THE TRUTH

THE TRUTH
APA YANG SEDANG TERJADI



Bab 16 APA YANG SEDANG TERJADI


Saat masalah sudah selesai, waktu berlalu sangatlah cepat dan aku tidak menyadari kalau hari sudah malam. Aku sedang asyik chating an dengan Ratih. Membicarakan sesuatu yang tidak ada habisnya, walaupun itu sesuatu yang tidak penting sekalipun. TV di depanku yang sedang kunyalakan bahkan tidak kuhiraukan sama sekali.


“Gading, aku mau tanya?” tanya Ratih lewat chat.


“Apa?” jawabku singkat.


“Apa kamu pernah suka sama seseorang sebelumnya?” tanyanya.


“Kenapa cewek selalu Tanya seperti itu pada pacarnya? Kalo nggak gitu tanya tentang mantannya juga. Kenapa sih?” aku memprotes.


“Ya penasaran aja.. nggak boleh ya?” boleh atau tidak adalah pertanyaan yang sangat menjebak. Bisa saja malapetaka datang saat salah menjawabnya.


“Boleh lah… Tentu saja aku pernah suka sama seseorang” jawabku.


“Siapa? Aku kenal nggak? Apa dia lebih baik dariku?” berbagai pertanyaan mulai dilontarkan dan membuatku risih.


“Kau tahu? Aku tidak suka membicarakan masa lalu. Jika aku bertanya balik padamu, apa kamu bisa menjawabnya dengan santai?” jawabku panjang lebar. Aku benar-benar tidak suka jika ditanya tentang masa lalu.


“Maaf.. maaf, aku hanya penasaran 😘” katanya sambil mengirimkan emotikon kiss. “Kamu marah? 🤗”


“Nggak papa kok” jawabku singkat.


Sebenarnya aku marah, tetapi aku tidak pantas meluapkannya jika hanya masalah sepele seperti ini.


“Ya udah, bahas yang lain aja” seperti biasa, dia tidak pernah kehabisan kata-kata. “Ada sesuatu yang terjadi kemarin” katanya.


“Apa?”


“Pulang latihan, Pak Veri mengajakku bicara”


“Haa???”


“Tenang dulu, aku jelasin” katanya, dengan sabar aku menata emosiku. “Dia minta maaf padaku tadi” jelasnya.


“Oooo.. dia suka padamu kan?? Makanya dia melakukan itu” tebakku.


“Kayaknya iya, dia nggak bilang kalau suka sih… katanya dia takut kalau aku marah” jelasnya.


“Apaan…” jawabku singkat.


“Kamu marah?”


“Iya” jawabku singkat. Yang dibalasnya dengan emotikon kiss. “Kamu tau apa yang aku pikirkan saat kamu bilang jangan mendekati aku??”


Dia langsung menelfonku.


“Halo” sapaku.


“Sayang..” katanya.


“Apaan panggil sayang” jawabku sewot.


“Sayaaa..aaanggg” suaranya yang imut membuatku tidak bisa menahan tertawa.


“Haha.. apa sih?”


“Maafin aku ya..” katanya. Suaranya yang manja membuatku… ah, sudahlah.


“Gimana kalau nggak ku maafin?”


“Aaa… aahh, aku cium nih” Oh My God, imut sekaliiiiii…. It's the end, I'm lose.


“Aku sayang kamu” kataku tanpa berpikir. It


“Aku juga… love you” sahutnya. “Galih sudah pulang?” tanyanya.


“Belum, masih jam segini”


“Oooo..” “Oh ya, menurutku Gaih itu mirip sama kamu lo” katanya.


“Apanya yang mirip?”


“Wajahnya sekilas hampir mirip sama kamu, terus perawakannya juga hampir sama. Orang yang nggak kenal kalian pasti mikirnya kalaian saudaraan” jelasnya.


“Iya, tapi bibir sama hidungnya sama bentuknya. Aku pernah ngira dia itu kamu pas malem-malem gak sengaja ketemu dia”


“Masak?” sebenarnya aku masih belum terima dibilang mirip, soalnya kita beda sekali.


“Iya” jawabnya. “Udah dulu ya, dipanggil ibuk ini. Daahhh… muuaaccchhh” dia mematikan telfonnya, dan aku hanya tersenyum mendengarnya.


Keasyikanku itu terhenti saat seseorang membuka pintu rumahku. Masih pukul 9, belum saatnya Galih pulang. Siapa gerangan yang membuka pintu.


“Aku pulang” sapanya. Ternyata Gaih pulang lebih cepat dari biasanya.


“Galih? Tumben udah pulang?” tanyaku padanya.


“Aku lagi nggak enak badan” jawabnya lesu.


