
Oh ya, satu lagi. Nayra bilang padaku kalau Yogi menembaknya minggu lalu. Tepat pada hari saat kami harus pindah. Nayra menerimanya dan dia meminta maaf padaku dengan sungguh-sungguh karena dia tahu aku sudah menyukai Yogi sejak kelas satu SMA. Aku tersenyum lebar sekali sebelum memberi selamat mereka berdua. Ku katakan pada Nayra kalau aku sudah lama kehilangan perasaanku ke Yogi dan aku akan terus mendoakan agar kedua sahabatku itu langgeng. Aku menghabiskan malam itu dengan menangis di kamar.
Selasa, 22 Januari 2014
Ada sesuatu yang aneh dengan rumah ini. Sudah sebulan lebih kami tinggal di sini dan… entahlah, semakin lama aku merasa ada yang tidak beres. Sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak seminggu yang lalu, tapi sebelumnya tak pernah terlalu ku perhatikan. Rumah ini adalah rumah lama dan apa pun suara asing yang mungkin muncul kemungkinan besar berasal dari bagian rumah yang lapuk atau berkarat. Dulu di rumah kami sebelumnya Nanda pernah bilang kalau tiap malam ada suara menggaruk dari kamar mandi. Ternyata seekor katak terjebak di saluran air kami dan suara menggaruk itu tak lebih dari suara kegigihan si katak agar bisa keluar dari lubang itu. Mungkin karena itulah aku tidak terlalu menganggap serius semua keanehan di rumah ini.
Pertama aku merasa suhu di dalam rumah selalu lebih dingin dari udara di luar. Terlalu dingin. Seperti ada yang menyalakan kulkas raksasa di seluruh ruangan. Anehnya suhu udara jadi selalu bertambah dingin semakin aku berjalan ke arah bangunan di belakang rumah. Begitu dinginnya hingga pernah aku melihat ada bunga es menempel di pegangan pintu menuju koridor belakang padahal saat itu sudah pukul sebelas siang. Selain itu sering ada bau-bauan yang tidak bisa ku jelaskan asalnya. Kadang begitu wangi, kadang begitu busuk seakan ada yang dengan sengaja meninggalkan bangkai tikus di pojok ruangan.
Aku juga sering mendengar ada suara orang berbisik atau langkah kaki seseorang padahal aku tahu Mama dan Nanda ada di ruang sebelah sementara Papa sedang ke luar rumah. Suaranya jelas sekali karena lantai rumah terbuat dari kayu. Langkah kaki itu kadang keras dan berderap, seperti suara laki-laki berbadan besar. Tapi pernah juga suaranya ringan seperti langkah anak-anak yang berlarian. Tapi setiap kali aku pergi untuk mengecek sumber suara itu yang ku temukan hanya ruangan kosong yang dingin. Tapi semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan apa yang ku lihat semalam.
Sejak dulu Nanda punya semacam nama khusus untuk boneka favoritnya. Ada Ponpon, boneka Panda yang dibelikan ayahku saat kami pergi ke pasar malam dua tahun yang lalu. Lalu ada pula si Endut, boneka kuda nil dari acara kartun favoritnya, dan entah apa lagi. Nanda bisa mengingat semua nama boneka favoritnya. Sejak kami datang ke rumah ini tanpa sengaja aku mendengar Nanda menyebut nama baru saat bermain boneka. Blacky (atau bleki, kalau menurut kata-kata Nanda). Kemarin aku mendekati Nanda saat ia sedang bermain sendirian di kamarnya.
“Nanda, kok seru banget mainnya. Punya teman baru ya?” tanyaku sambil ku gelitik pinggulnya. Nanda terkikik keras. “Iyaaaa! Ada Bleki nih Kak sekarang…”
“Bleki? Mana? Emang kamu dibeliin boneka baru sama Papa?”
“Nggak! Bleki cuma mau maen kalau aku sendirian aja, hihi…”
“Emang dia boneka apa?” saat itulah aku sadar kalau Nanda mungkin punya semacam ‘teman khayalan’. Aku jadi sedikit merasa bersalah karena itu mungkin cara anak kecil itu untuk bisa menghadapi semua masalah keluarga kami ini.
“Monyet Kak. Matanya item, gede banget, hihi…” kata Nanda sambil membuat bentuk lingkaran dari jempol dan telunjuknya lalu ditempelkan pada matanya sambil menyeringai. Kedua gigi serinya yang kemarin baru tanggal membuat wajahnya kelihatan konyol sekali.
