THE TRUTH

THE TRUTH
CINTA 2



Bab 11 CINTA 2


“Halo” suara lembut terdengar dari balik Handphone-ku.


“Halo Devia.. maafkan aku tadi….” Devia memotong pembicaanku.


“Tidak papa kak, aku yang salah di sini. Seharusnya aku yang meminta maaf” katanya.


“Apa kau akan meneruskan perkataanmu tadi?” aku tidak tau apa yang akan terjadi tetapi rasanya menegangkan sekali.


“Tidak sekarang” jawabnya singkat yang membuatku semakin bingung.


“Maafkan aku Devia” tanpa memberi salam, dia menutup telfonnya.


Aku kembali menatap Galih dengan bingung. Sepertinya apa yang kulakukan barusan tidaklah berhasil. Apa yang harus kulakukan sekarang?


“Kau tidak mau berkomentar?” tanyaku pada Galih yang sedari tadi menatapku tanpa mengatakan sesuatu.


“Bukankah Kakak sudah sering nolak cewek, kenapa harus panic gitu?”


“Apa kau sedang mengejekku?” dia tidak menjawab dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Hari ini cukup rumit. Berbagai pertanyaan menggantung di kepalaku. Tapi yang sedang kuyakini saat ini adalah sepertinya aku butuh intropeksi diri. Banyak sekali masukan dari orang-orang padaku hari ini.


Aku berdiam diri dan merebahkan badanku di sofa depan televisi. Tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu depan rumahku. Dengan berat hati aku berjalan menuju pintu dan membukanya.


“Ada apa Ratih?” dia tidak menjawabku dan masuk ke rumah begitu saja. Saat aku menutup pintu kembali, aku berbalik dan Ratih berhenti di hadapanku dan menatapku sinis. Ada masalah apa lagi ini? Pikirku. “Kamu kenapa sih?” tanyaku lagi. Tetapi masih saja tidak dihiraukannya.


Dia masih menatapku dengan tatapan aneh. Sampai dia tiba-tiba memelukku dengan erat. Aku membiarkannya.


Mungkin dia sedang ada masalah di rumah, pikirku.


“Aku tidak suka” dia mulai angkat bicara. “Aku tidak suka itu” dia mengakatakannya lagi.


“Hei hei, ada apa denganmu?” dia mulai melepaskan pelukannya dan menatapku serius. Aku juga melihat raut wajahnya yang terlihat kesal.


“Aku tidak suka melihatmu dicium wanita tadi” jawabnya membuatku sangat terkejut.


Aku terdiam sejenak. Kita berdua saling memandang satu sama lain tanpa berkata apapun. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakannya barusan. Jantungku rasanya seperti berhenti berdetak.


“Jadi maksudmu..” beum selesai aku berbicara, dia memototong pembicaraanku.


“Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Aku ingin kamu selalu ada di sampingku…” dia mengambil napas sejenank “dan aku tidak suka melihatmu dekat dengan orang lain. Apalagi ada wanita yang menciummu. Itu membuatku marah” katanya sambil wajahnya tertunduk.


Rasanya seperti disamber geledek dengan tiba-tiba. Apakah ini mimpi? Perasaanku saat ini sedang campur aduk. Jantungku berdegup sangat cepat tak terkondisi. Aku merasa sangat bingung dan gugup, tetapi juga sedikit rasa bahagia. Rasanya darahku naik semua ke ubun-ubun. Dengan reflek aku ganti memeluknya. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan sekarang, tetapi aku hanya ingin memeluknya saat ini.


“Cantik sekali” kataku sambil mengelus rambutnya yang lembut terurai.


“Apa kau sedang mengejekku?” suaranya terdengar sedikit serak. Sepertinya dia menangis.


“Aku sedang terpesona padamu” jawabku.


Aku baru menyadari kalau Galih sedang melihat drama yang tidak terduga ini di balik pintu kamarnya. Tanpa berkomentar dia hanya tersenyum aneh padaku dan menututup pintu kamarnya. Lagi-lagi dia mengejekku. Aku akan menjitak kepalanya kalau ada waktu nanti.


“Jadi…” dia memulai pembicaraan. “Kamu menerimanya?”. Benar juga, aku belum menjawab dengan jelas tadi.


