THE TRUTH

THE TRUTH
CINTA



Bab 10 CINTA


Wajah lebamku masih belum sembuh total. Jika aku masuk kuliah hari ini, aku yakin teman-temanku akan segera mengetahuinya. Hal seperti ini sering terjadi, tetapi aku tidak begitu suka dengan banyak pertanyaan yang dilontarkan padaku. Tidak mungkin aku akan bolos hari ini, karena pembagian tempat KKN akan segera diumumkan. Aku tidak mau melewatkan informasi penting sedikitpun.


***


Aula Fakultas sudah ramai mahasiswa seangkatanku. Beberapa menit lagi acara pembekalan 1 dan pembagian tempat KKN akan segera dimulai. Aku dan Andi berada di tengah kerumunan itu.


“Kemarin aku baru nembak cewek” Kata Andi sambil mendekat ke telinga kananku.


“Ha?” aku terkejut dan tidak percaya. “Terus?”


“Dia bilangnya mau jadi pacarku”


“Bohong” sahutku masih tidak percaya.


“Beneran” dia mengeluarkan HP nya dari saku celana dan memperlihatkan foto mesra bersama pacar barunya. Ternyata dia sedang tidak berbohong, “Bagaimana?” ejeknya.


“Kabar bagus. Kapan kau akan mentraktirku?”


“Yang kau tau hanya makan saja” sahutnya sebal. “Aku penasaran sudah berapa cewek yang kamu tolak?” tanyanya tiba-tiba.


“Sudah berapa cewek yang membuatku babak belur?” aku ganti bertanya. Andi hanya terdiam.


“Kau tau, mengatakan perasaan bukanlah hal yang mudah. Rasa takut kalau ditolak seperti menghantui setiap saat” Andi menatapku yang terlihat kurang focus. “Kau dengar tidak?” bentaknya.


“Acara akan segera dimulai, apa kau bisa membicarakan itu nanti?” kataku. Andi terdiam mengiyakan.


Acara berlangsung tanpa halangan. Naskah pembagian tempat KKN dan prosedur-prosedur yang harus dilakukan ada di dalam kantor Dekan dan setiap ketua kelas diminta untuk mengambilnya setelah acara ini selesai.


“Ikut aku mengambilnya di Kantor” ajak Andi. Belum sempat menjawabnya, dia sudak menarik tas ranselku. Mau tidak mau aku jadi ikut dengannya.


“Apa yang ingin kau katakana tadi padaku?” tanyaku saat kita berjalan menelusuri lorong menuju kantor fakultas.


“Apa kau pernah menyatakan perasaanmu pada seseorang?” tanyanya.


“Aku pernah suka pada seseorang, tapi tidak sempat mengatakan perasaanku” jawabku.


“Bukankah kamu pernah pacaran dulu? Jadi itu karena ceweknya nembak kamu?”


“Iya”


“Aku mulai penasaran sebenarnya apa isi otakmu itu” katanya.


“Kenapa?”


“Kau tau, menyatakan perasaan itu tidak mudah” cetusnya.


“Kau sudah mengatakannya tadi”


“Jadi, apa kau pernah memikirkan perasaan cewek-cewek yang kau tolak itu?” entah kenapa pertanyaan itu sangat sulit untuk kujawab.


Kalau dipikir lagi, aku tidak pernah berpikir tentang hal seperti itu. Kebanyakan cewek yang menembakku adalah orang yang tidak kukenal, bahkan aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Bukankah itu sudah jelas kalau dia suka padaku karena wajahku saja? Bukan datang dari hati. Dan yang seperti itu apa harus kuterima?? Percuma aku menjawab pertanyaan itu, karena aku yakin dia pasti tidak akan menerima alasanku.


“Aku yakin kau pasti tidak pernah memikirkannya. Jadi usulku, cobalah lebih membuka hatimu. Jangan terlalu arogan seperti itu”. Sudah kuduga kata-kata arogan akan dia ucapkan.


Hanya diam yang bisa kulakukan setelah mendengar perkataannya itu. Aku tidak bisa membohongi diriku tentang rasa cinta. Apalagi terpaksa menerima cinta padahal aku sendiri tidak mencintainya. Rasanya sulit sekali saat membahas tentang cinta. Pernah teman-temanku yang suka K-Pop bilang kalau anak K-Popers itu susah mendapatkan cinta. Aku bukan anak K-Popers, tetapi cinta juga sulit untukku.


Jadi kumohon teman-teman K-Popers, jangan merasa sulit sendiri mengenai cinta. Karena aku juga merasakannya.


***


“Kak Gading” suara teriakan seorang wanita membuatku dan Galih berhenti dan menoleh ke arah sumber suara itu. Terlihat Devia berlari menuju ke arahku. Dengan terengah-engah sambil menata nafasnya, dia mulai berbicara padaku. “Kak, ada yang ingin kutanyakan sebentar. Apa bisa bicara berdua aja?”. Seketika aku melihat Galih yang sudah duluan menatapku.


