Trapped

Trapped
1. Gamers



...Seperti boomerang yang dilempar jauh dan akan kembali lagi kepada tuannya. Awalnya aku begitu yakin bisa mengendalikan semua. Sampai pada akhirnya, aku terjebak dipermainan yang kuciptakan sendiri....


...Aku hanya bisa menatapnya kagum, saat sosok yang begitu melekat di hidupku berjalan dengan percaya diri di atas catwalk, di acara model bergengsi. Aku tahu dia memiliki kemampuan dan bakat....


...Dia adalah orang yang terus belajar dari lingkungan dan orang yang begitu tertarik dengan dunia akting. Bahkan, dia masih belajar di tengah kesibukannya. Aku sering melihatnya berlatih akting peran antagonis setiap saat, tetapi dahulu, saat dia masih berada di sampingku....


...Berjalan berlenggak-lenggok dan menunjuk-nunjuk apa pun di sekitarnya, dia akan mulai berakting. Tepatnya, saat aku memerintah atau menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. Kadang dia berakting seperti bos yang sedang memarahi bawahannya, kadang seperti majikan yang sedang memarahi pembantunya, atau seperti ibu tiri yang sedang menganiaya anak tirinya, kejam, dan sangat sadis kata-katanya. ...


...Itu terus terjadi, seperti sebuah hiburan buatku, jangan lupakan mimik wajahnya yang sangat menggemaskan jika dia sedang 'berakting' marah, membuatku ingin selalu menggangunya. ...


...Terakhir dia bertanya kepadaku tentang aktingnya, dengan santainya aku bilang 'buruk' aku hanya terlalu takut berbicara jujur, aku takut jika dia akan meninggalkanku....


...- Wang Yibo -...


...A sweet story about my sweet couple Yizhan, cerita tentang persahabatan, cinta, dan benci....


...****...


...Boomerang...


Suara tembakan dan ledakan terdengar saling bersahut di layar komputer. Xiao Zhan, seorang pemuda manis dengan status pengangguran, tengah menghabiskan waktu duduk di depan komputer---memainkan Games action yang lagi nge-hits. Tangannya lincah menekan tombol konsol, tak lupa headphone bertengger di telinganya. Bergaya layaknya pemain pro, nyatanya dia hanya sebagai tumbal di kelompoknya.


Sebenernya karakter yang dia mainkan sungguhlah unik, kurang lebih mewakili sosok orang yang berada di balik kendali itu. Dengan pakaian berwarna hitam-hitam dipadu warna merah, dia terlihat sangat kuat. Dengan rambut panjang terkuncir tinggi, terikat pita merah yang menjuntai. Ikatannya tidak rapi, bahkan terdapat beberapa bagian rambutnya yang tidak terikat dan dibiarkan terurai tertiup angin. Berantakan. Tetapi, kesan sosok itu tetaplah terlihat cantik. Dan jangan lupakan senjatanya yang berupa seruling yang menjadi andalannya, menambah anggun karakter itu saat senjatanya dimainkan. Sosok figur jagoan yang keren. Namun, tidak mempunyai harga diri sebagai jagoan, jika Red Rubby yang memainkannya.


"Hei! kita ini satu team. Tolong lindungi aku!! Hei!! Macan sombong!! Aku terkepung, tolong selamatkan aku!!"


Seseorang menarik rambutnya frustasi dan pada akhirnya seorang dengan user name Red Ruby berakhir game over terkena tusukkan pedang musuh dari arah belakang.


Zhan menatap layar monitornya kesal, dia meremas konsol games-nya dengan keras, wajahnya sudah memerah menahan emosi.


Bagaimana tidak emosi, di saat games yang seharusnya memerlukan kerja sama tim demi menuntaskan misi, tetapi seseorang yang ber-user name Black Panther, bertindak begitu egois dan tidak mau menolongnya, lebih parahnya lagi dia juga tidak bisa diajak kerjasama.


Ini sudah sekian kalinya Red Ruby bermain games dengannya, kini mereka teman satu team dalam kompetisi untuk mendapatkan hadiah berupa diamond yang bisa di tukar dengan uang jika menang, tetapi apesnya, jika dia bermain dengan macam angkuh itu, selalu dia yang mati lebih dulu, dia akan selalu dijadikan tumbal pembuka jalan untuknya maju menyerang. Menyebalkan.


"Dasar bodoh!!" hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir tipis seorang, saat mendapat pesan beruntun dari teman satu tim di permainan yang sedang dia mainkan itu.


