The Midnight

The Midnight
Gudang Misterius (2)



Di dalam keheningan ini, tiba-tiba seorang nenek masuk ke ruang inapku yang mengagetkan kami semua.


“apa yang dikatakan syasya itu semuanya benar-benar dia alami” kata nenek itu membelaku


“nenek siapa?” tanyaku


Nenek itu terdiam beberapa detik dan semua mata tertuju pada sang nenek untuk mendengar penjelasan nenek itu.


“Apakah nak Diki dan rio ingat kenapa kalian bisa menemukan Syasya di dalam gudang itu?” sang nenek malah bertanya pada Diki dan Rio


“akuuu… ya selama seminggu hilangnya syasya aku selalu bermimpi, bahwa syasya meminta pertolonganku dan suara syasya selalu berasal dari gudang itu, aku tak mengerti dengan mimpiku itu. setelah dua hari berlalu aku mencoba untuk memecahkan hilangnya syasya ini, sedikit demi sedikit aku mencari informasi dari orang-orang yang terakhir melihatnya.


Pertama-tama aku bertanya dengan teman-teman kelasku, dan akhirnya ada yang menjawab kalau syasya setelah besih-bersih pergi ke luar untuk membeli cappucino cincau. Kedua aku pun menanyakan teman-teman kelas lain. namun susah juga mendapat informasi itu karena tidak semua kelas XII mengenal teman seisi sekolah ini, hingga akhirnya ada seorang adik kelas mengatakan bahwa syasya sedang berbincang-bincang dengan ibu sella di depan kelas. Aku pun langsung menanyakan hal tersebut kepada ibu sella. Ketika aku bertanya pada bu sella, bu sella tampak kebingungan karena pada hari sabtu hilangnya syasya tersebut bu sella tidak hadir ke sekolah karena anaknya masuk Rumah sakit. Dari situlah ada hal yang mengganjal pikirku. Aku pun mencari informasi lagi dari teman-teman yang lain. aku pun menemukan Booby temanku XII Ips 2 yang kelasnya paling pojok, kata Bobby sabtu hilangnya syasya tersebut dia melihat syasya pergi sendiri menuju gudang belakang sekolah. Karena bobby penasaran dia pun mengikuti syasya dari belakang tanpa sepengetahuan syasya. Namun, bobby kehilangan jejak syasya karena dia tersandung batu. Setibanya di depan gudang, gudang tersebut masih tekunci rapat. Tapi tak ada syasya disana padahal tak ada jalan lagi setelah gudang ini tutur bobby dia pun kembali kekelasnya. Dari situlah aku berpikir keras dari informasi yang kudapatkan hingga malam minggu itulah aku memberanikan seorang diri menuju gudang itu, ternyata aku mendapatimu tak berdaya dan tak lama aku menemukanmu datanglah Rio” jelas diki sedetail mungkin


“iya sya, aku juga mendapat informasi dari bobby seperti itu, awalnya aku tak percaya kamu berani datang ke gudang terlarang itu, namun rasa penasaranku menjadi-jadi hingga aku berencana malam minggu datang ke gudang itu seorang diri, takutnya kamu bener-bener berada di dalam gudang itu. sesampainya aku disana, gudangnya terbuka langsung saja aku berlari ke dalam mengeceknya. Kudapati diki dan kamu disana.” terang rio padaku


“dan juga aku menemukan secarik kertas terjatuh dari tubuhmu, dan kubaca kertas itu sepertinya nomor buku yang ada di perpustakaan. Keesokan harinya aku pun ke perpustakaan dan mencari buku sesuai dengan nomor yang tertera di kertas itu dan aku pun menemukan buku ini” rio memberikan buku yang terlihat sangat kusam padaku


“sepertinya sebuah album” sahutku pelan.


kubuka perlaham-lahan album itu. dan aku tersontak kaget ketika aku menemui sebuah foto yang mirip sekali dengan pak Joko susanto yang kutemui di gudang itu. kubaca album ini, pak Joko susanto adalah seorang tukang kebun sekolahku dua puluh tahun yang lalu, dia dinyatakan tewaas mengenaskan di gudang sekolah.


