The Midnight

The Midnight
Hantu Kepala Buntung (2)



Mereka pun menelusuri jalan hutan belantara tersebut dengan harap-harap cemas. Setelah 1 jam mereka berjalan, mereka baru menemukan jalan berjalur warna merah.


“Eh, lihat deh, itu jalur warna merahnya!” ujar Naufal.


“Oh iya, ya udah yuk kita langsung ikutin jalurnya” ajak Azidan.


“Kalian yakin?” tanya Winda sambil gemeteran.


“Yakinlah Win, ayo!” jawab Azidan sambil menarik tangan Winda.


Singkat cerita, mereka pun sampai di air terjun pada pukul 14.00. Di air terjun tersebut memiliki kolam yang cukup luas yang terbuat dari alam, airnya pun mengalir langsung dari air terjun tersebut, di pinggir-pinggirnya terdapat hutan dan terlihat beberapa pegunungan di sana. Mereka pun langsung bermain-main air di sana.


“Huuuuh.. Bagus banget ya pemandangannya” ujar Winda.


“Tuh kan, Win, kamu gak akan menyesal ikut ke sini” sambung Naufal.


“Iya nih, airnya juga jernih sekali” ujar Bunga sambil mengambil air dari sungai kecil yang ada di bawah air terjun tersebut.


“Tapi kok di sini sepi ya?” tanya Winda dengan heran.


“Iya, mungkin belum banyak yang tahu tentang air terjun ini” jawab Azidan.


“Mungkin juga karena ini ada di tengah hutan dan jauh dari permukiman” lanjut Naufal.


“Ah, ya sudahlah, lebih baik kita nikmatin indahnya alam ini”ujar Bunga.


“Nah, iya tuh bener” jawab Azidan.


“Ayo, Bunga, kita ke kolam bawah” ujar Azidan sambil menarik tangan Bunga.


“Tapi, kita harus lewatin sungai kecil dan batu-batu ini dulu dong?” tanya Bunga.


“Itu mah gampang, ayo kita ke sana” jawab Azidan sambil menarik tangan Bunga.


“Tunggu.. Tunggu..” henti Bunga.


“Apa lagi?” tanya Azidan.


“Naufal, Winda, kalian mau ke mana?” tanya Bunga kepada Azidan dan Winda.


“Kita mau ke tebing situ, ya kan, Win?” jawab Naufal sambil menunjuk arah tebing yang ada diatas sungai kecil.


“Hmmm.. ngg.. ngg” jawab Winda dengan patah-patah.


“Maksudnya Winda itu iya benar kita mau ke sana” lanjut omongan Naufal.


“Hmmm.. i. Iyaa” jawab Winda sambil menganggukkan kepalanya.


“Kalian aku tinggal ke bawah gak apa-apa kan?” tanya Bunga.


“Iyaa gak apa-apa kok” jawab Naufal.


“Ya udah ayo, Bunga” ujar Azidan.


“Byee Naufal dan Winda” ujar Azidan dan Bunga bersamaan sambil meninggalkan mereka.


“Byee..” jawab Naufal dan Winda.


“Win, ke bawah air mancur yuk, di dekat tebing itu” ajak Naufal sambil menunjuk ke arah tebing tepat di bawah air mancur.


“Nggak ah..” jawab Winda singkat.


“Kenapa? takut? kan ada aku, kenapa harus takut? lagi pula di sana kan pemandangannya bagus” ujar Naufal.


“Nggak deh, kamu aja” jawab Winda.


“Yahh, Win, kamu kok gitu sih. Gak asyik!” ujar Naufal dengan sinis dan membuang muka.


“Fal..” sapa Winda kepada Naufal yang sedang membelakanginya. Namun, Naufal menghiraukan sapaan dari Winda, Akhirnya Winda mau diajak untuk ke tebing di bawah air terjun.


“Fal.. jangan cuekin gitu dong, iya deh aku mau ke sana” ujar Winda.


“Benar?” tanya Naufal sambil membalikkan badannya.


“Iyaa.. tapi kamu jangan marah ya sama aku” ujar Winda.


“Iya, mana mungkin aku marah sama kamu” jawab Naufal sambil membawa Winda ke bawah air terjun.


