The Midnight

The Midnight
Another



Hari ini aku mendengarnya lagi. Suara merdu yang sangat halus bahkan halusnya membuaiku ke dalamnya dan ikut merasakan perasaan pilu. Rasanya sesak ketika ku dengar kata perkata dari lirik tersebut, aku tak bisa menahan suara tangisan hati ini, ini membuatku ikut sakit dan hanyut.. rapuh, lemah, tak berdaya, teriakan hati yang tak tersampaikan yang seakan membawaku pada kematian.


Suara itu terus ku dengar sejak aku masuk sekolah beberapa bulan yang lalu, ingin rasanya ku cari sumber suara itu tapi setelah aku mengetahui bahwa hanya aku yang mendengarnya, ku buang jauh jauh niat itu. Aku memilih diam dan memakai headseat dengan volume keras jika mendengarnya lagi. Ku tanyakan pada teman-teman temanku, tapi mereka tak mendengar apa pun akibatnya aku dianggap aneh dan dungu, karena terlalu sering memakai headseat dengan volume keras. Bahkan aku duduk di sudut kelas seorang diri.


Aku mendengarnya. Aku benci nyanyian itu! Suara pilu itu.. tolong percayalah. Jika tak ada yang percaya juga, tak apa tapi buatlah aku tak mendengarnya juga. Aku terlalu takut untuk merasakannya seorang diri. Mataku cukup lelah menghadapi hari-hari muram seperti ini. Aku ingin tidur sejenak. Dengan alunan lagu melow yang membawaku jauh ke alam mimpi. SRAT.. aku melotot dengan bibir terkatup kaku.


“Hah!”


Pekikku kaget seraya menggertak bangku dengan tiba tiba, teman sekelasku menatap heran ke arahku yang berteriak dengan kencang, tidak! Aku tak asal berteriak, aku melihat sesuatu! “di sudut kelas!” teriakku takut. Teman-temanku melirik ke arah sudut kelas juga, tepatnya sudut seberangku namun mereka bertingkah seolah tak melihat apa pun. Mereka menggeleng pasrah seakan aku ini memang orang gila atau indigo yang sudah sinting.


Sosok itu menunduk hingga kepalanya menyentuh meja, rambut panjangnnya yang kering menyentuh lantai dan berserakan ke mana-mana, punggungnya bungkuk dan bengkok, tangan tangannya menggantung lemas seperti tak bertulang. Baju seragamnya dilumuri darah dengan jijiknya. Sosok itu bergerak dengan kaku seolah tulang-tulangnya patah, perlahan ia mendongak dengan otot lehernya yang kaku. Ia hendak mendongak menampakkan wajahnya, aku menutup mulutku lalu berlari ke luar kelas tanpa sepatah kata pun.


Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Aku tak peduli orang bicara apa. Aku sudah melesat sejauh mungkin dari kelas. Headseatku jatuh entah ke mana saat aku berlari. Aku benar-benar tak bisa berpikir lagi! aku pusing dan ketakutan. Aku berhenti di depan tangga menuju lantai tiga. Aku terduduk dengan wajah berkeringat. Napasku ngos-ngosan dengan batuk luar biasa sakit karena tiba-tiba berlari. Aku yang duduk membelakangi tangga pun mual hingga rasanya ingin muntah. Jam pelajaran membuat lorong sepi, meski ku pikir tadi ada beberapa murid, tapi.. ruangan ini jadi senyap, sepi, dan cukup gelap. Rintikan hujan yang menghentak atap sekolah terdengar seperti menghardik dan mengerumuniku.


TIDAK!


Aku mendengarnya lagi! suara itu lagi! Nyanyian pilu itu ku dengar lagi sakit.. itu menusuk telingaku. Alunan biola itu menyayat hati seakan menarik jiwaku ke luar. Aku melirik sekitar dengan seksama, lorong kosong yang sepi. Jendela mulai bergetar karena gemuruh dan petir yang menyambar beberapa kali, aku menahan napas menyimak baik-baik suara yang ku dengar. Bukan hanya nyanyian setan yang membuatku terdiam bagai patung sekarang. LANGKAH KAKI!!! AKU YAKIN AKU MENDENGARNYA seseorang yang berjalan di tangga dengan terseok-seok. Sangat perlahan, namun membuatku ngilu! Suara-suara seperti tulang yang patah terdengar setiap tangga dilewati, suara kaki yang diseret dengan sukar.


Keringat dingin mengalir lagi di sekujur tubuhku. Langkah kaki itu semakin dekat! hingga akhirnya hawa dingin itu ku rasakan tepat di belakang tubuhku, tepat di tempatku terduduk di depan tangga. Tubuhku gemetar luar biasa. Bulu kudukku berdiri.. bukan! Itu bukan karena hawa dingin yang membuatku merinding tapi, rasa geli hingga tulang ini adalah rambut-rambut kering yang mulai menempel di punggungku, kemudian merambat ke leherku, aku yang terus menunduk dengan mata nyaris ke luar bisa merasakanmya! Dengan jelas. Dia sekarang menunduk di atas kepalaku! rambut rambutnya menyentuh dahiku! Darahnya menetes hingga pipi dan bibirku, darah berbau busuk.


