THE SECRET IN MARRIAGE

THE SECRET IN MARRIAGE
CH 17



angel pov;


hari ini adalah hari-3 sebelum aku dan lucian akan melangsung pernikahan, dan aku jarang sekali bertemu dengan lelaki tegap itu, ah mungkin saja ia sibuk mempersiapkan pernikahan kami.


aku berada di toko bunga memilih Bunga untuk di altar, jujur saja aku bingung bunga apa yang cocok untuk pernikahan palsu ini, sekedar info aku kesini diantar oleh Nikolas ia memaksa untuk mengantar ku ke toko bunga.


"apa sudah memutuskan?" nikolas berdiri di sebelah ku


"belum, aku bingung" bagaimana tidak bingung, saat aku tanya penjaga toko ia malah menawarkan bunga penuh cinta seperti mawar.


"pffh, astaga akan ku bantu kau memilih" nikolas berjongkok di depan rak berisi bermacam Bunga,


"baiklah" matanya tak sengaja melihat bunga indah di atas rak, aku berjinjit untuk menggapai bunga itu sampai satu suara menginterupsi


"mau ku ambilkan?" ternyata nikolas


"tolong, ambil kan Bunga itu" aku menunjuk bunga yang tadi sempat menarik perhatian ku,


nikolas mengambilkan Bunga yang aku inginkan, lalu memberikan nya pada ku.


"Bunga Krisan?" Nikolas mengerutkan keningnya,


"iya, kurasa ini yang paling cocok" aku menghirup aroma bunga di tangan ku,


"apa kau tahu arti Bunga ini?" nikolas menunjukkan buket bunga di tangan ku


"ya, aku tahu" angel mengangguk mantap


"baiklah, minta penjaga toko untuk membungkus nya"


seperti yang disarankan nikolas, angel membersihkan Bunga kepada penjaga toko untuk di bawa pulang.


.


.


.


setelah membeli bunga aku dan nikolas berhenti untuk makan siang, perut ku tanpa permisi berbunyi sampai ke telinga nikolas,


"harusnya kau bilang kalau lapar angel, haha" kaki nikolas melangkah masuk kedalam restoran sambil tertawa,


"ish, diam lah" aku tak kuasa menahan malu.


kami duduk di meja dekat jendela, tak lama seorang waitress mendatangi kami siap mencatat pesanan, aku melihat nikolas yang sibuk memilih menu yang akan ia pesan,


"kau mau pesan apa?" tanya nikolas


aku memberi tahu menu yang aku pesan begitu pula dengan nikolas, waitress mencatat lalu pergi.


"angel, apa kau yakin dengan keputusan mu?" nikolas bertanya wajah nya ikut serius,


"sudah ku katakan aku yakin, kenapa kau terus-menerus bertanya?" aku mulai geram dengan pertanyaan yang ber kali-kali terlontar dari mulut nya.


"maafkan aku, aku masih tak menduga kau menerima ajakan lucian" nikolas menggaruk tengkuk canggung


"aku juga tak menyangka akan menerima nya" aku tersenyum canggung


"baiklah, tak masalah" nikolas tersenyumlah lebar


'mengerikan' batin angel ngeri


tak lama pelayan datang membawa pesanan kami, dan kami menyantap nya dengan tenang.


...****************...


setelah makan siang nikolas mengantar ku ke gedung pernikahan untuk memberikan buket bunga ke pada wo (wedding organizer), sampainya di dalam gedung aku melihat bagaimana sibuk nya mereka menyiapkan berbagai properti dan hiasan.


"kau tunggu sini, biarkan aku yang memberikan nya" nikolas menawarkan diri


nikolas berjalan pergi, meninggalkan ku yang masih mengamati sekitar.


"sayang?" panggil seseorang suara nya tak asing, angel menoleh


"mamah?" benar wanita itu adalah ibu lucian, ia datang menghampiri angel


"sedang apa kamu disini?" tanya ibu lucian suaranya lembut


"aku datang untuk memberikan bunga yang ku pilih mah"


"oh baiklah, kamu datang dengan siapa?" tanya nya lagi kini tangan nya mengusap rambut angel,


"nikolas" dapat angel rasakan usapan di kepalanya berhenti.


"hahh.. jangan terlalu dekat dengannya" setelah nya ia pergi.


'apa hubungan mereka buruk?' batin angel


angel pov; off


.


.


.


setelah dari gedung angel memutuskan untuk pulang kerumah, ia merindukan kasur tercinta sudah lama ia tak menikmati rebahan santai.


"nyamannya~" angel membaringkan tubuhnya,


drrt..drrt


suara getaran ponsel membuat angel terduduk, dan langsung mencari ponsel nya


lucian call..


ia mengangkat telfon lucian


"halo, ada apa?"


"apa kau sudah dirumah?" suara serak lucian menyapa telinga angel,


"iya, baru sampai"


"syukurlah, ingat untuk menjaga kesehatan mu" lagi-lagi lucian melembutkan suaranya


"baiklah, kau juga jangan terlalu memaksakan diri" ujar angel tak kalah lembut


"kau seperti ibuku saja" lucian terkekeh lucu


"kau juga sama!"


"selamat istirahat~"


"kau juga"


lucian mematikan telfon secara sepihak.


angel kembali membaringkan tubuhnya di kasur,


"aku harap, aku tak akan menyesal karena memilih untuk bersama mu, lucian" setelah nya angel terlelap.


.


.


.