Tepat saat aku akan kembali ke lantai atas, mataku tanpa sengaja menangkap ada gerakan di daerah belakang rumah. Pintu menuju koridor belakang nampak terbuka sedikit. Aku tak yakin dengan apa yang ku lihat, tapi ingatanku begitu jelas. Di balik pintu itu ada sesuatu sedang balik menatapku. Matanya berbentuk bulat besar dan berwarna hitam total. Dua lingkaran gelap itu nampak berkilat di bawah kisi-kisi pintu yang sedikit terbuka. Sekilas makhluk itu nampak seperti monyet, tapi setelah ku dekati itu jelas itu monyet. Ukurannya terlalu besar. Itu seseorang yang sedang merangkak.
Kamis. 2 Februari 2014
Aku tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Ku habiskan dua minggu belakangan untuk meyakinkan Mama dan Papa bahwa ada yang tidak beres di rumah ini. Bahwa ada sesuatu yang jahat, entah apa, sedang meneror keluarga kami. Tapi toh percuma. Mama memandangku dengan pandangan marah. Ia bilang ini semua cuma cerita karanganku agar Nanda merasa takut dan tak nyaman sehingga kami jadi punya alasan untuk pindah. Mama bahkan membentakku keras saat ku bilang ada sesuatu yang aneh dengan bangunan di belakang rumah. Suatu hal yang seumur hidupku belum pernah ia lakukan padaku. Saat ku lewati cermin kamar mandi pagi ini tak ku temukan Sarah Lenora di sana. Yang ada hanya seorang gadis berusia 19 tahun yang nampak kuyu. Matanya menggembung karena tidur baginya adalah sebuah horor yang lain. Ingin ku tinju wajah di cermin itu tapi tubuhku sudah terlalu letih. Putus asa dan letih.
Ya Tuhan, apa yang mesti ku lakukan… Dan Papa. Papa jadi seperti menjadi orang lain. Dia hanya membisu saat ku ceritakan semua keanehan yang ku lihat dalam rumah. Diam seribu kata. Pandangannya dingin. Ia juga tak pernah bicara dengan Mama. Kemarin sempat ku lihat Mama terisak di kamar sebelum berteriak keras, “Kenapa diam saja!? Apa ini semua salahku!?” Ku genggam sisi pintu kamarku dengan erat sambil menahan air mata. Dari sudut pintu yang terbuka ku lihat papa hanya beranjak pergi dalam diam ke luar rumah. Ku habiskan malam itu dengan tidur mendekap Nanda. Napas Nanda yang lembut menerpa hidungku seakan memberikanku kehatangan. Untuk pertama kalinya, sejak dua minggu terakhir, aku tidur dengan pulas.
Minggu, 5 Februari 2014
Untuk siapa pun yang menemukan buku catatan ini, tolong dengarkan pesan ini. Ada sesuatu yang jahat berada di bangunan di belakang rumah kami. Aku terbangun sekitar setengah jam yang lalu. Pukul 12 lebih satu menit. Aku mendengar ada suara mengetuk yang berulang-ulang dari lantai bawah. Seperti suara sebuah benda yang dipukul-pukul ke pintu secara berulang-ulang. Aku turun ke bawah dan menemukan pintu yang menuju ke bangunan belakang terbuka lebar. Suara mengetuk-ngetuk itu terdengar berasal dari ujung koridor sempit yang gelap di hadapanku. Bunyinya terdengar menggema di dinding koridor yang dingin. Demi Tuhan aku merasakan tubuhku lumpuh karena takut. Ada perasaan yang menekan dari koridor itu.
Aku merasa jadi sulit bernapas. Udara juga jadi begitu dingin. Dengan gelagapan ku ambil senter dari laci dan ku ikuti sumber suara itu menuju bangunan gelap yang ada di belakang rumah. Aku terdiam. Tubuhku terasa kaku melihat pemandangan yang ada di hadapanku. Papa sedang berdiri diam menghadap pintu merah dengan keratan simbol segitiga berisi tiga lingkaran itu. Suara ketukan berulang-ulang tadi tak lain adalah suara kepala Papa yang dibentur-benturkan secara terus menerus ke pintu itu. Belum sempat ku panggil, Papa menoleh ke arahku.
Makhluk itu bukan ayahku.
Sekarang aku berada di kamar Nanda. Ku dekap tubuhnya dengan erat. Pintu kamar sudah ku kunci. Samar-samar ku dengar ada suara seseorang naik ke lantai atas.
Buku catatan atas nama Sarah Lenora ini merupakan salah satu benda yang ditemukan di TKP ‘Rumah Gagak’ dimana satu keluarga (Ayah, Ibu, seorang putri remaja dan adiknya yang berusia lima tahun) menghilang tanpa jejak. Buku catatan ini ditemukan di tengah-tengah sebuah ruangan kosong dengan pintu berwarna merah dengan keratan simbol tiga lingkaran dalam sebuah segitiga. Di samping buku catatan ini juga ditemukan sebuah gumpalan kain yang berisi rambut, kuku, gigi, dan darah yang telah mengering.