THE TRUTH

THE TRUTH
PINK



Bab 6 PINK


“Bukankah warna pink sangat cocok untuknya?” seseorang di sampingku mulai berkata yang tidak jelas. “Indah sekali” lanjutnya. Aku tidak berkomentar dan mengangguk saja.


Kegiatan perkuliahan sudah dimulai, kampus tidak lagi sepi seperti beberapa hari lalu. Kejadian dan kisah mencengangkan masih belum selesai. Tetapi setidaknya beberapa hari ini tidak ada hal buruk yang terjadi. Kita, aku dan Galih semakin dekat satu sama lain. Dia sudah seperti saudaraku sendiri.


Di jam istirahat siang ini aku sedang duduk berdua, bersamanya. Orang yang ingin sekali ku selotip bibirnya yang tidak bisa berhenti ngoceh.


“Sejak pagi tadi warna pink memang istimewa. Bagaimana menurutmu?” tanya Andi padaku.


“Biasa aja” jawabku singkat.


“Ayolah sobat, OSPEK sudah berlalu dan kau masih saja dapat kado dari cewek-cewek? Aku akan menyombongkan diri kalau jadi kamu” katanya panjang lebar. Aku hanya diam dan menikmati minuman dingin yang kubeli dari kantin.


“Tapi aku lebih suka yang pink, maba tahun ini memang cantik-cantik ya..”. andi masih saja ngoceh.


“Itu tadi bukan maba” sahutku.


“Masak iya?” dia terkejut. “ Kamu kenal sama dia?”


“Dia sering memberiku coklat, aku yakin dalam kotak ini isinya coklat” jawabku sambil mengangkat kado dari Devia, si gadis pink yang juga adik tingkat kita. Aku melihat wajah Andi sedikit terlihat marah.


Sepertinya dia bener-bener suka sama Devia. “Ini kamu ambil aja” kataku.


“Dia memberikannya untukmu, kamu harus menghargainya” aku hanya mengiyakan.


Sekilas aku berpikir, bagaimana kalau Andi benar-benar suka pada Devia dan si Devia lebih suka memberikan coklat padaku? Apa dia akan menonjok pipiku seperti yang sering kualami? Ayolah.. ini sama sekali tidak lucu. Apa aku harus meminta Devia untuk berhenti memberiku coklat? Itu juga terlalu kejam.


“Apa itu tim teater?” Tanya Andi sambil menunjuk segerombolan mahasiswa yang memakai kostum ala negeri dongeng sedang berjalan di trotoar pinggir lapangan utama kampus.


“Sepertinya iya” jawanku singkat.


“Pink benar-benar istimewa” dia mulai lagi. “Lihat itu, cewek yang pakai dress pink, cantik sekali. Sepertinya aku pernah melihatnya”. Apa yang dikatakan Andi membuatku jadi penasaran. Kalau dia pernah lihat, mungkin saja aku malah mengenalnya.


Gerombolan tim teater itu berjalan semakin dekat dengan trotoar yang ada di depan tempat kita duduk saat ini. Aku melihat dengan seksama siapa gadis berbaju pink itu. Dari kejauhan dia terlihat tinggi, rambutnya panjang dan hitam dan bando warna pink yang terlihat elegan.


Pawakannya kurus yang terlihat proporsional. Wajahnya masih terlihat samar, tetapi memang memancarkan kecantikan. Tanpa sengaja aku jadi penasaran dengan gadis itu. Begitu juga dengan Andi. Aku memperhatikannya sampai wajahnya benar-benar terlihat jelas di mataku. Dan itu… cantik sekali…


“Ratih? Bukankah itu Ratih?” tanyaku pada Andi.


“Kayaknya sih iya” masih ragu. “Coba kupanggil dia”. Belum sempat aku melarangnya, Andi sudah terlanjur memanggil nama Ratih dengan lantang. Aku berharap itu benar-benar Ratih atau aku akan ikut malu kalau sampai salah orang.


Tanpa menunggu waktu lama, gadis itu menoleh dan melambaikan tangannya seperti orang yang sudah kenal saja. Jadi itu beneran Ratih? Gumamku. Syukurlah tidak jadi nanggung malu. Eh tapi…


“Itu benar Ratih?” tanyaku.


“Iya Ratih.. tuh dia berlari kesini” kata Andi.


Rambutnya yang panjang terurai dengan bando pink, dan wajahnya yang tersenyum lebar penuh keceriaan, sesaat membuatku sedikit terbius olehnya. Dia benar-benar berbeda dengan Ratih yang kukenal selama ini. Pandanganku tidak bisa beralih darinya. Seketika aku memegang dadaku, jika ini berdegup kencang, berarti itu tanda bahaya.


