
Pagi-pagi Yibo mendatangi kosan Zhan, tetapi orang yang dicari ternyata tidak ada, ada perasaan khawatir saat mengetahui jika Zhan ternyata semalaman tidak pulang.
Lalu kemana dia? Yibo sibuk mengutak-atik handphonenya mencari beberapa nomer yang bisa dia hubungi, dan detik berikutnya, sang managernya mengabari jika Zhan pulang kerumahnya semalam. Hampir sepanjang malam dia terus bercerita sambil menangis, mencaci maki seorang Yibo yang mesum.
"Apa? Dia hanya menceritakan itu saja?" tanya Yibo yang langsung menelpon Jili saat dia tahu Zhan berada di tempatnya. "Sekarang di mana dia?" tanya Yibo lagi.
"Dia masih tidur, biarkan dia istirahat untuk hari ini," ucap Jili prihatin, terlihat jelas dia lebih menyayangi Zhan dari pada Yibo yang merupakan artisnya.
Sepuluh menit berikutnya Yibo telah tiba di apartemen Jili yang memang tidak terlalu jauh dari apartemennya, sambil membawa sarapan dan buah-buahan.
Yibo sebenarnya semalaman juga tidak tidur, terus memikirkan Zhan. Tetapi, dia begitu gengsi untuk mengejar Zhan semalam, atau untuk sekedar menghubunginya menanyakan kabar, karena jelas dia sadar, dia adalah orang yang membuat Zhan menangis.
Sebenarnya, dia sendiri bingung dengan yang dia rasakan, sejak dulu dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia suka, dia akan lebih terlihat serius dan posesif, bahkan lebih terlihat galak, jika berhadapan dengan orang yang dia suka. Tetapi sekarang sudah jauh lebih baik menurut kakaknya.
Teringat saat di sekolah dasar dulu, saat ada seorang gadis cilik yang diam-diam Yibo sukai, gadis kecil dengan gigi kelinci, dan lesung pipi saat tersenyum.
Tipe yang sangat Yibo sukai. Alih-alih memberikan permen dan mengajaknya bermain, Yibo malah selalu mengganggunya. Dari menarik roknya hingga lepas, menabur pasir di rambutnya, sampai mendorong gadis itu saat naik ayunan hingga jatuh terjerembab.
Yibo bukan anak nakal, dia lebih ke arah pendiam, tetapi akan menjadi aktif jika bertemu dengan orang yang dia sukai, dan jangan lupakan kata-kata yang jarang dia ucapkan, tetapi sekali bicara menyakitkan, sungguh itu sebenarnya tidak bermaksud seperti itu, hanya saja ... sekali lagi, Tuan Muda Wang itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan orang yang dia sukai.
Sungguh membuat Haikuan sang kakak dibuat pusing olehnya, karena begitu banyak anak yang mengadu dan menangis gara-garanya, dan selalu Haikuan remaja sebagai kakak yang selesaikan, bahkan sampai saat ini dia yang akan selalu datang meminta maaf untuk setiap kesalahan yang sang adik lakukan.
Sebenarnya Yibo ingin dekat dengan para korbannya, tetapi caranya selalu salah, mungkin hanya di dunia maya saja dia bisa jadi anak baik dan penuh cinta kepada korbannya.
Jika dipikir, itu semua tidak 100% kesalahn Yibo, karena pada dasarnya pola asuh yang salah dari awal yang membuat karakter Yibo sedikit buruk, ditambah sang kakak selalu membelikan apa pun yang dia mau, membuat mentalnya berpikir jika apa pun yang dia mau bisa dia dapatkan, tanpa berpikir jika manusia tidak dapat dibeli terlebih yang memiliki hati seperti Zhan.
.
.
.
Berita di media massa sudah ramai, mereka begitu antusias menyambut film yang di gadang-gadang sebagai film of the years itu, mereka semua bekerja keras, rela tidur di parkiran hanya untuk mengumpulkan berita, tetapi semua harus mendapati kecewa karena hanya Yibo seorang yang turun dari apartemen itu.
Dibandingkan mereka semua, tampak seorang wartawan muda begitu semangat, dia masih sibuk dengan cameranya melihat lagi dengan teliti foto seseorang yang semalam dia ambil, seseorang berhoody merah dengan celana pendek putih itu.
