
Jeanne melangkahkan kakinya memasuki kelas sambil menundukkan kepalanya. Beberapa siswi yang melihat Jeanne itu terlihat seperti sedang berbisik-bisik tentang kejadian yang menimpa Jeanne tadi. Terlihat semua teman sekelas Jeanne memperhatikannya.
Jeanne tampak menahan isakan tangis dan mencoba untuk tidak meneteskan air mata. Jeanne berusaha seperti tidak terjadi apa-apa dan menepuk-nepuk pelan pipinya.
Jeanne pun mendongakkan kepalanya dan menatap ke sekelilingnya. Tampak terlihat teman-teman sekelas Jeanne hanya menatap Jeanne dengan tatapan tajam, penasaran dan aneh.
Jeanne yang melihat hal itupun sedikit terkejut dan membuka matanya lebar lebar. Jantung Jeanne berdegup sangat kencang melihat ekspresi temannya yang terlihat sangat tidak nyaman ataupun jijik saat melihat Jeanne. Ekspresi Jeanne yang aneh itu membuat beberapa temannya mulai berbisik bisik dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Jeanne kemudian menundukkan kepalanya kembali sambil menggenggam erat-erat roknya itu.
Sementara itu, Matthew yang baru masuk dan berada di depan kelas itu sedikit kebingungan melihat suasana kelas yang menurutnya sangat aneh itu. Kemudian Matthew dengan perlahan mengikuti arah tatapan para teman sekelasnya itu.
Dan arah tatapan teman sekelasnya itu mengarah pada Jeanne yang sedang duduk di kursinya sambil menunduk.
Melihat Jeanne yang tertunduk dan terlihat suram itu, perlahan Matthew berjalan mendekati kursi Jeanne.
Matthew perlahan meletakkan tasnya di kursinya lalu kemudian berjongkok didepan Jeanne sambil menepuk pelan bahu Jeanne.
Jeanne yang merasa ada tangan yang sedang menepuk di pundaknya itu pun segera menoleh ke arah datangnya tangan tersebut.
Jeanne membulatkan matanya melihat Matt yang sedang menatapnya dengan mata yang teduh dan senyum yang merekah di bibir manisnya. Perlahan Jeanne membenarkan posisi duduknya dan menatap kembali kearah Matt dengan senyum yang sedikit dipaksa itu.
Matt melihat bahwa Jeanne yang terlihat terpaksa membalas senyuman itu, segera menghembuskan nafas panjang sambil beranjak dari posisinya untuk berdiri dengan tegap.
Lalu kemudian Matt memakaikan topi yang sedari tadi ia pakai kepada Jeanne.
"Jangan memaksakan senyumanmu seperti itu, itu terlihat mengerikan"
Jeanne yang mendongak untuk menatap Matt sambil tersenyum itu seketika terkejut lalu kemudian menundukkan kepalanya.
"Maaf... Aku tidak ingin membuat temanku khawatir..."
Mendengar perkataan Jeanne, Matt merilekskan bahunya lalu membungkuk dan memegang tangan Jeanne. Jeanne segera kembali mendongak menatap Matt yang sedang menarik lembut tangannya itu
"Ayo ikut aku..." ucap Matt sambil tersenyum.
"Ta-tapi sebentar lagi kan..."
"Ayolah... Bolos seharipun itu tak masalahkan..." ucap Matt sambil menarik Jeanne berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kelas.
Jeanne terlihat sedikit panik sambil beberapa kali melihat ke arah kelasnya yang perlahan menjauh. Kemudian pandangan Jeanne beralih pada Matt yang membawa 2 tas sekolah sambil menggenggam tangannya sambil menggumamkan sesuatu yang Jeanne sendiri tidak mengerti. Jeanne hanya bisa pasrah dan berjalan mengikutinya saja.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi dengan cara mengendap-endap karena di setiap kelas sudah ada guru yang siap memberi materi pembelajaran untuk mereka.
"Hah... Hah .. Itu benar-benar membuat jantungku hampir copot" ucap Matt sambil mengusap keningnya yang mulai basah karena keringat
"Tapi ini sangat menyenangkan.." ucap Jeanne sambil menatap Matt dengan senyumannya dan wajahnya yang penuh dengan keringat.
Matt menatap Jeanne yang mulai kembali seperti biasanya dengan senyuman sambil beberapa kali menepuk kepala Jeanne.
"Hahaha baiklah... Ayo kita lanjut.." ucap Matt sambil membuka pintu yang sedari tadi ada dibelakang mereka
Matt segera membuka pintu itu dengan hati hati agar pintu tersebut tidak mengeluarkan suara. Dan segera setelah pintu itu terbuka, Matt segera menarik Jeanne masuk.
Brukkkk!!
"Ah.."
"Aw..."
Suara jatuh terdengar sangat nyaring di ruangan tersebut, untung saja pintu sudah tertutup sempurna. Karena Matt menarik Jeanne masuk ke dalam dengan tiba-tiba, Jeanne terjatuh di atas tubuh Matt.
Mereka berdua bertatapan beberapa detik sebelum Jeanne segera bangkit dari tubuh Matt dan berdiri sambil mengulurkan tangannya kepada Matt
Matt yang wajahnya memerah bak sebuah tomat yang merah ranum itu menggapai tangan Jeanne dan duduk beralaskan lantai itu. Jeanne pun yang sedikit kikuk itu pelan pelan duduk di sebelah Matt sambil menggaruk kecil telinganya.
