THE TRUTH

THE TRUTH
THE END?



Bab 20 THE END??


Sekitar satu bulan setelah kejadian itu, semua kembali seperti semula. Wajahku kembali tampan dan kuliah tetap jalan, begitu juga pacarku, tidak berubah sedikitpun. Dia dan Mas Bayu bergantian merawatku dan Galih, sampai orang tuanya tidak sengaja tahu tentang hubungan kita.


Teman-teman kuliahku juga tidak berubah. Andi bahkan hampir setiap hari menjengukku, kadang menginap di tempatku. Aku sangat bersyukur banyak orang yang peduli padaku. Galih, adikku, dia juga terlihat sehat seperti sebelumnya.


Pada suatu hari dia bertanya padaku.


“Apa sekarang kita saudara?” tanyanya.


“Kita sudah saudara dari dulu, dan seterusnya” jawabku sambil tersenyum lebar padanya “Bagaimana menurutmu?” tanyaku.


“Tidak buruk” jawabnya singkat yang membuatku sedikit kesal.


“Apa kau tidak puas punya kakak sepertiku?”


“Jawabanku sama seperti Kak Ratih” katanya sambil menunjuk Ratih yang ada di sebelah kita. Dan dia hanya tersenyum.


Ayah kita sekarang ditahan di kantor Polisi atas tuduhan tindakan kekerasan dan percobaan pembunuhan bersama dengan David dan Patricia.


Beberapa waktu lalu, berlembar-lembar kertas kutandatangani untuk pemindahan kepemilikan saham milik Ayahku. Aku sudah membicarakannya dengan Galih, tetapi sepertinya dia tidak suka hal-hal yang merepotkan seperti mengurus saham.


“Kamu yakin ini atas namaku saja?” tanyaku padanya beberapa waktu lalu.


“Iya..” jawabnya singkat.


“Kamu sebenarnya malas kan?” cetusku. Dia tidak menjawab dan hanya menatapku beberapa saat.


“Udahlah.. Kakak aja, aku gak yakin kalo aku bisa bertanggungjawab” katanya. “Kakak urus itu aja, aku bisa jaga diri sendiri, jadi jangan khawatir?’ jelasnya.


“Kamu nggak ikut tinggal di rumah Ayah?”


“Nggak ah, jauh dari kampus” jawabnya.


“Ya udahlah, aku juga di sini aja. Lagian buat apa rumah besar kalo Cuma sendiri” kataku.


Kita berdua memutuskan untuk tetap tinggal di rumah lamaku, tepatnya di rumah mendiang orang tua angkatku. Dan rumah Ayah yang bak istana itu kubiarkan Mas Bayu yang memakainya. Selain itu, masalah Rumah Sakit juga kuserahkan padanya setidaknya sampai aku lulus kuliah.


Sebenarnya Mas Bayu sangat menolak tawaran itu, tetapi aku membujuknya.


“Ayolah Mas… bantuin aku” bujukku.


“Nggak.. nggak mau” jawabnya.


“Tolonglah… setidaknya sampai aku lulus kuliah, nggak lama kan??” bujukku lagi.


“Itu bukan pekerjaan mudah, kamu tau itu kan?”


“Ya udah nanti PKL aku disana aja biar Mas Bayu nggak sendiri. Gimana?” dia terlihat mulai mempertimbangkannya. Tetapi tidak lama kemudian menggelengkan kepalanya tanda penolakan. “Nanti warungmu aku serahin ke Galih deh, dia bisa kok. Nanti aku yang gaji dia. Gimana?” bujukku lagi.


“Mentang-mentang kamu sekarang jadi kaya jadi seenaknya ya..” katanya agak kesal.


“Bukan gitu.. aku harus lulus dulu lah seenggaknya. Siapa yang percaya sama pemimpin yang Cuma lulus SMA? Apa aku harus jadi bahan olok-olok? Apa ndak kasihan sama adikmu ini??” aku mulai menyerangnya secara halus. Dia tidak berhenti menatapku.


“Ya udah deh, kalo kamu maksa” jawabnya dengan pasrah.


“Lagian Mas kan luusan Management, trus disana banyak pegawainya yang single, siapa tahu ketemu jodoh seorang dokter” jelasku dengan ditambah iming-iming.


“Iya-iya… nggak usah bawa-bawa jodoh napa?” jawabnya sewot.


“Hahaha… thank you abangku sayang. Aku doakan semoga selalu sukses” kataku sambil mengakhiri negosiasi yang membutuhkan berbagai alasan ini.


***


Di jalan menuju kampus, aku, Galih, dan Ratih asyik mengobrol. Sudah lama sekali aku tidak masuk kuliah, bahkan aku tidak jadi ikut KKN karena hampir sebulan lebih untuk bisa pulih. Aku tidak menyangka kejadian itu membuat masalah di telingaku bagian dalam sampai aku lebih sering pingsan. Jadi aku butuh perawatan intensif, begitu juga Galih. Saat ini dia masih menggunakan gips di lengan kirinya karena patah tulang.


“Aku nggak nyangka kalian ternyata anaknya orang kaya, tapi rasanya kayak sama aja” Kata Ratih.


“Kamu tau apa yang kupikirkan, bukan tentang kaya atau tidak, tapi setelah ini aku punya tanggungjawab yang besar, apa menurutmu aku bisa melakukannya?” sahutku. Aku melihat Galih sedang tersenyum bahagia. “Jangan senyum-senyum kamu, siap-siap aja kalo udah lulus” cetusku.