“Oh ya.. apa badanmu panas?” aku memegang dahinya saat dia duduk di sampingku. “Panas sekali, sebaiknya kamu istirahat, aku ambilkan kompres” saranku.


“Apa kamu sudah makan?” tanyaku.


“Belum” bicaranya semakin lebih hemat dari biasanya.


“Mau kuambilkan makanan? Aku sudah masak tadi”


“Iya, sedikit aja” jawabnya singkat.


Aku lupa sudah berapa lama kita tinggal serumah. Rasanya dia bukan orang lain lagi bagiku. Senang sekali punya teman di rumah. Sejak ada Galih, aku baru sadar kalau sudah jarang lagi keluar rumah saat malam hari. Mengunjungi Mas Bayu, mampir ke rumah Bu Ayu sepulang dari kampus, nongkrong bareng sama teman-teman, rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukannya.


Ting Tung..


Terdengar suara bel rumahku berbunyi. Orang di balik pintu menekannya terus menerus seperti sebuah tanda darurat saja. Aku berlari membukanya. Seseorang dari balik pintu itu tiba-tiba memelukku dengan erat.


“Syukurlah kamu baik-baik saja” katanya sambil masih memelukku. “Dimana adikmu?” dia melepas pelukannya dan beranjak ke ruang depan TV. Bahkan dia memeluk Galih juga. “Kamu demam? Apa terjadi sesuatu padamu?”


“Ada apa Pak Rudi datang kesini? Dan bertingkah aneh” kataku ragu. Orang di belakang pintu itu adalah Pak Rudi, seorang polisi yang pernah membantuku. “Adikku? Dia bukan adikku” jelasku sambil menunjuk ke arah Galih.


“Aku mendapat kabar kalau kalian akan dapat masalah malam ini” jawabnya. Aku mulai berpikir bahwa orang ini benar-benar aneh.


“Masalah?” tanyaku.


“Om sudah tahu pelakunya?” tanya Galih.


“Sebentar” kataku memotong pembicaraan. “Kenapa Om sangat tertarik sekali pada masalah kami. Padahal kami tidak memintanya” aku tidak sadar telah memanggilnya om. “Apa sebenarnya Pak Rudi terlibat juga dengan masalah ini?” dia terlihat sangat bingung. Dan terdiam sebentar.


“Sebenarnya aku sudah tau siapa dibalik semua ini?” aku dan Galih saling pandang.


“Bagaimana anda bisa tahu?” tanyaku.


“Karena aku mengenalnya” jawaban yang tidak pernah kuharapkan akan dikatakan oleh beliau.


“Apa maksud anda mengatakan itu? Apa anda kesini mau menyerang kita?” Galih langsung berdiri dan mendekatiku.


“Tidak-tidak, tolong dengarkan aku dulu” kita berdua beranjak menjauh.


“Bagaimana Anda bisa mengenalnya?” tanyaku. Tiba-tiba dia menundukkan kepala dan terdiam. Terlihat dia berkali-kali menarik napas panjang. Apa yang akan dia katakana selanjutnya sangat membuatku penasaran.


Pak Rudi selama ini memang selalu baik pada kita, beliau tidak terlihat seperti seorang penjahat. Tetapi seorang penjahat bisa saja berpakaian dan berperilaku normal selayaknya orang biasa. Seketika kepalaku dipenuhi berbagai spekulasi yang muncul berhamburan. Aku melihat ke arah Galih, dan dia terlihat sangat kebingungan sama sepertiku. Kita berdua sama-sama waspada kalau saja Pak Rudi tiba-tiba menyerang. Meski kita belum tahu apa motifnya datang kemari malam-malam begini.


Kesunyian terjadi cukup lama, sampai beliau mulai mengatakan sesuatu.


“Wilujeng” katanya.


Seketika aku terdiam tidak tahu harus berkomentar apa. Mendengar nama itu bisa membuatku kehilangan kata-kata. Badanku terasa kaku tidak bisa bergerak. Nama itu terasa menusuk hatiku terlalu dalam. Dan bagaimana dia bisa menyebutkan nama itu.


“Anda tahu nama itu?” Tanya Galih yang malah membuatku semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


“Apa maksudmu? Kamu juga tahu nama itu?” tanyaku pada Galih.


“Itu namaku” seketika jantungku berdegup kencang, aku berusaha keras menahan emosiku. “Itu namaku sebelum diadopsi” lanjutnya.


“Aku tidak mengerti apa yang kau katakana” tanpa sadar aku membentaknya.


“Wilujeng Galih, itu namaku” jelasnya. Bagaimana dia bisa mempunyai nama seperti nama lamaku? Siapa dia? Dan siapa Pak Rudi ini? Apa sebenarnya yang terjadi di sini?


“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakana barusan?” tanyaku padanya.