
Orang-orang yang melihat itu terkejut dan merasa lebih ketakutan dari sebelumnya, bahkan mereka ingin mengeluarkan isi perut mereka. Terkecuali Vlora yang terlihat kegirangan dan Lucas yang terkejut tetapi tidak menunjukkan di wajahnya.
"Bagus sekali, bahkan melebihi ekspetasi ku." ucap Vlora senang sambil melihat tubuh pelayan yang sudah berhamburan di lantai. Tangan, kaki, kepala, dan juga organ-organ dalamnya berserakan.
Orang-orang yang berada di sana kembali terkejut setelah mendengar perkataan yang Vlora lontarkan, bahkan kini Vlora terlihat seperti psikopat yang kesenangan karena hasrat yang terpenuhi.
Mereka yang ada di sana semakin takut pada Vlora, bahkan diantara para pelayan ada yang kencing disitu juga karena saking ketakutannya.
Para pelayan kini memikirkan bagaimana nasib mereka sekarang? apakah nasib mereka akan sama dengan teman mereka yang sudah mati dengan cara yang sangat mengenaskan? mereka terus berpikir dengan bagaimana nasib mereka saat ini.
Disaat para pelayan ketakutan dan kalut dengan pikiran mereka masing-masing, terdengar suara yang menyadarkan mereka. "Sekarang giliran kalian." ucap Vlora sambil melihat para pelayan dengan senyum yang terlihat menakutkan bagi mereka.
Para pelayan mundur ketakutan saat Vlora menghampiri mereka, ingin sekali mereka lari dari sana tetapi kaki mereka seakan sangat berat.
"Sebelumnya saya terlalu baik pada kalian, sehingga kalian berlaku semena-mena pada saya. Gelar permaisuri di kekaisaran Navarre ini benar-benar tidak ada apa-apanya, kalian memperlakukan saya seperti sampah yang hina." ucap Vlora sambil melangkah kearah para pelayan itu dengan tatapan tajam.
Para pelayan itu semakin ketakutan dan terduduk dilantai karena tidak tahan dengan aura yang Vlora keluarkan, aura kematian. Mungkin ini akhir dari hidup mereka, para pelayan itu merasakan hal yang sama. Mereka hanya bisa menangis dengan ketakutan.
Langsung saja Vlora meminumkan racun yang berbeda-beda kepada para pelayan itu, para pelayan yang diberi racun tidak bisa berbuat apapun apalagi melawan.
Mereka ingin melawan tetapi tidak bisa, tubuh para pelayan tiba--tiba berubah ada yang menjadi hewan, ada yang berbintik-bintik merah diseluruh tubuhnya dan rasanya terasa sangat gatal, ada yang tubuh dan wajahnya menjadi sangat tua, ada pula yang tubuhnya mengeras seperti batu.
"Ini benar-benar sangat diluar ekspetasiku, aku membuatnya hanya dalam satu kali percobaan tetapi ini sagat berhasil." ucap Vlora yang tersenyum kegirangan karena racun buatannya berhasil dengan sangat memuaskan.
"Yang mulia permaisuri,,, anda yang membuat racun-racun itu?" ucap Emma yang tengah mencerna apa saja yang barusan terjadi. Lucas, Elvan dan Elvin pun kini sama dengan Emma.
Mereka benar-benar tidak percaya bahwa junjungan mereka membuat racun, karena bisa dikatakan orang yang bisa membuat racun sangat langka. Apalagi racun yang barusan memiliki efek yang belum pernah dilihat oleh mereka.
"Yes, i made it." jawab singkat Vlora. "Bagaimana yang mulia permaisuri membuatnya, bukankah itu keterampilan yang sangat sulit??" tanya Elvin dengan penasaran.
"Itu tidak sulit seperti yang dibayangkan, aku hanya mengikuti cara yang ada dibukunya saja." jawab Vlora dengan polosnya.
Tentu jawaban Vlora membuat mereka semakin keheranan dengan junjungannya ini, yang ada dipikiran mereka saat ini hanya mereka memiliki junjungan yang sangat jenius namun terlihat baik dan bisa juga terlihat menyeramkan.
