
Bab 12 TIDAK TERDUGA
Keesokan harinya saat kita berdua berangkat bersama menuju kampus, pandangan orang-orang yang melihat kita terasa lebih aneh dari sebelumnya. Aku seperti sudah tahu apa yang mereka semua pikirkan. Bahkan aku yakin Andi akan memasang wajah aneh itu saat melihat aku dan Ratih bergandengan tangan.
Tanpa butuh waktu lama, aku melihat Andi benar-benar memasang wajah aneh itu. Tidak hanya dia, seluruh orang di kelas kita memandang kita aneh dan terkejut. Suasana ini terjadi beberapa saat sampai sesorang dari belakang tiba-tiba mengagetkan kita semua.
“Cie cieeee… jadian nih” temanku Rido sedang menyoraki kita. Aku dan Ratih hanya tersenyum dan beranjak untuk menuju tempat duduk.
“Eh.. tunggu. Kalian berdua, stop. Berdiri di situ” aku dan Ratih saling menatap bingung. Andi berlari menuju kami dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. “Kalian beneran jadian?” lanjutnya. Kita berdua mngangguk. “Yakin?” Andi masih tidak percaya.
“Iyaaa…” jawab Ratih. Tetapi Andi masih saja terlihar tidak percaya. kita berdua tidak menghiraukan dia lagi dan beranjak duduk di bangku.
Saat jam istirahat siang, kita makan siang bersama di kantin. Aku, Ratih, Andi, dan Galih juga. Kantin sudah ramai dipenuhi mahasiswa yang sedang kelaparan, untung saja masih ada tempat duduk untuk kita.
“Kalian pesan apa?” tanyaku.
“Apa kau akan mentraktir kita?” Tanya Andi.
“Iya deh aku traktir”
“Siiipppp… pesen aja kayak biasanya” seru Andi.
Ternyata atmosfir kantin sama anehnya dengan saat di kelas. Sepertinya issue tentang kita jadian sudah menyebar luas di kalangan mahasiswa. Aku sebenarnya sedikit kurang nyaman dengan kondisi seperti ini, tetapi apa boleh buat. Beberapa hari pasti sudah normal lagi.
“Kak Gading, kita butuh bicara” Devia yang datang tiba-tiba mengagetkan acara makan kita. Aku melihat orang-orang di sekitarku memasang wajah aneh lagi.
“Apa tidak bisa dibicarakan di sini saja?” tanya Ratih kesal. Devia mengarahkan pandangannya padaku denga tatapan mengintimidasi. Ratih memegang lenganku sambil menatapku penuh harap.
Aku kembali duduk dan berkata lirih padanya. “Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya” kataku. Dengan berat hati dia mengiyakan dan membiarkanku pergi.
Aku berjalan mengikuti Devia tepat di belakangnya, dan tampak semua mata tertuju pada kemanapun langkah kita akan pergi. Itu sangat mengganggu.
Beberapa menit aku berjalan membututi Devia, akhirnya kita sampai di tempat yang lebih sepi di belakang gedung Fakultas di salah satu kursi panjang dekat pohon besar. Aku melihat wajah penuh kecemasan pada Devia. Terlihat dia meremas-remas tangannya sambil menundukkan kepala. Aku masih menunggunya memulai pembicaraan.
“Kak Gading”
“Iya” aku memandang ke arahnya. Dia terlihat masih menundukkan kepala dan mengusap tangannya.
“Sebenarnya yang kemarin itu..” dia beralih menatapku dengan serius. Aku juga balik menatapnya serius, berharap masalah ini akan segera berakhir. “Maafkan aku, yang kemarin itu sebenarnya… “ dia berhenti bicara lagi, membuatku semakin penasaran. “Itu adalah hukuman” dia menundukkan kepalanya dengan cepat.
“Ha??” aku menjadi bingung.
“Iya.. maafkan aku. Kemarin aku kalah taruhan, dan itu hukuman yang harus kulakukan” wajahnya menatapku dengan penuh rasa bersalah dan cemas.
“Ha?? Kenapa.. ah sudahlah” aku menghela napas panjang. Lelucon macam ini bisa menyebabkan masalah besar dalam hidupku. Tetapi ini salahku juga karena tidak mendengar penjelasannya dan malah pergi begitu saja. “Lagian ini juga salahku karena langsung kabur aja kemarin” jelasku.
“Jadi maafkan aku Kak” katanya sambil memohon padaku dengan memasang wajah yang penuh harap.
“Iya aku janji” sahutnya cepat.
“Tapi.. aku penasaran. Kenapa kamu tidak langsung menjelasaknnya saja saat aku menelfonmu?”
