THE TRUTH

THE TRUTH
TERROR



Bab 13 TERROR


Seminggu berlalu, dan masalah unik ini akhirnya sudah selesai sepenuhnya. Sudah tidak ada gossip yang menyebar di kalangan mahasiswa. Kehidupanku sudah normal lagi sekarang, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


***


Senin adalalah hari yang sibuk, apalagi ada jadwal pembekalan KKN 2 nanti sepulang kuliah. Itu berarti pulangku agak telat hari ini. Aku yakin Galih sudah berangkat Kerja sebelum aku sampai rumah.


“Apa kamu yakin, nggak akan mengajukan pindah kelompok denganku?” Tanya Ratih. Masih ada waktu 30 menit lagi sebelum pembekalan. Aku dan teman-teman sedang duduk santai di gazebo depan gedung Fakultas.


“Kurasa tidak. Ini tidak akan menjadi masalah besar, percayalah padaku” Ratih mengangguk dengan berat hati.


Lima belas menit seblum acara dimulai, aku dan teman-teman akan segera naik ke lantai tiga untuk menuju aula. Tetapi datang sebuah suara yang menghentikan langkah kami, suara yang tidak asing lagi di telinga. Dia adalah Pak Veri, dosen mata kuliah kehumasan dan salah satu Pembina UKM Paduan Suara.


“Ratih..” suara kerasnya memanggil Ratih dari jauh. Pandangan kita semua mengarah pada sumber suara itu. Ada yang ikut berhenti, dan ada juga yang terus berjalan menuju aula. “Ratih, bisa ikut saya sebentar?” mata dosen muda itu tertuju pada Ratih.


“Baik Pak” jawab Ratih. Wajah manisnya menatapku minta persetujuan, dan aku mengangguk. “Duluan aja, aku akan menyusul nanti” pesannya sambil berlalu meninggalkan kami.


***


Lima menit lagi acara akan segera dimulai, tetapi Ratih belum juga datang. Aku mulai khawatir padanya. Apa terjadi sesuatu dengannya? Gumamku. Kuambil handphone dari dalam tas ranselku dan berniat untuk menghubunginya. Tetapi ada satu pesan yang masuk. Dari Ratih.


“Aku akan datang saat acara sudah berlangsung, tidak usah mengkhawatirkanku” pesannya itu malah membuatku semakin khawatir. Dan aku membalasnya “Jangan lama-lama”.


Sudah tiga puluh menit berlalu sejak acara dimulai, dan aku masih belum melihatnya memasuki ruangan ini. Bahkan pesanku belum juga dibalas. Andi yang duduk di sampungku seperti mengerti kebingunganku. Kaki kiriku yang tidak bisa berhenti bergerak menandakan kegelisahan telah melandaku.


“Ratih ada dimana?” nadanya terlihat khawatir juga.


“Tidak tau, dia tidak membalas chat terakhirku”


“Kau harus ijin keluar dan menelfonnya” tanpa menjawab, aku langsung berdiri dan minta ijin keluar sebentar.


Samapi di luar aula, aku melihat kanan kiri, dan aku tidak menemukannya disana. Kalau tidak salah mereka tadi tidak masuk gedung, aku yakin pasti mereka ada di luar.


Aku berlari menuju lift sambil mulai menelfonnya. Tetapi lift nya masih terpakai, aku lari menuju tangga darurat sambil mencoba menelfonnya lagi, dan tetap saja tidak diangkat. Ada apa dengan anak ini? Gumamku kesal.


Setelah keluar gedung, aku berlari ke arah kanan, arah yang dituju mereka tadi, sambil terus menelfonnya. Mataku terus menelusuri di sekelilingku, tetapi nihil, aku tidak menemukannya.


“Ayolah.. angkat telfonnya” kataku lirirh, sambil terus menelfonnya.


Di taman dekat lapangan juga tidak ada. Aku mulai berlari memutari pinggiran lapangan sambil melihat kesana kemari, sampai seseorang berjalan dengan lemas sambil menunduk yang ada di seberang lapangan sana telah mencuri perhatianku. Itu Ratih. Aku berlari ke tengah lapangan dan mendekatinya.


“Ratih.. “ teriakku padanya. Tetapi dia terlihat seperti tidak mendengar panggilanku. “Ratih..” aku memanggilnya sekali lagi, tetapi dia masih tertunduk. Sekaranga aku sudah berada dekat dengannya dan memeluknya. Tetapi dengan segera dia mendorong tubuhku manjauh darinya. Aku mencoba memeluknya lagi, tetapi dia malah mendorong semakin keras.


“Kenapa?” tanyaku padanya yang masih menunduk itu. “Ada apa denganmu?” dia mulai menatapku dengan penuh amarah. Sesuatu pasti telah mempengaruhi pikirannya saat ini. Dia terlihat berbeda dari sebelumnya.