Aku kaget dan menjatuhkan album foto itu


“sya kamu kenapa, mukamu tampak pucat?” Tanya diki panik


“aaakuu.. aku..” aku terbata-bata dan tidak bisa meneruskann perkataanku


“sekarang kamu sudah mengerti kan gadis kecil yang cantik?” Tanya nenek padaku


“entahlah, aku bingung nek” sahutku dengan lemas


“aku adalah kepala sekolah SMA Bina Bangsa dua puluh tahun yang lalu. Dan aku memiliki kemampuan untuk membaca dan melihat keadaan seseorang serta dapat melihat makhluk-makhuk berbeda alam dengan kita.” terang sang nenek


“shintia, apakah kamu masih mengingat kejadian dua puluh tahun yang lalu di SMA Bina bangsa tepatnya kejadian di Gudang itu? itulah alasanku untuk melarang semua orang datang kesana dan menguncinya rapat-rapat”


“aku tak tau persis bagaimana kejadian itu bu” sahut mamahku


“shintia apakah kamu masih mengingat sahabatmu?” Tanya sang nenek lagi


“iya bu, sahabatku Dilla kan?” sahut mamah tampak sedih


“dilla sahabatmu yang mirip denganmu itu pacaran dengan Dion. Karena itu Tary anak pak Joko tidak terima. Dion memutuskan hubungannya dengan tary dan memilih dilla sahabatmu. Semenjak itulah dilla selalu dibully di gudang itu oleh tary tanpa sepengetahuanmu. Pada waktu itu tepatnya hai sabtu ketika kamu mendapat jadwal piket bersih-bersih kelas, dilla pun meminta izin pulang duluan denganmu. Ketika dilla ke luar kelas tary menyergapnya dan membawa dilla ke gudang belakang sekolah. Tary meluapkan kemarahannya dan berencana untuk membunuh dilla. Dia ingin menancapkan pisaunya ke tubuh dilla namun dilla menangkisnya hingga pisau itu tertancap di tubuhnya sendiri. hingga tary pun kehilangan nyawanya sendiri karena banyak kehabisan darah. Dilla bingung, takut dan histeris. Dia pun berlari sekencang-kencangnya meninggalkan gudang itu, ketika dia ke luar dari gudang, dia berpapasan dengan istri pak joko. Istri pak joko sempat melihat wajah dilla dengan kebingungan. Ketika istri pak joko masuk kegudang dia menemukan anaknya tak bernyawa dan dia mengambil kesimpulan bahwa gadis yang berpapasan dengannya tadilah yang membunuhnya. Dia tidak terima dan berusaha balas dendam.


Dilla selalu diteror oleh istri pak joko dan sempat dilla dibawa ke gudang untuk dibunuh oleh istri pak joko namun pak joko yang menyelematkan dilla lah yang tewas waktu itu. dilla pun diminta pak joko untuk menyelamatkan dirinya.


Karena kejadian-kejadian yang dialaminya, dilla pun mengalami gangguan jiwa dan dibawa ke rumah sakit jiwa oleh orang tuanya, dan hingga sekarang dia masih bertahan di rumah sakit itu. istri pak joko terus mengganggu dilla dan mencari keberadan dilla.


Setelah lima tahun telah berlalu Ketika dirumah sakit dia melihatmu melahirkan, dia mengira kamu adalah dilla. Karena wajahmu dan dilla mirip. Ketika anakmu lahir, diam-diam dia menukarkan anakmu dengan anak lain yang tak bernyawa, sehingga dokter, kamu dan suamimu mengira anakmu telah tiada.” terang sang nenek panjang lebar


“tungggu bu, istri pak joko menukarkan anakku?” mama tersontak kaget dengan penjelasan sang nenek


“iya, dia telah menukarkan anakmu, anakmu dia titipkan di panti asuhan dan dia diadopsi oleh orang lain, dan sekarang dia masih hidup”.


