
Setelah semua di rasa cukup, aku mengambil kontak mobil seiring menggamit sweater merahku di atas ranjang. Aku pun keluar kamar seiring mengenakan sweater itu agak terburu-buru. Aku rasa Raga menungguku terlalu lama. Kasihan dia.
“Kok bawa helm, Ga?” tanyaku saat melihat pemuda itu menyandang helm di tangan kirinya. Dia hanya tersenyum. Garing.
“Pake mobilku aja…” lanjutku lagi.
“Nggak ngerepoti nih, Ndre?”
“Nggak, lah. Niatku juga tadi pake mobil, kok. Lebih save…”
“Oke deh, kalau begitu. Biar lebih mudah bawa aku-nya nanti.”
Sejurus kemudian aku dan Raga melaju dengan kecepatan sedang. Kami nyaris mendekati pintu gerbang komplek. Chiiiiiiit! Mendadak aku memijak rem saat teringat sesuatu. Sontak Raga tersentak dan menatapku kaget.
“Ada apa, Ndre?” tanyanya agak cemas.
“Sory, Ga! Dompetku ketinggalan…”
“Ya udah langusung berangkat aja, aku bawa uang kok.”
“Aku tahu. Tapi aku nggak biasa aja pergi nggak bawa apa-apa. Kita balik bentar yah?”
“Kalau langsung berangkat aja gimana? Aku lho yang traktir kamu…”
“Bukan masalah trakrtirannya. Bentaaaar, aja. Please.”
“Ya udah…” tukasnya dengan wajah agak kurang berkenan.
Sesampainya di rumah, aku hanya memarkirkan mobil di jalan aspal. Lalu membuka pagar dan berlari kecil menuju teras. Tanpa sengaja, aku melihat kearah bagasi rumah.
‘Kok, motor Raga jadi jelek gitu.’ Pikirku dalam hati. Warnanya agar pudar dan sepertinya motor itu seperti sering di bawa ngebut dan jatuh berkali-kali. Memang selama ini aku kurang memperhatikan barang-barang milik Raga. Tapi kalau motor aku sering lihat, dan tidak seperti sekarang ini kondisinya. Karena penasaran, aku mendekat. Benar. Motor Raga sepertinya sudah lama ringsek. Bahkan catnya mengelupas dan ada warna kusam di bagian tangkinya. Ah, mungkin karena malam saja jadi warnanya begitu. Aku membuka pintu dan langsung masuk kedalam rumah. Cuuusss. Sontak aku merinding dan sedikit parno ketika di sambut dengan wangi sesuatu. Aroma kantil dan melati memenuhi ruang tamu. Ada hal yang membuatku terkejut, agaknya rumah ini penuh dengan debu dan sarang laba-laba yang seolah jarang di tempati. Kata Raga, dia juga sering mendapati hal yang sama waktu pertama datang kerumah ini. Dan banyak cerita mistis yang membuat bulu kudukku berdiri dengan sendirinya. Brrrrrr! Segera aku mengambil dompet dan keluar kamar. Di ruang tengah, aku di kejutkan dengan suara lirih seorang lelaki yang minta tolong. Aku semakin merinding ketika suara itu mendekatiku. Tanpa sengaja, pandanganku tertuju pada foto Raga yang terpajang di bufet dengan memakai seragam SMA, tiba-tiba wajah Raga yang tampan dan berseri itu memudar dan jadi pucat pasi, lalu foto itu berubah menjadi foto yang penuh dengan bercak darah. Praaanngg! Foto jatuh dengan sendirinya. Aku berteriak dan segera berlari keluar.
***
Sorry lama…” kataku sembari masuk ke dalam mobil. Nafasku memburu.
“Nggak apa-apa. Emang tadi nagapain sih? Kok kayak berteriak gitu. Mana nafasmu ngos-ngosan lagi. Ngeliat setan?” tanyanya terkekeh. Seketika mobil melaju.