“Jangan mendekatiku” katanya membuatku sangat terkejut.


“Hei.. katakana apa yang sedang terjadi” aku mencoba memegang tangannya tetapi dia menampiknya. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini. Sekarang aku bingung harus berbuat apa. Dia beranjak pergi begitu saja. Dan aku berusaha menghentikannya.


“Jangan mengikutiku” dia berteriak padaku. Aku terdiam seribu bahasa dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya. Dengan berat hati aku mematuhi perkataannya. Dia tidak pernah membentakku seperti ini. Aku hanya terdiam dan terus memandanginya sampai dia tidak terlihat lagi di hadapanku. Dering telfon hp ku membuatku terbangun dari rasa gelisah.


“Halo”


“Gading, kamu dimana?” sepertinya Andi yang menghubungiku.


“Apa acaranya sudah selesai?” tanyaku


“Sudah. Setengah jam kamu tidak balik ke aula. Ada apa?”


“Tolong bawakan tasku, aku akan pulang duluan” aku menutup telfonnya berlari mengejar Ratih. Dia belum terlalu jauh di depan sana. Terihat dia berjalan sambil menangis, aku tidak berani mendekatinya.


Dia pasti akan marah lagi padaku. Aku berjalan di belakangnya membuntutinya diam-diam. Tangannya tidak perhenti mengusap wajahnya. Orang-orang di sekitar yang melihatnya merasa bingung, tetapi tidak ada seorangpun yang mendekatinya.


Aku masih membuntutinya, sampai kulihat Mila yang sedang berjalan berlawanan arah berlari menghampirinya. Mila memeluk Ratih dan berusaha menenangkannya. Saat tahu kalau aku ada di situ, Mila seperti ingin memberi tahu Ratih. Tetapi aku memberi isyarat supaya dia tidak memberi tahunya. Dan dia mengiyakan.


Aku tidak tahu apa yang mereka katakana, dan sekarang mereka beralih duduk di bangku panjang bawah pohon besar di belakang Lab Kimia. Aku bersembunyi dibalik dinding dan diam-diam mendengar pembicaraan mereka.


“Ada apa Ratih?”


“Gading telah menghianatiku” jawabnya sambil terus menangis. Apa maksudnya menghianati, pikirku.


“Menghianatimu? bagaimana bisa?”


“Tadi aku dikasih tau Pak Veri” sudah kuduga orang itu yang mempengaruhinya “Katanya Gading berlaku buruk pada wanita lain” lanjutnya.


“Berlaku buruk gimana?”


“Waktu dia katanya ijin ke Klinik Universitas waktu itu..” sambil terisak “dia berlaku tidak senonoh pada sorang wanita”. ‘Cerita gila macam apa ini, bagaimana aku bisa melakukan hal yang seperti itu. Dan bagaimana Ratih bisa percaya dengan cerita konyol ini? Dia bukan tipe orang yang gampang percaya.


“Apa kamu percaya Gading akan melakukan hal seperti itu?” aku masih mendengarkan percakapan mereka.


“Kurang ajar” aku berlalu meninggalkan tempat persembunianku dan mencari Dosen si*lan itu. Bagaimana dia bisa mempengaruhi Ratih seperti ini, sepertinya dia sudah lama menyiapkan scenario murahan ini. Aku hanya menyumpah saja di perjalannku menuju kantor Dekan. Bahkan aku tidak menghiraukan Andi yang tidak sengaja berpapasan denganku.


“Hei Tunggu” Andi mengejarku dan menarik bahuku.


“Jangan menghentikanku si*lan” bahkan aku menyumpahinya.


“Tunggu sebantar” dia membalikkan tubuhku “Apa yang terjadi?”


Aku melepaskan tanganya yang memegang pundakku “Aku akan menemui dosen si*lan itu” jawabku dengan nada kesal dan beranjak pergi.


“Apa kau akan memperkeruh keadaan?” aku tidak menghiraukannya. “Ratih akan semakin membencimu” aku masih tidak menghiraukannya. Lalu dia datang mengejarku. “Tenangkan pikiranmu, apa kau akan memukulnya di kantor dan membuat semua yang ada di kantor menganggapmu sedang kurang waras?” pernyataannya membuatku berhenti. Dia benar, hal itu akan terjadi kalau aku tiba-tiba datang ke kantor dan menghajarnya.


“Lalu apa yang harus kulakukan?” aku semakin putus asa.


“Tenangkan dirimu dulu, aku tidak tau apa yang terjadi, tapi apa kau sudah bertanya pada Ratih?”


“Dia bahkan tidak mau menatap wajahku”


“Lalu bagaimana kamu tau kalau penyebabnya adalah Pak Veri?”


