
Bab 18 SINAR REMBULAN
Saat aku melihat dari balik kaca jendela, tidak ada seorangpun di sana. Bahkan pejalan kaki pun tidak ada.
“Sudah kuduga kau membohongiku” kataku pada seseorang yang sembunyi di balik suaranya.
“Apa kau pikir aku seorang penakut sepertimu?” katanya.
“Kau hanya menggertak saja..” sahutku.
“Oh ya?” tanyanya denga nada mengejek.
Tiba-tiba, aku melihat setitik cahaya merah terlihat di bayangan jendela. ‘apa itu?’ tanyaku dalam hati. Aku melihat juga setitik cahaya merah itu di dinding batako tepat depan rumahku. Dengan seksama aku memperhatikan titik cahaya itu, dan menyadari kalau titik merah itu juga ada tepat di dadaku. ‘Ada sniper dibalik dinding? Tidak, tidak mungkin’ gumamku.
“Jadi apa maumu?” tanyaku pada orang itu.
“Ada dua pilihan. Kalau kau mau, ajak adikmu keluar. Hanya adikmu, tidak yang lain. Anak buahku akan menemui kalian dan menunjukkan jalannya. Dan perlu diingat, mereka juga membawa senjata yang siap menyantap nyawa seseorang” jelasnya.
“Kalau aku tidak mau?” tanyaku.
“Pilihan kedua, kalau kamu tidak mau, aku akan memberimu kejutan. Tidak hanya untukmu, tetapi untuk tetanggamu juga” apa itu bahan peledak?, pikirku “Bagaimana? Bukankah itu kejutan yang menarik?” sekarang aku merasa seperti berada di dalam kandang buaya yang siap menyantapku kapan saja. Tidak ada yang kusuka dari dua pilihan itu. sekarang, mau tidak mau aku harus melakukan pilihan pertamanya.
“Baiklah, aku akan melakukannya” jawabku dengan berat hati. “Apa kau orang yang pemalu yang tidak berani menunjukkan batang hidungnya?” lanjutku.
“Apa kau sedang menggertakku? Itu sama sekali tidak membuatku goyah” katanya.
“Aku hanya bertanya padamu” kataku dengan nada mengejek. Aku hanya tidak mau terlihat lemah di matanya.
“Berisik.. aku beri waktu sepuluh menit, kalau kalian berdua belum juga keluar, kejutannya akan kupercepat” jelasnya.
“Kau ini tidak sabaran sekali, gimana kalau aku harus ke toilet dulu. Itu adalah hal penting…” belum selesai aku berbicara dia sudah menutup telfonnya. Ini berarti aku harus menggunakan waktu sepuluh menit itu semaksimal mungkin.
***
Satu menit sebelum waktu habis, aku dan Gailih sudah berada di luar rumah. Terlihat dua orang sedang berjalan menghampiri kita dari arah sebelah kiri. Mereka berpakaian seperti orang biasa. Aku yakin orang yang melihatnya tidak akan berfikir kalau dua laki-laki ini membawa senjata di balik pakaiannya. Mereka berdua menghampiri kita layaknya teman dekat.
Satu orang mlingkarkan lengannya di belakang leherku, dan satu orang yang lain melakukan itu pada Galih.
Setelah berjalan sampai di jalan utama, sudah ada mobil hitam yang menunggui kita. Kita berdua dipaksa masuk kedalamnya.
“Berikan Handphone kalian”
“Aku tidak membawanya” kataku.
“Aku lupa menaruh hp ku dimana” Galih menjawab. Sepertinya dia terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Kedua orang yang membawa kita tadi menggeledah pakaian kita karena tidak percaya. Setelah tahu kalau kita memang sedang tidak membawa HP, mereka mulai mengikat tangan kita dan menutup mulut kita dengan kain. Aku merasa ini seperti mimpi atau hanya cerita dalam sinetron.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan yang menegangkan ini, akhirnya kita sampai di tempat yang aku tidak tahu dimana. Kaca mobilnya terlihat gelap, dan itu membuatku tidak tahu kita sekarang berada dimana.
Setelah keluar mobil, aku masih merasa asing dengan tempat ini. Kalau diingat-ingat, sepertinya aku tidak pernah datang ke tempat yang seperti ini. Tempatnya seperti di dalam hutan, dan hanya ada sebuah rumah gelap di depan sana.
Sekarang kita sudah ada di dalam ruangan gelap yang hanya disinari oleh cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Ruangan ini cukup luas, sekitar lima kali sepuluh meter, tetapi terlihat kosong. Hanya ada setumpukan kursi di tepi ruangan.
Kita berdua duduk di kursi dengan tangan masih terikat dan mulut masih tertutup.
Galih yang ada di sampingku melihatku dengan tatapan cemas. Aku membalasnya dengan tatapan yakin kalau kita bisa keluar dari sini hidu-hidup.
Tidak lama kemudian aku mendengar langkah kaki memasuki ruangan ini. Dengan perlahan orang itu mendekati kita. Langkah kakinya yang terdengar sangat jelas membuat tubuhku terasa kaku. Galih memandangku lagi, matanya memperlihatkan kalau dia sangat penasaran.
