
Keesokan hari, Zhan seperti biasa menjalani rutinitasnya---mendatangi apartemen Yibo---biasanya dia akan dengan mudah melupakan segala hal yang menyakitkan, tetapi entah kenapa sampai saat ini Zhan masih merasakan sakit jika mengingat kejadian kemarin.
Pintu apartemen terbuka dan di depannya seorang lelaki yang sebenarnya tidak ingin Zhan temui. Tidak seperti biasa, pagi ini Yibo sudah bangun dan duduk di meja makan. Matanya melirik ke arah Zhan memperhatikan apa pun yang sedang Zhan lakukan. Saat ini Zhan sedang membuatkan sarapan, di sela-sela sibuknya, Zhan memasak air dan membuatkan kopi terlebih dulu, meletakkan kopi itu di atas meja tanpa menatap Yibo, hari ini Zhan terlihat lebih sering menunduk dengan tatapan sendu pikir Yibo.
"Ada apa denganmu?" tanya Yibo yang merasa jika Zhan sedikit pendiam hari ini. Biasanya dia akan sangat bawel dan bicara apa pun walau tidak pernah Yibo hiraukan.
"Aku tidak apa-apa," jawab Zhan tanpa menoleh ke arah Yibo.
Entah apa yang Zhan pikirkan, hingga dia melamun saat memasak, telor omlet yang sedang dia masak berubah menjadi gosong dan dengan panik dia langsung mengangkatnya, gagal sudah sarapan kali ini, Zhan benar-benar berada di mood yang buruk.
Setelahnya dia hanya diam tidak berniat untuk membuatnya kembali, hingga akhirnya dia mendengar langkah kaki mendekat.
"Mana sarapanku?" tanya Yibo, sudah tidak sabar.
"Ah, Tuan mau makan apa? Biar aku belikan," jawab Zhan mengetahui sepertinya bosnya lapar.
"Kenapa harus beli?" tanya Yibo.
"Aku sudah membuang sarapannya."
"Apa maksudmu?"
"Aku telah membantumu untuk membuangnya." Ulang Zhan datar.
"Siapa yang menyuruhmu untuk membuangnya?" tanya Yibo kesal.
"Bukannya Tuan sangat membenci masakanku? Hingga tidak pernah mau menyentuhnya! Lalu kenapa Tuan kesal saat aku membuangnya?"
"Zhan!! kau harus mengganti semua yang kau buang!"
"Kau bisa memotong gajiku untuk mengganti makanan yang aku buang!" Setelahnya Zhan pergi meninggalkan apartemen itu,
"Ada apa dengan anak itu? Maksudku buatkan lagi sarapan yang baru untukku, kenapa dia pergi," Yibo berbicara sendiri.
Lalu dengan terpaksa dia memanggang roti sendiri untuk sarapannya.
Beberapa saat kemudian Zhan kembali, memasuki apartemen sambil membawa pakaian bersih dari loundry, dia meletakan pakaian itu di atas sofa.
"Kau bisa langsung memasukannya ke dalam lemari!" Perintah Yibo yang membuat Zhan tertegun dengan yang Yibo katakan, bukanya dia sendiri yang buat peraturan agar dirinya tidak boleh memasuki kamar itu lagi, tetapi kenapa sekarang dia malah menyuruh dia meletakkannya di lemari yang jelas-jelas ada di dalam kamar? Zhan begitu malas untuk berdebat dan tanpa kata-kata dia langsung berjalan menuju kamar Yibo.
Yibo memperhatikan Zhan sejak tadi, tidak seperti biasanya Zhan berpakain sangat casual dengan rambut di tata rapi, persis seperti orang yang akan pergi berkencan, curiganya.
Zhan sedang memisahkan pakaian Yibo berdasarkan jenisnya ke lemari yang telah tersedia, dia kaget saat mendapati Yibo masuk ke dalam kamar itu, memperhatikannya dengan seksama. Dan saat mata mereka bertatapan, Zhan memberanikan diri bicara.
"Bos, aku minta izin hari ini untuk pergi." Tepat seperti yang Yibo duga.
"Kau ingin ke mana?" selidik Yibo.
"Aku ada urusan sebentar, sore aku sudah kembali."
Sudah aku duga dia pasti ingin pergi berkencan dan ingin melarikan diri dariku, tidak akan kubiarkan.