“Ratih bertemu Mila tadi, dan aku mendengarkan perkataan mereka” Andi terdiam. “Menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang?” dia masih terdiam dan berfikir.


“Kau harus bertanya baik-baik pada Pak Veri. Aku akan menemanimu”.


“Kau benar. Maafkan aku” kataku.


Kita berdua berjalan menuju kantor Dekan. Andi memberikan tasku yang kutitipkan padanya tadi. Sambil terus berjalan, aku menata emosiku yang meluap. Sekarang aku harus bisa berpikir rasional dan tetap sabar walau aku tidak menyukai keadaan ini.


Sesampainya di kantor, beruntung kita masih ada kesempatan bertemu dengan Pak Veri yang terlihat sedang sibuk. Dosen muda, lajang, dan digandrungi para mahasiswanya itu sedang sibuk dengan laptop di hadapannya. Kita berdua menghampirinya dan meminta waktunya sebentar.


“Permisi Pak Veri, apa kita bisa bicara sebentar?” Andi memulai aksinya.


“Iya, silahkan. Apa yang bisa saya bantu?”


“Bisa bicara di luar saja Pak?". Di sini sedang ramai para dosen yang sibuk dengan pekerjaanya. Bukan tempat yang tepat untuk membicarakan masalah pribadi.


“Tentu saja, mari kita bicara diluar” dia terlihat tenang tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dan itu membuatku semakin ingin memukul wajahnya yang terlihat arogan.


Sekarang kita bertiga tiba di sebuah gazebo belakang kantor dekan yang terlihat sepi. Pak Veri duduk di pinggiran gazebo sedangkan aku dan Andi berdiri tepat dihadapannya.


“Jadi, apa yang bisa kubantu?” tanyanya sambil duduk menyilangkan kakinya.


“Tadi Ratih setelah bertemu dengan Bapak terlihat sedih dan menjadi benci padaku” aku memulai pembicaraan.


“Oh ya? kenapa Ratih melakukan itu padamu? Bukankah kalian selalu akrab?”


“Bapak benar-benar tidak tau tentang itu?” tanyaku sambil berusaha sabar.


“Apa kau sedang menuduhku? Buat apa aku menyuruhnya untuk membencimu?” dia masih terlihat santai tanpa merasa bersalah.


“Aku hanya bertanya Pak. Lagian tidak ada orang yang menyuruh orang lain untuk membenci, kecuali dia memprovokasinya dan menanamkan rasa benci itu”


“Oke.. jadi sekarang kamu ingin aku berbuat apa tentang masalahmu itu?” dia masih terlihat tenang. Orang ini licik sekali, pikirku. Aku mengambil napas menenangkan emosiku.


“Sebelum kesini, aku mampir dulu ke Klinik” perkataanku sepertinya membuat Pak Veri sedikit kebingungan. “Aku bertemu dengan petugas Klinik dan…”


“Maaf, ada hal penting yang harus kulakukan sekarang” dia memotong pembicaraanku sambil melihat ke jam tangannya dan melangkah pergi.


“Apa bapak sedang memberikan contoh yang tidak baik pada kami?” seketika Pak Veri berhenti dan berbalik memandagku. Terlihat Andi juga memandangku dengan penuh was-was.


“Apa maksudmu? Sudah kubilang aku tidak ada kaitannya dengan masalah pribadi kalian”


“Bukan itu maksud saya, kenapa Bapak tiba-tiba marah begitu?” terlihat konsentrasinya mulai tidak stabil “Maksud saya. Bapak tiba-tiba pergi begitu saja sebelum saya selesai berbicara, bukankah itu hal yang tidak baik untuk dilakukan seorang humas?” lanjutku.


“Aku harus segera pergi” dia tak menghiraukan perkataanku.


“Tadi anda betanya apa yang bisa anda bantu, sekarang saya sedang butuh bantuan anda” kataku sambil sedikit beteriak karena posisinya yang cukup jauh. Sudah kuduga dia tidak bisa mengelak dari pernyataan itu. Dia berhenti dan berbalik badan lagi. Aku mendekatinya.


“Sudah kubilang.. jangan…”


“Saya hanya minta tolong, Bapak jangan pulang terlalu malam, udara malam tidak baik untuk kesehatan Bapak. Jangan lupa selalu menjaga kesehatan Bapak. Dan jangan berhenti untuk menjadi dosen idola para mahasiswa. Karena aku melihat teman-temanku banyak yang mengidolakan Bapak. Itu saja. Selamat sore” aku pergi meninggalkannya yang terlihat bingung itu.


“Kau terlihat keren saat memakai kepalamu dengan benar” ledek Andi. Aku hanya terdiam dan terus berjalan. “Sekarang kita kemana?” lanjutnya.


“Klinik” jawabku singkat.


“Ngapain?” meskipun bingung, Andi masih saja mengikutiku.


“Mencari bukti”