
Bab 8 SETITIK CAHAYA
Sudah kuduga rasa sakit di tubuhku tidak akan sembuh dengan cepat. Aku melihat wajah lebam di bagian pelipis mata dan dekat bibir. Aku juga melihat lebam di lengan kanananku dan pundak kanan. Sedikit lebam juga di bagian perut sebelah kiri dan kaki juga. Kepalaku mulai terasa sedikit pusing. Tidak ada darah di tubuhku.
Aku bersyukur kemarin masih menggunakan helm dan celana panjang saat berkelahi. Kompres air hangat mungkin akan sedikit menghilangkan rasa nyeri di bagian yang berwarna kebiruan itu.
Aku menuruni tangga dengan kaos yang tersampir di pundakku. Beberapa anak tangga yang hampir selesai kulalui sempat mebuatku mengeluh kesakitan. Ini adalah hari buruk bagiku, dan beruntung tidak ada jam kuliah hari ini.
“Ada apa denganmu Kak?” suara Galih yang baru saja kelaur dari kamarnya.
“Kau bisa membantuku menaruh kain hangat ini di pundakku. Rasanya sakit sekali” galih mulai mendekatiku dan melakukan apa yang kuminta,
“Kakak baru berkelahi?”
“Aku baru saja diserang sama orang-orang yang pernah menyerangmu waktu itu”
“Ha?? Kakak yakin kalau mereka orang yang sama?”
Berbagai rangkaian yang terjadi kuceritakan semua pada Galih dari awal sampai akhir. Terlihat dari raut wajahnya yang bingung, lalu timbul pertanyaan besar.
“Lalu, apa maksudnya ini?” “Jadi mereka bukan suruhan dari orang tuaku?”
“Kayaknya bukan. Kamu kan pernah bilang kalau orang tuamu itu tidak terlalu kaya. Lagian apa yang jadi motifnya untuk melenyapkan kita? Aku kenal orang tuamu aja enggak” jelasku sambil menahan rasa sakit.
Kita berdua terdiam. Galih terlihat memikirkan hal ini terlalu dalam. Sedangkan aku dengan sisa tenagaku untuk melawan rasa sakit, berusaha juga mencari beberapa kemungkinan yang terjadi. Meminta bantuan Pak Rudi anggota kepolisian itu sempat terlintas di benakku. Atau aku harus bercerita juga pada Mas Bayu. Aku memang sengaja tidak member tahunya tentang masalah yang terjadi belakangan ini.
Kesunyian yang membelenggu kita saat ini seketika pergi saat bel rumah berbunyi. Tidak ada yang bilang akan ke rumahku hari ini. Siapakah gerangan yang memencet bel itu.
Galih berjalan menuju pintu dengan perlahan. Sebelum membukanya, dia melihat dari balik candela yang baru saja selesai diperbaiki. Lalu dia kembali lagi menemuiku dan tidak membukakan pintunya.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
“Di luar ada bapak-bapak, aku tidak tahu dia siapa. Apa mungkin dia penjahat?” katanya lirih seperti bisik-bisik. Apa hal buruk akan terjadi lagi? Pikiranku mulai kacau.
Dengan perlahan aku berjalan mendekati pintu depan. Bel masih saja berbunyi yang membuat suasana menjadi semakin menakutkan. Tanpa suara ku melihat orang itu di balik pintu. Sesosok tinggi berkumis berdiri di depan pintu sambil menekan bel.
“Pak Rudi” seketika aku menjitak kepala Galih yang sedari tadi mengikutiku di belakang. “Kamu ini bikin panic aja. Dia itu Pak Rudi dari Kepolisisan”
“Yah mana aku tahu…” jawabnya sewot.
Kita berdua mempersilahkannya masuk. Sekantung plastic buah dia bawa yang katanya biar aku cepat sembuh. Dia bukan siapa-siapa tetapi kenapa bisa baik begini kepadaku. Rasanya canggung sekali.
“Bapak seharusnya tidak usah repot repot begini” kataku saat kita bertiga duduk di sofa.
“Tidak masalah kok. Lagian hari ini aku sedang tidak ada tugas” jelasnya. “Oh ya.. bagaimana lukamu?”