Napasku bagai pasir dikeruk. Tangan-tangan pucatnya merambati lenganku. Tangan yang sangat pucat dan kering, terasa bagai es saat jari jarinya menyentuhku, ia akan memelukku! Kepalanya kini ada tepat di punggunggku! Aku tak berdaya tubuhku kaku aku tak bisa bergerak! aku terus berdoa dengan jiwa terguncang. Sungguh jantungku akan copot! Tuhan! “PERGI!!” teriakku sekuat tenaga, “pergi dariku!!” teriakku ketakutan seraya menutup wajahku aku pun menagis histeris. Tangan-tangan itu pergi.. hawa dingin itu pun tak ku rasakan aku terdiam memastikan jika mahluk itu memang sudah pergi.


“Hei..” panggil seseorang padaku. Aku terkejut. Perlahan ku buka mataku yang berlinang air mata, ia benar hilang. Sosok itu menghilang dan kini aku melihat sepasang kaki bersepatu di hadapanku. Aku pun mendongak menatap murid yang ada di hadapanku dengan lega. “kau kenapa? Butuh bantuan?” gadis itu mengulurkan tangannya. Aku merasa sangat lega dan menghapus air mataku, meski tetap mengalir. Aku menjabat uluran tangannya, gadis itu tersenyum padaku.


“Ada apa? kau seperti ketakutan begitu?”


“A.. aku! A.. aku melihat hantu! Sungguh! Ada hantu di sekolah ini! Teman-temanku tak percaya ada hantu di sekolah ini! mereka pas–” aku berhenti melanjutkan ceritaku, ku lirik tangan gadis itu, tangannya sedingin es, genggamannya sangat kuat hingga ku rasakan sakit, “maaf tanganmu ap–” kataku terputus lagi. Aku menatap ngeri wajah gadis itu. Aku menelan ludah getir dengan mata terbelalak. Seluruh tubuh gadis itu menjadi merah berlumuran darah. Kulitnya terkelupas dengan banyak sayatan di sana-sini. Kelopak matanya sobek dan matanya melongo. Gadis itu menyeringai padaku dengan bibirnya yang setengah sobek.


“Hantu seperti ini katamu?” dia melesat tepat di depan wajahku. Di depan wajahku. Aku menatap tetesan darah dan matanya yang melongo nyaris copot.


“Ha.. ah.. AAAA!!!!” jeritku seraya memberontak melepaskan tanganku. Namun percuma, ia menggenggamku dengan kuat. Ia terus menyeringai dengan bibir sobek yang memperlihatkan gusi dan jejeran giginya yang rapi serta besar, “kabur pun kau akan seperti kami.” Bisiknya seakan senang. Aku semakin memberontak ketakutan.


“JANGAN! TOLONG! PERGI!”


“PERGI DARIKU!!” jeritku.


“Misa?! Misa sadarlah Misa?!” panggil guruku dengan wajah kebingungan yang melihatku memberontak ke sana ke sini seperti orang gila. Murid lainnya heboh berlari melihat yang terjadi padaku yang sudah gila bak anjing rabies ini. Aku menangis histeris dan menangkis tangan guruku, “jangan mendekat!”


“JANGAN MENDEKAT!”


“JANGAN SENTUH AKU!”


“TIDAK!” teriakku.


Benarkah ini? Bahkan tak ada yang memanggilku untuk kembali, setidak peduli inikah mereka padaku? aku tak percaya! aku sungguh melihatnya, sekolah ini tak beres. Aku tak mau! Aku ingin ke luar. Aku berlari ke luar sekolah dengan ketakutan. Aku berharap tak akan memasuki sekolah terkutuk itu lagi sungguh! Aku berjalan dengan lesu, kedinginan dan ketidakberdayaan menyelimutiku. Aku terdiam di depan penyeberangan. Lampunya masih merah. Aku menatap kosong jalanan, “Kenapa lama sekali lampu hijaunya..” lirihku. Aku mendongak melihat lurus ke seberang. Melihat seorang siswi SMU berjalan dengan tatapan kosong ke tengah jalan. Mobil yang masih berlalu lalang tak ia hiraukan. Aku berteriak padanya ketika truk besar hendak menubruk tubuhnya aku berteriak.


BRUKK!!


Tubuhnya tertubruk hingga terpental ke pinggir trotoar aku menjerit mendekatinya, “TOLONG!” teriakku dengan wajah panik. Astaga apa lagi ini! Ku mohon berhenti membuat nasib buruk padaku apa lagi yang terjadi. Aku duduk di sampingnya yang sudah berlumuran darah di sana-sini. Setengah wajahnya terluka akibat tersungkur di aspal. Aku berteriak minta tolong. Gadis yang sudah nyaris sekarat itu meraih tanganku dan membuka matanya. Aku menatapnya dalam-dalam. Ia tersenyum padaku.


