The Midnight

The Midnight
penyesalan (1)



Saat Penyesalan Menjadi “Saksi” dan Janji Menjadi “Bukti”


Saat itu, malam yang terasa dingin dengan selimut hello kitty ku…


Suara mama pun memanggilku “arin?”


“iya ma? Kenapa?” jawabku dengan mendatangi suara mama yang memanggilku itu..


“arin, belikan mama garam sebentar ya di warung ibu tutik, sebentar saja nak, mama lagi mau ngasih garam untuk masakan mama ini” suruh mama kepadaku.


“lah ma? Tapi inikan sudah malam ma -_-” dingin lagi ma, mama kok nyuruh malam banget si ma ayo lah ma, kan masih ada bumbu dapur yang lain yang bisa mama pakai” tolakku menggerutu.


“ini nih anak muda jaman sekarang, sedikit sedikit gak mau, di suruh ini itu gak mau, ya sudah mama beli sendiri aja, minta tolong sama anak sendiri itu susah bener, bener banget berarti kata jeng atik kalau anak jaman sekarang jaga gengsi bener. Aduh” oceh mama yang berbicara tanpa henti. Tapi aku hanya diam dan menuju pergi ke kamar kembali.. Sebab kalau mama berbicara itu tanpa titik dan koma, wawa permisa -_- sungguh terlalu mama saya -_-”


Keesokan harinya 11 juni 2010


Dear diary, apa dia masih mengingatku ya? Setelah hampir 2 tahun kami tak pernah bertemu apalagi saat kami masih bersama, berjalan bersama, dan selalu cerita dikala suka duka, tapi… (tiba2 aku berhenti menulis diary ku, karena ada suara yang sungguh besar sekali dari jalan di depan rumahku)


“taaaaarrrrrr”


“allahuakabar” teriak mama


Aku pun melihat ke arah jendela kamarku, banyak sekali orang orang yang berkumpul di sana melihat apa yang terjadi di depan jalan itu. Dengan penuh penasaran juga aku melihat apa yang terjadi..


Tiba-tiba di depan kerumunan orang tersebut terlihat seseorang yang tak asing di mata ku… Dia… Dia adalah alfin, orang yang aku tunggu selama ini, orang yang telah lama buat aku bertanya apakah dia akan kembali setelah menghilangnya dirinya dari kehidupanku… Aku pun berlari melihat nya, ternyata benar, dia alfin, orang yang selama ini aku cari.. Air mataku pun menetes sedikit demi sedikit, alfin yang ada di pangkuanku pun menatap diriku dengan senyum berlumur darah di mulut dan tubuhnya, ia menatap dan menyentuh wajahku dan berkata “aku sayang kamu rin, tapi… Tapi aku tak mampu, saa… At aku ingin kembali lagi di kehidupanmu… Saat aku mencoba untuk menyesali semua… Waktu berkata beda… Ak… A…Ku… Sayang ka…Mu… Rin” kata kata itu seakan membuat air mataku semakin mengalir deras, dan saat itu juga aku mengungkapkan rasa yang aku rasakan kepada alfin, yang sama besarnya itu “fin, kamu harus tetep hidup… Aku sayang kamu fin, aku sudah nunggu kamu selama 2 tahun lamanya dengan sabar fin, tolong fin jangan tinggalin aku” tangisanku  semakin kuat seakan darah alfin yang semakin banyak mengalir di genggaman tanganku, orang orang di sekelilingku hanya mampu terdiam melihat aku dan alfin yang tak menyangka bahwa kami saling menyayangi


“kamu jaga dirimu baik-baik rin, kelak, suatu saat… Rohku akan melindungi dirimu, dan menuntunmu menemukan lelaki yang mampu membuatmu bahagia, bahagia lebih dari aku membahagiakanmu… Terima kasih rin telah mampu menjadi yang terbaik untukku, aku bangga rin punya kamu… Aku sayang kamu sayang” mata alfin pun terpejam untuk selamanya… Saat itu aku tak mampu berbuat apa apa, aku menjerit sekuat-kuat yang aku mau.. Orang-orang yang melihatku pun ikut merasakan kesedihanku, darah yang berada di tanganku seakan menjadi saksi, bahwa pengorbananku tak pernah sia-sia untuk alfin…


Keesokan harinya setelah pemakaman alfin, aku hanya mampu mengurung diriku seharian di kamar. Mama pun mencoba untuk menghiburku.. Mama berkata “loh rin? Kok murung terus? Sudah dong nak, galau itu boleh, tapi jangan kelebihan, kasian loh alfinnya kalau arin galau mulu, ayo gak kesian dengan alfin?” kata kata mama pun membuat aku bertanya “loh? Kok alfin sedih ma?” tanyaku.


“iya dong, alfin sedih kalau liat orang yang dia sayang sedih” ucap mama.


Aku pun mengusap air mataku perlahan dan mencoba mengiklaskan alfin, meski rasa sayang ku tak pernah tau sampai kapan kuat menahan kepergian alfin..


Malam pun larut, aku kembali menulis diary ku, yang setia menemani kesendirianku.