Kali ini aku, mamah dan adikku tersontakk kaget. Aku sangat kaget bahwa aku memiliki kakak. Nenek pun meneruskan ceritanya.


“anakmu tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan cerdas dan baik hati. Dan dia sekarang berada sangat dekat dengan kalian. Setelah istri pak joko menukarkan anakmu dan menitipkannya ke panti asuhan dia sangat senang dan ke luar dari panti asuhan itu tanpa memperhatikan jalan hingga mobil truk menabraknya dia pun tewas di tempat. Namun, arwahnya masih bergentayangan mengganggu anakmu syasya”. jelas nenek dan menatapku iba


“kenapa dia menggangguku dan ingin membunuhku nek, dia pernah mengatakan padaku kalau aku harus mati di tangannya?” sahutku dengan rasa kepoku.


“karena wajamu mirip dengan dilla dan mamahmu dimasa SMA dulu, hingga api kedendaman arwah istri pak joko itu pun berkobar lagi dan ingin membunuhmu. untungnya syasya sudah memusnahkannya. buang botol itu ke sungai” terang nenek


“dimana keberadaan kakak pertamaku nek, kata nenek kan dia sangat dekat dengan kami” Tanya sylsia


Semua mata pun kembali tertuju pada sang nenek…


Nenek pun mengambil napasnya dalam-dalam barulah dia melanjutkan pembicaraannya.


“apakah syasya dan Nak Diki tidak merasakan ikatan batin dan tidak menyadari wajah kalian itu mirip?” kata nenek yang membuatku dan diki saling beradu pandang dengan kebengongan.


Setelah beberapa detik aku dan diki beradu pandang, diki pun angkat bicara.


“maksud nenek apa, aku tak mengerti?” sahut diki agak heran


“kamulah kakaknya syasya yang ditukarkan oleh istri pak joko tersebut” sahut nenek singkat, padat dan berisi.


Suasana tampak hening tak ada satu pun yang angkat bicara, kami semua saling adu pandang.


“nek, nenek jangan asal ngomong dong, aku bukan kakak syasya, aku dan syasya terlahir berbeda Rahim. Aku anak chika dan toni. Aku bukan kakak syasya, aku adalah orang yang meyayanginya, aku sangat mencintainya, sangat mencintainya nek. Jangan katakan itu ku mohon jangan katakan itu, itu membuat hatiku terluka nek” bentak diki dengan linangan air mata.


“jika nak diki tak percaya, kamu boleh Tanya sama orang tua asuhmu, apakah dia melahirkanmu atau mengadopsimu. Kalau kamu mau kamu juga bisa melakukan tes DNA” usul sang nenek


“dik, yang sabar yah.” pintaku dengan membelai rambutnya untuk menenangkannya.


Dia tidak menggubris perkataanku, dia langsung ke luar meninggalkan kami semua.


Dua hari kemudian aku pun diizinkan oleh dokter pulang ke rumah. Papah pun juga langsung pulang cepat dari kerjanya. Sepertinya mamah sudah menceritakannya pada papah.


“kak, bagaimana keadaan kak diki yah?” adikku memecahkan lamunanku.


“aku juga gak tau syl, aku takut menghubunginya. Untuk saat ini biarlah dia menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Besok, di kelas kucoba mengobrol dengannya”.


Keesokan harinya aku pun berangkat sekolah dengan sylsia diantar oleh sopir pribadiku, pak sudirman. Sesampainya di kelas, aku tak menemukan diki. Tampaknya dia masih terpukul dan tidak bisa hadir ke sekolah pikirku.


Sepulang sekolah, aku, rio dan sylsia diantar pak sudirman ke rumah diki. Ternyata diki tidak pulang ke rumah selama dua hari ini kata ibunya, dia menghilang dari rumah setelah mengetahui kebenarannya. Orangtuanya sangat panik. Aku pun meneleponnya namun tidak diangkatnya. Kukirim banyak sms padanya namun tak satu pun dia balas.