"Cuihh ... Seperti ingin dikerek saja, merah putih!! Dia pikir bisa menipuku dengan wajah konyolnya!!" Dengan smirk meledeknya. "Lebih baik dia biasa saja, mungkin aku akan terkecoh!" ucap pemuda yang sudah ikut casting ke mana saja tapi tidak lolos itu, Jiang Cheng, yang sekarang akhirnya banting setir memanfaatkan pelajaran di sekolahnya dulu menjadi seorang wartawan dadakan dari salah satu surat kabar tidak terkenal.
Dia mengedit beberapa foto dan menyerahkan kepada bosnya dengan penuh percaya diri.
"Apa-apaan ini! Matamu rabun?" bentak sang bos saat melihat hasil jepretan Jiang." dengan raut kesalnya.
"Bos, lihat baik-baik! Lihat hoody merah itu, sepatu butut itu, dan perhatikan lagi foto Zhan yang aku ambil beberapa saat yang lalu." Pinta Jiang, sang bos membuang napas mengalah, dan mulai memperhatikan dengan teliti dan dia begitu terkejut saat menyadari jika itu benar jaket yang sama dan sepatu butut yang sama, yang sering Zhan kenakan.
Sang bos begitu senang dan meminta Jiang memperlihatkan hasil fotonya yang semalam saat Zhan keluar dari apartemen Yibo sambil menangis itu, dengan antusias Jiang memperlihatkan foto yang dia ambil semalam kepada bosnya.
Tampak raut wajah bangga Jiang karena akan menjadi satu-satunya wartawan yang mendapatkan bukti dari berita paling terpanas abad ini, bahkan dia sudah membayangkan berita apa yang cocok dengan bukti foto saat Zhan menangis ke luar dari apartemen Yibo itu.
Mungkin akan aku tulis ... Zhan yang dicampakan oleh Yibo! Atau Yibo yang melakukan kekerasan kepada Zhan, atau Yibo yang mencoba untuk memperkosa Zhan!!
"Arghhh !!!Gila-gila ...," ucapnya, semua ide gila mulai Jiang pikirkan untuk membuat judul berita yang spektakuler yang akan dicetak bersama foto yang dia dapatkan. Jiang tersenyum licik penuh bahagia. Namum, khayalan Jiang itu menjadi buyar saat sang bos memanggil namanya dengan kesal.
"Jianggg Cheng!! Apa yang kamu jepret, huh!!! Semua blur!!" ucap sang bos kesal.
Ada yang jelas, tapi terhalang kepala wartawan yang lain, ada yang tak terhalang tapi posisi Zhan membelakangi, gada bukti akurat yang menyatakan itu Zhan. Di antara itu, ada yang tak terhalang dan tidak blur, tapi wajah orang itu begitu menyeramkan, karena di ambil dari jarak yang begitu dekat hanya menampilkan bibir bengkak yang mengerikan.
"Ah, benarkah?" Reflek Jiang merebut semua foto di tangan bosnya itu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Semua begitu buruk dan kacau. Jiang mencoba menyakinkan bosnya lagi jika dia tidak akan salah mengenali Zhan, apalagi dengan keadaan jeleknya, mungkin Jiang akan tidak mengenali Zhan jika dia dalam mode tamvan, tapi jika mode jelek itu, tidak ada yang lebih mengenali selain Jiang cheng.
Bosnya kini telah berlalu meninggalkan Jiang Cheng yang masih meminta waktu untuk membuktikan lagi. Tapi sepertinya sang bos sudah tidak peduli.
Sekali lagi, Jiang ditolak. Sudah satu bulan dia bekerja di perusahaan abal-abal itu, tapi belum ada satu berita besar pun yang dia dapatkan, selain berita ecek-ecek yang dia dapatkan dari bergosip ria dengan ibu-ibu komplek. Hanya itu saja, dan sepertinya sebentar lagi dia akan menjadi gembel di kota. Bekalnya yang dibawa dari kampung semakin menipis, begitu juga dengan uang simpanannya, belum lagi dia tertipu kemarin saat seseorang yang katanya mengenal Zhan akan mengantarkannya kepadanya, tapi ternyata malah membawa kabur uangnya.
Pekerjaan tidak selesai uang habis, dan saat kesempatan emas datang dengan bodohnya tangannya tremor, hasil jepretannya semua blur, dan yang lebih membuat Jiang kecewa adalah karena Zhan berlalu begitu saja tidak mengenalinya, ada rasa khawatir saat melihat keadaannya seperti itu, tapi selanjutnya Jiang tak mau peduli.
TBC ...