“Apa yang akan kamu lakukan kalau aku bilang tidak?”. Ratih menatapku dengan sangat serius. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. “Hei hei, tenanglah. Aku hanya bertanya padamu” aku menenangkannya. Aku sedikit tertawa dan dia mencubit lenganku.


“Aww… sakit tau” kataku.


Setelah menarik napas panjang, dia mulai mengatakan sesuatu. “Aku akan merima apapun jawabanmu. Jadi sekarang katakana sejujurnya padaku”.


Pandangannya yang penuh harap berhasil menggiringku masuk perangkapnya.


“Hei.. lihat ke arahku” aku memegang wajahnya dengan kedua telapak tanganku sambil mengarahkannya ke arahku. “Apa kau sangat menyukaiku?” tanyaku padanya sambil sedikit tersenyum karena dia terlihat imut sekali sekali saat ini. Dia hanya mengangguk. “Apa yang kamu suka dariku?” lanjutku. Aku menatap matanya dengan serius, dan dia terlihat tersipu malu. Oh My God… aku sangat menyukai pemandangan ini.


“Aku suka semuanya tentangmu” jawabnya.


“Benarkah?” tanyaku, dan dia hanya mengangguk.


“Iya” jawabku singkat “Aku juga suka sama kamu” aku diam sejenak. “Maukah kamu jadi pacarku?” aku melihatnya dengan serius.


Terlihat dengan perlahan dia mulai tersenyum dan senyumnya semakin lebar. Jujur saja ini sedikit memalukan. Tapi aku sangat menyukai momen seperti ini, entah kenapa. Rasanya seperti berjalan di taman bunga di pedesaan yang asri. Mendung kelam yang menyelimuti kepalaku hilang begitu saja. Ratih sangat manis sekali saat tertawa. Rambut panjang hitamnya yang terurai, membuatnya semakin menarikku dan aku tidak pernah bosan melihatnya. Menggemaskan sekali.


“Oh iya, bagaimana dengan Ibumu?’ tanyaku. Aku teringat pada Ibunya yang kadang tidak menyukaiku, tetapi sebenarnya beliau sangat baik.


“Aku belum siap mengatakannya. Bagaimana kalu kita kasih tau setelah aku sudah siap?” tawarnya.


“Ide bagus” aku sangat setuju dengan pendapatnya, karena aku juga belum siap. Hanya membayangkannya saja aku tidak bisa. Itu akan seperti masuk ke kandang macan dan tidak ada jalan untuk keluar. Menakutkan.


“Gading, sejak lama sebenarnya aku penasaran. Kenapa kamu memakai jam tangan di tangan kananmu?” tanyanya sambil menunjuk jam tangan digital yang kupakai di tangan kananku.


“Mungkin karena terbiasa. Aku pernah mencoba memakainya di tangan kiri, dan itu rasanya aneh sekali. Jadi tetap kupakai di lengan kananku. Ada apa?”


“Ya aneh aja. Jarang ada orang memakai jamnya di lengan tangan kanan sepertimu, padahal nggak kidal” jelasnya.


“Tentu saja. Karena aku special” jawabku sambil tersenyum. Ratih mengangguk setuju. “Lagian aku sudah memakainya di tangan kanan sejak lama, kenapa kamu baru tanya sekarang?”


“Nggak papa.. baru ingat aja” di tersenyum. “Oh ya, ada satu lagi” katanya. Aku melihatnya dengan penuh rasa penasaran. Tiba-tiba dia mencium pipi kananku dengan cepat.


“Hei” kataku sambil menatapnya.


“Aku hanya ingin menghilangkan jejak wajah wanita itu di pipi kananmu” terangnya.


“Padahal aku inginnya di bibir” candaku.


“Kamu mau?” wajahnya terlihat serius.


“Hahaha.. aku hanya bercanda. Jangan melakukan itu padaku sekarang” jujur, aku belum siap.


“Jadi kalau lain kali boleh?” aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal sambil tertawa aneh.


Tiba-tiba aku teringat Devia. Aku ingat masalahku dengannya belum selesai, dan sekarang aku merasa bahagia karena punya pacar baru? Aku merasa berdosa saat memikirkannya. Bagaimanapun caranya, masalah ini harus bisa segera ku selesaikan besok.