Orang itu akan terlihat sebentar lagi saat cahaya rembulan yang terang akan memperjelas sosoknya. Mulai dari kaki, ‘seorang laki-laki?’ gumamku.
Sepatu pantofel pria terlihat mengkilat di bawah sinar terang sang rembulan. Dugaanku salah tentang Ibu Galih. Lalu dia siapa? Ayahku?
Aku masih memandanginya tanpa berkedip sampai cahaya bulan menerangi sosok itu sepenuhnya. ‘Masih muda, dia bukan ayahku’ gumamku. Laki-laki itu tidak cukup tinggi, memakai setelan jas warna biru dengan pantofel coklat mengkilat, alis matanya tebal, dan wajahnya blasteran.
Aku masih terdiam dan memperhatikan orang itu. galih tampaknya juga tidak ingin banyak bicara.
“Tidak ingin mengatakan sesuatu?” laki-laki itu memulai pembicaraan.
“Perkenalkan dirimu” jawabku.
“Dengan senang hati. Aku David, salam kenal”
“Hanya itu?”
“Apa lagi yang ingin kau tanyakan?” nada bicaranya menjengkelkan.
“Kurasa kau tau apa maksudku” jawabku sambil disambut tawa darinya.
“Hahaha… aku suka sikapmu yang pemberani” dia melangkah lebih mendekat.
“Aku juga saudara kalian. Saudara tertua kalian” katanya.
“Dalam sehari aku mendapat dua saudara, apa menurutmu itu pertanda baik?” tanyaku.
“Hahaha.. aku suka sekali dengan sikapmu” aku mulai membenci suara tawanya “Apa kau tau kenapa adikmu ini diam saja dari tadi?” katanya sambil melihat Galih.
“Aku tidak menerimamu sebagai saudaraku” kata Galih padanya.
“Ibu kita akan sedih kalau kau mengatakan itu adikku sayang” ‘Apa? Ibu kita? Apa itu berarti dia anaknya Patricia? Patricia sudah punya suami sebelum ayah?’
“Dia bukan Ibuku” kata Galih. Disambut dengan kepalan tangan David yang menghantam pipinya.
“Ibu akan marah kalau mendengarnya”.
Tiba-tiba terdengar sebuah langkah cepat menuju arah kami. Seorang wanita, setengah baya, wajah ala Indo Belanda, dan memasang wajah sedih dan cemas. ‘Patricia’ gumamku dalam hati.
“Apa kau mengenaliku nak?” wanita itu mengelus wajah Galih dengan lembut. “Anakku sayang, siapa namamu?” tanya wanita itu pada Galih.
“Hanya anda di dunia ini yang tidak tau nama anak sendiri” jawab Galih. Seketika wanita itu menampar wajah Galih dengan keras, dan melakukannya lagi dan lagi. Dia benar-benar seperti wanita g*la.
“Sayang sekali kamu tidak dibesarkan untuk diajari sopan santun anakku” katanya setelah itu.
“Apa itu kritikan untuk diri anda sendiri?” komentarku.
Dengan cepat dia meraih rambutku dan menjambaknya dengan kuat sampai wajahku mengarah ke atas sambil mengatakan sesuatu di dekat telingaku “Diam kau anak si*lan”. Dia melepaskan cengkraman itu dengan keras sampai kepalaku terpantul. ‘Ini benar-benar g*la, bagaimana ada orang yang punya sifat seperti mereka? Aku mulai tidak suka mengetahui banyak fakta seperti ini'.
“Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari kami?” tanyaku.
“Mudah saja, apa kalaian akan menuruti keinginanku kalau kuberitahu?” jawab wanita itu.
“Tidak juga” jawabku singkat. Wanita itu menatapku dengan marah. “Apa ayah selalu jahat pada kalian?” lanjutku.
“Kenapa kau menanyakan itu?” Tanya David.
“Aku ingat, dia sering menghajarku gara-gara masalah kecil saja” aku hanya asal bicara, karena ingatan tentang ayahku sudah lama kulupakan.
“Apa sebenarnya yang ingin kau ketahui?” suara David semakin lantang.
“Apa ayah masih mengingatku?” kedua orang itu terdiam. “Aku sudah tidak mengingat wajahnya. Tetapi apa dia masih memikirkan tentangku?” lanjutku. Terlihat ekspresi mereka berdua tidak senang.
“Apa kau berniat untuk kembali dan mengharap belas kasihannya?” tanya David.
“Bukankah itu ide bagus? Aku adalah anak sah nya, begitu juga Galih. Hidup kita akan terjamin kalau kembali ke ayah” jawabku.
Galih menatapku tajam, terlihat marah dan tidak setuju dengan apa yang kukatakan barusan. Tetapi ada yang lebih kesal lagi padaku. Seseorang yang dengan cepat meraih kerah bajuku dan menariknya dengan paksa.
“Kau b*****an. Sebelum kau kembali, aku akan segera melenyapkanmu” katanya tepat di dekat wajahku. “Semua harta si tua Bangka itu akan menjadi milikku. Aku akan melenyapkan kalian sebelum kalian kembali pada si tua itu” aku tersenyum mengejek, dan dia membalas menghantamku dengan tinjunya berkali-kali. Aku berharap aku tidak mati di sini.