
Sebenarnya aku tak mau menceritakan kisah ini. Bagiku menceritakannya sama saja mengulang lagi setiap detail pengalamanku di rumah itu, dan kau tahu, itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan untuk diingat. Tapi baiklah. Kali ini aku akan menceritakannya, dan cukup sekali ini aku melakukannya dan kuharap ini untuk yang terakhir kali.
Begini ceritanya; sekitar lima tahun yang lalu, ketika aku baru saja menjadi mahasiswa di kota Bandung, seperti kebanyakan mahasiswa rantau lainnya, aku juga mencari-cari tempat kos yang kira-kira dekat ke kampus. Karena belum punya teman dan tak punya saudara di sini, atau orang yang kukenal, aku mencari tempat kos sendiri saja.
Selesai menyelesaikan semua urusan pendaftaran di kampus tempat aku diterima, aku langsung keluar kampus untuk mencari tempat kos. Untung aku datang lebih awal dan saat loket pendaftaran dibuka aku menjadi antrian pertama. Akhirnya aku bisa menyelesaikan semua urusan pendaftaranku lebih awal. Kira-kira pukul sebelas aku sudah keluar kampus.
Setiba di luar gerbang, aku merasa sangat bingung. Aku benar-benar tak tahu tentang kota Bandung ini dan aku juga tak punya siapa-siapa yang kukenal di sini. Malah dalam pikiranku, seandainya sampai malam nanti aku masih belum menemukan tempat kos, aku akan menginap di kampus saja. Tapi pikiran itu segera kutepis. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat dan bertekad dalam hati kalau aku pasti bisa menemukan tempat kos sebelum senja!
Kemudian aku mulai bertanya-tanya pada mahasiswa-mahasiswa yang tampak senior dan sedang berkeliaran di luar kampus tentang di daerah-daerah mana saja yang terdapat banyak tempat kos. Aku juga bertanya pada penjual-penjual kaki lima yang bertebaran di sekitar gerbang kampus dan untungnya mereka dengan ramah menunjukkannya.
Setelah sekian informasi dan kurasa cukup, aku mulai berjalan sambil menyandang tas ranselku yang sangat padat dan berat. Aku menyisiri trotoar di sepanjang jalan menuju ke daerah yang ditunjukkan oleh orang-orang yang kutanya tadi. Aku mulai dari rumah pertama dan seperti yang tak terlalu kuharapkan, pemilik kosnya bilang penuh. Aku melanjutkan ke rumah berikut dan sayangnya, selalu saja kudapatkan penuh.
Aku mulai digerogoti rasa pesimis bahwa untuk rumah berikutnya pasti akan kudapatkan hal yang sama. Aku mulai kehilangan harapan mendapatkan tempat kos sebelum senja. Tapi saat itu hari udah menunjukkan pukul setengah dua siang dan perutku mulai keroncongan. Aku memutuskan beristirahat sejenak di sebuah warung kecil yang menjual nasi dengan lauk dan sambal rumahan seadanya.
Ibu pemilik warung itu gemuk dan wajahnya sangat ramah. Ketika aku memasuki warungnya, dia menyambutku dengan hangat sambil mempersilakanku duduk layaknya anaknya sendiri. Aku merasa canggung sekaligus senang diperlakukan begitu. Tapi ibu itu tampak sudah biasa dengan mahasiswa-mahasiswa seperti aku, yang kelelahan, lapar, dan jauh dari keluarga. Dia mengambilkanku sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya. Melihat gunungan nasi komplit di piring itu, aku agak cemas akan membayar banyak, tapi, aku benar-benar sangat lapar dan lelah. Perasaanku tercabik antara lapar dan kondisi saku. Setelah pendaftaran tadi, semua uang yang dititipkan orang tuaku nyaris habis dan yang tersisa hanya untuk biaya kos dan beberapa kali makan. Dan orang tuaku baru bisa mengirimkan uang seminggu lagi. Tapi ibu itu seakan tahu kekahwatiranku dan dia langsung bilang sambil tersenyum bijak, ”Tak apa-apa, Nak, sekali ini gratis!” . Mendengar itu senyumku pun langsung cerah.
Sambil makan, ibu pemilik warung itu menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Mulai dari daerah asalku, alasanku kuliah di sini, sampai cerita tentang pengalaman ibu itu pernah merantau di daerah asalku selama beberapa tahun dan akhirnya kembali ke sini. Karena sangat lapar dan menghabiskan makananku dengan lahap, aku tak terlalu mendengarkan ibu itu bercerita. Tapi tampaknya, ibu itu hanya senang bercerita meski tak seorang pun antusias mendengarkannya.
