
Karena barang-barangku tak banyak, hanya satu tas ransel saja, aku tidak perlu lama menata kamar. Aku cukup membersihkannya dulu lalu membeli barng-barang yang kira-kira sangat kuperlukan saat ini.
Meski suka berkedip-kedip setiap kali dihidupkan, sebenarnya lampu kamarku masih baik-baik saja. Tapi aku tak suka temaramnya. Cahayanya membuat kamarku suram. Aku juga segan minta lampu pengganti. Bayar cuma seratus ribu aku malah minta lebih. Ah, lebih baik kubeli saja nanti.
Seharian berjalan membuatku kaki luar biasa pegal. Ditambah membersihkan kamar, mengepel lantainya, dan melap bagian-bagian yang berdebu, lalu menggeser-geser letak lemari kayu dan tempat tidur, sempurna sudah meremukkan tubuhku. Kebetulan ibuku menitipkan alas kasur dan beberapa sarung bantal di ranselku, jadi aku tak perlu memintanya lagi ke ibu tua itu. Setelah semuanya cukup bersih, paling tidak tempat tidurku sudah cukup nyaman untuk kutiduri, aku memutuskan berbaring sejenak, sekalian menunggu maghrib tiba.
Rasanya tak sampai beberapa menit, aku sudah tertidur pulas. Tapi segera saja terasa ada sesuatu yang membuatku tak nyaman. Gerah memenuhi kamarku, bertambah terus menerus. Aneh. Padahal sebelumnya sangat dingin. Aku ingin bangun tapi karena sangat letih aku benar-benar tak berdaya walau sekedar membalik tubuhku. Lebih anehnya, aku ingin membuka mata tapi tak berhasil. Pikiranku saat itu antara sadar dan tidak.
Lalu tiba-tiba saja aku merasa takut. Sangat takut. Aku merinding dan gemetar ketakutan. Aku meringkuk, menarik selimut hingga menutupi kepala. Aku juga merasakan keringat dinginku merembes pelan dari sekujur tubuh. Yang membuatku lebih takut lagi, aku mendengar suara serak, mirip bisikan dan erangan, memanggil-manggil namaku. Suara siapa itu?
Aku ingin bangun tapi tubuhku seperti lumpuh. Bahkan untuk sekedar membuka mata aku benar-benar tak sanggup. Namun, samar-samar dari celah mataku, aku seperti melihat sosok putih berdiri mengambang di ujung kakiku, tinggi jangkung dan berambut panjang. Kepalanya nyaris menyentuh langit-langit kamar dan dia seolah menunduk menatapku. Aku ketakutan dan ingin segera bangkit tapi sungguh, aku tak berdaya. Aku juga ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi suaraku hilang. Tubuhku membeku dan gemetar, basah oleh keringat.
Setelah berapa saat berjuang untuk membuka mata, yang rasanya berjam-jam, akhirnya aku terbangun juga. Aku langsung bangkit dan memberanikan diri menatap ke tempat di mana sosok putih tadi berdiri.
Aku tak mendapatkan apa-apa. Di sana cuma ada dinding kusam yang lembab, sebagaimana semula. Aku juga mengamati langit-langit kamar, barangkali saja ’sesuatu’ itu telah pindah dan bergelantungan di suatu tempat di atasku. Tapi tidak. Tak ada tanda-tanda telah terjadi sesuatu. Aku tak melihat gorden jendela bergoyang, atau mungkin daun pintu yang terbuka perlahan mengeluarkan bunyi derit panjang mengerikan. Tidak. Tidak ada.
Ah, mungkin itu mimpiku saja. Toh, aku juga sering mimpi horor seperti itu. Mungkin juga akibat kelelahan dan dalam tahap penyesuaian di tempat baru. Tapi suara bisikan itu…. Suara itu seperti nyata. Aku tak yakin itu sekedar mimpi. Dan anehnya, aku merasa suara itu seperti berasal dari dinding-dinding di kamarku.
Aku melirik jam di meja belajar di samping tempat tidurku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Senja telah pasti lewat. Aku pun memutuskan mandi.