Mereka pun akhirnya sampai di bawah air terjun, kemudian mereka bermain-main air di sana, sehingga baju mereka basah semua. Namun, Winda melihat kehadiran hantu yang ia lihat pagi sebelum berangkat ke Villa. “Win.. ayo main air lagi, jangan melamun terus “ujar Naufal kepada Winda, namun Winda masih tetap melamun ke arah belakang tebing.


“Win..” sapa Naufal


“Win..!!” lagi-lagi Naufal menyapanya, tapi kali ini ia menyapanya dengan sedikit nada tinggi.


“Ha? iya? Hantuuuuuu!” teriak Winda sambil menutupi wajahnya dengan tangannya.


“Hantu? Win! mana hantu? gak ada hantu win, buka tangannya..” ujar Naufal.


“Nggak.. nggak mau..” jawab Winda.


“Win, buka tanganmu!” ujar Naufal sambil menarik tangan Winda. Akhirnya Winda membuka matanya dan langsung memeluk Naufal.


“Ta.. ta.. tadi ada ha.. ha.. hantu kepala buntung di balik te.. te.. tebing” ujar Winda sambil ketakuan.


“Hantu kepala buntung?” tanya Naufal.


“I.. iyaa.. hantu yang aku li.. li.. lihat tadi pa.. pagi di lapangan” jawab Winda.


“Ya udah, Sekarang kamu tenang ya, aku mau lihat ke belakang tebing dulu” ujar Naufal sambil menenangkan Winda.


“Jangan! jangan! aku gak mau kamu kenapa-kenapa” ujar Winda sambil melepaskan pelukannya.


“Nggak, Win, aku gak akan kenapa-kenapa. Kamu tunggu sini ya? nanti aku akan kembali ke sini” jawab Naufal.


“Nggak fal, nggak boleh, kamu jangan ke sana. Kamu di sini aja, atau kita sekarang juga kembali ke Villa!” ujar Winda sambil menggenggam erat tangan Naufal dan dengan mata berkaca-kaca.


“Nggak, Win, aku akan tetap melihat yang ada di balik tebing itu” ujar Naufal lemah lembut.


“Kamu tuh egois ya! aku bilang jangan ya jangan!” ujar Winda sambil kesal dan menangis.


“Gini deh, kamu duduk di batu di pinggir sungai, terus kamu tutup mata kamu, aku tinggal sebentar, aku janji, 10 menit lagi aku akan kembali ke tempat kamu duduk” ujar Naufal sambil menghapus air mata Winda,


“Ta.. ta.. ta..” ujar patah-patah Winda yang mudah ditebak.


“Tapi? tapi apa? gak ada yang harus kamu khawatirin. Sekarang kamu duduk di sini” ujar Naufal sambil mempersilahkan Winda duduk di sebuh batu besar di pinggir sungai kecil.


“Sekarang kamu tutup mata kamu” lanjut Naufal.


“Nggak!” jawab Winda.


“Win, dengerin aku sekali aja. Aku janji akan kembali 10 menit lagi” ujar Naufal.


“Janji ya?” tanya Winda sambil meyakinkan nya.


“Iya, aku janji” jawab Naufal.


“Sekarang kamu tutup mata ya” ujar Naufal, Winda pun segera menutup matanya. Naufal pun pergi ke balik tebing.


“Mana? nggak ada apa-apa kok di sini? tapi kok kata Winda ada hantu, mungkin Winda lagi lelah, jadi banyak halusinasi” ujar Naufal pelan.


“Aaaaaaaaa!!” teriak Naufal ketika ia membalikkan badannya ke arah pojok tebing, namun tiba-tiba suara itu terhenti.


“Naufal? Naufal mana? ini sudah hampir 30 menit.” ujar Winda dalam hati.


“Naufal! Naufal!” teriak Winda denga mata tertutup. Namun suasananya semakin hening. Winda pun semakin khawatir.


“Naufal! Naufal! kembali!” teriak Winda lagi.


“Ehh lihat deh, dan, Winda kok sendirian ya? sambil nutup mata lagi. Naufal juga gak ada” tunjuk Bunga kepada Azidan.


“Win..” sapa Bunga.


“Haaaaaa! hantuuu!!” teriak Winda dengan masih mata terpejam.


“Win, ini kita Bunga dan Azidan, Bukan hantu” ujar Bunga.


“Iya, Win, coba kamu buka mata kamu” perintah Azidan.


“Ta.. ta.. tapi benar kan kalian manusia?” tanya Winda.


