
hari-2 sebelum pernikahan ku dan lucian di langsung kan, semakin mendekati hari-H lucian dan aku semakin sibuk mempersiapkan semuanya, dan hari ini aku datang ke gedung yang sudah di sewa lucian.
lucian meminta ku datang, ia bilang ada yang ingin dibicarakan tentang jadwal dan perencanaan pernikahan kami.
sesampainya di lobi gedung aku melihat tak segelintir orang yang berlalu lalang di hadapan ku, ada sesuatu yang membuat ku yang sedari tadi hanya duduk di sofa tamu salah fokus yaitu seorang pria berdiri didepan vas dalam waktu yang lama,
'mau di apakan? vas bunga itu?' batin ku saat melihat seseorang berusaha memindahkan vas bunga yang besar disudut ruangan,
karena penasaran aku pun berjalan mendekati nya.
"permisi" orang itu pun menoleh dengan raut bingung,
"iya ada apa?" tanya nya
"vas ini ingin dipindahkan kemana?" tanya ku penasaran,
"ohh vas ini, akan saya pindahkan ke belakang untuk diganti dengan yang baru" ujarnya sambil menepuk-nepuk vas,
bukan kah mustahil jika vas yang besar ini diangkat oleh satu orang?, monolog ku
"mau saya bantu?" aku menawarkan bantuan
"tidak apa, saya bisa sendiri" raut wajahnya dibuat tersenyum,
"apa anda bisa mengangkat vas sebesar ini sendirian?" tanya ku memastikan,
ia menggaruk pipi nya yang tak gatal, "mungkin.."
"kalau begitu minta bantuan yang lain saja bagaimana?" aku mencoba meminta nya agar tidak mengangkat nya sendirian itu terlalu berbahaya.
tap
tap
"kalian sedang apa?" suara berat menginterupsi dari belakang ku,
aku menolehkan kepala ku, ah ternyata Lucian yang sedang berdiri angkuh dengan jas melekat ditubuh Tegapnya yang err tampannya~.
"lucian, lihat lah orang ini akan mengangkat vas besar sendirian. bukankah berbahaya?" tanya ku agar lucian mengerti dengan apa yang ku maksud,
"yasudah biarkan saja" ujarnya datar,
"hah?, bagaimana mungkin?!" celetuk ku, menyebalkan sekali tak bisa diharapkan dari si es kutub ini!.
"panggil yang lain untuk membantu mu" lucian menunjuk orang itu dengan jarinya, dan kembali menampilkan wajah datarnya
tak lama datang dua orang lelaki berbadan besar, mengangkat vas besar tadi dan membawa nya pergi untuk di pindahkan ke bagian dalam gedung.
"mudah kan" ujarnya singkat, sebelum pergi membawa berkas ditangan nya.
"menyebalkan sekali!", aku memutuskan untuk kembali duduk di sofa.
.
.
.
.
kini aku, ah bukan tapi aku dan lucian ada di ruang VIP yang cukup besar,
"jadi bagaimana?" tanya lucian sambil membenarkan kacamata yang bertengger di hidung nya,
"tak masalah, menurut ku keputusan mu sangat bagus" ujar ku, jujur saja aku tak paham dengan yang lucian katakan karena sedari tadi salah fokus dengan ketampanan lucian, apa-apaan kacamata itu?! membuat nya semakin tampan.
"hahh.. aku yakin kau tak paham" ketus lucian, ia menghela nafas panjang.
"baiklah, ku rasa semua sudah ditentukan" ia melihat arloji di tangan nya "kita akan makan siang" lalu lucian mengambil ponsel dan menghubungi asisten pribadi nya.
"mari, bergegas" ajak lucian berdiri merapihkan jas yang ia kenakan, lalu meninggalkan ruangan.
...****************...
Sampai nya kami di restoran yang tak jauh dari gedung pernikahan, begitu masuk pelayan langsung menyambut kami.
seperti yang diketahui lucian memesan private meja, ia memang tak suka keramaian dan di lihat saat makan.
"pesan lah, sesuatu" ia menyodorkan buku menu kepada ku, dengan segeralah aku memesan menu yang cukup ku ketahui.
aku melirik lucian yang tampaknya mood nya sedang tak bagus, ia lebih banyak diam hari ini, apa mungkin ia lelah?.
"lucian.." panggil ku hati-hati
"hm?" jawab nya
"apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya ku dengan hati-hati agar tak membuat nya marah.
"tidak ada, kau tak perlu khawatir"
"baiklah.."
tak lama pelayan datang membawa pesanan kami, dan setelah hanya suara dentingan alat makan yang terdengar.
.
.
.
malam pun tiba, setelah berbincang singkat dengan lucian, aku di antar pulang oleh nya menggunakan mobil pribadi nya.
"lucian, maaf tak bisa membantu mu" ujar ku
"jagalah kesehatan mu, itu akan banyak membantu ku" ujar lucian tanpa mengalihkan pandangan nya dari jalanan,
"akan ku lakukan, kamu juga jangan terlalu lelah.."
mobil pun berhenti di depan rumah ku,
"turunlah, dan tidur yang nyenyak" lucian menoleh ke arah ku, mata kami bertemu
"terimakasih, dan selamat malam" ujar ku turun dari mobil,
"malam", setelah mengatakan itu lucian menancapkan gas dan meninggalkan rumah ku,
apa barusan lucian tersenyum?
aku melihat nya tersenyum dengan tampan.
angel pov ; off
angel merasakan pipi nya yang mulai memanas, namun segera ia tepuk untuk sadar bahwa angel tak bisa tidur diluar, dan harus masuk ke dalam rumah.
.
.
.
.
to be continued~