
Berikut adalah salinan dari buku catatan yang ditemukan di Rumah Gagak pada tanggal 21 Maret 2014 atas nama Sarah Lenora.
Rabu, 9 Januari 2014
“Sarah, kita akan pindah besok lusa.”
Papa mengatakannya padaku semalam. Ringan saja. Seakan bagi Papa berita itu tak lebih dari sekedar headline surat kabar yang selalu dibacanya tiap pagi atau topik ringan yang bisa kami bicarakan saat makan malam keluarga. Aku bertanya kenapa begitu mendadak. Papa cuma memandangku dalam diam sebelum berbalik dan pergi. Ku tarik punggung kemejanya dengan kasar, tapi samar-samar ku dengar suara terisak dari dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit di samping kami. Suara Mama. Saat itu baru aku sadar kalau aku… kami, tidak punya pilihan lain. Rumah ini benar-benar akan disita karena kasus itu.
Protes pun sudah tak ada gunanya lagi. Ku lepaskan kemeja Papa dengan perlahan sebelum masuk ke kamar Nanda. Anak itu pasti bingung melihat mata kakaknya yang baru saja lulus SMA ini berkaca-kaca, dan pasti jadi lebih bingung lagi saat ia ku peluk begitu erat sambil menangis. Kenyataan tak bisa lebih jelas dan menyakitkan lagi. Kami harus pindah. Tadi pagi Mama memintaku membantunya memasak. Aku rasa dia berusaha sekuat mungkin agar aku dan Nanda tidak merasakan ada sesuatu yang berubah mengingat kami semua akan pindah besok lusa. Kata Bunda kami harus bersyukur karena tiba-tiba saja seorang saudara jauh Ayah menelepon dan mengatakan bahwa kami ada sebuah rumah di Yogyakarta yang bisa kami tinggali sampai semua masalah ini selesai.
“Rumahnya seperti apa nanti?” tanyaku saat membantu Bunda merapikan pakaian Nanda ke dalam koper.
“Gede kok Sayang. Mama baru lihat fotonya doang sih, tapi yang jelas jauh lebih gede dari rumah kita sekarang.” Mama menjawab pertanyaanku dengan antusiasme yang nampak dipaksakan. “Kamu sama Nanda bakal kerasan kok di sana.”
“Dari kota Jogjanya jauh nggak? Aku denger dari Papa katanya tempatnya di Kaliurang…” Bunda berhenti melipat pakaian lalu dengan lembut meletakkan kedua tangannya di pundakku.
“Tempatnya memang agak jauh sih dari kota, tapi bukannya gitu bisa jadi lebih asyik? Kamu sama Nanda bisa jadi kayak liburan terus tuh. Pemandangannya bagus banget loh. Rumah itu sebenarnya bukan rumah, tapi villa punya Om Chandra dulu. Keren banget nggak tuh?”
Aku hanya membalas tatapan Mama dengan senyum kecil. Entah karena aku merasa tak tega melihat sikapnya yang berusaha keras nampak kuat dan tegar, atau karena memang ada ketenangan dari kata-kata itu. Mungkin memang semuanya tidak terlalu parah. Aku tahu semua ini pasti berat bagi Papa dan Mama, jadi hal yang setidaknya bisa ku lakukan adalah dengan bersikap positif. Omong-omong seingatku Om Chandra meninggal tiga tahun yang lalu. Gantung diri. Aku jadi merasa tak nyaman dengan pikiran akan tinggal di bekas properti seseorang yang bunuh diri, tapi toh aku juga tak yakin.
Rumah ini jauh lebih besar dari yang ku bayangkan! Rumah dua lantai yang kebanyakan dibuat dari kayu lengkap dengan ukiran-ukiran geometris yang indah. Hutan pinus yang mengelilingi lanskap rumah membuat bangunan dengan arsitektur kolonial ini seperti kabin yang ada di daerah Alaska (minus kebun Salak yang ada di samping rumah). Nanda langsung menyebutnya ‘Rumah Sherina’ waktu kami tiba pagi ini. Mungkin karena pohon-pohon pinus yang tinggi dan tua di sekeliling rumah mengingatkan anak itu dengan villa di Petualangan Sherina. Syukurlah. Aku sempat khawatir kepindahan kami yang mendadak ini akan berefek negatif pada anak berusia lima tahun seperti Nanda. Tapi anak itu kelihatan senang. Bersemangat malah. Ia bahkan terus menerus menunjuk-nunjuk loteng lantai dua seakan ada seseorang di sana.