Kau sungguh menyebalkan macan kecebur got!! Kau sangat egois, kau tidak pantas di jadikan sebagai leader!!


Red Ruby terus saja mengirimi pesan yang membuat Black Panther kesal. Membuat yang membacanya ikut emosi.


Black Panther namaku! Kenapa kau panggil aku macam terus?!


Jika kau tidak bisa bermain, lebih baik kau cuci kaki dan pergi tidur saja!


Black Panther membalas pesan dari user id Red Ruby, yang sepertinya tengah jengkel karena harus menjadi penonton saat Black Panther mendapatkan peringkat 1 teratas di puncak klasemen.


Mana ada leader yang membiarkan anggotanya sekarat dan di biarkan mati!! Harusnya aku yang sejak awal menjadi leader.


Zhan tetap saja mengoceh, seperti sedang memprovokasi partner-nya itu untuk marah. Dan benar saja, Black Panther yang tenang akhirnya membalas pesan dari teman satu teamnya itu.


Ejekan Black Panther itu sukses membuat Zhan naik pitam, dia segara keluar dari games itu dan merebahkan diri di kasur.


Black Panther adalah teman pertama yang Zhan kenal di permainan itu . Meski mereka satu team, tapi hampir selalu tidak pernah sepemikiran dalam taktik dan strategi. Namun, Black Panther cukup baik saat diminta masukan saat Zhan kesusahan, bahkan dia akan dengan sabar mengajarinya, tetapi untuk di luar pertandingan.


Awal pertemanan mereka tidaklah seindah cerita anak muda di sinetron ABG yang diiringi lagu-lagu cinta yang bikin baper, mereka sering bertengkar dan memaki. Hingga akhirnya mereka menjadi dekat meski mereka belum pernah bertemu secara langsung.


Black Panther berada di kota Gusu yang merupakan pusat kota, sedangkan Zhan di Kota Yunmeng, kota indah yang sebagian wilayah ditutupi perairan, sangat indah. Jarak antara Gusu dan Yunmeng cukup jauh, butuh waktu sekitar 12 jam perjalanan kereta jika ingin bertemu. Dan di tambah si Macan Angkuh ini adalah manusia sibuk yang pernah dia tahu, maka komunikasi dia hanya sekedar bertukar pesan di aplikasi permainan itu, atau di pesan pribadi mereka. Lagipula dia hanya punya waktu tengah malam untuk bermain games dan ke esokkan harinya akan menghilang begitu saja. Entah apa pekerjaannya. Berbeda dengan Zhan yang setelah lulus sekolah menjadi pengangguran. Jadi, dia memiliki banyak waktu untuk mengganggu Black Panther.


Drrrttt ... drttt ....


suara ponsel Zhan berbunyi.


Leon calling ....


"Ada apa?" jawabnya malas.


"Kenapa kau tidak bermain lagi?" tanya orang di seberang telpon.


"Aku tidak ingin bermain lagi! Kau sangat menyebalkan."


"Jika kau bodoh jangan salahkan orang! tingkatkan skil-mu bukan ocehanmu. Bermainlah menggunakan otakmu bukan mulutmu!"


Sungguh Zhan ingin mencekik Leon, sosok di balik user id Black Panther tersebut, sekarang juga, tetapi sayangnya tidak bisa.


"Mulutmu memang sungguh beracun Leon. Aku malas bermain denganmu lagi!"


Zhan cemberut dan langsung diam. Leon merasa jika dia sudah keterlaluan, dan akhirnya memilih untuk membuka obrolan kembali,


"Kau seperti seorang gadis, begitu saja marah."


Leon yang niat mau merayu, tapi terlihat seperti mengejek. Membuat Zhan semakin kesal.


Suasana menjadi lebih dingin lagi sekarang. Sambil headphone bertengger, Zhan membuka gamesnya kembali, sebuah notifikasi langsung berbunyi, memberitahukan jika dirinya baru saja mendapatkan kiriman 1000 diamond yang setara dengan uang 3 juta jika ditukarkan.


Hati Zhan menghangat, saat mengetahui jika Leon-lah yang mengiriminya. Rasa ingin mencekik Leon sampai mati sebelumya langsung hilang, berganti rasa haru karena teman setimnya itu ternyata tidaklah melupakannya.


"Leon, kau mengirimi aku hadiah kemenanganmu?"


Zhan bertanya dengan senang. Tetapi, detik berikutnya wajahnya kembali ditekuk setelah mendengar jawaban Leon.


"Itu tidak gratis, kau harus menggantinya saat kau mendapatkan pekerjaan."


....


TBC...