatir sedang mengendap-endap seperti maling, dia adalah Jiang Cheng yang bertubuh ramping seperti orang yang kekurangan makan dan pinggang yang begitu kecil yang tengah sibuk dengan cameranya, sesekali dia terlihat sedang memotret dan lalu bersembunyi di balik-balik mobil yang terparkir rapih di depan bangunan mewah dengan bertulis Star Agency itu.
Tingkahnya seperti anak kecil yang sedang main petak umpet, dibandingkan seperti seorang wartawan yang sedang bekerja. Kadang dia bersembunyi, kadang dia berjalan cepat, sangat mencurigakan dan mencolok.
Tanpa dia sadari ada seorang pemuda dengan senyum manisnya yang sejak tadi tengah memperhatikannya, dengan sesekali tersenyum menyaksikan tingkah konyol pemuda amatir itu. Tetapi sayangnya hiburan itu terpaksa terhenti saat sang wartawan amatir, tertangkap security.
"Sedang apa kau di sini!" Bentak security bertubuh besar yang membuat Jiang Cheng ciut.
Security itu merampas cameranya dan Jiang Cheng hanya terlihat pasrah dan akan menangis---tanpa bisa melawan. Security itu mulai mengecek isi dari camera Jiang Cheng mencari bukti yang bisa membuat Jiang chen di penjara karena melanggar aturan. Setelahnya sang security dibuat binggung, awalnya sang security curiga jika Jiang Cheng wartawan yang sedang mencari berita, tetapi setelah mengecek isi camera Jiang cheng ternyata hanya seorang fotografer amatir, jika di lihat dari cara dia memotret objeknya yang blur semua dan tidak fokus.
Sang pemuda yang sejak tadi memperhatikan, yang tidak lain adalah salah satu pemegang saham di Star Agency, Haikuan akhirnya berjalan mendekat karena penasaran dengan perlakuan security itu. kenapa security yang awalnya begitu tegas, sekarang terlihat jauh lebih ramah? Pikirnya.
Hingga akhirnya Haikuan bertanya kepada security, lalu melihat sendiri isi di dalam camera itu yang membuatnya tersenyum, tampak seluruh foto selain foto pohon, bangunan, dan mobil yang Jiang Cheng ambil adalah foto dirinya yang sedang berjalan masuk ke gedung Star dalam berbagai sudut dan gaya.
"Kenapa kau memotret diriku?" tanya Haikuan ramah. Jiang Cheng mengangkat kepalanya, yang sejak tadi hanya menunduk takut---karena merasa salah.
Mata mereka bertemu untuk pertama kali, Haikuan terpukau oleh mata berwarna ungu itu, jernih, yang penuh kepolosan, sepertinya dia pernah melihat mata dengan pancaran itu, mata yang membuat orang terhanyut di dalamnya.
"Bukannya kau artis? Aku memotret artis-artis," jawabnya polos.
"Hahaha ... "Haikuan tertawa. Baru kali ini ada orang yang salah mengenalnya, Apa orang ini dari desa sampai tidak bisa mengenalinya. Pikirnya.
Bersambung.