“Nggak, tadi aku nggak sengaja lihat motormu, kok agak aneh gitu, yah. Kayak berubah jadi jadul gitu…”
“Aneh gimana?”
“Kayaknya, motormu itu udah rusak. Tapi entahlah…”
“Oh, motor itu pernah jatuh, Ndre! Bahkan udah pernah buat orang celaka…”
“Celaka?”
“Ya. Motor itu di pinjam kakakku , terus nggak sengaja numbur orang sampai mati. Karena jalan sepi, kakakku kabur. Di rumah dia ceritain semuanya. Habis itu, aku sering apes bawa motor itu…”
“Waduh. Ngeri banget ceritamu…”
“Wkakakaka….” sontak aku terkejut saat Raga tertawa lepas karena menipuku.
“Kampret, kamu Ga! Bohong itu dosa…” kataku selagi menyetir dengan kecepatan agak kencang.
“Hal mistis apa?”
“Waktu aku masuk ke dalam, aku mencium bunga kantil dan melati. Terus, waktu keluar kamar, aku mendengar ada suara orang laki-laki merintih minta tolong, suara itu mendekati aku. Dan yang terakhir, aku lihat foto SMA-mu yang berubah jadi pucat dan jatuh sendiri. Hiiiii, aku merinding sampai sekarang….” kelakarku masih shock.
“Hahahaha, namanya rumah itu banyak hantunya.”
“Maksudmu?”
“Maksudku, itu rumah hantu, dan aku adalah hantu, hihihihihiii.” Raga memasang mimik menakuti-nakutiku dan ia tertawa lepas seperti setan. Begini, nih kalau kumat sarapnya. Raga terkekeh seraya mencubit pipiku. Aku jadi bad mood.
***
“Masih jauh tempatnya?” kataku sambil melihat sebuah mobil di depan sana yang tiba-tiba saja mengebut seperti menghindari sesuatu.
“Nggak terlalu jauh, paling lima puluh meter lagi…”
Aku dan Raga sampai di dekat jalan tikungan dan betapa terkejutnya aku saat melihat seorang lelaki terbaring jauh dari sepeda motornya dan kejang-kejang akibat susah bernafas.
“Ga. Orang itu kecelakaan. Gimana ini?” aku panik saat itu juga.
“Ayo, bantuin. Cepat…” Raga juga tak kalah paniknya denganku. Serta merta kami turun dan melihat sosok lelaki yang berlumuran darah itu tewas seketika di tempat itu juga. Pikiranku langsung tertuju pada mobil sedan yang melarikan diri tadi. Keparat! Dia tidak bertanggung jawab. Raga mendekati lelaki yang wajahnya tidak di kenali itu. Helmnya pecah dan menjadi serpihan kecil.
“Gi-gimana ini?” tanya Raga gemeteran.
“Kita bawa ke rumah sakit aja?”
“Jangan…”
“Jangan! Jadi kemana?” kataku panik.
“Kita bawa ke kantor polisi.”
“Kok, ke kantor polisi?!”
“Sepertinya aku kenal orang ini. Dia adik seorang polisi di Polres dekat kota.”
“Kamu yakin?”
“Yakin, Ndre, aku kenal plat motornya. D 1344 MH. Dia adik polisi bernama Rudi. Aku kenal sama Rudi.”
“Ya sudah, kita bawa dia kerumahnya. Cepat Ga, letakkan mayatanya di jog belakang…”
“Tapi dia banyak darahnya, Ndre! Nanti mobilmu kotor…”
“Bisa di cuci…”
“Bukan hanya itu. Kau dan mobilmu nanti bisa apes kalau bawa mayat…”
“Tahayul. Ambulance bawa mayat dan orang ninggal, tapi aman-aman aja. Udah lah, nggak usah banyak komentar, kita harus cepat bawa orang ini ke rumahnya. Terus kau segera hubungi kakaknya…”
“Tapi, Ndre…”
“Ahh, nggak usah tapi-tapian. Ayoh…”