
Bab 15 TOLONG DENGARKAN AKU
Aku mendekati kerumunan warga yang ada di depan rumah Ratih. Selain itu tujuanku adalah untuk meghindari orang lain mendatangi rumahku dan melihat serbuk hitam itu. Meski lampu terasku kumatikan, serbuk hitam itu masih terlihat samar. Seseorang yang teliti akan segera mengetahuinya dengan mata telanjang.
“Apa kau mendengar ledakan itu?” Tanya Ayah Ratih padaku saat aku mendekatinya.
“Iya, kita mendengarnya. Apa yang sebenarnya terjadi?” aku berlagak tidak tahu.
“Entahlah, orang-orang mengira mungkin ada orang iseng yang menaruh petasan di balik tembok ini” dia menunjuk tembok yang terbentang di depan rumah warga. Di balik tembok itu terdapat lahan kosong milik salah satu perusahaan besar di kota ini.
Jika memang warga mengira suara ledakan itu berasal dari balik dinding, itu merupakan hal bagus, tidak ada yang mencurigai rumahku.
***
Setelah kerumunan warga berangsur membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing, aku dan Galih berusaha menghilangkan jejak serbuk hitam itu sebelum pagi.
“Apa tidak papa kita menyembunyikan hal ini?” kata Galih sambil menyapu serbuk hitam itu.
“Kita belum tahu apa yang sedang terjadi. Aku hanya tidak ingin membuat resah warga sekitar atau bahkan kejadian ini akan tersebar luas sampai ke media” jelasku.
“Itu benar, tetapi apa yang harus kita lakukan sekarang?” aku terdiam seketika karena aku juga tidak tahu apa yang harus kita lakukan setelah ini. Bahkan menyembunyikan bukti ini akan berdampak baik atau buruk aku masih meragukannya. “Apa kita perlu memberitahu Pak Rudi?” lanjut Galih.
“Itu mungkin ide yang paling bagus saat ini” jawabku setuju.
Dengan cepat bukti itu telah kami singkirkan meski ada sedikit yang tertinggal yang terlihat seperti debu. Setidaknya orang-orang tidak akan mengira kalau telah terjadi sesuatu di sini. Kita kembali masuk rumah dan duduk kembali di sofa depan TV.
“Siapa sebenarnya yang melakukan semua ini?” gumamku lirih.
“Pak Veri?” ketus Galih.
“Kenapa dia?”
“Bukankah dia membenci kita?”
“Apa karena rasa benci, seseorang harus melakukan hal bodoh seperti ini? Itu sangat kekanak-kanakan” aku sangat tidak setuju dengan argumennya.
“Bagaimana kalau dia terlibat dengan aksi pengroyokan itu?” perkataannya itu bisa saja benar, tetapi menurutku kemungkinannya terlalu kecil.
Kita berdua kembali terdiam. Galih menyalakan TV dan mengganti Channel berkali-kali tanpa ada tujuan apa yang ingin dia tonton. Dia mungkin sedang melihat TV, tetapi fokusnya terlihat jelas tidak pada benda layar datar itu.
Suara dering telfon yang cukup keras membangunkan kami dari lamunan. Ratih sedang menghubungiku. Kejadian barusan membuatku lupa kalau aku sedang ada masalah dengannya. Dengan cepat aku mengangkat telfonnya.
“Halo”
“Apa kamu baik-baik saja?” dia terdengar mengkhawatirkanku.
“Iya. Bagaimana denganmu?” aku mendengar nafas beratnya menandakan kesabaran hati yang tengah diuji. Dia masih membenciku.
“Aku baik. Galih?”
“Dia ada di sampingku sekarang, kita nggak bisa tidur”
“Oooo” jawabnya singkat. Kita sempat sama-sama terdiam dalam beberapa detik.
Tetapi dia tidak juga mematikan telfonnya.
“Ada yang ingin kujelaskan padamu” aku mulai memecah keheningan itu.
“Apa kamu mau mengakui perbuatanmu yang bejat itu?” dia terdengar sangat marah.
“Aku sedang dijebak, aku punya buktinya” jelasku.
“Bukti kalau kamu bersalah? Jelas-jelas di foto itu adalah kamu” suaranya mulai serak. Dia mulai menangis.
“Foto? Kamu menyimpan fotonya?” tanyaku.
“Kenapa? Kamu mulai ragu?” kemarahannya semakin memuncak.
