
Bab 14 ITU PASTI ‘DIA’
Dari kejauhan, aku melihat petugas Klinik keluar ruangan sambil membawa tasnya dan mulai mengunci pintunya dari luar. Aku berlari dengan cepat sambil meneriakinya.
“Tunggu.. Bu Lisa… tunggu.. jangan di tutup dulu pintunya” dengan napas tersengkal, aku memegang tangan Bu Lisa yang membawa kunci.
Bu Lisa adalah salah satu petugas Klinik Universitas. Perawakannya sedikit gemuk dan agak pendek. Wajahnya bulat dan memakai jilbab. Usianya sekitar 30 tahunan.
“Kalian berdua, kenapa lari lari begitu?” aku melihat Andi yang juga kelelahan karena ikut berlari di belakangku.
“Jangan dikunci dulu Bu, saya mau minta bantuan Ibu” kataku, sambil mengatur napas.
“Ada apa, apa temanmu ada yang sakit?” Bu Lisa terlihat panic.
“Tidak Bu, tidak. Biarkan kami masuk” kami berdua masuk tanpa permisi dan mengambil kursi. Bu Lisa terlihat bingung.
“Ada apa sebenarnya?” Tanya Bu Lisa sambil menaruh tasnya kembali.
“Bu, aku mau lihat absensi pengunjung Klinik hari kamis lalu” kataku. Tanpa bertanya Bu Lisa membuka kunci lokernyanya dan mengeluarkan buku folio dari laci itu. Dengan segera aku meraihnya dan membukanya.
“Ada apa sebenarnya?”
“Ibu ingat saat hari kamis saya datang kesini?” tidak langsung menjawab pertanyaan Bu Lisa, aku ganti melontarkan pertanyaan pada beliau.
“Ingat, kamu minta obat sakit perut kan?” jawabnya.
“Iya benar” aku masih membolak balik halaman bukunya sampai menemukan apa yang kucari. Sudah kuduga ada nama Pak Veri di sini. “Apa Pak Veri waktu itu sedang sakit?” tanyaku sambil menunjukkan daftar absensinya.
“Emmm…” beliau sedang mengingat-ingat “Sepertinya tidak, seingatku dia sedang menjenguk salah satu mahasiswanya yang sedang tidak enak badan” aku mendengarkan penjelasannya sambil memfoto daftar itu.
“Dia datang setelahku atau sebelumku?” tanyaku.
“Setelahmu” jelasnya singkat.
“Datang sendirian?” aku merasa mulai ada pencerahan di sini.
“Tidak, dia datang berdua. Aku kira kamu balik lagi ke Klinik bareng Pak Veri waktu itu, lelaki itu mirip denganmu”
“Jadi dia datang kesini bersama laki-laki yang mirip sepertiku?” aku sangat focus.
“Dari belakang memang mirip, tapai wajahnya masih gantengan kamu” jelasnya. Aku berusaha tersenyum mencairkan suasana. Bu Lisa memberikan informasi yang banyak padaku.
“Ada apa sih?” Bu Lisa mulai kesal karena pertanyaannya tidak lekas kujawab sedari tadi.
“Enggak Bu” jawabku sambil cengengesan “Cuma masalah salah paham sedikit” jawabku. Aku melihat Andi sama bingungnya dengan Bu Lisa.
“Apa hubungannya sama Pak Veri?” Tanya Bu Lisa.
“Aku nggak yakin sih Bu” jawabku. “Aku sedang menyelidikinya saat ini” kataku dalam hati. “Apa yang dijenguk itu anak paduan suara?” tanyaku lagi.
“Entahlah.. aku juga bingung kenapa dia sampai repot menjenguk anak itu” jawab beliau.
“Oh ya?” aku mulai bisa membaca apa yang sebenernya terjadi. “Aneh sekali” jawabku, semua malah semakin jelas buatku. “Ya udah, terimaksih Ibu Cantik. Maaf merepotkan Ibu. Mari sekarang kita pulang bersama” kataku sambil meringis.
“Kamu ini, merepotkan sekali” sahutnya.
***
Di perjalanan pulang, aku terus menelfon Ratih, tetapi dia tidak mengangkatnya. Bahkan chat ku tidak dibaca sampai malam.
Pintu rumahku tiba-tiba terbuka, terlihat Galih baru saja pulang dari tempat kerjanya. Setelah aku tahu kalau itu dia, pandanganku kembali lagi ke layar HP. Aku sudah seperti orang yang sangat menyedihkan sekarang ini. Galih duduk di sampingku sambil membawa air minum dari lemari es.