“Sudah membaik” jawabku berbohong. Sebenarnya rasa sakit benar-benar telah merasuk dalam tubuhku. “Bapak apa pernah ke kampus saya dalam minggu ini? Rasanya sekilas aku melihat orang seperti bapak beberapa hari lalu”
“Nggak kok, aku ada tugas jaga kantor minggu ini”
“Oh ya? Atau mungkin aku hanya salah lihat” pikirku.
“Kalau dipikir-pikir sepertinya aku juga pernah melihat bapak di suatu tempat. Aku jarang memperhatikan orang, tapi wajah bapak rasanya tidak asing” kata Galih.
Kita bertiga terdiam. Aku dan Galih masih memandang Pak Rudi menunggu jawaban apa yang akan dia katakana.
“Entahlah, aku juga tidak jarang ada tugas di lapangan. Bisa jadi kita tidak sengaja bertemu di jalan” tangkasnya. Kita bedua diam dan mengiyakan. Meski masih belum puas dengan jawaban itu.
“Oh ya pak, kemarin bapak kok bisa datang ke tempat kejadian? Tidak memakai seragam pula” tanyaku penasaran.
“Ooo itu, pulang kerja aku mampir dulu ke rumah temanku dekat situ. Aku pinjam bajunya karena terus-terusan memakai seragam rasanya gerah” aku dan Galih mengangguk.
Rasanya berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Aku melihat ke arah Galih dan sepertinya dia juga merasakan hal yang sama. Lalu Galih menuju dapur dan membuatkan minum untuk kita.
“Silahkan diminum pak” kata Galih sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
“Terimakasih” jawab Pak Rudi. “Apa dia yang ngekos di rumahmu yang pernah kamu bilang waktu itu?”
“Iya pak” jawabku singkat
“Kalian terlihat mirip” kata Pak Rudi sambil melihat kita berdua bergantian. “Seperti saudara saja” lanjutnya.
‘Saudara?’ kata itu melekat di kepalaku.
Aku berusaha mengingat, sepertinya baru-baru ini ada yang mengatakan hal yang sama kepadaku. Tetapi siapa itu? Aku masih berusaha mengingatnya. Iya, para penjahat itu yang mengatakannya. Aku hampir lupa bagian itu. Padahal tadi pagi aku baru mengatakannya pada Galih. Dan sekarang aku mulai memikirkan kembali sebenarnya siapa dibalik penjahat itu. Apa yang diinginkan dari kita. Bahkan aku belum lama kenal dengan Galih. Awalnya aku mengira kalau masalah ini berasal darinya saja. Tapi kenapa aku jadi ikut dikeroyok? Ada apa ini sebenarnya?
“Mereka bercerai?” tanyaku.
“Tidak. Tidak sempat” “Sebelum sempat bercerai, dia meninggal karena sakit”
“Kami turut sedih” kataku. “Apa dia punya anak?”
“Seorang anak laki-laki, aku yakin dia sekarang tumbuh besar dan tampan, sama sepertimu” Pak Rudi menunjuk tangannya padaku. “Dia seumuran denganmu” lanjutnya.
“Anda tidak pernah bertemu dengannya lagi?”
“Beberapa bulan ini aku menemukan keberadaannya. Sepertiya dia tumbuh dengan baik”
“Anda tidak menemuinya?” Tanya Galih.
“Aku belum siap menemuinya. Banyak sekali kejadian waktu itu. Aku akan menemuinya kalau aku sudah siap nanti”
“Aku rasa dia akan bahagia bisa bertemu dengan anda” kataku.
“Semoga begitu” sahutnya.
Aku melihat wajah sedih dalam dirinya. Tentu saja dia sangat menyayangi adiknya. Andai aku punya adik, pasti aku juga sangat sayang padanya. Berbagai spekulasi mulai bermunculan di kepalaku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku masih menikmati obrolan para laki-laki ini.
Dengan begitu aku bisa melupakan masalah dan rasa sakitku sejenak.
“Bagaimana dengan orang tuamau?” Tanya Pak Rudi pada Galih. “Namamu Galih ya tadi?”
