THE TRUTH

THE TRUTH
PENYELESAIAN



Bab 19 PENYELESAIAN


Lelaki g*la yang memakai jas itu tidak henti-hentinya memukul kita bergantian. Aku sudah menyangka kalau dia akan sangat marah saat medengarku akan kembali ke ayah, karena dia hanya ingin hartanya ayah saja.


Orang itu terus-terusan menghantamkan tinjunya ke wajah kami tanpa rasa prihatin. Tidak, orang-orang ini bahkan tidak punya hati. Mengerikan sekali.


Aku mulai merasa wajahku mengeras seperti batu, saat aku menggerakkannya sedikit saja, rasa sakit dan panas yang menyengat seperti terkena sengatan listrik. Pusing mulai melanda kepalaku. Pandanganku mulai terlihat kabur dan sedikit berputar. Aku melihat ke arah Galih, dia menundukkan kepalanya terlihat tidak berdaya. Wajahnya sangat pucat dan keluar banyak keringat di wajahnya yang babak belur itu. seketika aku ingat kalau dia sedang demam sebelum datang kesini.


“Galih, sadarkan dirimu” teriakku pada Galih yang terlihat berusaha untuk menyadarkan diri saat mendengar teriakanku. “Tolong berhenti menghajarnya” teriakku pada laki-laki yang memiliki aura pembunuh itu.


Dia berhenti menghajar Galih dan beralih ke arahku. Orang ini seperti tidak punya rasa lelah dalam dirinya. Ayunan kepalan tangannya masih berlanjut ke arah wajahku. Aku berusaha keras menenangkan diriku dan mengajaknya berbicara. “Kenapa kau melakukannya sampai sejauh ini?” tanyaku seperti berbisik.


“Kau masih bisa berbicara anak nakal? Akan lebih baik kalau kau segera pingsan” katanya dengan raut wajah yang mengerikan.


Aku sudah seperti kehilangan tenagaku untuk berbicara. Bahakan aku harus berusaha keras untuk membuat diriku tetap sadar. Rasa sakit dan pusing di kepalaku bisa membuatku pingsan kapan saja.


“Baiklah saudaraku yang menyedihkan, aku akan memberi tahumu sebelum kita berpisah untuk selamanya” katanya sambil menjambak rambutku dan menghadapkan wajahku yang awalnya tertunduk untuk menghadap ke wajahnya. “Dengarkan baik-baik kalau kau masih bisa mendengarnya” lanjutnya. “Ayahmu yang sakit-sakitan itu, kita yang membuatnya seperti itu. Dia pantas mendapatkannya.


Kita akan segera menyingkirkannya setelah urusan kita selesai denga kalian” jantungku yang awalnya berdegup tidak karuan, terasa membeku “Apa yang telah dia lakukan, malah lebih kejam dari apa yang kulakukan saat in” lanjutnya.


Ada perilaku yang lebih kejam dari perilaku bi*dab ini? Itu sngatlah g*la’ pikirku.


“Dengan kekuasaannya, dia menindas orang-orang yang lemah” dia berbicara lagi.


“Apa maksudmu?” tanyaku lirih.


“Kau harus beruntung tidak dibesarkan olehnya, atau kau akan tumbuh menjadi pendendam sepertiku” katanya. “Aku dan ibuku dulunya sangat miskin, saat ayahku sakit parah, hanya surat keterangan tidak mampu dari kepala desa yang bisa membantu kita”


Aku tidak menyangka dia akan bercerita panjang.


“Kita dengan penuh harap datang ke rumah sakit dengan membawa surat itu. kita diterima dengan baik dan ayah kandungku sudah beberapa kali mendapat pemeriksaan dan sudah ditentukan jadwal operasi tiga hari setelah kedatangan kita” jelasnya.


Aku tidak bisa menegakkan kepalaku untuk melihat wajahnya, tetapi dengan jelas aku melihat tangan kanannya mengepal dengan erat tanda kemarahan dalam dirinya.


“Hari h dimana ayahku seharusnya dioperasi, dokter yang menangani ayahku tiba-tiba menunda jadwal operasinya tanpa alasan yang jelas” dia berhenti sebentar.


Aku mendengar seorang wanita mulai menangis. “Ibuku sudah berusaha menanyakan kapan jadwal operasi susulannya. Tetapi pihak rumah sakit selalu menghindari pertanyaan itu. Ayahku mulai merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan yang membuatnya tidak bisa tidur seharian sampai dia pergi untuk selamanya”. Dia berhenti lagi sambil mengambil napas dalam. Suara tangis wanita itu semakin keras.


Sekejap aku terdiam dan tidak sadar air mata mengalir di pipiku dengan perlahan. Ingatanku tentang hari terakhir aku melihat wajah ibuku tiba-tiba muncul di kepalaku tanpa henti. Kenangan saat aku melihat ajal menjemputnya di depan mata kepalaku sendiri terlihat seperti nyata di depan mataku sekarang. Aku melihat sepasang kaki laki-laki itu sedang mengarah padaku.


“Apa kau pernah melihat seseorang dicabut nyawanya tepat di hadapanmu?” katanya sambil membentakku. ‘Aku pernah melihatnya sangat jelas’ gumamku dalam hati. “Itu masih belum seberapa. Saat ibu bertemu dengan orang-orang yang bernasib sama dengan kita, mereka melakukan protes. Dan apa yang dilakukan si tua Bangka itu?” aku terdiam.


“Dia membuat hidup kita semua menjadi sengsara. Berbagai persekusi dia lakukan bersama bawahannya hanya agar kita bungkam dengan apa yang telah terjadi.