“Sedikit” jawabanku yang membuat Andi tertawa terbahak-bahak.


“Hai..” suara merdu menyapa kita dengan hangat.


“Wah.. kayak bukan Ratih. Aku sempat degdegan lo..” kata Andi pada Ratih, dan setelah itu melihatku. Ini anak benar-benar sedang mengejekku.


“Aku nggak yakin mau memakainya, apa aku terlihat aneh?” Tanya Ratih sambil memegang short dress nya.


“Bagus kok, sempurna. Cocok buat kamu” jawab Andi. “Iya kan Gading?”. Semua mata tertuju padaku yang masih bengong. Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.


Aku melirik ke wajah Ratih yang terlihat tersipu setelah mendengar pendapatku tentang penampilannya. Sangat jarang sekali melihatnya tersipu, itu terlihat sangat manis sekali. Rasanya seperti bukan Ratih yang kukenal.


“Kamu tahu…” aku berhenti sejanak dan Ratih memandang ke arahku “Apa perasaanmu saat memakai baju seperti itu?” tanyaku padanya.


“Apa kamu sedang mengejekku?” wajahnya terlihat agak kesal.


“Nggak… Nggak… bukan itu maksudku.. Emm.. gini… emm..” jawabku agak bingung bagaimana mengatakannya.


“Kenapa kamu ngomong terbata-bata gitu?” cetus Andi “Kamu beneran deg-degan?” lanjutnya sambil menyentuh dadaku.


“Apaan sih” dengan cepat aku menyingkirkan tangannya. Ratih terlihat sedang sedikit tertawa. “Manis sekali” pikirku. Aku mulai terbenam dalam suatu zona nyaman yang aku tidak tahu apa itu.


“Hahaha… kamu aneh bro.. Pidato di depan hampir ribuan orang kamu biasa aja.


Sekarang kamu terlihat gugup tau nggak??” apa yang dikatakaan Andi membuatku bangun dari zona nyaman.


“Haaa??? Aku hanya tidak biasa melihat dia berdandan kayak gini” kataku. Ratih terlihat tersenyum mendengar kata-kataku barusan.


“Tapi kamu suka kan??” cetus Andi lagi.


“Biasa aja” aku asal menjawab. Tanpa kusadari aku mengarah ke Ratih dan melihat bagaimana ekspresinya setelah mendengar komentarku. “Tunggu, apa yang sedang kulakukan??” gumamku dalam hati. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.


“Ya udah, aku pergi dulu ya..” Ratih pamit pergi. Aku melihat sekilas raut wajah nya yang sedikit dipaksakan untuk tersenyum. “Apa dia sakit hati pas aku bilang biasa aja?” pikirku. Ah sudahlah..


Ratih sudah berlalu, tetapi jantungku masih saja berdenyut dengan cepat. Sepertinya ada yang salah dalam diriku. Hampir setiap hari aku bertemu Ratih sejak SD, tetapi baru kali ini merasakan hal yang beda. Mungkin karena dia hari ini tampil beda diluar dugaanku. Aku mengakui kalau dia cantik, dan akan semakin cantik kalau dia berdandan. Mungkin karena itu aku menjadi sedikit gugup. Iya, pasti karena itu.


Saat aku terbenam dalam perasaan aneh itu, Galih datang tanpa diundang. Bahkan aku tidak menyadari dia datang dari arah mana. Dan kenapa pula dia harus memakai kemeja pink di dalam jas kampusnya? Hari ini penuh sekali dengan warna pink.


“Hai Galih, apa kabar?” Tanya Andi pada Galih,


“Baik, Kak Andi apa kabar?”


“Baik juga. Kelihatannya kamu lebih ceria akhir-akhir ini” Galih hanya tersenyum. Aku memperhatikannya dari ujung kaki sampai kepala, tidak ada yang berubah darinya, tidak ada yang terlihat ceria darinya kecuali kemeja pink yang dipakainya.


Seharian ini warna pink masih saja menghantuiku. Aku tidak pernah berhenti memikirkan warna pink dan bertanya-tanya apa yang salah denganku. Pada akhirnya aku tahu bagian mana yang salah dariku. Itu adalah kepalaku. Terlalu banyak pertanyaan yang timbul di kepalaku. Di saat seperti itu aku ingin sekali memberhentikan kepalaku untuk berpikir dan tidur dengan nyenyak. Tetapi itu sulit.


Lama kelamaan aku merasa diriku menjadi seseorang yang kurang kerjaan karena terlau memikirkan hal yang kurang penting.