“oh tuhan, kemanakah kamu dik, aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Kumohon pulanglah dik. Aku sangat menyayangi dan mencintaimu sebagai sahabat dan kali ini aku bener-bener menyayangi dan mencintaimu kak diki. Kumohon kembalilah” pintaku hingga meneteskan air mata.


“sya, tenang yah. diki pasti pulang kok. Kamu jangan nangis gitu dong jelek tau. My princess and my lovely gak boleh nangis gitu, gak asik ahh” canda rio


“my princess and my lovely apaan sih kamu yo, canda mulu” ledekku


“sya, aku seirus nih. Kamu itu my princess and my lovely. Aku juga sayang dan cinta sama kamu seperti diki mencintaimu” tutur rio


Sssst aku tersontak kaget menndengarnya.


“kita pulang ke rumah aja yuk” ajakku


Rio diem dan akhirnya mengikuti langkahku.


Setibanya di rumah, aku mendapati Diki bersama mama dan papa, mereka saling berpelukan. “Sepertinya diki telah menerima kenyataannya dan menerimaku sebagai adiknya” pikirku tersenyum


“Syasya, sylsia, Rio, ayoo masuk. Jangan bengong kaya gitu, yukk duduk disini” panggil mama


Kami pun duduk di ruang tamu, sesekali aku memandang diki yang tampan yang sekarang dia adalah kakak kandungku.


“heii, ngapain kamu mandang aku senyam-senyum kaya gitu, nanti kamu jatuh cinta sama aku loh” canda diki padaku


“enggak kok, aku baru menyadari aja muka kita itu ternyata mirip ya. Bedanya kamunya tampan dan akunya cantik” pujiku


Semua orang tertawa melihat tingkah konyolku.


“iya sya kamu cantik banget, sampai-sampai aku jatuh cinta sama kamu” sahut rio santai


“ciyeee ciyeee ciyeee, kak rio nembak kak syasya yah, terima gak ka syasya?” Timpal sylsia tanpa memperhatikan perasaaan diki.


“ehemmm” diki berdehem


Aku pun langsung menatapnya dan tersenyum manis untuknya.


“ihhh apaa-apaan sih sylsia, aku dan rio kan dari dulu hingga sekarang Cuma sahabatan, iya kan kak diki?” lirikku pada diki


“entahlah” sahutnya ketus.


“oh iya tadi bu chika sangat khawatir sama kamu dik, setidaknya kamu harus menghubunginya dulu sana” timpal rio.


“okey rio” sahutnya singkat.


Suasana sekarang tampak nyaman dan damai, ditambah lagi diki oh iya kak diki menjadi bagian dari keluargaku.


Aku, rio dan kak diki pun duduk di Taman rumahku saling dia-diaman.


“kak diki, makasih ya sudah mau menjadi kakakku, aku sayang dan cinta sama kakak” kucubit pipi kanan diki.


“ihh apa-apaan sih cubit-cubit gak jelas, iya aku lagi proses untuk menyayangi dan mencintaimu sebagai adikku serta aku juga berusaha mengikhlaskanmu untuk si bocah tengik di sampingmu itu” ledek diki pada rio


“apa kamu bilang, bocah tengik? Emang aku bocah apa?” sahutnya tak mau kalah


“udah-udah kalian berdua orang yang berharga dalam hidupku jadi jangan bertengkar karena aku, aku akan berusahan menjadi adik terbaik untuk kak diki dan berusaha menjadi sahabat terbaik untukmu rio” tuturku dengan senyuman


“denger tuh sahabat.. sahabat..” ledek diki


“sahabat aja nih ceritanya sya, bukan pacar gitu” pinta rio cemberut.


“mendingan aku jadiin sahabat kan daripada musuhku” ledekku pada rio


Kami pun bercada ria. Dan kak diki memutuskan untuk tinggal bersama kami. Keluargaku pun tambah harmonis dan hidupku pun tambah bahagia.


The end