Setelah selesai makan, sesaat sebelum aku pamit dan mengucapkan terima kasih, aku menyempatkan diri bertanya pada ibu itu tentang tempat kos yang masih tersedia di sekitar sini. Sekilas aku menangkap ada keraguan di wajahnya, tapi kemudian ibu itu berkata, ”Kalau di sini selalu penuh, tapi mungkin, yang di sebelah sana, ” ibu itu menunjukkan sebuah jalan lagi, sekitar seratus meter dari seberang warungnya ” masih banyak yang kosong. Soalnya, sebagian mahasiswa lebih suka kos di daerah sini.”
Aku heran. ”Memang kenapa, Bu?” Apa di sebelah sana lebih mahal?”
”Oh, tidak juga,” jawab ibu itu nyaris memotong pertanyaanku. ”Malah banyak yang murah. Hanya saja, mungkin…,” Ibu itu tak meneruskan perkataannya lagi dan wajahnya berubah kaku. ”Ibu sarankan, kalau bisa, kamu cari kos jangan di sana.”
Dalam benakku, aku sudah terlanjur menggarisbawahi kata-kata ’malah banyak yang murah’ hingga aku jadi tak begitu mempedulikan perubahan aneh sikap ibu tentang daerah yang ditunjuknya itu. Dan segera saja aku meluncur ke sana.
Aku sampai di gerbang masuk jalan itu. Kuat dugaanku daaerah ini pasti sebuah komplek perumahan tua. Terbukti dari gaya bangunannya. Selain itu tanaman yang tumbuh di sembarang tempat jelas menandakannya. Aku juga mendapati di kiri kanan jalan pohon-pohon tumbuh subur dan besar-besar. Tentu saja, butuh waktu berpuluh tahun untuk membiarkan pohon tumbuh sebesar itu.
Kemudian aku mendongak ke langit dan kulihat silau cahaya matahari mengintip dari rimbunnya dedaunan. Kurasakan juga angin sepoi bertiup menyegarkan. Tempat yang ideal, pikirku. Kulihat jam tangan, hari sudah pukul setengah tiga. Oh, aku harus segera menemukan tempat kos nih!
Aku mulai dari rumah pertama. Tapi aku tak berharap banyak dari rumah ini. Jika pada pencarianku sebelumnya yang kudapatkan selalu saja ‘penuh’, di tempat ini malah sebaliknya. Aku justru tak menemukan seorang pun untuk ditanya.
Aku melewatkan rumah pertama setelah setengah jam tak mendapatkan apa-apa. Kemudian kulanjutkan ke rumah kedua dan hasilnya pun sama, begitu juga dengan rumah ketiga dan seterusnya hingga sampailah aku ke ujung jalan yang ternyata buntu. Hari sudah menunjukkan pukul lima sore, dan sejauh ini aku masih belum menemukan tempat kos. Tinggal rumah terakhir bernomor 66 yang terletak paling ujung. Bangunannya bergaya Belanda. Dinding-dinding yang dulunya dicat putih kini sudah berwarna coklat kusam. Bahkan di beberapa tempat sudah berwarna hitam oleh lumut berusia puluhan tahun. Rumah itu seolah tersandar ke dinding tinggi berwarna hitam yang mengakhiri jalan ini. Seperti rumah-rumah sebelumnya, rumah itu juga tampak kosong dan sudah lama ditinggalkan. Rumput dan tumbuhan sulur liar sudah tumbuh sembarangan di halamannya.
Aku mulai dihantam kekecewaan. Sepertinya, untuk mendapatkan tempat kos hari ini sudah tak ada harapan lagi. Aku memutuskan untuk kembali saja ke kampus dan melanjutkan pencarian besok. Tapi ketika aku berbalik, tiba-tiba seorang ibu-ibu keluar dari rumah itu. Rambutnya sudah semuanya putih dan dia memakai kacamata bulat tebal berantai. Tangannya yang kisut memegang gagang pintu dengan gemetar.
“Mau cari tempat kos?” tanyanya padaku dengan suara serak tuanya yang bergetar. Aku membalasnya dengan anggukan cepat antusias. “Masuklah!”
Ibu itu memanduku ke dalam. Ruangan tamunya kosong melompong, tak satupun perabot mewah terpajang, hanya lantai ubin antik berwarna suram. Dinding-dindingnya juga sudah kusam, dan agak bau. Seperti bau lumut, tapi juga bukan.