“Ah.. itu. Aku benar-benar malu sekali. Aku belum siap menjelaskannya” jelasnya.
“Oh begitu” sahutku. Tetapi kejadian ini juga membuat seseorang menjadi mengungkapkan perasaannya padaku. Apa aku harus berterimakasih pada Devia? Kurasa itu tidak perlu. “Oh iya..” aku mulai penasaran pada sesuatu. “Kenapa kamu sering memberiku coklat? Apa makna coklat itu?” aku mulai meragukan kalau dugaanku salah tentang coklat itu.
“Oh itu.. aku memang ngefans sekali padamu Kak. Kakak adalah sumber inspirasi dan penyemangatku” jelasnya.
“Fans??” bagaimana anak ini mengartikan kata itu, gumamku dalam hati.
“Iya, seperti aku suka K-pop” lanjutnya “Aku memang sangat menyukainya, tetapi aku tidak berniat untuk memilikinya dan tidak berharap lebih padanya. Hanya melihat dan bisa berkomunikasi dengannya saja bisa membuat semangatku tumbuh” baru kali ini aku melihat ada orang yang mengartikan ‘fans’ dengan sangat bagus seperti itu. Tiba-tiba aku sangat setuju dengan penjelasannya tentang ‘fans’. Dan aku diibaratkan seperti artis Korea? Rasanya aku ingin sekali tertawa lepas, itu terdengar sangat lucu.
“Aku setuju padamu, banyak teman-teman di kelasku yang juga suka K-Pop, bilang kalau idolanya adalah pacarnya atau bahkan suaminya. Itu sangat berlebihan sekali menurutku” Devia terlihat mengangguk setuju. “Jadi.. sekarang apa yang akan kau lakukan dengan kekacauan ini? Aku yakin seseorang akan marah besar padaku”
“Oh iya.. aku dengar kakak baru jadian ya.. selamat” katanya. “Aku bisa menjelaskannya pada pacar kakak kalau perlu”
“Itu ide bagus” aku mengangguk. “Tapi.. ada satu hal yang membuatku penasaran” Devia mulai menatapku serius. “Bagaimana perasaanmu saat mendengar idolamu sedang menjalin hubungan?”
“Tentu saja aku akan mendukungnya, walau sedikit sakit hati, aku rasa setiap orang punya hak untuk melakukan hal seperti itu tanpa ada tekanan dari siapapun” dewasa sekali, pikirku. Dia berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik dariku, gumamku dalam hati.
“Baiklah” aku mulai bangkit berdiri “Aku akan menjelaskan semua ini dengan baik pada Ratih, jika itu gagal, sepertinya aku butuh bantuanmu” jelasku.
“Dengan senang hati aku akan membantu” jawabnya. “Terimakasih sudah mau mengerti”
“Iya.. lain kali jangan membuat taruhan yang kekanak-kanakan seperti itu” kataku. Dia mengangguk mengiyakan.
Akhirnya masalah ini selesai juga, meski dengan kenyataan yang memalukan. Aku harus menerima konsekuensinya juga karena sebagian masalah ini timbul karena perbuatanku. Selain itu aku juga harus siap untuk ditertawakan. Gelak tawa Andi sudah mengiang di telingaku sebelum aku menceritakan ini padanya.
***
Tiga orang yang penasaran sedang menungguku di gazebo. Itu berarti soto ayamku yang belum habis kumakan telah terbuang sia-sia, sayang sekali. Padahal aku sudah membayarnya.
“Apa yang dia katakana?” Tanya Andi penasaran. Aku melihat Ratih terlihat marah, dan Galih yang terlihat datar seperti biasanya.
“Lucu sekali” jawabku.
“Jadi ini lucu menurutmu?” nada bicara Ratih terlihat sangat marah.
“Dengarkan aku dulu…” aku menceritakan semua apa saja yang dikatakan Devia tadi tanpa ada yang tertinggal sedikitpun pada mereka bertiga. Dan setelah mendengarnya, seperti dugaanku Andi akan tertawa terbahak-bahak. Galih juga ikut tertawa, dan Ratih masih terlihat bingung. Wajahnya terlihat seperti berpikir kalau aku sedang mengarang cerita konyol. Aku mengerti kondisinya dan mulai memegang tangannya.
“Aku sudah berkata dengan jujur, apa kau masih tidak percaya padaku?” tanyaku penuh harap.
“Lain kali jangan ceroboh begitu” katanya saat kita berjalan balik ke kelas masing-masing. “Iya-iya” jawabku manja. Kenapa rasanya aku senang sekali melihat pacarku marah karena cemburu. Dia terlihat lebih menggemaskan dari sebelumnya. Membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.