
Aku dan Raga batal untuk makan malam di luar. Demi mengantarkan mayat ini segera ke keluarganya, aku tidak main-main tancap gas mobilku. Perjalanan terasa begitu lama dan kami tidak kunjung sampai di tempat tujuan. Seolah kami hanya berputar-putar di jalan ini. Sekarang aku benar-benar cemas dan khawatir. Saat memasukkan mayat naas itu kedalam jog belakang mobil beberapa saat yang lalu, aku melihat seekor ular weling melintang lalu berhenti di depan mobil dan menghalangi laju kami. Kata orang jawa, itu tandanya aku akan menemui sial atau apes. Aku coba menepisnya jauh-jauh. Semoga niat baikku di restui Tuhan.
“Kok, jalanan makin sepi, Ga?” bukannya tadi rame-rame aja.”
“Ya, Ndre, aku juga bingung. Kayaknya kita nyasar…”
“Aneh, tadi perasaan kita nggak lewat hutan ini kok. Tapi, kenapa kita bisa nyasar?” aku mulai panik.
“Di depan ada simpang, Ndre. Kita pilih jalan yang mana?” tanya Raga ketakutan. Aku melihat board trafic yang menunjukkan arah, ke selatan menuju Bandung dan yang utara ke Jakarta. Ini daerah mana? Aku semakin panik. Sementara aku melihat dari kaca spion mayat di belakang tergeletak mengenaskan. Dia benar-benar tenang sepertinya. Aku pilih ke arah Bandung. Kecepatan ku tambah. Jauh di depan sana, aku melihat sosok seorang lelaki berdiri mengayunkan tangannya. Sepertinya seorang dia mau menumpang. Tapi apa ada orang menumpang di tengah hutan begini?
“Astagah! Astagfirullah. Ya Allah…” teriak Raga membuatku cemas. Sontak aku ikut cemas dan panik bukan kepalang. Orang yang melambaikan tangan ke arah mobil ini ternyata berubah mejadi sosok pocong berwajah hancur. Aku merinding. Kain kafan yang membungkus pocong itu penuh dengan debu dan darah. Yang membuatku lebih merinding. Mata pocong itu keluar dari kepalanya dan menggantung nyaris lepas. Sial. Dimana ini?
“Ngebut, Ndre…” sentak Raga membuatku jadi semakin panik. Aku pun segera tancap gas. Mobil masih menyusuri jalan aspal di tengah hutan. Pocong itu melompat-lompat dan mengejar kami. Aku terus mengebut. Pocong itu melompat semakin tinggi dan kini terbang melintang di atas mobil. Aku merinding, dan akhirnya ku tambah gas. Braaak. Mobil ini menumbur sesuatu. Hening. Mataku dan mata Raga saling berpandangan.
“Pocongnya, kamu tabrak, Ndre…” aku mengangguk.
Whuaaaaa! Wajah pocong itu menempel di kaca mobil dan darah menetes mengotorinya. Aku menyetir dengan berbelok-belok agar pocong keparat itu jatuh dan menghilang. Dalam hati aku terus membaca ayat kursi. Alfatihah dan wirid.
“Coba, kau telefon kakaknya mayat ini, bilang kita kesasar…” panikkku.
“Udah, nomornya ngak aktif. Lagian nggak ada sinyal disini.”
“Kamu tahu jalan ini ada di daerah mana?”
“Nggak tahu, Ndre. Tempat ini asing kayaknya. Aku belum pernah kesini.”
Aku terus mengemudikan kendaraan dengan pikiran mengawang. Sepertinya benar kata Raga. Aku menemui keapesan dan kesialan. Sudah dua kali aku dan Raga menemui jalan yang sama. Dua simpang yang selalu menujukkan arah Bandung dan Jakarta. Tapi anehnya, setelah melewati dua jalur itu, kami menemui tempat yang sama. Dua simpang yang tidak ada ujungnya. Tanpa batas. Aku nyaris hilang akal. Logikaku tidak jalan dan pikiran rasionalku agaknya terganggu. Pocong itu kini sudah menghilang. Namun, bercak darah di kaca mobil terus menetes meski secara otomatis kaca itu di bersihkan. Karena hal itu terulang terus, aku tidak memperdulikanya lagi.
***
“Gimana mau balik, kalau kita cuma muter-muter disini…” jawabku snewen.
“Terus kita kita gimana sekarang?”
“Apa yang kau bilang itu beneran, Ga?” tanyaku menatapnya.
“Maksudmu?”
“Mayat yang kita bawa ini, bikin apes?” mataku melotot menatap Raga.
“Terus, kita harus membuang mayat ini?” tanya Raga tidak setuju. Aku mengangguk.
“Gila! Kamu, Ndre…”
“Kita nggak punya pilihan. Siapa tahu dengan membuang mayat ini, kita aman. Dan bisa cari jalan pulang…”
“Nggak ah, kasian Rudi, pasti dia nyariin adiknya…”
“Kalau begini terus? Kapan kita bisa pulangnya. Menghubungi nomor Rudi aja nggak bisa. Cari jalan keluar juga nggak bisa. Apa kita mau mati di tempat ini?” tanyaku kesal. Kesal karena sudah berjam-jam kami tersesat. Aku mengurangi kecepatan. Jalan ini terasa sunyi dan lengang. Rintik-rintik hujan mulai tampak menjatuhi kaca mobil. Aku semakin kuatir.
“Kalau memang itu mamumu. Kita taruh mayat ini di tempat itu aja gimana?” tanya Raga seraya menujuk ke arah bangunan yang entah sejak kapan ada di simpang jalan itu. Aneh.
“Lho, perasaan, tadi nggak ada rumah itu…” kataku takut.
“Sudahlah, Ndre jangan banyak berfikir, sejak tadi aku juga nggak habis fikir dengan kejadian yang kita alami. Kita coba keluarkan mayat ini. Terus cari jalan keluar. Kalau kita selamat, kita panggil Rudi dan anggotanya polisi lainnya ke tempat ini, lalu mayat naas ini bisa segera di kebumikan…”
“Boleh juga idemu.”