“Sarah kamu mau tidur di mana?” tanya Papa sambil menarik dua koper berat melewati pintu depan. Rumah itu sedikit lembap dan apak di bagian dalam. Mungkin karena sudah lama tidak ditempati. Pemilik sebelumnya dengan baik sudah meninggalkan beberapa perabotan utama seperti sofa, meja, dan tempat tidur. Kesemuanya dilapisi plastik tahan air dan kain putih sebagai pelindung. Rumah itu juga cukup bersih dan terawat. Aneh rasanya mengingat siapa pun yang disuruh menjaga rumah selama ini tidak ikut menyambut kedatangan kami. “Di atas ada kamar yang cocok buatmu kayaknya.” Mama muncul dengan setumpuk kardus berisi buku dan CD musik koleksinya. “Nanti Nanda biar tidur di kamar sampingmu.”
Kami menghabiskan sisa hari itu untuk menata barang-barang. Baru kami sadari kalau ternyata rumah itu ternyata jauh lebih luas dari kelihatannya. Ada semacam bangunan kedua di belakang yang dihubungkan oleh koridor panjang dan sempit dengan bangunan utama. Kata Papa itu mungkin bangunan yang belum selesai direnovasi oleh Om Chandra karena banyak bagian dindingnya yang belum dicat. Tapi kenapa aku merasa tak yakin apa bangunan itu memang sedang direnovasi.
Bentuknya sangat aneh. Ada tangga logam spiral yang lurus menuju langit-langit yang terbuat dari beton. Ada pula ruangan kosong dengan satu jendela yang tidak memiliki pintu, serta sebuah pintu berwarna merah tua dengan keratan gambar tiga lingkaran dalam sebuah segitiga yang ketika dibuka isinya hanya dinding tebal. Aku minta Papa agar pintu menuju koridor sempit itu selalu dikunci. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku seperti mendengar ada suara mengetuk-ngetuk dari bangunan itu saat terbangun kemarin malam.
Selasa, 22 Januari 2014
Waktu Nayra, Linda, dan Yogi bilang kepadaku bahwa mereka akan main ke Jogja rasanya aku ingin melompat dari tempat tidur. Sudah seminggu lebih kami tinggal di sini, dan bukannya aku mau mengeluh, tapi aku tak mengenal siapa pun di sini. Belum lagi kenyataan kalau rumah ini berdiri angkuh sendirian di bukit yang dikelilingi hutan pinus dan salak yang begitu luas. Tetangga terdekat kami jaraknya sekitar 15 menit perjalanan naik kendaraan bermotor. Harus ku akui aku jadi sedikit kesepian walaupun aku tak bisa komplain tentang langit malam spektakuler yang selalu bisa ku intip dari kamarku di lantai dua. Buku kumpulan puisi dan naskah cerpenku selesai dalam waktu seminggu sejak aku ada di sini. Well, mungkin Mama benar. Rumah ini ternyata tidak terlalu buruk.
Rombongan itu datang sekitar pukul 11. Yogi membawa mobil tantenya yang tinggal di Sleman. Aku terpaksa harus menunggu mereka di jalan masuk Kaliurang karena Nayra bilang mereka tak bisa menemukan gang masuk ke daerah arah rumah kami. Yogi bilang mereka sudah melewati gang itu berkali-kali tapi anehnya tak ada seorang dari mereka yang menyadari gang itu ada sampai aku tiba dan melambaikan tangan. Dasar! Pasti alasan mereka aja karena nggak mau repot mencari-cari alamat hahaha… Tapi yang jelas aku senang sekali mereka bisa datang. Kami menghabiskan seharian itu untuk jalan-jalan di sekitar Jogja. Kraton, Tamansari, Candi Prambanan, dan saat senja Yogi mengajak kami semua ke Parangtritis.
Aku sampai rumah sekitar jam 8 malam. Mama sudah menunggu di pintu depan. Katanya khawatir kok kami nggak segera pulang tapi kemarahannya reda saat melihat wajah berseri kami berempat. Aku menawarkan ketiga sahabatku itu untuk tidur di rumah kami dulu malam itu tapi dengan tegas Linda menolak. Waktu kami sekeluarga melepas mereka di pintu pagar depan Linda kelihatan memandang loteng rumah kami dengan pandangan aneh dari dalam jendela mobil. Seperti ketakutan. Entah karena apa.