Hidup kita semakin sengsara dan hanya bisa pasarah dengan apa yang dikatakana si tua Bangka itu kalau kita masih ingin hidup”. Laki-laki itu mulai mengumpat berkali-kali di depanku. Dan sesekali mendorong kepalaku dengan keras. Kesadaranku mulai hilang, dan Galih mulai berteriak.


“Lalu apa urusannya denganku? Aku tidak…” belum selesai bicara, laki-laki itu mencengkeram leher Galih dengan erat.


“Dia menjanjikan kemewahan pada Ibuku kalau ibuku mau menikah dengannya. Si tua Bangka yang saat itu masih punya istri dan seorang anak memaksa menikahi ibuku dengan alasan untuk melindunginya. Orang itu benar-benar bajingan. Aku yakin dia hanya terpikat pada wajah cantik ibuku” katanya.


Ceritanya yang panjang yang membuatku merasa sangat emosional, tetapi kesadaranku mulai terasa hilang. Galih tidak mengatakan apapun, pasti dia sudah pingsang sekarang. Aku merasa beban tubuhku semakin berat dan berat, pandanganku kabur, dan muncul sekelompok kunang-kunang memenuhi pandanganku.


“Siapa itu?” teriak seseorang membuatku bertahan sedikit lagi. “Mereka datang terlambat” bisikku. Dan setelah itu kesadaranku benar benar hilang, hanya gelap yang menyelimuti pandanganku.


***


Saat membuka mataku, semua yang kulihat berwarna putih menyilaukan. ‘Apa aku sudah mati?’ tanyaku pada diriku sendiri. Semua terasa menyilaukan dan sedikit berputar. ‘Aku masih merasakan sakit, sepertinya aku masih hidup’ aku berusaha keras membuka mataku denga lebar.


Suara yang datang menghampiriku meyakinkanku kalau aku masih hidup.


“Gading.. kamu sudah sadar? Dokter, dokter, dia sudah sadar” suara yang kukenal itu sedang berseru memanggil dokter. ‘aku berada di rumah sakit sekarang’ pikirku.


Mataku mulai terbuka lebar, aku melihat Mas Bayu ada di sebelah kiriku dengan wajah cemas. Sedangkan di sebelah kanan ada dokter yang sedang mengetes kesadaranku.


“Apa kau merasa pusing?” Tanya pria berjubah putih itu padaku. Aku mengangguk mengiyakan. Kepalaku masih terasa berat dan pusing. Ada sesuatu yang yang menghalangi pandangan mata kiriku. Aku mengangkat tanganku dan berusaha menghilangkan sesuatu yang menghalangi itu.


“Aw.. “ tampaknya itu benjolan di kelopak mataku yang terasa sakit saat kusentuh.


“Sebaiknya kau istirahat saja dulu, jangan banyak bergerak” kata Mas Bayu.


“Dimana Galih?” sekejap aku teringat padanya. Apa dia baik-baik saja? Aku mulai merasa cemas.


“Dia masih belum sadarkan diri” kata Mas Bayu sambil menunjuk ranjang tidur tepat di sebelah kiriku. Syukurlah setidaknya dia selamat. “Demam di tubuhnya membuatnya belum menyadarkan diri” jelasnya.


“Syukurlah dia selamat” kataku. Aku menatap ke arah tempat tidurnya dengan cukup lama. ‘Adikku' gumamku dalam hati.


“Kalau aku boleh memberi tahumu, wajahmu tidaklah tampan sekarang ini. Jelek sekali” kata Mas Bayu, dia tertawa. Akun ingin ikut tertawa tetapi wajahku masih terasa sakit untuk digerakkan.


“Oh ya… bagaimana dengan mereka?” tanyaku penasaran.


“Orang-orang jahat itu? mereka semua sudah diringkus pihak kepolisian” syukurlah, gumamku “Ayahmu juga” aku menatap Mas Bayu tajam.


Aku tidak tahu seberapa lama aku tertidur. Mungkin seharusnya aku berada di kampus saat ini. Aku yakin handphone ku tidak berhenti berbunyi saat ini. Oh ya.. dimana Handphone ku.


“Hp ku?” tanyaku pada Mas Bayu.


“Pak Rudi masih membawanya, bersama jam tangan ajaibmu itu” jelasnya. “Sepertinya jam tangan itu menyelamatkanmu” lanjutnya.


Benar sekali, saat sepuluh menit yang diberikan peneror itu, aku teringat jam tangan ayah angkatku yang canggih, dia pernah bercerita kalau itu pemberian dari temannya yang ada di luar negeri. Jam itu bisa berfungsi seperti telefon genggam. Ada GPS nya juga. Aku naik ke lantai dua untuk mengambil jam itu di bekas ruang kerja ayahku, dan bersyukur jam itu masih bekerja dengan baik setelah sekian lama tidak dipakai. Aku mereset GPS dan menyambungkannya dengan HP ku. Aku menggunakan jam itu dan meninggalkan HP ku di rumah.


Galih yang menahan rasa sakit di tubuhnya itu hanya mengikutiku tanpa membawa apa-apa, bahkan dia lupa membawa handphone nya. Saat aku menekan tombol sebelah kanan bawah dari jam itu, perekam suara telah diaktifkan. Aku sudah meresetnya sedemikian rupa agar jam itu bisa kupergunakan dengan baik di saat genting.


Tetapi yang kuingat, mereka datang terlambat sampai wajahku babak belur seperti ini. Seharusnya mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat itu. Tapi ya sudahlah, semua ini sudah berakhir dan kita berdua selamat. Sekarang tubuhku terasa lemas dan sakit semua, aku butuh istirahat.