“Iyaa Windaaa” jawab mereka berdua bersamaan, Winda pun membuka matanya perlahan-lahan.


“Jam.. jam.. jam mana jam?” ujar Winda panik sambil mencari-cari jam.


“Kamu kenapa sih?” tanya Azidan.


“Naufal.. Naufal! Naufal!” teriak Winda menyebut nama Naufal.


“Hey, Win, kamu kenapa? coba tenang ceritain ke kita” ujar Bunga sambil menenangkan Winda.


“Tadi, aku tuh lihat hantu yang tadi pagi di balik tebing, nah terus..” ujar Winda sambil terpotong pembicaraannya oleh pertanyaan Azidan.


“Jadi gini, tadi pagi, aku datang pertama di lapangan, terus kedua Naufal. Pas aku lagi marahin dia karena dia bikin aku kaget, tiba-tiba ada hantu kepala buntung lewat di depan dia, terus aku refleks gitu, terus gak lama kemudian Naufal datang, dan Bunga juga menyusul datang” ujar Winda sambil menjelaskan secara detail.


“Jadi, yang mau diceritain Naufal ke aku tapi belum jadi itu tentang ini” jawab Azidan mengerti.


“Terus sekarang Naufal mana?” tanya Bunga.


“Oh iya, tadi aku lihat hantu itu lagi di balik tebing itu, terus Naufal nyuruh aku duduk dan memejamkan mata di sini. Lalu dia ke belakang tebing itu, dia janji 10 menit akan kembali, tapi sampai sekarang udah 50 menit belum juga kembali, kita harus cari dia sekarang!” ujar Winda sambil berjalan mendekati tebing itu.


“Aku harus berani ke belakang tebing itu” ujar Winda pelan.


“Win, tunggu!” teriak Bunga yang masih tertinggal jauh di belakang Winda.


Winda pun sampai di tebing itu, ia langsung pergi ke belakang tebing untuk mencari Naufal. Alangkah terkejutnya, ia melihat Naufal pingsan di belakang tebing yang paling ujung dengan luka cakaran di pipinya, di dahinya, di tangan kirinya, dan di kakinya kanannya. Dengan histeris Winda pun kaget dan segera membangunkan Naufal.


“Naufal? Naufal..!! Bangun!! Naufal bangun!! Maafin aku, ini semua karena aku. Andai aku gak bilang ke kamu kalau aku lihat hantu itu, pasti kamu gak akan ke tebing ini, dan kamu gak akan jadi seperti ini” ujar Winda sambil menangis dengan penuh penyesalan.


“Ya ampun Naufal!” ujar Bunga kaget saat melihat Naufal.


“Ayo kita segera bawa ke Villa sebelum kabut yang turun semakin banyak”ujar Azidan sambil membawa Naufal berjalan menuju Villa.


Mereka memaksa kembali ke Villa walaupun di tengah hutan mereka sudah tidak melihat jalanan lagi karena semua sudah tertutup oleh kabut yang cukup tebal dan dingin. Akhirnya mereka sampai dii Villa pukul 17.30 dengan napas terengah-engah. Naufal pun segera ditidurkan di sofa ruang tamu. Sampai saat itu, Naufal pun belum sempat sadar. Winda pun segera mengambil 2 bak yang berisi air hangat dan lap bersih untuk membersihkan luka-luka pada tubuh Naufal dan yang satunya untuk mengompres tubuh Naufal yang menggigil.


Sedangkan Azidan dan Bunga sedang menutup-nutup beberapa jendela, pintu, dan ventilasi agar kabut tidak masuk ke dalam Villa. Awal-awalnya Winda pun mengompres bagian dahi dan leher Naufal agar menggigilnya hilang dan ia sadar 3 kali Winda mengompres Naufal, akhirnya Naufal pun bangun dengan rasa sakit yang ia tahan akibat beberapa luka yang dialaminya.


“Aaaa.. aaw!!” rintih Naufal.


“Naufal, kamu udah bangun? kamu minum dulu nih yang banyak, habis itu baru aku bersihkan luka-lukamu” ujar Winda.


“I.. iyaa” jawab Naufal sambil meminum air yang diberikan Winda.


“Win, aku bawain obat merah, kapas, dan lem untuk mengobati Naufal” ujar Azidan kepada Winda.


“I.. iyaa makasih banget ya” ujar Winda.