Beberapa saat kemudian Yibo telah selesai mandi dengan handuk kecil melilit di pinggangnya, Yibo berjalan dengan santai menuju kamarnya, beruntung saat ini Zhan telah selesai merapikan pakaian Yibo jadi dia tidak sedang berada di kamar itu, jika tidak, pasti dia akan di permalukan lagi olehnya.
Beberapa menit kemudian.
"Zhan, kau taruh di mana kemeja biruku?" tanya Yibo dari dalam kamar, spontan Zhan menghampirinya dan membuka pintu kamar. Tetapi setelahnya Zhan mundur dan menutupnya kembali,
"Bos, di lemari paling pojok," suara Zhan dari balik pintu.
Tiba-tiba pintu terbuka dan Yibo langsung menarik lengan Zhan untuk masuk. "Ambilkan untukku, mulai sekarang kau yang menyiapkan baju untukku!" perintah Yibo.
Dengan gugup Zhan memilihkan kemeja biru di bawah tatapan Yibo. Saat ini Yibo duduk di pinggir tempat tidur masih memakai handuknya.
"Bos, lebih baik kau pakai celanamu dulu," ucap Zhan yang sepertinya kurang nyaman berada di kamar dengan Yibo seperti itu, tetapi yang di suruh, pura-pura tidak dengar.
Zhan menunjukkan beberapa kemeja biru yang Yibo maksud, tetapi semua bukan yang Yibo inginkan. Zhan kembali mencari, tiba-tiba bulu kuduk di punggungnya berdiri, Zhan merasa jika orang di belakangnya tengah menatapnya.
Sekali lagi Zhan menunjukkan kemeja biru lainnya kepada Yibo, tetapi mata Yibo sama sekali bukan ke arah kemeja yang itu, tetapi langsung menatap wajahnya, benar-benar membuat tidak nyaman.
"Bukan," jawabnya singkat dengan mata yang tidak berkedip menatapnya.
Zhan kembali berbalik mencari kemeja yang Yibo maksud. Tanpa Zhan sadari Yibo berada di belakangnya, saling berhadapan dengsn jarak mereka yang terlalu dekat, spontan Zhan mundur beberapa langkah, sedangkan Yibo semakin maju ke depan.
Punggung lurus itu menabrak lemari di belakangnya, Zhan kini berada di bawah kungkungan lengan Yibo. Detak jantung Zhan tidak bisa dikontrol. Yibo mengangkat tangannya seperti hendak menyentuh wajah Zhan.
"Yang ini yang aku mau." Dengan mata tetap ke wajah Zhan yang tampak ketakutan, dan tangan kanannya mengambil baju di gantungan lemari di belakang Zhan.
Setelahnya Yibo berbalik dengan senyum yang tidak dapat Zhan mengerti. Akhirnya Zhan bisa bernapas lega.
Zhan segera keluar dari kamar itu, tetapi baru beberapa langkah dari pintu dia kembali dipanggil.
Saat ini Yibo seperti bocah kecil, dia meminta Zhan untuk mengancingkan kemejanya, Zhan tahu jika orang di hadapannya ini sedang mempermainkannya, tetapi saat ini Zhan sedang begitu malas untuk meladeni, jadi dia hanya mengerjakan semua yang di perintahkan bosnya itu tanpa menolak.
Dia kancingkan kemeja itu satu persatu, matanya berhadapan langsung dengan dada dan perut sixpack milik Yibo, tanpa sadar mata Zhan bercahaya, mengagumi tubuh indah itu, tanpa Zhan sadari Yibo sedang memperhatikan ekspresi wajah Zhan yang sangat polos dan lugu itu.
Terbesit niat nakal di hati Yibo, saat ini dengan tiba-tiba Yibo menarik pinggang Zhan membuat mereka saling berpelukan dengan tubuh menempel, tepat seperti yang Yibo duga, Zhan kaget dan berontak, dengan wajah yang memerah malu.
"Bos, apa yang kau lakukan!" Zhan panik.
"Membantumu untuk melihat lebih dekat, bukannya kau mengagumi tubuh indahku?" jawab Yibo percaya diri dan menggoda.
"Tidak!!" dengan Zhan mencoba melepaskan tangan Yibo di pinggangnya, segera kabur setelah berhasil dan membanting pintu kamar dengan kencang.
Setelahnya, Yibo tertawa bahagia, sepertinya dia tahu cara baru untuk mengerjai Zhan. Anak itu terlalu polos, bahkan menatap mata orang saja dia tidak berani, tetapi begitu pintar jika memarahi orang. Senyum licik sudah merekah di bibir tipis Yibo.
TBC....