Though Life

Though Life
Peristiwa setelah kedatangan malaikat pencabut nyawa



“Kamu emang orang yang sangat,gimana ya,bilangnya?”


“Selesai.”Tiba tiba,Cahaya yang sangat terang menyilaukan mata si malaikat pencabut nyawa,Sehingga malaikat pencabut nyawa itu melompat ke belakang.


“Apa yang kamu lakukan?”Malaikat pencabut nyawa itu bertanya sambil menutupi kedua mata gelapnya dengan siku kanannya.


“Aku menangkal perginya jiwa mereka.”kata Andang,berdiri dan berjalan ke tempat malaikat pencabut nyawa itu jatuh tersungkur.


‘menangkal jiwa berarti aku hanya menghalangi.menghalangi proses tidurnya mereka.ini sama seperti asap,yang terhalangi oleh atap di satu bangunan.Jika kita ibaratkan,asap itu sebagai jiwa.atap sebagai penangkalnya,atau jiwa pengikat.bangunan itu adalah bumi.di bangunan itu ada ventilasi.ventilasi,kita ibaratkan sebagai jalan keluar lain,walaupun faktor itu tidak memungkinkan.Aku juga membuat cahaya silau,karena aku tahu,sebenarnya,walaupun gelap,malaikat pencabut nyawa tidaklah terlalu terpengaruh.Tetapi,hokum alam akan selalu ada,Bahwa,semua makhluk hidup dapat terkejut,dan itu juga berlaku kepada malaikat pencabut nyawa.Aku tidak tahu apa yang membuat malaikat pencabut nyawa sensitive,tetapi kalau masalah kejutan,akulah ahlinya.’kata Andang dalam hati.


“hahahahahah”Malaikat pencabut nyawa tersebut tertawa histeris sambil mengusap keningnya.


“Inilah yang pertama kalinya aku menemukan seorang anak kecil yang licik.”


“Nggak,nggak.aku gak rugi kok.peraturan pokok yang dibuat oleh masterku pada longgar longgar semua,jadinya,aku bisa dibilang sedikit bebas.”


“Waduh,aku harus kembali nih….saat ini mungkin aku tidak akan mencabut nyawa kedua orang tua mu,tapi,dari 10 tahun kedepan. dari sekarang,aku akan datang dan kita akan lihat,seberapa jauh perkembanganmu..oh iya,ketika kamu sudah berumur 12 tahun,akan ada dua bencana yang akan terjadi secara beruntun. ”kata malaikat pencabut nyawa.


“Sampai bertemu,ketika kamu berumur 12 tahun” Malaikat pencabut nyawa itu mundur satu langkah dan menghilang dalam sekejap.


“Betul betul membuat aku tegang!”Andang duduk terbaring di tanah,lalu memandangi kedua orangtua nya yang baru sadar.


Ayah nya yang baru bangun langsung duduk dan mengambil pisau nya dari kantong celananya.Dia melihat kekiri dan kekanan berulang kali sambil berteriak ‘keluar kau,aku gak takut sama kau!’


Ibu Andang yang baru sadar,Langsung bersembunyi di belakang


Punggung Bapak Andang.Sambil memposisikan jari telunjuk dan tengahnya di tulang punggung Ayah nya Andang,


“Sebaiknya kamu cepat habisi orang seram itu sebelum kamu yang kuhabisi!”


“Tenang aja,orangnya tadi kabur,ketika aura papa yang gelap muncul setelah papa tidak sadarkan diri.”Andang mendekat kea rah pangkuan bapaknya.


“Nah,ini baru namanya anak kecil.”Ayahnya Andang mencubit pipi Andang.


“Jadi gemeslah,manggil papa.kalau mama?”Ibu Andang menaruhkan kepala nya di pundak ayahnya Andang.


“Ga mau…”Andang berpangku tangan,mulutnya cemburut.dan menghadap ke samping.


Melihat ngambeknya Andang,Ibu Andang mulai mengepal tangan nya dibelakang punggung Ayahnya Andang,Lalu,Menghantam punggung Ayahnya Andang dengan kesal.


‘auch,Kenapa dah?’Ayahnya Andang berbisik di telinga Ibunya Andang.


‘Kamu kan yang ngajarin Andang yang begituan?’Tanya Ibunya Andang,di telinga Ayahnya Andang.


‘……’Ayahnya Andang diam,tidak merespon.Kulitnya mulai berkeringat,membasahi bajunya yang tebal.


‘Jawab!’Bisik Ibu Andang.


Setelah tidak ada respon dari Ayahnya Andang,Ibunya Andang mulai Menggigiti telinga Shinu dengan lembut,lalu membasahinya dengan air liurnya.


‘Apa kamu masih ingat,Shinu?’ Gigi Ibunya Andang bergerak menyentuh permukaan kulit telinga Shinu. ‘Ketika Aku bertanya apa kita akan bermain di malam pertama kita atau nggak.’Lidah Ibu Andang mulai berkeliaran menjilati telinga Shinu.


Shinu tetap menahan perasaan geli nya dengan perasaan takutnya dalam lubuk hati nya.


Ia teringat lagi masa masanya ketika baru nikah dengan ibu Andang.


Dari Author:Maaf banget karena udah gak upload chapter hampir satu bulan tanpa ada pemberitahuan.