“Tumben Kakak nonton TV jam segini” tanyanya padaku.
“Hei… apa kau mau mendengar ceritaku?” aku sangat berharap saat aku menceritakan semuanya dia bisa membantuku mencari solusi.
Tetapi harapanku seketika sirna, setelah panjang lebar kuceritakan kisahku hari ini padanya, dia malah focus pada hal lain di luar harapanku.
“Pak Veri? Dia juga memusuhiku di kelas” katanya.
“Bukan kata itu yang kuinginkan darimu” sahutku kesal.
“Tapi Kak, bukankah ini aneh. Dia memusuhi kita berdua. Dari sekian banyak mahasiswa, apa cuma kita yang pantas dimusuhi?” aku terdiam, mulai setuju dengan perkataannya itu.
“Kamu yakin?? Apa bukan karena kamu jarang engerjakan tugasnya jadi dia mulai membencimu?” kataku.
“Aku selalu mengerjakan tugasnys. Tidak ada tugas yang tidak kukerjakan” jelasnya.
“Aku meragukan itu” sambil menggaruk kepalaku.
“Baiklah.. bagaimana kalau dia selalu mengabaikanku saat aku ingin bertanya sesuatu tentang mata kuliahnya?” Galih berusaha meyakinkanku.
“Dia juga sering melakukan itu padaku” jawabku. Kali ini terdengar aneh. Aku mulai berpikir kalau perkataannya bisa saja benar.
“Apa menurutmu dia juga terlibat dengan masalah kita?” aku hanya menghela napas panjang. Apa yang terjadi hari ini cukup membuatku lelah, aku tidak mau berpikir tentang itu terlalu jauh. "Kurasa tidak" jawabku. Untuk beberapa saat kita berdua terdiam dan hanyut dalam pikiran kita masing-masing.
“Jadi Kakak sedang bertengkar dengan Kak Ratih?” pertanyaan Galih membuatku terbangun dari lamunan.
“Iya” jawabku singkat “Dia salah paham”
“Kenapa nggak datang kerumahnya aja? Dijelasin ke orangnya langsung” sarannya.
Aku mulai menghela nafas panjang “Dia tidak mau aku mendekatinya. Aku sudah mencoba menjelaskannya tadi, tapi dia tidak mau mendengarkan” jelaskau.
“Ya dicoba lagi lah… masak gitu aja udah nyerah” cetusnya.
Ni anak lama-lama ngelunjak ya.. pikirku.
***
Beberapa menit berlalu mataku terasa semakin berat dan sering menguap. Seperti biasa, masalah sebesar apapun tidak bisa melawan rasa kantukku. Galih terlihat asyik menonton TV sambil mengecek tas kuliahnya. Sepertinya dia mengerjakan tugasnya di malam hari setelah pulang kerja. Ternyata dia anak yang rajin juga, aku telah salah menilainya.
Ketika aku mulai beranjak untuk pergi ke kamar, sesuatu mengagetkan kita. Suara ledakan terdengar sangat jelas seperti terjadi di dalam rumahku. Aku dan Galih saling adu pandang dan kebingungan.
“Suara apa itu?” tanyaku pada Galih.
Dia tidak menjawabnya dan terlihat lebih bingung. Terdengar suara tetangga berbondong-bondong keluar dari rumah. Aku yakin mereka penasaran dari mana sumber suara itu. Memang suaranya sangat keras sekali, bahkan sampai sekarang masih menggema di telingaku. Jendela rumaahku juga sempat terdengar bergetar. Kita juga ikut keluar dengan ragu, berbagai spekulasi timbul di kepalaku.
Dan saat kubuka, serbuk warna hitam berceceran di depan rumahku. Aku tahu apa artinya ini, dan seketika lampu terasku kumatikan agar tidak memancing kepanikan tetanggaku kalau sampai mereka tahu hal ini. Walaupun di sini aku merasa terguncang dengan apa yang telah kulihat.
“Kamu melihatnya?” tanyaku pada Galih yang berdiri di sampingku.
“Aku melihatnya” jawabnya. “Ini sudah kelewatan, apa kita lapor polisi saja?” dia memberi usul.
Aku tidak menghiraukannya dan pergi melihat suasana di luar. Para tetannga berkerumun di luar rumah sambil kebingungan.
Kita berdua hanya beradu pandang setelah melihatnya, tanpa tahu apa yang harus dikomentari tentang hal ini.