Sambil berjalan, kulihat langit-langit rumah tinggi, namun sedikit berbercak-bercak kecoklatan. Di tengah-tengahnya tergantung sebuah lampu watt rendah dibaluti sawang laba-laba, yang tampaknya sudah dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun, tanpa perhatian.
Aku jadi kikuk karena ibu itu diam saja selama memanduku melewati lorong-lorong rumahnya menuju kamar kosong yang terletak paling ujung. Bunyi sandalnya yang bergesek dengan lantai ubin yang dingin dan berwarna gelap agak membuatku merinding.
Sepanjang lorong itu, berjejer pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Kupastikan ada sekitar selusin kamar di kiri-kanannya. Aku simpulkan rumah ini sudah lama dijadikan tempat kos dan yakin sekali penghuninya pasti banyak sekali.
Tapi sayangnya tak satu pun dari pintu-pintu itu terbuka. Jendela di sampingnya juga gelap tertutup tirai gorden yang agak berdebu.
”Apa semua kamar ini sudah penuh, Bu?” tanyaku.
Lama baru ibu itu menjawab. ”Tinggal satu yang kosong.”
Itu berarti banyak orang di sini. Aku akan punya banyak teman kos. Rumah ini pasti akan ramai sekali. Tapi anehnya, tak satu pun kamar yang menunjukkan ada orang di dalamnya. Apa semua orang sedang pergi keluar?
”Ini kamarnya.” kata ibu itu dingin. Dia memasukkan kunci lalu pintu kamar itu terbuka perlahan. Pintu itu berderit panjang. Jelas sudah lama sekali tidak pernah dibuka.
Ada saklar di samping pintu sebelah dalam. Aku lalu menekannya dan kulihat lampu yang tergantung setengah meter dari langit-langit. Awalnya, lampu itu enggan hidup, berkedip-kedip seperti mau putus, tapi untunglah kemudian bisa menyala meski agak terkesan temaram. Tapi itu bukan masalah karena aku masih bisa menyelidiki bagaimana sebenarnya kondisi kamar itu.
Ada satu lemari kayu bersandar di salah satu sudut kamar dan sebuah tempat tidur di sampingnya. Beberapa bantal yang belum bersarung juga ada di atasnya, menumpuk membentuk gunungan bantal—aku sama sekali tak berharap bantal itu akan jadi milikku, karena kelihatannya sudah lama tak terpakai dan diselimuti debu tebal. Namun, yang paling penting bagiku adalah tempat colokan listrik. Setelah kupastikan ada—ternyata terletak tepat di samping jendela—aku keluar menghampiri ibu itu, saatnya bernegosiasi soal harga sewa kamar.
”Kamar mandinya ada di ujung sana, lalu belok kiri,” ujar ibu itu sambil menunjuk ke samping. ”Ada dua. Yang satu hanya untuk tempat mencuci baju dan mandi.”
Aku mengangguk-angguk sepakat. Kurasa kamar ini cocok. Cukup luas dan hawanya dingin. Lagi pula sudah lama aku tidak punya kamar sendiri. Dalam pikiranku, sudah terbayang beragam rencana pengaturan untuk kamar baruku ini. Sudah kutempatkan dimana kira-kira posisi terbaik untuk televisi, komputer, penanak nasi, dan lain sebagainya.
”O iya, dengan air dan listrik, sebulan berapa, Bu?” tanyaku.
”Seratus ribu.” jawabnya singkat.
Apa!? Apa aku tak salah dengar. Hari ini masih ada tempat kos dengan harga sewa serendah itu? Oh, mungkin aku salah dengar. Mungkin juga ibu itu salah ucap. Aku tetap tidak percaya. ”Berapa?” tanyaku memastikan lagi.
Tapi ibu itu tetap menjawab sama, dan tetap tak berubah ketika aku menanyakan untuk ketiga kalinya. Dalam hati, apa hari ini keberuntunganku atau ibu itu yang salah menawarkan harga? Ah, sudahlah. Aku akan ambil kamar ini. Mumpung murah.
Setelah sepakat dan menerima sejumlah uang dariku, ibu itu menyerahkan kunci kamarnya. Bunyi gesekan sandalnya dengan lantai terdengar menjauh saat aku masuk kembali ke kamar dan yakin sekali, ibu itu sudah kembali ke ruang depan, atau mungkin ke kamarnya dekat ruang tamu