The Midnight

The Midnight
Tanpa Batas (4)



Setelah melakukan apa yang Raga sarankan. Kami pun melaju lebih kencang lagi. Kali ini benar, kami tidak berputar-putar di tempat itu. kami menemui jalan baru yang lurus dan seolah tanpa batas. Jalanan naik turun dengan liku-liku ekstrim di tengah hutan. Kami melintasi persawahan. Aku lega, agaknya kami akan memasuki perkampungan dan bisa menanyakan keberadaan tempat yang kami lintasi ini. Kebetulan di depan sana, ada sebuah pos kecil. Dan terlihat beberapa remaja membuat api unggun dan ada diantara mereka ada yang bermain gitar. Aku tancap gas. Saat hendak memasuki kampung itu, tiba-tiba kabut tebal datang dan membuat jarak pandang hanya beberapa meter saja. Setelah yakin dengan tempat di mana pos itu berada aku menghentikan mobil.


“Kok. Sepi, Ndre?” tanya Raga bingung. Aku juga bingung. Mata kami mengitari tempat kosong yang hanya di tumbuhi pepohonan karet atau rambung.


“Tadi kamu lihat pos dan anak-anak remaja ‘kan?” tanyaku pada Raga. Dia mengangguk. Glek. Raga menelan ludah karena takut.


“Kayakanya, kita belum aman, Ndre. Ayo kita maju lagi…” lirihnya dengan keringat yang semakin deras menetes. Air conditioner kendaraan ini seolah tidak berfungsi. Aku masih merasakan panas dan cemas. Takut dan limbung.


Dubrak! Gebraaaak! Taaar! Sontak aku dan Raga benar-benar panik dan kacau. Seolah mobil kami ini di serang dan di hantam benda keras oleh masa yang entah dari mana datangnya. Lebih aneh lagi, aku memang merasakan benturan benda keras itu di mobilku. Tapi tidak ada yang hancur atau lecet sedikitpun. Dan orang yang memukul mobil ini juga tidak kelihatan. Aku merinding. Segera aku tancap gas dan lari tunggang langgang meninggalkan tempat misteri itu. Tanpa batas. Itulah yang kerap aku rasakan.


Sejurus kemudian mobil menuruni jalan curam. Aku mengurangi kecepatan. Tiba-tiba mobil tidak seimbang seperti tergelincir seiring suara ledakan ban terdengar membahana di tengah hutan ini. Mobilku nyaris oleng dan masuk ke dalam jurang. Aku berhenti mendadak.


“Kayakanya ban mobilnya pecah, Ndre!” tukas Raga menatapku panik. Entah sejak kapan aku melihat wajah Raga yang berubah menjadi pasi dan dingin. Sepertinya dia ketakutan luar biasa. Mata Raga membuatku takut. Merah dan agak memar.


“Temani aku lihat, Ga?” pintaku padanya. Raga mengangguk. Lalu kami turun dari mobil bersamaan.


“Nggak ada yang pecah, bannya!” kataku setelah memastikan semuanya baik-baik saja.


“Aneh…” decak Raga memegang jidatnya. Ku kencangkan tali sweater merahku erat-erat demi menahan dinginnya angin malam. Aku dan Raga kembali masuk kedalam mobil. Ku nyalakan kontak.


Zeset Ztztztz Ztztztz. Tidak mau menyala. Ku nyalakan sekali lagi. Masih sama.


“Mogok, Ga!” aku menatap matanya. Nafas Raga menderu panik. Kami tersudut di tengah hutan. Di jalanan sepi dan hilang. Tanpa batas. Raga menggigil kedinginan. Aku melepas sweaterku dan ku biarkan benda itu tersemat di tubuhnya. Raga menyandarkan kepala pada jog mobil.


“Kalau kita nggak selamat. Gimana, Ndre?” lirihnya parau.


“Jangan ngomong kayak gitu. Berdoa, semoga Tuhan kasih jalan.”


“Semua orang akan mati. Tapi, kita masih bisa berusaha dan selamat kalau kita nggak di takdirkan mati di tempat ini.” kataku sambil mencoba menstater mobil. Ztztztztz. Ztztztztz. Nggak mau menyala.


“Kalau aku mati gimana, Ndre?”


“Sudahlah, Ga! Dari tadi kamu ngomongnya bikin aku takut aja. Sekarang banyak berdoa aja biar kita selamat.”