Aku keluar kamar dengan membawa handuk dan perlengkapan mandi. Ketika aku menoleh ke ujung lorong, aku melihat sekelebat bayangan putih menghilang ke tikungan kamar mandi. Aku hanya sempat melihat ujung kain putihnya saja. Sesaat darahku berdesir. Apa itu?
Ah, mungkin itu teman kosku yang mau mandi juga. Aku meneruskan langkahku menyusuri lorong panjang menuju kamar mandi, sambil berharap-harap dalam hati paling tidak ada salah satu kamar yang terang, menandakan ada penghuninya. Tapi perasaanku kian ciut ketika aku telah sampai ke ujung lorong dan tinggal berbelok ke kamar mandi. Tak satu pun kamar yang hidup lampunya. Semuanya mati. Satu-satunya penerang di lorong itu hanyalah lampu kuning watt rendah yang tergantung tepat di tengah-tengah. Alih-alih membuat terang, efek temaram yang dihasilkannya malah mendukung suasana horor yang menegakkan bulu kuduk. Lalu sosok yang ke kamar mandi tadi?
Aku memberanikan diri berbelok ke kamar mandi. Di depanku terdapat dua kamar mandi. Yang satu terbuka dan satu lagi tertutup. Dari celah di bawahnya, aku tahu lampu di kamar mandi itu tidak menyala. Tapi anehnya, aku mendengar suara siraman dan percikkan air begitu gaduh. Kurasa seseorang di dalam itu sedang mandi habis-habisan.
Dalam hati aku berujar lega, untung ada orang. Kukira aku sendirian saja di tempat kos ini. Senang dengan perasaan itu aku langsung masuk ke kamar mandi di sebelahnya setelah menekan sakelar lampu di samping pintu. Yah, lagi-lagi lampu kuning. Aku tak suka lampu kuning. Suram. Sabun putihku jadi berwarna kuning kusam.
Aku sudah sampai pada setengah dari acara mandiku ketika kusadari siraman-siraman air di sebelah kamar mandiku sudah tak terdengar lagi. Aku berpikiran mungkin ’dia’ sudah selesai. Tapi aku tak yakin berpikir begitu karena aku tak mendengar suara pintu dibuka. Seharusnya aku dengar karena kutahu pintu kamar mandi itu sudah cukup tua dan pasti berbunyi saat dibuka.
Saat kukira ’dia’ benar-benar sudah keluar dari kamar mandi sebelah, tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi sesuatu yang besar dan berat jatuh berdebam diiringi bunyi benturan ke benda keras. Pikiran burukku langsung menyergap. Siapa pun itu yang di sebelah, sepertinya baru saja terjatuh dan mungkin, kepalanya terbentur ke sudut bak, lalu pingsan—oh, aku berharap itu tak terjadi. Tergesa aku membersihkan dan membilas tubuhku. Setelah semuanya beres aku keluar dan langsung menggedor pintu kamar mandi sebelah.
”Kamu tidak apa-apa?” tanyaku cemas, aku terus menggedor pintu. Setelah beberapa kali bertanya dan tetap tidak ada jawaban, aku benar-benar dilanda panik. Kurasa, siapapun di dalam, tampaknya benar-benar tak sadarkan diri. Mungkin kepalanya bocor. Atau tulang-tulangnya patah. Dan darah membasahi lantai kamar mandi. Dalam pikiranku langsung terbayang genangan merah kental. Oh, tidak!
Ketika kuputuskan untuk menendang pintu itu, lagi-lagi kudengar suara percikkan air, aku mengurungkan niatku. “Hei, kamu benar tak apa-apa?”
Aku masih menunggu. Tapi tetap tak ada jawaban. Suara percikkan air itu malah terdengar sangat biasa, seolah sebelumnya tak terjadi apa-apa. Aku mulai kesal. Ini keterlaluan, kupikir. Aku sudah setengah mati mengkhawatirkannya, dia malah terus saja menggayung air.
Aku menunggu hampir seperempat jam dan mulai merasa bosan. Tapi ‘dia’ malah tak kunjung keluar. Pintu kamar mandi itu tak bergeming sedikitpun. Aku mulai curiga. Jangan-jangan dia memang terjatuh dan pingsan lagi.