“Iyaa sama-sama, oh iya, aku sama Bunga ke dapur ya buat nyiapin makan malam. kamu obatin ya Naufalnya” ujar Azidan. “Iya..” jawab Winda sambil memulai membersihkan luka Naufal dengan menggunakan lap dan air hangat tersebut.


“Aaaw!!” teriak kecil Naufal saat Winda membersihkan luka pada dahinya.


“Yaelah tahan, fal” ujar Winda.


“Tahan, tahan.. emangnya gak sakit apa? aww!” jawab Naufal.


“Hmm..” ujar Winda dengan kedua bibir dirapatkan.


“Aaaww.. pelan-pelan dong, Win!” ujar Naufal kesakitan saat Winda membersihkan luka cakaran di pipinya.


“Ini udah pelan-pelan, Naufal” jawab Winda lemah lembut.


“Aww.. sakit win! pelan-pelan! kamu kira gak sakit apa?!” refleks marah Naufal ke Winda.


“Kalau gitu kamu bersihin dan obatin luka kamu sendiri! biar gak sakit!” jawab Winda marah sambil pergi.


“Winn.. winn, ma.. maksud aku..” kata-kata patah yang ke luar dari mulut Naufal.


Mau atau tidak, Naufal pun akhirnya membersihkan dan mengobati lukanya sendiri. Sedangkan Winda pergi meninggalkan Naufal menuju taman kecil yang ada di halaman belakang villa.


“Ih.. kenapa sih Naufal marah-marah ke aku?!” tanya Winda kepada diri sendiri. “Padahal aku gak salah, kalau tahu gitu aku gak usah bersihin dan obatin luka dia. Biarin aja dia sakit!” lanjut Winda bicara sendiri di taman belakang.


“Ekhemm!!” batuk Naufal yang ternyata sudah ada di belakangnya.


“A.. a.. a.. kamu ngapain di sini?!” tanya Winda dengan jutek.


“Lah? kamu sendiri ngapain?” tanya Naufal balik.


“A.. a.. aku cuma duduk aja di sini!” jawab Winda.


“Bohong! tadi kamu bilang lebih baik kamu gak ngobatin luka aku?” tanya Naufal.


“I.. I . iya.. lagian kamunya marah-marah terus! aku kan gak salah!” jawab Winda.


“Yah elah maaf-maaf” ujar Naufal.


“Maaf-maaf doang bisanya” jawab Winda jutek.


“Lihat nih aku bersihin dan ngobatin luka aku sendiri” ujar Naufal.


“Hmm.. aku maafin” jawab Winda singkat.


“Nah, gitu dong, makasih” ujar Naufal dengan senang.


“Ya..” jawab Winda singkat.


“Eh kalian ada di sini, aku cariin kalian dari tadi tahu” ujar Bunga sambil menemukan Naufal dan Winda.


“Hehe.. maaf ya” jawab Naufal.


“Iya gak apa-apa, ngomong-ngomong, Azidan ke mana?” tanya Bunga.


“Ha? Zidan? Zidan kan sama kamu dari tadi”jawab Winda kaget.


“Iya sih, tadi dia sama aku. Tapi dia bilang dia mau nyari kamu duluan” jawab Bunga.


“Aduh, Zidan di mana ya? aduh! kita cari yuk!” ujar Winda panik.


“Yaelah, paling dia juga nanti nemuin kita di sini” cetus Naufal.


“Sok tahu kamu! belum tentu dia nemuin kita di taman sini” ujar Winda panik bercampur emosi.


“Sudah.. sudah.. lebih baik sekarang kita cari dia” henti Bunga sambil melerai Naufal dan Winda.


“Ayo!” ujar Winda sambil menarik tangan Bunga dan Naufal.


“Iya, iya” jawab Naufal. Mereka pun mencari Azidan ke sekitar villa fairy, namun mereka tidak menemukannya.


“Azidan dimana? kita kan sudah Cari di sekeliling villa, tapi gak menemukan dia” ujar Winda panik sambil berwajah panik. “Ya udahh tenang, kita coba cari di luar villa yaa” ujar Naufal sambil menenangkan Winda.


“Toloooongggg!!!” terdengar teriakan dari gudang belakang villa.


“Itu suara Azidan! terdengar dari gudang! ayo segera ke sana” ujar Winda sambil langsung berlari ke arah gudang.


“Tunggu win..” panggil Bunga saat Winda berlari, tetapi Winda menghiraukannya.


Bersambung