THE TRUTH

THE TRUTH
PENGAKUAN 2



Bab 9 PENGAKUAN 2


Semakin hari bayangan masa lalu semakin menghantuiku. Sering kali aku mengigau sambil teriak-teriak saat tidur. Hal itu membuat Galih berlari menuju kamarku. Sepertinya dia sangat khawatir dengan kesehatanku.


“akayaknya Kakak periksa ke dokter saja” katanya sambil menempelkan kompres di dahiku.


“Sepertinya kau benar. Tapi aku sedang tidak berdaya sekarang. Bisakah kau memanggil Bidan Ayu yang rumahnya dekat kampus itu. Kita sering melewatinya saat berangkat ke kampus”


“Baiklah, aku akan kesana sekarang. Jangan lupa untuk memakan buburnya”


Aku tidak menyangka dia sebenarbya perhatian sekali. Membuatkan bubur pada orang yang sering memarahinya? Haha. Aku jadi tertawa geli memikirkannya. Sepertinya dia tumbuh semakin dewasa.


***


Tidak lama kemudian Galih datang bersama Bu Ayu yang biasa kumintai obat saat aku terlalu kelelahan.


“Apa kamu sangat ingin bertemu denganku sampai sakit seperti ini?” ledek Bu Ayu.


“Sepertinya aku sakit karena terlalu merindukan Bu Ayu” jawabku disambut tawa dari bidan berhijab itu.


Aku sering mengunjungi kliniknya meski tidak sedang sakit. Sekedar menghabiskan waktu luang dan berbincang dengannya. Anak keduanya yang masih kecil sangat hafal denganku. Lelaki kecil itu senang mengajakku bermain saat aku datang ke rumahnya. Umurnya masih sekitar 3 tahun dan dia cerewet sekali. Namanya Gading, sama sepertiku. Suaminya seorang dosen Fakultas Kdokteran di kampusku. Anak pertama perempuan masih SMP namanya Kartika. Dia sangat ceria dan suka bercerita tentang teman-temannya saat aku bertemu dengannya. Bu Ayu dan keluargany sangat baik padaku.


Thermometer otomatis sudah berada di mulutku saat ini. Tekanan darahku juga sudah diperiksa.


“Apa kamu merasa mual?”


“Tidak. Aku masih makan bubur dengan lahap” aku menunjukkan mangkuk buburku yang kosong.


“Baguslah. Apa ada yang sakit di tenggorokanmu?”


“Tidak ada”


“Lalu ada apa dengan lebam di wajahmu ini?”


“Biasa” jawabku singkat. Terpaksa aku tidak jujur kali ini. Aku tidak ingin membuat orang lain begitu khawatir.


“Jadi itu ya… resiko menjadi ‘si tampan’?” aku mengangguk mengiyakan. Tidak ada yang tidak Bu Ayu tahu tentangku. Bahkan masalah wanita sekalipun. “Sepertinya kamu hanya kelelahan saja. Kamu akan segera sembuh dengan beristirahat yang cukup. Jangan lupa makan yang teratur dan minum obatnya dengan teratur juga” lanjutnya. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.


“Terimakasih” ucapku.


“Pasti kamu terlalu sibuk ngurus OSPEK ya? Ditambah kerja lembur pasti. Iya kan?” beliau ini sudah seperti seorang ibu yang kesal pada anaknya yang terlalu giat bekerja sehingga jatuh sakit. Aku hanya meringis saja.


“Jadi ini teman barumu?” tanya Bu Ayu saat melihat Galih yang sedari tadi berdiri di dekat tempat tidurku.


“Iya” jawabku.


“Sepertinya, pangkatmu sebagai ‘si tampan’ akan terkalahkan” kata Bu Ayu sambil memandang wajah Galih.


“Itu bukan masalah besar buatku” beliau tertawa dan meminta ijin untuk pulang.