“Orang lain tak bisa melihatku ka..”


“Ha?” dia tertawa dengan mata tertutup, “apa maksudmu ap–”


BIP BIP BIP! Klakson mobil membuatku beralih padang dengan mata terbelalak. Aku tak bisa berkata apa pun lagi untuk berteriak. Aku menutup mataku dengan napas tertahan. BRUKK! Tubuhku kini terkapar tak berdaya.. di pinggiran jalan dengan darah segar yang mengalir dari kepala dan hidungku, senangkah dunia? Aku tersenyum dengan lemas. Kini tubuh orang-orang yang mengerumuniku menghalangi langit gelap dan nyeri yang ku rasakan. Tapi aku tenang, setidaknya orang masih menganggapku ADA! Dan pastinya butuh pertolongan orang lainnya.


Benar.. yang membuatku ketakutan dan kesepian karena aku selalu sendirian. Bukan karena sosok-sosok itu yang membuatku takut dan merasakan kesunyian hidup tapi aku yang dianggap aneh dianggap tak ada sama seperti sosok-sosok itu yang juga dianggap tak ada. Makanya mereka mengusikku tanpa ampun.. itu hanya karena aku yang lain tak melihat dan mereka tak dianggap! Aku juga ingin dianggap ada.


Aku memulai hari baru. Aku bersemangat berangkat ke sekolah. Aku pun masuk ke dalam kelas dengan ceria, meski teman-temanku terlihat agak murung hari ini. Mungkin karena mendung jadi tak bersemangat. Aku pun duduk di bangkuku seperti biasa. Airin pun duduk di bangku sebelahku.


“Hiks.. Hiks..” Ia menangis tersedu sedu seraya memeluk mejaku, “maafkan aku.. ini semua salahku!” tutur Airin sedih, “tak apa.. bukan salahmu, aku sudah memaafkanmu kok.” aku tersenyum namun Airin tetap menangis dan menyalahkan dirinya terus. Shiro pun datang menghampiri Airin dengan wajah kesal namun berlinang air mata.


“Sudahlah! Dia memaafkan! Kau tak perlu terus menerus nangis sepeti itu!” Shiro menghapus air matanya “Misa meninggal karena tak kita cegah..” Airin terisak-isak.


Aku terdiam dengan wajah tak percaya, “aku? Meninggal?! Aku di sini! jangan bercanda!” ralatku heran. Shiro ikut menangis, “aku tak menyangka dia menabrakkan dirinya ke sebuah truk! kita bukan teman yang baik..” keduanya pun terisak. Aku menganga dengan wajah pucat aku mengerjapkan mataku. “TIDAK! Ini aku! Misa! Hei ini aku! Kalian tak lihat aku! Shiro! Airin!” teriakku. Aku menepuk Airin tapi tanganku menembus tubuhnya! aku menatap kedua tanganku, dengan tak percaya.


Ku terus coba menyentuh mereka namun aku tetap tembus dan hanya bisa melambai lambai di hadapan mereka. “Tidak! Aku belum mati! Belum! Tidak mungkin.. tidak!” jeritku seraya bangkit dari kursi. Aku meneriaki teman-teman kelasku tapi tak ada yang dengar. Mereka semua bersedih dengan foto dan karangan bunga di meja guru. Itu fotoku! Aku benar mati.. ti-tidak mungkin “TIDAK!!!” aku terduduk dan terus menagis di lantai. Sosok-sosok itu memelukku dari belakang aku terus terisak menyadari aku kini seperti mereka.


“dinginnya salju kini terasa bukan apa-apa dibanding dinginnya wajahku.. yang kaku tak berwarna..”


“suara salakan anjing ku terpa dengan tangisanku.. tatapanku mengalihkan seluruh dunia dalam ketakutan..”


“siapa yang akan memberikanku uluran tangan sekarang? bahkan tanganku saja tak ada..”


“Gadis bisu ini tak akan bisa bernyanyi lagi.. suaranya direnggut oleh batas kian besar.”


“Telinganya habis digerogoti untaian-untaian doa.. serta kutukan-kutukan..”


“Gadis ini tak bisa berlari lagi! kakinya membusuk dimakan waktu..”


“Bagaimana bisa kau menggapaimu? aku hanya ingin bisa bersamamu selamanya berada dalam bayanganmu..”


“di sini.” Gadis ini kini tertawa dengan linangan air mata, ia bernyanyi di atas pangkuan jasad-jasad tak bernyawa yang memebelai rambutnya yang mulai rontok. Nyanyiannya terus terdengar hingga suatu saat seseorang melihatnya dan akan mengantikannya.