"Eksperimen sudah selesai, Elvan Elvin tolong bawa tubuh mereka dan bakar sampai menjadi abu, bakar juga kotak itu yang mereka bawa tadi." ucap Vlora yang membuyarkan lamunan mereka berempat sambil menunjuk tubuh para pelayan dan juga kotak yang mereka bawa tadi.
"Emma aku akan beristirahat sebentar, tolong bersihkan sedikit kekacauan ini, maaf merepotkanmu." Ucap Vlora pada Emma. Langsung saja Vlora berjalan menuju kamarnya. "Baik yang mulia permaisuri." jawab Emma sambil memberikan salam hormat bersamaan dengan Lucas.
Setelah melihat Vlora masuk kedalam kamarnya, langsung saja Emma melaksanakan yang diperintahkan oleh Vlora. Melihat Emma yang membersihkan kekacauan itu dengan sendiri, Entah kenapa Lucas ingin membantu gadis itu. Tanpa basa-basi Lucas langsung membantu Emma membersihkan tempat itu
Melihat Lucas ikut membersihkan yang seharusnya telah menjadi tugasnya, "Kenapa kau ikut membersihkan juga? ini tugasku." tanya Emma yang keheranan.
Lucas tidak memberikan jawaban dan hanya melanjutkannya. "Hey!.. jawab aku, jika ada orang bertanya kau harus menjawabnya." kesal Emma karena diabaikan oleh Lucas
"Apakah saya harus menjawabnya?" tanya Lucas dengan wajah datarnya. "Kau ini benar-benar sangat menjengkelkan, terserah saja lakukan sesukamu. Aku tidak akan berbicara lagi denganmu." ucap Emma dengan wajah kesal sambil mengerjakan tugasnya.
Melihat wajah Emma yang terlihat kesal sambil menjalankan tugasnya, "Menggemaskan." gumam lucas sambil tersenyum smirik. Emma tidak menyadari senyuman Lucas itu.
Sementara di lain sisi
"Bagaimana Mensa, apakah jal*ng itu sudah menerimanya?" tanya selir Violet yang sedang bersiap-siap akan makan malam kepada pelayan setianya.
"Mohon maaf yang mulia selir, saya tidak tahu. Karena para pelayan yang saya suruh untuk mengantarkannya belum kembali sampai saat ini. Tapi kemungkinan, permaisuri sudah menerimanya." jawab Mensa
"Ada apa dengan para pelayan itu, apa mereka sudah bosan menjadi pelayan dan ingin di hukum!?? setelah ini kau harus menghukum mereka Mensa." selir Violet yang terlihat kesal dengan para pelayan suruhannya. "Baik yang mulia selir." jawab Mensa dengan hormat.
"Tapi aku tidak sabar melihat jal*ng itu memakai pakaian yang telah kuberikan nanti, setelah dia memakainya maka tidak akan lama setelah itu tubuh dan juga wajahnya akan menjadi jelek seperti dulu, bahkan lebih jelek." ucap selir Violet dengan wajah yang kesenangan membayangkan Vlora memakai pakaian yang sudah diracuni itu dan tidak sabar melihat Vlora besok.
"Yang mulia, sebaiknya kita segera menuju ruang makan sebelum yang mulia kaisar menunggu." ucap Mensa yang menyadarkan selir Violet.
"Kau benar, ayo kita segera pergi." ucap selir Violet segera menuju ruang makan yang diikuti Mensa dan beberapa pelayan lainnya yang menunggu diluar kamarnya.
Kini Vlora berada di tengah pasar kota, ia diam-diam keluar karena ia ingin sendiri sambil menikmati aktivitas penduduk di malam hari. Vlora terlihat sedang menikmati banyak makanan yang ia beli tadi sambil duduk di atas pohon yang lumayan tinggi dengan pemandangan pasar kota. Yang tidak Vlora sadari, ada
...------------------------------------------------...
Jika menyukai cerita ini Like/ Komen untuk meninggalkan jejak/ Gift supaya saya semangat untuk menulis/ Vote/ Rate/ Share. Terimakasih.
Jangan Lupa Untuk Follow