The Midnight

The Midnight
Xanthophobia



Aku membuka mataku ragu. Yang ku lihat hanya sebuah ruangan -mirip teater- yang sudah tak layak pakai. Gorden-gorden yang rusak sukses membuat kesan horror dari sudut ke sudut. Aku sadar, ruangan ini begitu gelap. Imajinasiku mulai liar. Aku seperti tamu asing yang tiba-tiba masuk ke rumah seseorang tanpa diundang. Kaget bahwa kaki menginjak sesuatu yang keras, aku pun terjatuh. Dan anehnya, yang kududuki bukanlah lantai atau ubin dingin melainkan sebuah kursi empuk bak kursi bioskop.


Banyak pertanyaan muncul di benakku. Aku ada di mana? Sejak kapan? Aku mulai berkutat serius, memikirkan keadaan. Tiba-tiba saja, lampu teater menyala, sinarnya yang terang menyinariku. Refleks, ku lindungi mataku. Latar berubah menjadi panggung sebuah drama klasik. Terdengar alunan lagu Fur Elise karya Ludwig Van Beethoven menggema dengan anggun. Aku menyaksikan drama itu dengan perasaan heran.


Awal pertama, drama diawali dengan kemunculan putri bergaya Perancis dan pangerannya. Dengan dibalut gaun indah, putri itu memainkan kipas putihnya anggun, sementara sang pangeran berusaha mengikuti gerakan sang putri. Sejauh ini baik-baik saja, sampai keadaan berubah menjadi suasana mencekam. Aku baru sadar bahwa putri dan pangeran tadi hanyalah boneka kayu yang digerakkan dengan benang transparan. Tarian yang tadinya anggun berubah menjadi tarian kaku yang dipaksakan.


Latar tiba-tiba berubah kembali. Kini yang ku lihat hanya seorang gadis cantik bermata sipit dengan gaun serba kuning dipadukan warna emas. Di depannya, samar-samar ku lihat pria yang tergeletak lemah tak berdaya. Alunan musik berganti menjadi Moonlight Sonata 1 karya Beethoven, namun kini dengan tempo cepat. Jujur saja, aku tak dapat bergerak sama sekali. Aku seperti orang yang dipaksa menonton drama ini.


Lampu menyala, padam, menyala, padam dan terus seperti itu membuat pikiranku mulai gelisah. Samar-samar ku dengar teriakan dan isakan tangis anak kecil meski sayup. Gadis dengan gaun kuning itu mulai berbicara, namun aku tak dapat mencerna apa bahasanya. Bahasa yang tak ku kenal. Si pria menimpal perkataan gadis itu dengan raut muka agak marah. Si gadis sepertinya tak senang.


Sinar lampu panggung berubah warna menjadi kuning keemasan. Rasanya aku ingin lari, tapi ke mana? Hanya aku yang menyaksikan drama membingungkan ini dan aku tak tahu apa-apa. Suara yang dikeluarkan gadis itu berubah menjadi suara bising deru gergaji mesin. Aku bingung, aku benar-benar bingung, perasaanku mulai tak enak. Suara bising itu menggangguku, dan tanpa sadar aku menutup telingaku seraya berteriak “TIDAKKK!!” Dan seketika, suasana menjadi hening, alunan musik yang mengiringi tiba-tiba berhenti. Gelap.


Tess..


Tess..


Suara apa itu? Oh, aku sampai kaget. Aku tak bisa melihat apa-apa di sini selain keadaan gelap pekat. Suara seperti tetesan air itu mengganggu pikiranku. Aku ingin pulang, pulang! Tiba-tiba saja, lampu menyala kembali, dan drama itu kembali berlangsung. Tubuhku gemetar, mataku terbelalak. Ini memang tak bisa dipercaya, si pria itu hanya tinggal kerangka dengan lumuran darah!


Tidak ada si gadis. Mataku tak bisa menemukan sosoknya. Sayup-sayup ku dengar suara bising itu. Keringat sudah membanjiri tubuhku sedari tadi, aku tak ingin mendengar suara bising itu, mengerikan. Alunan piano kembali terdengar, kali ini pianis itu memainkan lagu bergaya Perancis dengan tempo yang sangat cepat sehingga menimbulkan kesan seram. Sinar kuning lampu teater semakin terang saja, terang dan terang. Aku merasakan, tangan dingin menyentuh kedua mataku. Ia berbisik sayup di telingaku, “Now you have, Xanthophobia™.”


Aku membuka mataku ragu. Saat ku sadar, ruangan ini begitu penuh dengan warna kuning, maksudku, ini seperti ruang hampa dengan warna kuning di mana-mana. Tubuhku seketika gemetaran, air mataku mengalir, dan aku tak tahu mengapa aku melakukan ini. Mataku membulat. Aku tak bisa melihat ujung ruangan ini. Semuanya nampak sama, berwarna kuning cerah. Ku lirik kanan-kiri, nihil, semua tetap kuning. Aku sudah gila. Telingaku perlahan mendengar suara langkah menuju ke arahku. Langkahnya berat, serta suara yang cukup familiar, deru gergaji mesin. Suara nyaring itu terus mendekat disertai langkah kaki.


Tap..


Tap..


Aku mencoba menutup mataku erat, menutup kedua telingaku rapat, namun suara itu masih jelas terdengar. Ruangan ini masih berwarna kuning cerah. Entah kenapa, warna ini mengganggu penglihatan dan otakku. Bermacam-macam pikiran negatif, aku yakin, berasal dari warna ini. Ku peluk kedua lututku. Aku benar-benar ingin pulang. Aku tak bisa melihat pikiran positif di otakku lagi. Saat ku sadari suara-suara itu berhenti, aku bersyukur. Terima kasih Tuhan. Ku kumpulkan segenap tenagaku untuk bangkit.


Namun sial, saat aku bangkit, aku tak dapat menggerakan badanku. Penglihatanku agak buram, aku merasakan rasa sakit di pelipis kanan. Dan saat itu juga, aku menyadari, kepalaku terputus dari badanku. Aku kaget namun tak dapat berteriak. Mataku mengeluarkan air mata berwarna merah. Mulutku menganga. Aku dapat sedikit melirik pada tubuh bawahku yang terpisah. Dan samar-samar, ku lihat gadis itu. Si gadis dalam drama dengan gaun serba kuning menyeringai tajam ke arahku, di tangan kanannya terdapat sebilah sabit dengan bekas tetesan darah.


“Now you have, Xanthophobia.™”


Aku tak tahu apa maksud perkataannya. Namun yang dapat ku lihat di akhir-akhir, hanyalah sebuah ruang hampa tak berujung dengan warna kuning cerah. Dan aku tak mengerti, mengapa warna ini membuatku begitu takut. Ketakutan yang sebelumnya tak pernah ku rasakan.


™Xanthophobia: Saat Sebuah Mimpi Menjadi Pemicu Masalah