Though Life

Though Life
pertemuan dengan tetua malaikat pencabut nyawa



Apa yang sebenarnya terjadi tadi,


Tetua malaikat pencabut nyawa menjelajahi waktu dan tempat,dengan menanyakan bahwa ada yang ingin menjadi muridnya,dan responnya sama,dan dtanpa sadar,tetua memberikan jawaban selalu ‘hanya mau ngetes’ lalu menghilang.


Kembali ke saat ini,


“Ya udah,waktu ku sudah mau selesai,kau pikirkanlah tawaranku.”Tetua itu segera keluar dan menghilang dari telaga roh Andang.


“Aku sudah bilang nggak akan…”Andang berdiri,dan sekejap,semuanya kembali menjadi semula,hanya tampak pot bunga di atas telaga berwarna kuning.Andang berjalan dan mengangkat pot bunga itu.


“Pueeh..”Roh rubah itu meludah karena mulutnya kemasukan tanah.Roh rubah itu segera menghirup kembali udara dan akhirnya tenang.


Andang mengangkat naga kucing itu.


“Ayo kita ke kamar.”Andang menjentikkan jarinya,dan dalam kedipan mata,mereka sudah berada di kafe.


“Kemana?”tanya si rubah merah.


“Kamar, goblok!Oh iya,bawa handuk sama seember air hangat.Panas lah.”Andang sampai di kamar.


Di kamar,tampak di sebelah kanan ada tempat tidur.dan di bagian paling depan,ada jendela yang terang.Andang melambaikan tangannya,menutup jendela itu.


Naga jucing itu mulai berkeringat.Perutnya kian mulai meronta ronta,tanda bahwa sudah mau keluar.


“Mana si kucing biru?dia kan suaminya..harusnya mendampingi selama proses persalinan.”Andang memakai sarung transparan yang datang dari saku bajunya.


“Kok bisa tahu suaminya?Aku doang yang dah lama gabung bahkan gak tahu dia jenis apa dia.”


“Itulah otak dipakai,jangan kepalamu yang kau pakai buat berpikir.”kata Andang merendahkan si rubah merah.


“Kau ambil bulu tikus yang ada di bawah kolong itu,”


Rubah merah itu mulai memasuki kolong tempat tidur,sebelah dari kolong tempat tidur yang dimaksud.


“Bukan,itu loh,”Andang kembali mengarahkan pandangannya pada naga kucing ,


“Mana nya,”Si rubah merah mencari kolong tempat tidur yang dimaksud oleh Andang,tapi malah nyasar ke kolong lemari yang lebih sempit.


“Go-blok kali kau,ituloh.Bahkan mata bayi aja bisa nengok.”


“kwkwkwkwk,bodoh katanya Rub,(Panggilan akrab si rubah merah)”Naga kucing itu ketawa,walau sedang menahan kesakitan yang ada.


“Udah,gak usah ketawa juga,udah dekat waktunya.”kata Andang sambil memasang sarung tangan nya.


“iya,iya,iya.”kata naga kucing itu sambil menahan rasa sakitnya.


Ruangan gelap,banyak lumut di setiap ujung,sarang laba laba,


Cahaya yang tembus dari jendela,melewati gorden yang rapuh.


Proses sudah dimulai,tetapi dari ruangan,tidak ada teriakan atau suara rintihan kesakitan.


Si rubah merah menunggu di luar.


Rasa khawatir ataupun gugup ada,tapi si rubah merah menahannya.


~Setelah 30 menit berlalu~


Andang keluar,mengeluarkan tangannya dari sarung tangan putihnya,dan menggulung sarung tangan bedahnya itu.


“Gimana?”Si Rub {Rubah merah,panggilannya} berusaha menahan kegugupan dan ketakutannya.


Tapi di mata Andang,kegugupan terlihat jelas di kakinya yang gerak gerak.


Andang menghelakan napasnya.


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,”Andang menundukkan kepalanya,


Dari muka Andang,jelas dapat dilihat sesuatu yang buruk terjadi,


Dan yang ada di pikiran rub,temannya mati.


Rub menangis sekencang-kencangnya,meraung-raung,dengan penyesalan di dalam hatinya.


Warna kedua ekornya yang merah,slambat laun berubah menjadi merah tua,gelap.


Tiba tiba,dari belakang si Rub,terdengar suara tangisan dari seekor naga biru.


Badan dia yang panjang dia gulung di lantai,dan jenggot biru tua menempel di ujung bawah dari dagunya.


Setelah beberapa saat menguatkan hati.


“Gimana masuk dulu,sebelum kita kubur bersama sama.”Andang berjalan kebelakang dengan perlahan.


“Yok,”dengan lemas dan tangisan di pipinya,Rub berdiri dan berjalan mengikuti Andang.


Si Naga biru itu ikut menyusuli Si Rub.


Sesampai di depan kamar,Rub menutup matanya,suara tangisan nya mulai terdengar,digabungkan dengan suara nangis si naga biru.


“Damn B*tch,can’t you shut up!!gak liat apa ada orang yang capek,HAH!”Suara amukan terdengar,disusuli dengan suara kucing kecil.{anggap aja seperti suara bayi bagi naga.}


“Lu kenapa Rub,nangis gitu?Habis ketemu mantan ya….ya kan?”Suara nya betul betul mengejek Si Rub,Tapi setidaknya Hati Rub tidak sedih lagi.


Setelah melap nangis yang ada di pipi rub,


“Kok masih hidup ini,tapi kan tadi,kan tadi….”Rub kebingungan dan kehabisan kata katanya.


“Tadi itu hanya ngeprank doang loh,jadi dokter sinetron gituloh,”Andang ketawa ketawa dengansi naga kucing.


“Btw,naga kucing,ini udah selesai kan,ada lah kado,sederhana, tapi kuharap kamu suka.”


“Udah,masuk.”Andang mengatakan pada si naga biru yang ada di belakang rub,


Karena si rub ada di depan pintu masuk,jadi Si naga biru tertutupi oleh si rub,jadi gak kelihatan.


Sosok naga pun masuk.