“Tentu tidak. Aku akan menunjukkan padamu besok, bahwa aku tidak bersalah”
“Itu akan percuma” katanya.
“Kemarin aku mencari buktinya bersama Andi, kamu bisa menanyakan langsung padanya” dia terdengar mulai ragu. “Tolong beri aku kesempatan” pintaku. Dia masih terdiam.
“Sudah ya, selamat malam” dia mematikan telfonnya.
***
Keesokan harinya aku ada jadwal kuliah jam 8, sedangkan Galih jam 10. Aku akan berangkat ke kampus tanpa dia.
Saat aku keluar dari rumahku untuk berangkat ke kampus, aku melihat Ratih juga baru saja mau berangkat. Dia menatapku tajam. Aku melihat kedua matanya terlihat sembab di balik kaca mata. Jarang sekali dia memakai kaca mata, sepertinya dia ingin menutupi raut wajahnya yang layu dengan mata yang sembab. Aku masih terus melihatnya. Sampai dia berjalan melewatiku tanpa menyapaku.
“Tunggu” kataku. Tetapi dia tidak menghiraukannya. “Tunggu sebentar Ratih..” aku meraih tangannya dari belakang. Tetapi dia menampiknya.
“Aku tidak ingin berbicara denganmu” katanya sambil berlalu begitu saja.
Tidak mau berbicara denganku? Tidak ada kata yang lebih menyakitkan dari kata itu. Jantungku berdegup kencang, darahku terasa mulai naik ke ubun-ubun. Kata-katanya barusan membuatku mematung untuk beberapa saat sampai aku memutuskan untuk berjalan di belakangnya, membuntutinya.
Keadaan di kelas juga sama anehnya. Aku seperti sudah tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan. Andi yang sudah datang duluan mendekat menghampiriku.
“Apa masalahnya belum selesai?” dia penasaran
***
Saat istirahat siang, Ratih buru-buru keluar kelas tanpa memandangku sedikitpun. Dengan segera aku bangkit dari tempat dudukku dan mengejarnya. Dia terlihat menuruni tangga, aku membuntutinya dan berusaha mengajaknya bicara.
“Dengarkan aku Ratih.. aku bisa menjelaskan semua ini” dia masih terdiam dan terus berjalan. “Tolong berikan aku kesempatan sekali saja” tidak ada respon sama sekali, bahkan dia mempercepat jalannya.
Sekarang kita sudah ada di luar gedung fakultas, dan Ratih masih saja berjalan dengan cepat. Aku berusaha mengejarnya dan memegang tangannya dari belakang.
“Tunggu Ratih.. dengarkan aku”
“Jangan memegangiku” katanya tanpa memandang wajahku dan beranjak pergi. Seketika aku berhenti mengejarnya.
“Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada perasaan bencimu padaku” kataku ini membuatnya berhenti, tetapi tidak membalikkan wajahnya padaku. “Ada beberapa masalah yang kuhadapi akhir-akhir ini, bersama Galih juga” dia mulai membalikkan tubuhnya. “Maafkan seandainya aku tidak terlalu perhatian padamu” jelasku.
“Tapi semalam kau bilang kalian sedang baik-baik saja. Selama ini kamu selalu bilang kalau semuanya baik-baik saja. Apa kau tidak pernah percaya padaku?” katanya sambil marah-marah.
Aku mendekatinya dan memeluknya. Sekarang aku tidak peduli lagi dengan puluhan pasang mata yang sedang melihat kita. Yang kupikirkan hanyalah fakta bahwa selama ini Ratih berpikir kalau aku tidak mempercayainya untuk menceritakan masalahku padanya.
“Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir” jelasku. Dia menangis di pelukanku.
“Itu malah membuatku semakin khawatir. Aku sudah mengenalmu sejak kecil” dia mulai sedikit berteriak sambil melemparkan tinjuan lemahnya ke dadaku.
“Iya, maafkan aku” aku melepaskan pelukanku dan mengusap air mata di balik kaca mata yang dipakainya.
“Jadi, apa yang ingin kau jelaskan padaku. Aku akan memberimu satu kesempatan. Kalau itu tidak berhasil, kita akhiri saja semua ini” katanya. Aku menarik napas dalam.
Kita berdua sepakat duduk di gazebo saat aku ingin menjelaskan semuanya padanya.
