THE TRUTH

THE TRUTH
DI LUAR DUGAAN



Bab 7 DILUAR DUGAAN


Hari-hari selanjutnya aku menjadi lebih sering melihat Ratih berpenampilan feminine. Tidak seperti biasanya. Dia lebih sering mengurai rambut panjangnya dan memakai hiasan rambut. Style nya juga berbeda dari sebelumnya. Sepertinya dia mulai bosan dengan sneakers dan denim nya. Bahkan sekarang lebih sering memakai sepatu yang memiliki hak cukup tinggi dan memakai riasan wajah. Pada suatu waktu aku pernah merasa bingung harus berkomentar apa pada penampilannya. Itu memang bagus, sangat bagus malah. Tetapi untukku yang sering melihatnya tampil biasa tanpa riasan apapun, aku hanya sering tercengang melihatnya.


Kamis yang cerah ini kita berangkat kuliah bersama. Dengan Galih juga. Kebetulan jadwal kuliah kita sama pada hari senin dan kamis. Kali ini Ratih memakai kemeja warna krem yang dimasukkan ke dalam celana jeans nya, dengan cardigan warna hitam di luar. Rambutnya dibuat sedikit bergelombang dan terlihat agak pendek dari sebelumnya.


“Kamu memotong rambutmu?” tanyaku. Galih yang dari tadi focus ke depan beralih menatap rambut Ratih.


“Iya sedikit. Aku juga membuatnya sedikit bergelombang. Bagaimana menurutmu?”


“Bagus kok” jawab Galih. Aku hanya terdiam. Tetapi lama kelamaan rasa penasaranku tidak bisa terbendung lagi.


“Kamu merubah style mu akir-akhir ini, apa telah terjadi sesuatu? Seperti jatuh cinta atau sejenisnya?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.


“Tapi cantik kok. Kalau memang Kak Ratih sedang jatuh cinta, aku yakin pasti akan mudah mendapaktkannya” mereka berdua tersenyum bersama seperti setuju satu sama lain.


Aku bertanya pada Ratih, tetapi kenapa malah ini anak yang jawab sih?? Rasanya aku ingin sekali menjitak kepala Galih sekarang juga. Dan rasa penasaranku harus bersabar lebih lama lagi. Kalau ada kesempatan, aku akan menanyakannya lagi lain kali.


Sore hari adalah waktu yang sangat kutunggu-tunggu. Kegiatan kuliah sudah selesai, aku bisa pergi ke bazar buku di balai rakyat setelah ini. Jarang-jarang ada kesempatan membeli buku dengan harga yang murah. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan emas seperi ini.


Tanpa menunggu Ratih ataupun Galih, aku pulang sendirian. Mereka sepertinya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi aku memutuskan untuk pulang sendirian.


Dengan sedikit berlari, aku melesat untuk sampai rumah. Tidak ada yang bisa menghentikanku kali ini. Semua orang sedang sibuk dengan tugas mereka yang belum selesai. Sedangkan aku sudah mengumpulkan tugasku sejak minggu lalu. Tetapi kesenanganku ini tidak berlangsung lama. Sebuah nomor baru yang tidak kukenal sedang menelfonku. Aku berhenti dan mengangkat telfonnya.


“Halo” sapaku.


“Gading ya?” terdengar suara perempuan sedang menyapaku dengan sopan.


“Iya. Siapa ini?”


“Ini Tante Rita, temannya almarhum ibumu. Teman masa kecil” jelasnya.


“Ooo.. iya. Ada yang bisa saya bantu tante?”


“Sebelum kematiannya dulu, ibumu menitipkan surat wasiat untukmu. Tapi dia bilang aku harus memberikannya padamu kalau waktunya sudah tepat. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat” jelasnya.


“Surat wasiat?” tanyaku penasaran. Ibuku bukan tipe orang yang memilih surat wasiat untuk diberikan pada anaknya. Beliau lebih suka mengatakan langsung padaku daripada menuliskan surat.


“Iya, maaf aku sudah membacanya mendahuluimu. Dan sepertinya surat wasiat ini harus benar-benar kusampaikan padamu. Apa kita bisa brtemu sebentar?”. Ini terlalu tiba-tiba untuk sebuah surat wasiat.


Harapanku untuk menuju bazar buku terasa hancur berkeping-keping. Hari ini adalah hari terakhir bazar itu diselenggarakan. Aku jadi merasa menyesal kemarin tidak jadi berangkat karena malas. Sekarang aku mulai membenci rasa malasku.


“Baiklah, kita bisa ketemu dimana Tante?”


Tante Rita menunjukkan alamat yang harus kutuju untuk menemuinya. Dengan berat hati aku merelakan untuk tidak datang ke bazar buku. Mungkin aku akan membelinya lain waktu kalau ada bazar lagi, atau membeli dengan harga normal di toko buku. Sekarang aku hanya perlu menuju ke alamat yang sudah diberi tahu Tante Rita dan segera menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Kalau bisa selesai sebelum jam bazar habis, itu akan lebih bagus.