Aku teridur pulas setelah meminum obat. Bangun dari tidur badanku terasa lebih enakan dibanding sebelumnya. Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 3 sore. Sepertinya Galih sudah berangkat kerja sekarang. Aku akan membuat makananku sendiri. Peretku terus berbunyi setelah aku bangun dari tidurku.


Saat menuruni tangga untuk menuju dapur, seseorang membuatku tercengan.


“Kamu tidak kerja hari ini?” tanyaku pada Galih.


“Aku sedang ambil cuti hari ini. Rasanya tubuhku lelah sekali”


“Tapi tampaknya kamu sehat-sehat saja” komentarku sambil menuju meja makan dapur. Aku terkejut saat sudah ada banyak makanan di atasnya. “Jadi kamu tidak masuk kerja karena ini?”


“Sudah kubilang aku sedang lelah. Jangan terlalu kepedean” jawabnya tanpa menatapku. Dia sedang sibuk melihat TV.


Aku menjadi tertawa geli sendiri. Tetapi aku memakan makanan itu dengan lahap.


Rasanya Galih lebih sering memasak dari pada aku akhir-akhir ini. Dan seperti biasa dia langsung membersihkan peralatan setelah selesai memasak. Seandainya dia perempuan, dia adalah calon istri yang ideal.


“Sekarang aku akan memutuskan untuk mencari istri sepertimu” kataku pada Galih.


“Apa kakak sedang mengigau lagi?” sahutnya.


“Hahahaha… anggap saja iya”


Setelah selesai makan aku ikut menonton TV bersamanya.


“Oh ya kak” aku menoleh ke arah temanku nonton TV. “Kenapa foto di dinding kamar yang aku tempati sekarang tidak ada foto kakak waktu bayi?” lanjutnya.


Seketika pertanyaan itu membuatku terdiam seribu bahasa.


“Hmm.. sepertinya aku akan mengatakannya padamu” seketika Galih mematikan TV nya. “Sebenarnya di sini aku bukanlah anak kandung” dia mulai terlihat terkejut. “Dulu aku diadopsi saat masih SD kelas 1” jelasku. Galih terdiam sejenak lalu mulai bercerita.


“Sebenarnya,.. saat orang tuaku mengatakan tidak punya fotoku waktu masih bayi, aku berpikir kalau aku ini anak adopsi” Galih memulai pembicaraannya.


“Kamu tidak ingat masa lalumu?”


“Sama sekali tidak. Padahal aku sangat ingin mengingatnya”


“Kenapa begitu? Apa itu ingatan yang buruk?”


“Lebih tepatnya aneh sekali” Galih menatapku tajam. “Jadi ada dua ingatan yang kumiliki sebelum aku masuk di rumah ini sebagai anak adopsi”


“Apa itu?”


“Pertama, saat Ibu kandungku dihajar oleh seorang lelaki yang masih terlihat muda. Kedua, saat sebelum ibuku meninggal. Dia terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya, tubuhnya juga menggigil. Tetapi seseorang mengangkat tubuh kecilku dan menjauhkanku dari ibuku sambil berkata ‘jangan mendekatinya’” jelasku.


“Jadi Kakak ingat wajah ibu kandung Kakak?” tanyanya.


“Anehnya aku tidak ingat sama sekali dengan wajahnya”


“Kok bisa? Bagaimana kakak tahu kalau dia itu ibu kandungmu?”


“Dalam ingatan itu aku menangis dan memanggilnya mama” tegasku. Galih mengangguk dan terdiam sebentar.


“Jika memang aku bukan anak kandung, setidaknya aku ingin tahu siapa orang tua kandungku” katanya.


“Apa kamu yakin kamu bukan anak kandung?”


“Sangat yakin, bahkan aku tidak mirip sama sekali dengan mereka”


“Apa kau berharap punya orang tua kandung yang cantik dan tampan?” ledekku.


“Bukan begitu maksudku” jawabnya dengan wajah kesal.


