THE TRUTH

THE TRUTH
THE TRUTH



Bab 17 THE TRUTH


“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” kataku dalam keadaan yang membingungkan ini. Kita hanya saling pandang. Pak Rudi terlihat bingung bagaimana memulainya.


“Apa maksud Kakak? Apa Kakak juga tahu nama itu?” Tanya Galih padaku.


“Tentu saja aku tahu. Namaku Wilujeng Gading sebelum masuk keluarga ini. Karena keluarga Adrian mengadopsiku, namaku diganti Gading Adrian” jelasku.


“Tidak mungkin. Kau tidak pernah cerita kalau punya adik sebelumnya” bantah Galih.


“Aku memang tidak punya adik. Seingatku ibuku meninggal tanpa meninggalkan seorang adik untukku” jelasku.


Suasana semakin lama semakin tidak bisa kumengerti. Pak Rudi tidak juga mengatakan sesuatu sampai sekarang. Suara bel memecah kesunyian yang melanda sampai detik ini. Aku beranjak membukakak pintu. Terlihat Mas Bayu datang sambil membawa kantong plastic di kedua tangannya. Aku mempersilahkannya masuk.


“Ada apa ini?” komentarnya saat merasakan atmosfir yang tidak biasa di ruangan ini.


“Apa orang tuaku pernah bercerita tentang masa laluku sebelum aku diadopsi?” tanyaku pada Mas Bayu.


“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu?”


“Aku hanya tiba-tiba ingin tau” jawabku.


“Baiklah” seperti sudah mengerti situasinya, Mas Bayu menceritakan tanpa basa-basi “Dulu pak Adrian sangat suka sekali bercerita tentangmu. Seperti yang kau tau, mereka berdua sangat menyayangimu” kita semua mendengarkan secara seksama. “Aku pernah bertanya padanya suatu hari, kenapa anda mengganti namanya?, Dia bilang katanya dia ingin membuatmu benar-benar seperti anak kandungnya.


Lalu, dia juga bilang namamu sangat bagus, sayang sekali kalau diganti, namamu sama seperti nama pemegang saham rumah sakit terkenal di provinsi ini. Tapi keinginannya adalah untuk menjadikanmu anak dari keluarga Adrian seutuhnya, dia harus mengganti namamu. Itu saja. Dia tidak pernah bercerita tentang masa lalumu, dia lebih suka menceritakan tentangmu saat itu dan masa depanmu” kita semua masih terdiam.


“Itu benar, dia memang benar anak kandung dari pemegang saham terkenal itu” sahut Pak Rudi.


“Tidak mungkin, jangan membuat cerita konyol seperti itu” kataku. Aku merasa semua ini hanyalah seperti kisah dongeng saja. Tetapi terlihat begitu nyata. “Lalu bagaimana dengan Galih? Aku tidak pernah punya adik” tegasku. Semua mata beralih pada Pak Rudi dengan penuh rasa penasaran.


“Dia adik tirimu” katanya. Sontak kata-kata itu membuat seisi rumah merasa terkejut dan tidak percaya.


“Lalu anda itu siapa? Kenapa anda bisa tahu?” Galih sedikit meninggikan suaranya.


“Ibu kandung Gading, Jasmin Bimantara adalah adik kandungku” aku ingat dia pernah bercerita tentang adiknya yang meninggal, jadi yang dia maksud adalah ibuku? Aku masih belum bisa mempercayainya. “Toni Gagad Wilujeng, ayah kalian. Memutuskan untuk menikah lagi saat Jasmin masih berstatus sebagai istrinya, dan Gading masih sangat kecil. Tetapi ayah kalian tetap menikah tanpa persetujuan istri sahnya”


“Menikah dengan Ibunya Galih?” tanyaku.


“Iya” aku melihat Galih mulai menundukkan kepalanya. “Jasmin memutuskan untuk keluar dari rumah, dan tinggal di panti asuhan bersamamu, apa kau ingat Gading?”


“Aku mengingatnya sedikit. Mama meninggal saat di panti asuhan” kataku "Tapi kenapa Mama nggak pulang aja ke orang tuanya? Kenapa ke panti asuhan?" tanyaku.


"Orang tua kita sudah meninggal, dan dia tidak mau merepotkanku" jelasnya.


“Ibumu sangat tidak setuju dengan Ayahmu" lanjutnya "Dia bahkan tidak mau menerima uang dari Ayahmu meski dia sangat membutuhkannya. Dia menyandang kanker paru-paru saat itu, sampai dia akhirnya meninggal” jelasnya.