“Kenapa?? Aku nggak mau terlibat masalah saham itu. Aku sudah punya rencana sendiri saat lulus nanti” jawanya. Aku hanya menghela napas panjang saat mendengar jawabannya. Siapa yang menyangka dia sudah punya rencana sendiri.


“Kamu pasti bisa sayangku, aku akan mendukungmu” kata Ratih sambil memelukku.


Pernah suatu saat aku duduk berdua dengan Galih dan membicarakan apa yang telah terjadi pada kita. Setelah babak belur sampai merasakan hampir mati, tiba-tiba kejatuhan durian runtuh. Lalu, berbagai orang yang mengerikan itu, aku tidak menyangka ada orang yang berpikiran untuk membunuh orang lain demi harta. Semua yang terjadi terasa seperti mimpi.


“Kamu baik-baik aja?” tanyaku padanya.


“Iya” “Lagiana Kakak ngapain sih kemarin malah memancing amarahnya?” dia protes.


“Ya tapikan liat akibatnya… kita gak bakal parah gini kalau Kakak nggak ngelawan” katanya sambil menunjukkan lengannya yang patah.


“Iya-iya maaf…” kataku sambil menalikan sepatunya. Kita berdua bersiap untuk berangkat kuliah.


“Nggak papa, aku pernah merasakan yang lebih dari itu” katanya sambil berdiri.


“Ha?? Apa maksudmu?” dia tidak menjawab dan memilih pergi begitu saja.


Banyak hal yang tidak kutau tentang Galih, dan dia jarang bercerita tentang masa lalunya. Kadang aku merasa khawatir karena dia lebih suka diam tidak pernah menceritakan keluh kesahnya. Bisa saja ada beban berat yang dia tanggung dibalik sikapnya yang pendiam.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, jam kuliah sudah selesai. Berbagai pertanyaan yang dilontarkan teman-teman sekelas kepadaku membuatku pusing. Rasanya ingin bolos saja, tetapi apa boleh buat. Aku sudah banyak ketinggalan materi, tidak ada waktu untuk bolos kuliah.


Di perjalanan pulang, aku dan Ratih bertemu Galih yang kebetulan juga sudah selesai jam kuliahnya.


“Kamu baik-baik aja Galih?” Tanya Ratih pada Galih.


“Baik” jawabnya singkat.


“Teman-temanmu nggak ada yang tanya-tanya gitu?” tanyaku.


“Hanya beberapa?”


“Enak.. aku hampir kabur tadi gara-gara mereka banyak tanya” keluhku.


“Lagian aku juga gak punya banyak teman” katanya.


Aku ingat dia tidak pernah membawa temannya mampir ke rumah, atau ijin untuk bermain dengan temannya bahkan sekedar nongkrong di kafe sekalipun. Yang dia lakukan hanya kuliah, kerja, dan tidur.


“Kamu.. nggak pernah keluar nongkrong sama temenmu atau gimana gitu?” tanyaku penasaran.


“Nggak, buat apa?” aku hanya menghela napas panjang mendengar jawabannya.


“Ya sesekali coba ikut kalau temen-temenmu nongkrong, atau main ke rumahnya gitu. Seru lo… Atau lain kali ikut kita aja kalau pas kumpul sama temen-temen” saran Ratih.


“Iya, lain kali kucoba” jawabnya.


“Kamu kedengarannya kayak orang yang menyedihkan” cetusku.


“Aku nggak merasa sedih” dia menjawab.


“Iyaaa…” jawabku sambil kesal.


Mengurus seorang adik tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Aku kira punya adik akan bagus, seperti penurut, agak manja, imut, mudah diatur. Tidak kusangka itu hanya khayalanku saja.


Saat kita asyik ngobrol sambil berjalan pulang, tiba-tiba ada wanita aneh yang datang dari arah yang berlawanan.


“Stop” kata wanita itu sambil teriak. Kita bertiga seketika berhenti sambil menatap satu sama lain dengan wajah yang bingung.


Wanita itu terlihat muda, badannya kurus, tinggi sekitar 155 cm, rambutnya hitam dan pendek, wajahnya manis dan cukup cantik.


“Ada perlu apa?” Tanya Galih pada wanita itu.


Dia tidak menjawabnya, tetapi tiba-tiba menarik kerah baju Galih sambil sedikit berjinjit. Wanita itu menariknya cukup kuat sampai tubuh Galih sedikit membungkuk.


“Hei, apa kau sudah g*la?” katan Galih sambil mencoba melepaskannya.


Waktu aku bersiap untuk menyingkirkan wanita aneh itu dari Galih, pemandangan yang mencengangkan terjadi tepat di depan mataku. Wanita itu mencium Galih tepat di bibirnya di depan aku dan Ratih dan beberapa orang yang ada di sana.


“Hei.. apa yang..” belum selesai aku berbicara wanita itu melepas cengkeramannya dan beralih menampar Galih lalu pergi. Tetapi Galih berhasil meriknya kembali dengan tangan kanannya yang tidak sakit.


“Apa maksudmu?” katanya sedikit lantang.


“Aku membencimu” kata wanita itu lalu berlari meninggalkan kita yang sedang bingung.


“Kamu mengenalnya?” tanyaku.


“Nggak kenal” jawab Galih. Tetapi ada yang aneh bagiku.


“Kok kamu biasa aja dicium cewek, mana nggak kenal lagi..” tanyaku penasaran.


“Biasa aja, aku sudah pernah melakukan yang lebih dari itu” jawabnya sambil berlalu pergi. Disusul Ratih yang juga ikut pergi begitu saja.


“Haaa???”