“Apa ingatan yang pertama kali kamu ingat saat masa kecilmu bersama orang tuamu yang katamu jahat itu?” tanyaku pada Galih.


“Seingatku saat aku jadi murid pindahan waktu masih SD kelas 4”


“Kenapa kamu pindah sekolah?”


“Aku tidak ingat lagi kenangan sebelum itu”


“Baiklah.. apa setelah kamu kabur dari rumah orang tuamu mencarimu?”


“Iya, mereka sempat mencariku. Tetapi teman lamaku bilang kalau orang tuaku sekarang telah mengadopsi anak”


“Dan melupakanmu?” aku mulai tercengang.


“Iya. Apa ada orang tua kandung yang berhenti mencari anakknya yag kabur dari rumah dan memilih mengadopsi anak?”


“Sulit kupercaya” jawabku singkat.


Galih menyalakan lagi televisinya. Kita masih duduk dengan memandang tv meski pikiran kita entah berada dimana. Dan sesuatu datang mengagetkan. Bel rumahku berbunyi, seseorang berteriak memanggil namaku sambil menggedor pintu. Suara bel dan gedoran pintu berbunyi bergantian. Dari suaranya, aku tahu itu siapa.


“Mas Bayu, ada apa?” tanyaku saat mebukakan pintu untuknya.


“Dasar anak nakal, kenapa kamu sakit tidak bilang-bilang? Dan ada apa dengan lebam di pipimu ini?” sambil menarik telingaku dia terus memarahiku seperti ibuk-ibuk yang marah karena anaknya bandel.


“Aw aw aw.. sakit” keluhku. Dia melepaskan tangannya dari telingaku.


“Hai Galih, salam kenal ya” dia tidak menghiraukanku dan malah menyapa Galih.


“Jadi sekarang ceritakan padaku apa yang sudah terjadi” sambil mengeluarkan sesuatu dalam kantung plastic yang dibawanya. Buah jeruk, apel, dan minuman elektrolit tertata rapi di meja depan TV.


“Biasa lah.. anak muda” jawabku.


“Aku tidak bertanya padamu. Karena kamu selalu bohong” Mas Bayu menatap ke arah Galih.


Galih terlihat bingung mau menjawab apa. Aku berharap dia tidak mengatakan yang sebenarnya pada Mas Bayu.


Aku masih memperhatikan Galih yang belum juga memberi jawaban. Semoga kali ini dia bisa diandalkan.


“Sepertinya masalah wanita” kata Galih. ‘Akhirnya’ gumamku dalam hati. “Hari kamis lalu Kak Gading terlihat sedang ngobrol sama cewek dengan wajah serius” lanjutnya. Tidak kusangka Galih pintar juga mengarang cerita. Terdengar sangat meyakinkan. Aku memberikan isyarat jempol padanya.


“Yakin Cuma gara-gara itu?” Mas Bayu memastikan.


“Seseorang yang sedang punya pacar menyatakan perasaannya padaku pada kamis lalu” kataku.


“Sepertinya wajahmu itu sering membawa mala petaka dari pada keberuntungan” ejeknya.


“Benar sekali, rasanya aku ingin merubah wajahku” kataku mengiyakan.


“Kau tahu, aku sering iri pada laki-laki tampan. Tapi kalau masalah yang timbul akan sesering itu, aku menjadi bersyukur dengan wajahku sekarang” kata Mas Bayu.


“Itu kabar bagus” aku menganggukkan kepala setuju.


“Apa kau juga punya masalah yang sama seperti dia?” pandangannya tertuju ada Galih.


“Pernah, tapi tidak sesering itu”


“Baguslah. Apa yang akan diandalkan lelaki tampan kalau dia tidak punya uang. Benar kan? Sekarang uang lebih berkuasa dari segalanya” tungkas Mas Bayu. Rasanya seperti ada yang tersirat dari kata-katanya itu. Entahlah..