Seketika muncul cairan hangat mengalir di pipiku. Kenangan itu serasa terilihat jelas di depan mata kepalaku sekarang. “Ibunya Galih, Patricia Griet adalah keturunan Indonesia Belanda. Tapi..” Pak Rudi berhenti sejenak.


“Tapi apa?” Galih penasaran, begitu juga aku.


“Aku harus mengatakan kalau dia bukanlah wanita yang baik” katanya.


“Dia mengklaim anaknya meninggal saat melahirkan, tetapi sebenarnya dia membawa anak yang baru lahir itu ke Panti Asuhan yang sama sepertimu” Pak Rudi memandangku. “Waktu itu Jasmine masih hidup, dan merawat anak itu dengan baik seperti anaknya sendiri. Bahkan dia juga yang memberinya nama” aku melihat Galih menangis tersedu. Aku mendekatinya berusaha menenangkannya. Aku lupa kalau pernah bertemu dengannya dulu, mungkin karena aku masih sangat kecil.


“Lalu, dimana dia sekarang?” tanyaku.


“Bu Patricia sekarang adalah CEO Rumah sakit ternama di Ibu Kota, rumah sakit milik ayahmu” dia berhenti sebentar. “Dan ayahmu sedang sakit sekarang” katanya.


Aku bahkan sudah tidak mengingat wajahnya lagi. Tetapi aku sering mendengar nama-nama itu di TV.


“Oh iya Paman” dia terlihat berkaca-kaca saat kupanggil paman. “Tadi anda bilang kalau kita akan dapat masalah malam ini?”


“Sebentar.." sela Mas Bayu "Apa aku tidak salah dengar? Masalah? Ada apa ini?” Mas Bayu tentu saja bingung, karena aku tidak pernah mengatakan padanya.


Aku bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Mas Bayu, ceritanya terlalu panjang dan masih mengambang di kepalaku. Rasa ingin tahuku sangat tinggi tentang siapa yang ada di balik ini semua.


“Aku memang sedang menyelidiki masalah ini bersama timku" kata Paman Rudi "Dan tadi aku baru dapat info kalau akan ada pergerakan malam ini. Kita belum tahu akan seperti apa itu, aku masih menunggu kabar selanjutnya” jelasnya.


Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Nomor yang tidak kukenal sedang menghubungiku. Sekarang aku mulai merasa sedikit panic. Semua orang menatapku penasaran, dan aku ganti menatap mereka satu persatu dengan wajah ragu.


Belum sempat kuangkat telfonnya, panggilan itu berhenti.


“Kenapa kau tidak mengangkatnya?” Tanya Mas Bayu.


“Nomornya tidak kukenal” jawabku.


“Tapi bagaimana kalu itu penting?”


Nomor asing tadi menghubungiku lagi. Aku merasa yakin kalau ini adalah panggilan penting. Bisa jadi Andi sedang ada masalah dan butuh bantuanku. Atau apalah itu. dan aku mengangkat telfonnya.


“Halo” sapaku.


“Dengarkan aku” terdengar suara laki-laki yang tidak kukenal. Aku mulai merasa setelah ini akan ada masalah besar.


“Siapa ini?” seketika semua orang menatapku dengan serius. Aku seperti sudah tahu apa yang mereka pikirkan.


“Aku ada di luar, apa kau bisa kesini sebentar?” jantungku mulai berdegup tidak beraturan. Seketika aku mengalihkan pandanganku menuju pintu depan. Tiga orang yang ada di sampingku juga ikut memandang pintu dengan penuh tanda tanya.


“Kau pasti bercanda” jawabku. Orang itu malah tertawa.


“Haha, kau pikir aku bercanda? Coba kutebak, sekarang kau sedang bersama adikmu, kepala polisi itu, dan seorang lagi yang aku tidak kenal siapa dia” aku mulai merasa dia tidak sedang bercanda.


Dengan mengumpulkan semua keberanianku, aku berjalan perlahan menuju pintu. Terlihat mereka bertiga ingin mengikutiku, tetapi aku melarangnya.


Setidaknya kalau nasib sial sedang melandaku, masih ada mereka yang mungkin bisa menyelesaikan masalah ini.


Aku melangkahkan kakiku yang terasa berat ini dengan perlahan. Detak jantungku masih tidak karuan, tetapi aku berusaha untuk mengendalikannya sebisa mungkin.


Hal seperti apa yang akan kuhadapi setelah ini aku tidak yakin. Bisa saja dia berada di depan dengan senjata yang siap membidik, bisa juga dia sudah menyiapkan jebakan seperti peledak yang bisa dipakai kapan saja, atau mungkin dia bersama puluhan temannya akan menyerbu rumah ini, dan lain sebagainya. Aku mengambil napas panjang berkali-kali.