Kurasa sekarang bukan waktunya main-main lagi. Aku benar-benar kesal bercampur cemas. Aku bangkit dari sandaranku dan menuju kamar mandi itu. Namun, baru saja berjalan beberapa langkah, aku mendadak berhenti. Kulihat pintu itu terbuka sendiri seolah seseorang baru saja berhasil membuka kuncinya. Aku menahan nafas menunggu seseorang menguaknya tapi pintu itu hanya bergoyang sedikit, memperlihatkan celah gelap di dalamnya.
Aku memberanikan diri maju beberapa langkah lagi, berusaha mengintip dari balik celah. Aku memicingkan mata, berusaha melihat fokus apa memang ada seseorang di dalamnya.
Sebenarnya aku sudah merasa takut. Jantungku berdebar sangat kencang dan kurasakan kedua telapak tangaku dingin dan gemetaran. Tapi aku tetap memberanikan diri membuka pintu itu lebih lebar lagi.
Aku membuka pintu itu lebar-lebar seolah pintu itu terbuat dari besi panas. Karena gelap, aku melongok ke dalam. Samar-samar kuamati semua sudut kamar mandi itu, dan malangnya, aku tak menemukan siapapun! Oh, ini sungguh menyebalkan! Apa kos ini berhantu?
Aku setengah berlari kembali ke kamarku di ujung lorong. Aku tak bisa meredam ketakutanku. Bulu kudukku semuanya berdiri. Suasana dingin mendadak mencekam. Sepanjang lorong itu aku sempat memperhatikan satu per satu kamar yang berderet di kiri kanan lorong. Sungguh, aku berharap tak sendirian saat ini. Aku ingin, paling tidak, ada seseorang berada di kamarnya, siapapun. Tapi semua orang seperti pulang kampung saja. Semua kamar itu tertutup rapat dan lampunya mati. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya.
Aku sangat ketakutan hingga butuh seperempat jam untuk membuka pintu kamarku sendiri. Kunci di tanganku licin oleh keringat dan sudah tujuh kali jatuh. Parahnya, sekarang lampu kuning suram sialan di tengah lorong itu yang mendadak mati! Dan satu-satunya sumber penerangan hanya dari kamarku.
Pintu kamarku terbuka dan aku tergesa masuk. Setelah merasa agak tenang, aku mengunci pintu kamarku dua kali. Aku memutuskan mendekam saja di kamar sampai besok pagi. Aku juga berencana akan pindah besok. Tempat kos ini benar-benar tak nyaman. Aku telah salah memilih tempat ini.
Ketika aku menggantungkan handukku ke paku yang tertancap di dinding, sudut mataku menangkap sesuatu. Dan anehnya, sebelum aku benar-benar melihat, pikiranku langsung membawaku pada sosok putih horor dalam mimpiku tadi sore. Sekarang ketakutan dan kepanikan benar-benar menguasaiku. Aku lemas. Aku tak punya keberanian menoleh dan memastikan apakah memang sosok itu yang sedang menatapku dari seberang kamar. Kedua lututku lunglai. Kakiku mati rasa. Dan parahnya, aku kembali mendengar suara bisikan persis seperti yang kudengar dalam mimpiku itu, dan kini sedang memanggil-manggil namaku dengan jahat. Suara itu begitu dingin dan penuh dendam. Aku tak sanggup mendengarnya lebih lama lagi. Ini akan membuatku gila ketakutan.
Aku langsung memutar kunci lagi dan menghempaskan tak peduli pintu kamar di belakangku. Sudat mataku menangkap sekilas sosok putih itu benar-benar berdiri mengambang di sudut kamarku, dan kini seakan melayang pelan menuju ke arahku. Aku tak sanggup membayangkan sosok itu akan melakukan apa padaku saat jarak kami hanya beberapa senti. Oh, ini sangat mengerikan!
Awalnya aku ragu menempuh lorong gelap di depanku, seolah aku akan menempuh jalanan kelam di tengah hutan. Tapi aku tak punya pilihan lain. Tetap di dalam kamar sama saja bunuh diri. Meskipun ujung lorong dekat dengan kamar mandi, tapi di sana ada pintu keluar. Aku ingin keluar dari tempat ini. Secepatnya.