***


Tiga puluh lima menit aku sampai di tempat tujuan. Aku sampai di sebuah rumah berlantai dua yang sederhana tetapi terlihat sepi. Ini merupakan komplek perumahan. Hanya saja rumah yang kudatangi ini terlihat masih baru. Belum ada bangunan di sampingnya dan hanya ada lahan kosong. Catnya berwarna abu-abu putih dan ada ayunan yang terihat memenuhi terasnya. Pintunya terkunci dan tidak ada tanda-tanda ada seseorang didalamnya. Aku mengambil handphone dari saku celanaku berniat untuk menelfon Tante Rita. Tetapi tiba-tiba balok kayu terhantam di punggungku. Aku berbalik dan ada tiga orang sedang menyerangku tanpa alasan.


“Sebentar, kalian ini siapa? Apa kalian tidak merasa salah orang menyerbuku tanpa alasan seperti ini?” tanyaku sambil memasukkan handphonku kembali ke dalam saku celanaku.


Orang-orang yang berpakaian hitam dengan menggunakan masker itu hanya terdiam. Tanpa aba-aba mereka kembali menyerangku. Di saat seperti ini aku sangat bersyukur masih sering olah raga fisik di sore hari. Setidaknya aku tidak akan mati dengan cepat. Masih ada kesempatan untuk mengulur waktu sampai seseorang datang menolongku.


Ilmu bela diriku sepertinya masih bekerja cukup baik karena aku masih bisa bertahan. Tiga orang itu terlihat merasa kesakitan di kakinya, itu sangat menguntungkanku.


“Boleh juga kau, tidak seperti saudaramu yang lemah itu” salah satu dari mereka mulai angkat bicara, dan aku tidak mengerti apa maksudnya.


“Sebenarnya siapa yang menyuruh kalian?”


“Itu tidak penting, kalau aku bisa melenyapkanmu sekarang, aku akan menerima banyak uang. Sangat banyak” jelasnya. Mereka mulai menyerangku lagi.


Tuhan sedang memihakku hari ini.


Seseorang yang juga jago bela diri datang untuk menolongku. Tanpa butuh waktu lama, para penjahat itu kabur dengan sebuah mobil yang sudah siap siaga untuk pergi kapan saja.


Aku berterimakasih pada orang yang telah membantuku. Dan ternyata dia adalah orang yang pernah kutemui sebelumnya.


“Pak Rudi?” aku masih mengingat wajah Polisi yang menangani kasus pecahnya kaca jendelaku dulu.


“Kalau nggak salah kamu Gading ya?”


“Iya pak, terimakasih banyak sudah membantu saya lagi”


“Sama-sama. Tapi mereka tadi siapa? Dan bagaimana kamu bisa sampai di sini?”


“Ceritanya panjang Pak” jawabku. Tubuhku terasa seperti menahan beban berton-ton beratnya yang membuatku meringis kesakitan. Aku ingin segera pulang sekarang.


“Ya udah, saya antar kamu pulang ya” kata Pak Rudi setelah melihatku meringis kesaktan.


“Tidak pak, saya naik motor saja”


“Yakin kamu nggak papa?” wajahnya mulai terlihat cemas.


“Yakiinn.. terimakasih atas bantuannya” dengan menahan rasa sakit aku menuju motorku dan bergegas pulang.


Waktu terasa lama saat aku menyusuri jalan yang semakin ramai. Ini waktunya jam pulang kerja. Macet akan terjadi di beberapa titik tertentu, jadi aku memutuskan untuk lewat jalan pintas. Ini akan memakan waktu lebih lama, tetapi lebih baik dari pada terjebak macet.


Sesampainya di rumah, aku bergegas masuk dan memastikan Galih ada di rumah dalam keadaan sehat. Tetapi dia tidak menjawab panggilanku. Kamar tidurnya juga terkunci. Apa dia belum pulang dari kampus? Aku mencoba menelfonnya. Tetapi terdengar suara handphone nya berbunyi di dalam rumah.


Kamar mandinya juga terbuka, tidak ada orang di dalamnya. Dimana dia sebenarnya? Sakit di tubuhku terasa semakin menjadi-jadi, dan aku belum menemukan Galih. Aku menelponnya lagi, suara dering mulai terdengar jelas. Di dalam kamarnya. Aku menggedor pintunya dengan keras dan tanpa henti. Pintunya tiba-tiba terbuka.


“Ada apa Kak?” dia keluar kamar dengan mata yang setengah terbuka.


Sialan, aku menghawatirkannya dan dia baru saja tidur telelap. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan beranjak pergi menuju kamar tidurku. Sepertinya dia kembali tidur lagi. Terdengar suara pintu baru saja ditutup dan dikunci.