“Aku akan menunggu di sana” dia menunjuk tempat duduk di dekat semak di bawah pohon besar.


“Kamu bisa pulang duluan” kataku.


“Tidak, aku akan menunggu disana” dia terlihat masih khawatir denganku. Bukankah dia seharusnya melakukan itu pada seorang gadis? Aku jadi geli memikirkannya.


“Ada yang bisa kubantu?” tanyaku pada Devia.


Aku mulai merasa tidak nyaman ketika dia dengan sengaja menata nafasnya. Apa masalah akan datang lagi padaku?? Ayolah, ini bukan saatnya hal seperti itu terjadi. Rasanya ingin kabur saja. Aku mulai panic saat dia memegang tangan kananku.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanyaku lagi. Devia menarik nafas panjang lagi. Aku menjadi semakin bingung dengan tingkahnya. Saat aku melihat ke arah Galih, dia terlihat tidak sendiri. Ternyata ada Ratih yang bersamanya. Mereka berdua sama-sama memandang ke arahku. Rasanya suasana akan semakin memburuk, pikirku.


Saat aku berniat untuk bertanya lagi pada Devia, aku merasakan nafas hangatnya menempel di pipi kananku. Apa yang sedang dia lakukan? gumamku dalam hati. Keadaan itu membuatku berhenti berpikir sejenak. Dengan sepontan aku mundur dari tubuh Devia dan sedikit mendorongnya.


“Apa kau tau apa yang sedang kau lakukan?” tanyaku padanya.


“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menghentikannya” dia menatap mataku dengan serius. “Kak Gading..”


“Tunggu..” kataku. Seketika aku teringat apa yang dikatakan Andi padaku tadi pagi.


Aku mulai merasa kesal padanya karena telah memberi tahuku sesuatu itu di saat yang tidak tepat. Aku tidak bisa melakukan ini sekarang. Aku harus segera pergi darinya. Devia sudah melakukan hal yang tidak wajar bagi seorang yang santun dan baik seperti dia. “Maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Aku akan menghubungimu nanti” kataku sambil berlalu.


Sekarang aku mulai memikirkan apa yang dirasakan oleh Devia. Aku yakin dia pasti sangat sedih. Rasanya aku seperti orang jahat saja. Mencium pipiku? Bukankah itu terlalu cepat untuk dilakukan? Apalagi posisisku saat ini tidak ada rasa sedikitpun padanya. Baru kali ini aku harus berpikir keras untuk menolak cewek. Rasanya seperti bukan diriku.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Ratih padaku. Aku hanya terus berjalan dan membalas pertanyaannya dengan senyuman. ‘Tentu aku tidak baik-baik saja sekarang’ gumamku dalam hati.


***


Sesampainya di rumah, aku segera menuju meja makan dan mengambil segelas air. Galih menatapku dengan penuh sabar menahan petanyaanya sampai aku selesai minum.


“Kakak baik-baik saja?” tanyanya.


“Sangat tidak baik” jawabku.


“Tadi itu, ditolak?”


“Aku belum sempat mendengar dia mengatakan sesuatu dan pamit pergi”


“Kenapa?” tanyanya penasaran. Aku mengambil segelas air lagi dan meminumnya.


“Apa kamu pernah ditolak cewek?” aku ganti bertanya padanya.


“Pernah”


“Oh ya? Jangan bohong kamu? Kamu pernah mengutarakan perasaanmu pada seseorang?”


“Bukankah setiap laki-laki pernah melakukan hal itu?” pertanyaanya malah membuatku merasa seperti lelaki primitive saja.


“Bagaimana rasanya ditolak?” tanyaku.


“Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku saja, terlepas dia menerima atau tidak bukan jadi masalah buatku. Aku hanya ingin dia tau kalau aku menyukainya. Itu saja” jelasnya. Andaikan semua wanita memiliki pemikiran seperti dia, pikirku. “Apa kakak ragu untuk meolak? Atau jangan-jangan suka sama wanita tadi?”


“Aku sama sekali tidak ada perasaan padanya” jawabku.


“Lalu kenapa kakak ragu menolaknya? Itu malah akan membuatnya sakit hati” Apa yang dia katakana memang benar. Lebih baik aku segera mengatakan yang sebenarnya atau masalah ini akan berdampak buruk nantinya.


Dengan cepat aku mengembil Handphone ku dari dalam saku celana. Menekan tombol kontak dan mencari nama Devia. Sudah ketemu, tetapi aku mulai ragu lagi. Pandanganku beralih ke Galih lagi, dia memberi isyarat ‘lakukan saja’. Aku menarik napas panjang dan mulai memanggilnya.