Hampir satu jam kami menemui kebuntuan di tempat itu. Raga tampak lelah dan wajahnya semakin pucat ketakutan. Dia tidak punya semangat lagi. Hujan turun semakin deras dan jalan berkabut. Aku lelah karena mobil ini tak kunjung menyala. Di saat aku dan Raga menemui keputus asaan. Dari kejauhan aku melihat ada bayangan rombongan orang yang datang dari arah barat menuju timur dan akan melewati mobil mogok ini. Aku tersenyum bahagia, bantuan segera datang. Alhmadulillah.


“Ga, lihat ada mobil…” kataku pada pemuda yang seketika itu juga bersemangat. Dia memperhatikan iring-iringan di depan sana. Mata kami seketika membulat. Rombongan yang aku kira adalah mobil atau kendaraan sepeda motor, tenyata rombongan itu membawa keranda mayat. Kurungan batang, dan peti mati yang sepertinya siap untuk di kuburkan. Aku membuka kaca jendela mobil perlahan, dengan senter pijar, aku menyinari rombongan itu.


“Astagfirullah…” kataku terkejut. Ternyata keranda mayat itu di pikul oleh rombongan manusia tanpa kepala dan di ikuti beberapa pocong di belakangnya. Kaki mereka melayang dan tidak menginjak aspal. Sontak aku merinding melihat kejadian itu. Hujan turun semakin deras. Dan aku penasaran dengan isi keranda yang tidak di tutupi ornamen kain berlafaz syahadat seperti biasanya. Lalu, terlihat sosok mayat di dalam keranda itu. Wajahnya familiar. Mayat itu seperti jenazah orang yang kami letakkan di dalam rumah tua di simpang jalan. Beruntung rombongan itu tidak menggangu kami. Aku terus memperhatikan rombongan itu melayang cepat dan pergi menuju utara. Mereka menghilang saat melintas ke arah jalan sempit dan hilang di dalam jurang. Aku bergidik.


“Mereka hantu, Ga!” kataku seiring melengos Raga.


“Astagaaaaahh!!!”


Betapa terkejutnya aku ketika melihat Raga telah berubah menjadi sosok mayat penuh dengan luka dan darah di sekujur tubuhnya. Matanya terpejam dengan wajah pasi menghadapku. Lalu disaat aku panik dan takut teramat berlebihan. Sebatang pohon tersambar petir dan jatuh menimpa mobilku. Gelap.


***


Sebulan aku siuman dari koma. Aku masih di rawat di rumah sakit Jati Asih. Tidak kusangka seorang pemuda meminta izin dokter guna menemuiku. Dia terlihat tampan dan gagah dengan jaket kulitnya yang berwarna hitam. Dokter mengizinkan dan mewanti-wanti agar aku tidak terlalu di ganggu karena masih dalam masa perawatan. Lelaki itu mengangguk. Kemudian dia duduk di sebelah ranjangku.


Aku dan lelaki itu terlibat obrolan panjang. Membicarakan kronologi kecelakaan yang menimpaku malam itu. Aku terkejut ketika lelaki yang ternyata polisi bernama Rudi itu adalah kakaknya Raga. Dan, sebenarnya dia menemuiku saat tahu rumah lama mereka di tempati seseorang. Yaitu aku. Rudi mejelaskan, adikanya meninggal setengah tahun yang lalu karena kecelakaan di jalan dekat pantai Selandri. Motornya ringsek dan saat ini ada di bagasi rumah yang ku tempati. Dan aku baru sadar, kalau Raga selama ini adalah arwah gentayangan yang ingin mayatnya di kubur dengan tenang. Rudi bercerita kalau sampai sekarang ini, mayat adiknya belum di ketemukan. Sontak aku teringat dengan kejadian mengerikan itu.


Aku memberitahukan Rudi di mana mayat Raga berada. Karena aku merasa orang yang kecelakaan itu adalah Raga. Dan pocong di jalan itu adalah raga. Lalu, mayat yang ada di dalam keranda itu adalah Raga. Hingga mayat yang selama ini ikut naik bersama mobiku juga Raga. Sehari setelahnya, Rudi dan anggota polisi lainnya berhasil menemukan mayat Raga yang telah menjadi tengkorak, lalu menguburkannya di TPU setempat. Rudi banyak berterima kasih padaku. Dia mempersilahkan jika aku mau menempati rumah itu sampai aku selesai kuliah. Di atas pemakanan Raga, aku melihat lelaki tampan tersenyum mengenakan gamis putihnya yang bersinar. Setelah itu dia menghilang. Aku dan Rudi berjalan meninggalkan pemakanan beriringan. Hal yang membuatku terkejut adalah, ketika tangan kasar keluar dari makam dan menarik tubuhku hingga aku masuk ke dalamnya. Di sana, aku melihat diriku telah menjadi pocong.