“Aku sudah memeras otakku untuk mendapatkan bukti ini. Kau harus mempercayaiku” dia hanya menatapku. “Lihat ini, ini saat aku mengajak bicara Pak Veri” aku megeluarkan HP ku dan memperlihatkan sebuah video padanya.
“Bagaimana kau melakukan ini?”
“Sudah kubilang aku benar-benar memeras otakku kemarin. Andi yang kuminta untuk mengambilnya diam-diam” dia melihat video itu dengan seksama.
“Ini saja tidak begitu meyakinkan” komentarnya. Baru kali ini aku melihat sikapnya yang sedingin itu.
“Ada satu lagi” aku memperlihatkan video yang kedua.
“Andi juga yang merekamnya?”
“Iya, karena dia ngotot mau ikut denganku” jawabku.
Dua video itu memiliki durasi yang cukup lama. Aku melihat Ratih sangat berkonsentrasi melihatnya. Sekarang ekspresi kebingungan terlihat dari wajahnya dengan mata sembab itu.
“Apa maksudnya ini?” terlihat dia sangat marah.
“Kau mengenal orang yang dimaksud Bu Lisa tadi?” tanyaku.
“Tentu saja, dia adalah temanku di paduan suara” jelasnya sambil menatapku tajam.
“Apa dia terlihat sepertiku?”
“Sangat mirip, aku sering terus memperhatikannya saat aku lama tidak bertemu denganmu karena kau terlalu sibuk kerja dan kegiatanmu di BEM” jelasnya. Apa dia secara tidak langsung mengatakan padaku kalau perasaan sukanya terhadapku sudah ada sejak lama? Dia terlihat sangat serius, tetapi aku malah tersenyum tersipu.
“Jadi bagaimana menurutmu?” tanyaku padanya.
“Aku yakin kamu tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Itu mustahil kau lakukan” jawabnya.
“Tapi nyatanya kau lebih percaya orang itu dari pada aku” keluhku.
“Karena dia punya bukti yang meyakinkan. Maafkan aku” dia menatapku dengan wajah penuh harap.
“Jadi kamu percaya aku akan mencium orang lain padahal aku belum sekalipun pernah mencium pacarku sendiri?” cetusku.
“Karena kau tidak pernah terlihat ingin menciumku” jawabnya. Apa dia sedang mengeluh padaku? gumamku dalam hati.
Kita berdua saling memandang tanpa berkata apapun. Aku memberanikan diri untuk mendekatkan wajahku secara perlahan di depan wajahnya. Terlihat dia mulai menutup matanya. Jantungku rasanya seperti mau meledak saja.
Mendadak aku merasakan suhu tubuhku naik dengan cepat.
Wajahku semakin dekat dengan wajahnya, sampai aku merasakan nafas hangatnya mengenai wajahku. Aku bahkan juga menutup mataku dengan rapat. Dan itu kulakukan sekejap dengan sangat cepat.
“Di pipi?” tanyanya bingung.
“Iya, di pipi” jawabku sambil mengolah pernafasanku yang berjalan tidak karuan. Ini adalah pertama kali dalam hidupku. Rasanya kaku sekali.
“Kamu…” Ratih memandangku “Ini bukan pertama kalinya kan?” lanjutnya.
“Apa maksudmu?” aku mulai sedikit agak kesal.
“Bukan begitu..” dia berhenti sejenak sambil tetap memandangiku “Masak iya seorang Gading nggak pernah melakukan hal seperti itu padahal banyak cewek yang menggodanya?" cetusnya.
“Ha?? Kamu pikir aku ini apaan??” aku benar-benar kesal mendengarnya.
Sekejap sesuatu yang lembut mendarat tepat di bibirku. Aku merasakan nafas hangatnya terasa begitu sangat dekat tanpa celah. Mataku terbelalak karena kejutan ini. Di depan mataku terlihat sebuah pasang mata yang terpejam dengan sisi sembabnya. ‘dia bahkan melepas kaca matanya’ pikirku. Dengan reflek aku meletakkan kedua tanganku di lengan atasanya. Dia juga mengangkat kedua tangannya dan menyilangkannya di leherku. Aku seperti belum menyadari apa yang sedang kita lakukan saat ini.
Jantungku berdegup tidak karuan, suhu tubuhku masih panas, isi di kepalaku terasa hilang seketika, tetapi aku menikmatinya. Sekarang aku tahu kenapa banyak pasangan yang melakukan ini.