The Midnight

The Midnight
siapa dia



Aku, suami dan juga anakku baru saja menginjakkan kaki di rumah tua besar milik almarhumah ibuku. Ketika aku dan suamiku mengeluarkan koper dan barang barang kami dari bagasi mobil, aku melihat vera(anakku) melambaikan tangan ke lantai dua rumah ini. Aku melihat ke sana, tak ada orang. Aku melihat ke sekeliling juga tak ada orang. Tapi aku tak terlalu peduli dengan vera, mungkin itu hanya imajinasiku.


Hari sudah malam, aku mempersiapkan makanan di atas meja. Semua sudah rapi, lalu aku naik ke lantai atas memanggil suamiku untuk makan. Ketika aku dan suami turun, betapa kagetnya aku melihat meja makan sudah acak-acakan, makanan sudah berantakan tetapi vera yang berumur 8 tahun itu kelihatannya biasa saja dengan duduk manis di meja makan


“Vera!! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu nakal! Kenapa buat meja berantakan!” Kata suamiku dengan marah


“Pa, bukan aku. Tapi kakak”


“Kakak?? Sayang mana ada kakak di sini. Kamu gak punya kakak. Kamu jangan bohong, kamu kan yang buat semua berantakan?”


“Ma.. bukan aku, tapi kakak. Tadi kakak lapar”


“Jangan banyak alasan! Kakak itu gak ada! Masuk kamar!” Ucap suamiku dengan marah


Vera pun terisak, dan berlari menuju kamarnya


Keesokannya, aku buat sarapan untuk suami dan anakku. Setelah itu suamiku berangkat kerja dengan mobil. Tak lama setelah itu aku pergi ke taman belakang, menyiram bunga taman dan memberi pupuk


“BRUUUK SGGHHTVABJVA!”


Aku kaget, segera ku berlari ke ruang depan. Takut vera kenapa napa. Ternyata vera dengan santainya berdiri di samping vas bunga keramikku yang pecah


“Veraaa! Kenapa pecahin vas mama! Itu mahal ver!! Kamu nakal banget!!” Aku cubit dengan kuat bagian perutnya


“Hiks hiks.. bukan aku maa, tapi kakak. Kakak marah sama mama. Bukan aku hiks”


“Jangan banyak alasan! KAKAK ITU GAK ADA”


“Kak, jangan gitu sama mama”


Spontan aku menatap vera. Apa ini semua?? Beberapa saat, badanku baru normal kembali. Aku memeluk vera dengan erat dan mengajak ia tidur siang


Malamnya, setelah suamiku pulang. Aku menceritakan semua yang terjadi pada suamiku. Suamiku tak percaya.


“Mungkin kamu kurang istirahat. Berkhayal”


“Tadi itu beneran mas. di sini ada hantu. Vera bisa liat hantu!”


“Imajinasi kamu saja”


“Ya udah besok mas pasang cctv aja”


Suamiku mengangguk, menarik selimut dan tertidur


Aku dan suamiku menatap layar laptop dengan gelisah. Benar dugaanku, ada hantu di rumah ini lebih tepatnya di kamar vera. Aku dan suami segera ke kamar vera, menarik dia keluar dari kamarnya dan ingin segera keluar dari rumah ini. Tapi ketika aku menarik tangan kanan vera, tiba tiba ada yang menarik tangan kiri vera. Wajahnya putih, pakai gaun putih, rambut sepinggang hitam pekat, mata sembab, dan berkuku panjang. Vera menangis kesakitan dan ketakutan. Aku segera menariknya dengan kuat, menggendongnya dan membawanya pergi.


Aku, vera dan suamiku berhasil keluar dari rumah ini. Kami menuju mobil di bagasi rumah, masuk ke mobil, tapi tiba tiba saja mobil tak bisa dihidupkan. Perempuan pucat tadi sudah berada di depan mobil kami. Aku peluk erat anak dan suamiku di dalam mobil. Tangan suamiku dingin, badan anakku menggigil. Tak ada cara lain, kami harus berhasil menghidupkan mobil dan keluar dari rumah ini.


Perempuan itu terus mendekat ke pintu mobil, suamiku sekuat tenaga berusaha memutar kunci mobil dan akhirnya mobil bisa keluar. Tapi ternyata tak sampai disitu, pintu pagar tertutup. Aku takut. Suamiku turun dari mobil, membuka pintu pagar. Perempuan itu semakin mendekat ke mobilku. Tidak, mendekat ke suamiku. Ia memegang pundak suamiku. Dari lampu mobil, aku bisa melihat raut wajah suamiku yang telah berubah. Ia pucat pasi. Aku sadar itu bukan suamiku lagi.


Aku meletakkan vera di bangku samping supir. Aku dengan cepat ke di bangku supir, menyalakan mobil dan pergi dari rumah ini tanpa suami. Kulihat dari kaca spion, suamiku dan “perempuan” itu menatap kami. Vera menangis, aku tak bisa menghiburnya karena aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi