The Mafia's Twins

The Mafia's Twins
Bab 31. Survive (Air terjun)



Srrkkk... Srrrkkkk.....


Jo menembus dan dengan lembut menyingkirkan dedaunan yang menghalanginya. Dengan perlahan tapi pasti, Jo meneruskan langkahnya untuk masuk semakin dalam ke arah hutan.


Semakin dalam Jo melangkahkan kakinya ke dalam hutan, semakin gelap hutan tersebut.


Hutan yang masih belum terjamah oleh manusia, mereka selalu memilih hutan seperti ini. Tentu saja hewan buas seperti macan, harimau dan beruang serta babi hutan ada di pulau ini


Jo berjalan menembus semak yang sudah hampir menutupi wajahnya itu.


Srakkk!


"Ugh..."


Dengan samar, suara gemericik air dan suara aliran air terdengar ke telinga Jo. Di depan Jo sekarang adalah sungai kecil yang jernih dengan beberapa batu besar dan terlihat dengan mata, ikan berenang kesana kemari.


Jo berjalan kearah sungai tersebut kemudian berjongkok dan melihat wajahnya yang kumal itu. Dengan segera, Jo berjongkok dan kemudian mengambil air menggunakan kedua tangannya dan kemudian membersihkan wajah dan kedua lengannya.


Tak lupa Jo juga mengambil air dengan kedua tangannya dan meminumnya hanya untuk melepaskan dahaganya yang sedari tadi dia tahan.


Jo mengusap kasar dagunya dan segera mendongak dan menatap ke sekelilingnya.


' menurut perkiraan ku, dengan kecepatan kapal itu, mereka akan sampai kesini sekitar pukul 5 pagi.' Batin Jo sambil menatap kearah sungai yang penuh ikan itu,


Jo yang tidak ingin membuang-buang waktu segera menaruh ranselnya di pinggir sungai lalu menggulung lengan baju dan juga celananya kemudian Jo melompat kedalam sungai


"Aku benar-benar lapar, jadi ikan kemarilah" ucap Jo sambil memegang pisau lipat ditangan kirinya.


Jo bersiap-siap dengan ancang-ancang dan sedikit menundukkan badannya. Membidik ikan-ikan yang gesit itu dengan perlahan dan...


Plup!


"Dapat!" Jo mengangkat pisau lipatnya yang berhasil menancap sempurna di salah satu ikan.


Ikan itu terlihat memberontak, tapi Jo segera melepaskan ikan itu dari pisaunya dan melemparnya ke pinggir sungai. Jo melakukan itu beberapa kali, akhirnya Jo mendapatkan ikan yang lumayan banyak.


Jo segera berjalan ke pinggir sungai kemudian duduk dan menatap ikan-ikan yang mulai lemas. Jo kemudian mengumpulkan ikan-ikan itu untuk membersihkan jeroan ikan-ikan itu dan bersiap untuk membakar ikan itu. Jo sempat berlari kecil mengumpulkan ranting pepohonan untuk membuat kayu bakar.


Jo menusuk semua ikan dengan ranting dan mulai membuat api dengan ranting-ranting tersebut. Untungnya Jo membawa korek api miliknya, jadi dia tidak perlu susah susah untuk membuat api dengan batu atau menggosokkan kayu yang sudah kuno itu


...----------------...


...----------------...


Jo duduk di dekat api unggun yang dibuatnya dan menatap ikan yang dia bakar. Suara makhluk hutan yang terdengar riuh, suara angin yang meniup dedaunan dan suara nafas Jo yang terdengar sangat besar disana


Jo mendongak menatap langit malam yang penuh bintang dan itu benar-benar sangat indah. Jo beberapa kali menghembuskan nafas panjangnya.


"Yah, aku tidak bisa terus bersantai..." ucap Jo sambil bangkit dan berjalan kearah api unggun untuk mengecek ikannya sudah matang apa belum.


"Yah, lumayan" ucap Jo sambil memakan ikan itu.


Jo mulai membungkus ikan-ikan bakar lainnya yang sudah matang dengan daun pisang yang dia temukan tadi.


Jo melakukan ini agar nanti saat dia lapar dia tidak perlu mencari makan atau repot membakar ikan ini lagi. Akan repot jika orang tau keberadaan Jo hanya karena asap api unggun bukan?


Setelah selesai membereskan ikan, Jo memasukannya ke tas ranselnya dan mengambil kantung besar untuk air dan berjalan ke tepi sungai untuk mengisi air untuk diminum.


Untuk penerangan, Jo mengambil kayu dan merobek bajunya lalu mengikat kain itu ke kayu tersebut. Jo juga menyiramkan minyak yang diambilnya saat di kapal tadi ke kain.


Setelah selesai, Jo segera menggendong kembali tas ranselnya dan tak lupa Jo menendang api unggun, agar api itu padam tanpa asap.


Setelah itu Jo mulai berjalan memasuki hutan itu lagi sambil membakar obor buatannya.


"Yang harus kulakukan saat ini adalah mencari tempat untuk beristirahat"


Jo terus menyusuri hutan itu dengan obor ditangannya. Tak berapa lama, ternyata Jo sampai di air terjun. Melihat air terjun yang deras itu sebuah pemikiran terlintas di otaknya. Jo segera mematikan obor buatannya.


Jo kemudian mulai berjalan sambil sedikit melompat-lompat di batu-batu besar tersebut dan akhirnya sampai tepat di sebelah air terjun itu.


Jo mendongak ke atas, lalu Jo melepas tas ranselnya dan membuka tas tersebut. Jo mencari sesuatu di dalam tas tersebut, kemudian Jo menarik sebuah tali yang masih tertata rapi itu dan menggigit tali itu di mulutnya dan tak lupa merogoh pisau lipat serba gunanya untuk memastikan benda itu ada.


Jo melepas baju yang dia kenakan dan mulai memanjat tebing itu layaknya seorang profesional, lalu tepat 10 meter dari tas ransel tersebut Jo berhenti dan menyibak air yang jatuh dengan lengannya.


Untung saja di balik air terjun itu ada pijakan yang lumayan besar jadi Jo bisa mulai menggali dengan kapak miliknya.


"Ugh... setidaknya badanku bisa masuk.." ucap Jo sambil terus menggali tebing itu bundar seukuran manusia dan mulai menggali lubang itu kedalam.


1 jam kemudian ternyata lubang yang di gali oleh Jo itu menembus ke sebuah goa. Benar-benar keberuntungan yang berpihak pada Jo.


Jo masuk ke goa itu sebentar, sebelum menjelajahi goa itu, Jo harus kembali dan mengambil tas ransel miliknya.


Jo merangkak melalui lubang itu lagi, dan kemudian keluar, tak lupa Jo menancapkan kapaknya di atas lubang sebagai penanda dan mulai memanjat turun ke bawah air terjun.


Jo menata semua barang yang dia bawa di tasnya dan mengikatkan tali ke tasnya itu dan juga mengikatnya ke pinggang Jo.


Setelah memastikan ikatan itu sudah kencang, Jo segera memanjat naik, beban di tasnya memang tidak terlalu besar jadi susah, Sesampainya di air terjun, Jo segera memasukan tasnya ke dalam lubang itu.


Tak lupa Jo mengambil kapaknya dan mulai mendorong masuk tas tersebut kedalam lubang, kemudian Jo mulai memasuki lubang itu sambil mendorong tas ranselnya.


Brrukkk!!


Tas ransel milik Jo sudah terjatuh ke lantai goa, Jo juga segera keluar dari lubang tersebut.


"Shiitt.. Dingin banget..." ucap Jo sambil menggosokkan kedua tangannya ke badannya untuk berusaha menghangatkan tubuhnya. Jo memakai kembali bajunya dan kembali menggendong tas ranselnya dan mulai berjalan untuk menjelajahi goa tersebut dengan celana yang basah itu.