“Iya pak. Aku sudah lama tidak hidup bersama orang tua. Dan itu ceritanya panjang. Aku sedang tidak ingin membahasnya” seperti biasa, rasa malasnya selalu mendominasi.
“Bagaimana dengan keluarga Bapak?” iya benar, aku belum sempat menanyakan itu sebelumnya. Rasa penasaranku mulai muncul.
“Keluargaku berjalan dengan baik, aku punya dua anak perempuan. Istriku bekerja sebagai guru SD” terlihat normal saja, pikirku.
“Anda tinggal dimana?” tanyaku
“Di perumahan sebelah utara komplek perumahan yang kamu datangi kemarin. Kira-kira satu kilo dari situ. Kalian bisa mampir kalau pas pergi kesana”
“Terimakasih atas tawarannya” jawabku.
Pembicaraan tentang keluarga akhir-akhir ini sering sekali terlintas di telingaku. Itu membuatku teringat sesuatu di masa lalu ku yang dengan berusaha keras aku ingin menimbunnya dalam-dalam. Aku yakin setiap orang punya kenangan yang tidak ingin diingatnya semasa hidupnya. Ya begitulah kira-kira.
“Terimakasih sudah menjenguk saya pak, hati-hati di jalan” kataku saat mengantar kepulangannya sampai teras rumah.
Seseorang sedang menatapku dengan tatapan aneh. Dia berdiri di sebelah rumahku yang warungnya sedang ramai. Bahkan dia tidak menyapaku sama sekali. Tatapan tajamnya membuatku bingung, jangan-jangan ada yang aneh dengan tampilanku. Aku segera melihat bajuku…. Bajuku??
“Hei.. jangan melihatku seperti itu” kataku pada gadis yang belakangan ini lebih terlihat feminine itu. Aku baru ingat kalau sedari tadi aku tidak memakai bajuku dan hanya memakai celana jeans saja yang belum kulepas dari kemarin. Kaos biru yang tersampir di pundakku, aku lupa menaruhnya dimana. Dengan segera aku menutupi tubuhku dan berlari masuk rumah. Tatapan Ratih benar-benar membuatku ingin memukul kepalanya. Apa yang dia lihat sampai sebegitunya tanpa rasa bersalah? ‘Awas kamu Ratih’ gumamku dalam hati.
Galih yang baru saja selesai mencuci cangkir bekas teh terlihat sedang bingung dengan sesuatu.
“Ada apa?” tanyaku padanya saat duduk di meja makan. Kali ini aku baru ingat kaos biruku ada dimana. Di lengan kursi meja makan. Dengan segera aku memakainya.
“Aku merasa ada yang aneh dengan orang tadi”
“Awalnya aku juga merasa begitu”
“Apa kita bisa mepercayainya?” Galih menatapku serius.
“Aku rasa bisa. Dia kan pihak kepolisian. Siapa tau bisa bantu kita cari tahu yang sebenarnya terjadi” jawabku.
“Bagaimana kalau dia sebenarnya sudah tahu? Atau dia ikut terlibat mungkin”
Sekejap kita berdua menjadi terdiam. Hal itu memang bisa saja terjadi. Karena dia mendadak baik sekali pada kita tanpa kita pernah mengenalnya sebelumnya. Di usianya yang sibuk mengurus kerjaan dan keluarganya, dia masih memikirkan kita. Apa itu hal yang wajar?
“Aku yakin dia benar-benar orang baik” kataku memecah keheningan.
“Tapi kan bisa jadi dia terlibat dengan semua ini”
“Apa ada orang yang sengaja menyakiti orang lain dan dia tiba-tiba datang untuk membantunya. Itu seperti kisah pahlawan kesiangan dalam sebuah kartun saja” jelasku.
“Tapi apa ada, orang yang tidak dikenal dan tiba-tiba baik begitu?”
“Ada” jawabku. “Bukankah aku sudah pernah berbaik hati padamu meski kita baru saja saling kenal?” Galih hanya mengangguk kesal dan berlalu meninggalkanku.
“Aku akan beli makanan, jadi tunggulah disini” katanya.