The Midnight

The Midnight
Tanpa Batas (1)



Ku parkirkan mobil Xenia Sportku di depan halaman rumah yang tampak sepi dan lengang. Cahaya lampu kendaraanku masih menyorot beranda rumah itu seiring mataku mengitari sekitar. Sepertinya tidak ada orangnya, karena ku lihat lampu ruang tamu rumah itu mati. Ku buka pintu mobilku lalu turun, kemudian beranjak menuju rumah indah yang bertingkat minimalis itu. Sesekali aku memperhatikan rumah tetangga dari balik tembok bonsai yang juga sepi karena ini sudah malam. Tapi belum terlalu larut. Atau memang orang-orang komplek disini kerap di dalam rumah jika sudah jam segini? Aku juga tidak tahu.


Ku tekan bel berulang kali. Tidak ada jawaban. Alamat yang tertera pada selembar note kecil di tangan kiriku benar. Nomornya juga sesuai. Karena menunggu cukup lama, aku menelfon nomor yang tertera di note paling akhir. Nada sambungnya terdengar melow.


“Halo?” terdengar suara di seberang sana. Aku langsung menyahut.


“Halo, saya sudah di depan rumah ini. Anda di mana?”


“Oh, bentar, yah. Saya masih di jalan. Ini mau pulang, bentar lagi sampai, kok!”


“Baiklah…”


Pembicaraan terputus. Aku duduk di kursi rotan menghadap ke halaman rumah ini. Terlihat kolam ikan kecil ada di depan kamar utama. Lampu taman berjejer rapi di dekat pagar bonsai di setiap sisi rumah. Lalu rumput jepang tumbuh hijau menghiasi halaman dan bunga-bunga beraneka warna tumbuh di sudut-sudut pagar. Benar-benar indah. Sepertinya aku akan betah disini. Semoga.


Tinnn!


Mataku tertuju pada sepeda motor yang masuk kehalaman dan langsung menuju garasi. Seorang lelaki muda membuka helm lalu meletakkannya diatas tangki seiring mengibakkan rambut kasualnya dan menatapku tersenyum. Lelaki itu berjalan kearahku dengan langkah coolnya.


“Maaf saya keluar tadi, saya kira kamu datangnya besok…” tukasnya menjabat tangangku. Aku menyalami seiring melempar senyum padanya.


“Kok sendirian?” lanjutnya dan aku hanya mengangguk.


“Lho, bukannya ada dua orang yang mau ngekost disini?” ucap lelaki itu seraya membuka pintu utama.


“Teman saya nggak jadi kost disini, Mas..” kataku datar.


“Jangan panggil, Mas. Panggil Raga, aja. Toh, kita masih seumuran.” “Kenapa dia ngga jadi kost disini?” Raga kembali bertanya.


“Dia nggak jadi kuliah…”


“Kok bisa?”


“kurang tahu juga sih, katanya ada tawaran kerja gitu. Terus, sayang aja kalau di lewatkan…”


“Ooo…”


Pintu terbuka, lelaki itu menyalakan saklar dan mataku langsung di sambut dengan suasana ruangan yang elegan dan benar-benar indah. Hmmm, Insya Allah aku betah deh kalau begini tempatnya. Tenang, wangi, bersih, dan…


“Sempurna…” lirihku.


“Apanya yang sempurna?”


“Ng-nggak, nggak apa-apa, rumahnya bagus…” tukasku malu.


Raga mengajakku ke lantai nomor dua. Kami berhenti tepat di depan pintu berwarna putih. “Nah, ini dia kamarmu…” ucapnya membukakan pintu. Aku langsung masuk. Wau, ini benar-benar indah. Kamarnya sangat cocok dengan seleraku. “Ini kunci duplikatnya. Dan ini kunci bagasi depan, mobilmu nanti di taruh disana saja.” kelakarnya lalu beranjak. Saat di depan pintu, Raga berbalik.


“Kalau ada perlu apa-apa, jangan sungkan. Ngomong aja…”


“Iya, Mas…” sahutku tersenyum.


“Panggil Raga aja.”


“Oh, iya. Sory lupa. Raga!”


“Aku Andre. Vicky itu yang nggak jadi kuliah…”


“Oh. Andre, yah? Nama yang bagus. Sebagus parasmu…”


“Thank’s…” kelakarku tersipu. Mataku dan mata Raga bertautan agak lama. Dia sesekali tersenyum dan menatapku dengan tatapan yang aku rasa agak gimana, gitu. Tapi, itu mungkin hanya perasaanku saja. Semoga dia bukan seperti apa yang aku pikirkan. Kembali dia tersenyum. Lalu dia bertanya dan cukup membuatku terkejut.


“Kamu nggak takut sama hantu, ‘kan?”


“?”


***


Tak terasa sudah dua bulan aku tinggal di rumah ini. Tentunya dengan segala macam problem dan kesan-kesan yang tidak bisa aku ceritakan semuanya di dalam tulisan ini. Bukan apa apa, aku khawatir saja kalau admin di Cerpenmu.Com jengah membaca pengalaman pribadiku di dalam situsnya. Bisa-bisa aku di banned, lebih parah lagi tulisanku tidak di post. Jangan sampai deh. Love you, Min. Wakakaka.


Malam ini aku duduk di depan meja belajar. Lampu temaram kadang membuat aku harus lebih dekat lagi guna membaca lebih jelas tulisan yang ku gores di atas buku tulis. Meski besok libur, aku ingin menyelesaikan tugas secepatnya. Dan hari esok aku gunakan untuk rehat dan tidak berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Jangan tunda sampai besok apa yang dapat kita kerjakan sekarang ini.


Kreeeek.


Suara pintu kamarku terbuka. Aku melengos. Raga tersenyum saat dirinya masih berdiri di depan pintu. Ia mengenakan pakaian rapi dan agak resmi. Apa dia mau kondangan? Atau jalan-jalan? Atau?


“Masuk, Ga!” kataku seramah mungkin.


“Sibuk kayaknya…”


“Nggak juga, tanggung ada tugas dikit dari dosen.”


“Udah makan belum?”


“Hmmm..” aku menggeleng.


“Kita keluar yuk?” tukasnya seraya perlahan masuk ke dalam kamarku.


“Kemana?”


“Aku ada tempat hang out bagus. Kalau kau mau, kita bisa kesana malam ini. Aku traktir deh…”


“Jauh nggak tempatnya?”


“Nggak, kok. Masih dekat sini juga. Di sebelah pantai Selandri.”


“Oh, dekat Selandri, kayaknya boleh juga tuh. Tapi, aku mandi dulu yah?”


“Cih! Jam segini belum mandi?” tanyanya menggeleng.


“Aku biasa mandi malam…” Lelaki itu melebarkan bibirnya seiring mengangguk pelan. Ku tutup bukuku lalu meraih handuk yang tergantung di lemari pakaian.


“Aku tunggu di depan.”


“Oke!”