Aku berlari seperti orang kesurupun, berteriak kencang, tanpa sandal. Dalam beberapa detik aku sampai juga di pintu keluar di ujung lorong. Aku tak berani melirik ke kamar mandi yang gelap. Pikiranku sudah tak bersahabat. Bayangan-bayangan horor lainnya seperti sesuatu yang lebih mengerikan lagi sedang menunggu dari kamar mandi mulai bermunculan di benakku. Ketakutanku menjadi-jadi.
Setelah berhasil keluar, aku berharap ibu kosku mendengar teriakan histerisku tadi. Tapi tidak. Dia tidak muncul dari kamarnya. Kurasa dia tidur pulas. Ah, sudahlah, yang penting aku keluar dari tempat ini.
Untung pintu depan tak dikunci—sepertinya memang sudah tak terkunci untuk waktu yang sangat lama—dan aku akhirnya sampai di halaman. Aku menyempatkan diri berbalik dan memandang ke seluruh bagian rumah tempat kosku itu. Kali ini aku benar-benar terkejut dan setengah tak percaya. Rumah tempat kos itu sama sekali gelap. Tak ada lampu di mana pun. Tetapi meski malam hari, aku masih bisa melihat jelas, ternyata rumah itu tinggal puing-puingnya saja. Beberapa bagian atap sudah banyak yang bolong. Tumbuhan rambat liar tumbuh subur menutupi sebagian besar dinding yang berlumut.
Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi padaku? Sore tadi, aku masih menemukan tempat ini seperti rumah biasa yang ada penghuninya. Tak ada bekas ditelantarkan sedikitpun. Tapi sekarang pandanganku seolah baru saja disingkapkan dan kusaksikan kenyataannya sungguh jauh berbeda. Rumah ini benar-benar tinggal puing dan hancur, dibiarkan terlantar bertahun-tahun hingga semak sudah tumbuh setinggi dada. Lalu siapa ibu kos itu?
Aku tak mau repot-repot memikirkannya. Aku sudah sangat takut sekarang. Dan kuat dugaanku ibu kos itu juga bukan manusia, yang menjelma menjadi sosok yang pernah hidup di masa lalu. Aku berlari keluar rumah dan terus berlari sampai aku benar-benar keluar dari komplek perumahan itu. Dan lebih anehnya—aku tak mau memikirkan ini lagi—semua rumah di komplek itu seperti tak ada pemiliknya; gelap, suram, dan terkesan angker.
Aku terengah-engah ketika sampai di gerbang pintu masuk komplek perumahan itu. Saat berikutnya aku menyeberang jalan dan di sana kulihat ibu pemilik warung tempat aku makan siang tadi masih buka. Aku berjalan ke sana dan masuk ke dalam warungnya. Barulah aku merasa agak tenang dan aku menceritakan semua kejadian yang kualami ke ibu pemilik warung itu. Setelah semuanya kuceritakan, ibu pemilik warung itu kemudian menceritakan semuanya. Begini kisahnya.
Dua puluh tahun silam, sebuah rumah paling ujung bernomor 66, mengalami kejadian tragis. Awalnya seorang mahasiswa mati bunuh diri di kamar mandi dengan cara gantung diri. Semua teman kosnya berpendapat dia berhalusinasi dan tertekan karena dihantui oleh penampakan hantu wanita di kamarnya. Ada dugaan hantu wanita itu adalah anak ibu kos, yang mati dikurung di kamarnya karena gila. Tapi beberapa tahun setelahnya, rumah itu terbakar dan menewaskan ibu kos itu sendiri, termasuk beberapa anak kos yang terperangkap di kamarnya. Menurut polisi, kebakaran itu jelas disengaja. Mendengar rangkaian cerita tragis mengerikan itu, aku semakin gemetar ketakutan. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana kalau diriku tinggal di sana lebih lama lagi. Barangkali aku akan menjadi salah satu penghuni abadi yang bergentayangan.