Dear diary, sudah tenang di alamnya, bagaimana ya kabarnya di sana? Apa dia bahagia? Kata mama alfin bakal sedih kalau liat aku sedih, aku janji gak akan sedih fin, ini demi kamu fin, aku sayang kamu fin… (ketika menulis diary itu, suara alfin muncul, aku pun memberhentikan tulisanku hendak melihat ke arah belakang… Betapa terkejutnya, ternyata… Tenyata itu roh alfn, janji alfin ia tepati, rohnya mampu ku liat, tapi kedua orang tuaku serta pembantuku tak mampu melihat diri alfin)


“hay :)” roh alfin


“kamu? Kamu roh alfin? Kamu hantu ya? Hantuuu…” suaraku menjerit membuat mama dan mama melihatku ke kamar dan menanyakanku. “kenapa arin?” tanya mama dan mama.. Roh alfin pun melihatku dan meyakinkanku bahwa ia tak akan menggangguku, lalu perasaanku menjadi tenang.. “enggak ma, arin tadi akting :d” bohongku demi melindungi roh alfin.. “ya sudah mama kirain kenapa, haduh anak mama ini ada ada saja :)” mama dan papa pun kembali ke bawah.


“kamu itu koyol banget ya, dasar penakut, memang aku menyeramkan gitu ha? Buat aku hampir habis tau gak -__-” oceh roh alfin


“lah? Kamu sih datang tiba-tiba, kayak hantu, kamu bener alfin?” tanyaku lagi untuk meyakinkanku.


“iya aku roh ku, alfin si anak alay celalu, wkwk” lawak alfin yang memang humoris.


“wah, kamu gak berubah fin, :)” lamunku sambil senyum.


“wah kamu kenapa senyum-senyum sendiri rin? Wah ini nih akibat gue tinggalin, senyum-senyum gila gitu, kangen ya :d”


“wkwk, iya fin, kamu masih kayak kamu yang dulu ternyata :)”


“iya rin, aku memang sudah gak ada, tapi diriku tetap untuk kamu” lawak dan gombalan alfin.


“ah masak? :d”


“masak masak sendiri” alfin


“udah fin, kamu rada-rada ya ternyata” arin.


Alfin pun memandangku, kami saling memandang, ternyata alfin gak bohong, rohnya datang untuk membuatku bahagia, ini suatu keajaiban, makasih tuhan atas semuanya.. Aku dapat merasakan cinta alfin kembali, meski ia hanya seorang roh…


Keesokan harinya…


“ah ngantuk ma, entar bentar lagi ma”


“mama? Lo kira gua mama loe? Wah gue alfin mamen -_-” ”


“alfin?” mataku pun membuka…


“bah :d” alfin.


“wah kamu fin, wkwk, ternyata kamu lebih pagi bangunnya dari aku. Wkwk.”


“wey, roh gak tidur -_-”


“eh gak tidur ya? Sesuatu deh wkwk”


“sudah mandi sana, sekolah, entar di sekolah kamu bakal lihat siapa cowok yang aku janjikan ke kamu rin” ujar alfin.. Aku pun menatapnya dengan tatapan dalam, seakan aku ingin berkata bahwa aku masih sangat mencintainya, bahkan untuk mengganti orang lain di posisi orang lain di hatiku ini sulit rasanya.. Tapi aku ingin roh alfin tenang, aku tak ingin rohnya menghilang dari sisiku, aku tak ingin alfin menghilang kembali dari kehidupanku sama seperti dia dahulu meninggalanku..


Aku pun bergegas mandi dan sarapan serta pergi sekolah…


Saat di jalan aku bercerita dengan roh alfin, orang yang melihatku heran, seakan mereka menyangka aku gila, tapi aku tak menghiraukannya, sebab rasa ku ke alfin lebih gila. Wkwkwk…


Setiba di gerbang sekolah… Seorang laki-laki menabrakku…


“kalau jalan pakai mata dong” ujar cowok trsebut..


“wey biasa aja loe, loe yang nabrak, kok loe yang sewot..” marahku..


“cewek gila” celoteh cowok tersebut.


“apa? Gila? Ini nih gila. Jegarrrrr” suara tamparan yang arin tujukan kepada cowok tersebut.


“loe… Dasar gila…” teriak cowok tersebut sambil berlari.


“kenapa loe tampar rin?” tanya roh alfin


“dia juga cari masalah dengan gue, siapa dia mau ngatain gua gila, dia itu sinting fin” celotehku.


“haha, memang kamu gila kan, wkwk” ejek alfin


“wah mau kena tamparan maut juga ya kamu”


“eh jangan rin, ampun :d”


Arin pun menuju ke kelas… Suasana kelas terlihat ramai, terlihat cewek cewek yang mengerumuni seseorang di sebuah meja, dengan penasaran aku ikut melihat dan bertanya kepada permata…


“kenapa mata? Ada apa ya?” tanyaku


“ada anak baru rin, ganteng, tinggi, mirip dengan alfin loh” (setiba mata berbicara seperti itu, aku melihat ke arah roh alfin, dan roh alfin hanya tersenyum).


Aku pun penasaran dan melihat ke meja tersebut… Wowwww. Yang tak di sangka-sangka, ternyata itu cowok rese yang aku tampar tadi…


“ha? Elo!” kejutku


“ha? Cewek gila ini lagi? Loe gak bosen-bosen nya ganggu hidup gue ya, sana-sana pergi” celoteh cowok itu..


“wey loe mau gua tabok lagi? Mau loe ha? Loe bener-bener” arin.


Gua pun keluar kelas, hati ini semakin panas bercampur aduk, hatiku bertanya tanya sendiri, tiba-tiba roh alfin muncul…


“hey, melamuni apa? :)” roh alfin


“tu cowok tadi fin, kesel gue” arin


“sudah-sudah, jangan banyak pikiran :)” roh alfin berusaha menenangkanku..