Canggung dan hening datang ditengah-tengah mereka. Mereka berdua juga saling tidak berhadapan. Mereka berdua saling memandang arah yang berlawanan
1 menit
2 menit
3 menit
"Haa... Ayo kita terus naik tangga ini..."
Matt menghela nafas panjang sebelum kemudian berdiri. Jeanne segera menoleh dan mendongak kearah Matt. Kemudian Matt mengulurkan tangannya, Jeanne pun segera menerima uluran tangan Matt dan segera berjalan mengikuti Matt yang mulai berjalan menaiki tangga tersebut.
Suara langkah kaki bergantian menaiki tangga itu terdengar sangat nyaring di telinga mereka berdua.
Tak berselang lama mereka sampai di lantai terakhir dan tepat di depan mereka ada pintu.
Matt pun tanpa ragu segera membuka pintu itu dan
Jeanne menutupi wajahnya dengan satu tangan karena cahayanya sangat menyilaukan. Sambil menutupi matanya dari sinar itu, Jeanne berjalan maju.
Swwooossshhh~
Angin berhembus kencang menerpa mereka berdua.
"Ugh"
Angin kencang itu menerbangkan rambut Jeanne. Jeanne pun terpana dan mulai menurunkan tangannya.
"Haaaa.... udaranya sejuk sekalikan? " ucap Matt sambil meregangkan kedua tangannya.
Jeanne berjalan ke depan lebih lagi dengan sorot mata yang berbinar.
"Rasanya seperti aku sedang terbang..." gumam Jeanne sambil membentangkan kedua tangannya kesamping sambil memejamkan matanya.
Jeanne ingin merasakan angin yang kencang itu yang seakan sedang membelai pipi dan rambutnya.
Kemudian Jeanne refleks berputar secara perlahan layaknya seorang tuan putri yang sedang menari dengan indahnya di atas angin.
Matthew hanya bisa tersenyum lalu kemudian mencari tempat untuk duduk dan menikmati melihat pemandangan dan memperhatikan Jeanne sambil menghirup udara segar di rooftop sekolahnya.
Rooftop memang bukan tempat yang diperbolehkan untuk dikunjungi oleh pihak sekolah. Tapi bagi Matthew..
[ Aturan ada untuk dilanggar! ]
Mereka berdua menikmati udara segar dan waktu yang mereka habiskan dengan suka cita.
Tentunya sesekali Jeanne mengajak Matthew untuk bermain dan tertawa bersama.
"Ah sudah sudah... aku lelah..." ucap Matthew sambil angkat tangan dan mencari tempat yang teduh untuk dia beristirahat.
Melihat Matthew yang meneduh itu, Jeanne pun mengikutinya kemudian duduk dan bersandar pada dinding yang berada di belakang mereka
Tiiittt tiiitttt
Suara jam tangan di pergelangan tangan Jeanne berbunyi. Segera setelah mematikan alarm jam tangannya, Jeanne segera meraih tas yang ada di sebelahnya dan mengeluarkan botol obat lalu meminumnya.
Matt memperhatikan Jeanne yang sedang meminum obat itu sambil menaikkan salah satu alisnya. Tapi Matt merasa bahwa dia akan melanggar privasi seseorang kalau bertanya jadi dia kembali menatap kedepan, walau rasa penasaran berkecamuk tentang semua yang terjadi pada Jeanne hari ini
"Kalau kamu ingin bertanya... tanyakan saja.."
Mendengar suara Jeanne itu, Matt dengan segera menoleh kearah Jeanne dan melihat Jeanne sedang tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"Ah itu ... Aku hanya.. penasaran dengan.. yang terjadi padamu hari ini... "
Sebelum menjawab pertanyaan Matt, Jeanne menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
" Jadi.....
Saat Jeanne bercerita tentang apa yang terjadi padanya hari ini, setiap kalimat yang keluar dari mulut manisnya itu membuat Matt seakan sesak nafas. Beragam emosi tersirat di wajah Matt, bahkan saat di ******* cerita, Matt hampir beranjak dari duduknya. Tapi untungnya Jeanne menahan dan menyuruh Matt untuk duduk dan meredakan emosinya
Lalu dengan senyumnya yang indah dan sambil menggenggam erat tangan Matt. Jeanne berkata
"Aku sangat berterimakasih kamu sudah mendengar cerita ku dan menghiburku sampai sampai membawaku ketempat ini... Tapi itu saja cukup kok"
"Jeanne.... Kau ini terlalu baik" ucap Matt sambil melemaskan otot-ototnya yang hampir menggila itu.
Lalu setelah itu mereka kembali berbincang sambil menikmati udara segar rooftop. Tanpa mereka sadari, sekarang waktunya makan siang.
"Ayo kita ke kantin.." ucap Matt sambil berdiri dan membersihkan debu yang menempel di celananya
Jeanne hanya mengangguk sambil berdiri dan membersihkan roknya. Jeannepun tak lupa membawa tasnya sendiri. Matt sudah menawari untuk membawakan tas Jeanne. Tapi karena Jeanne tidak ingin merepotkan Matt, jadi Jeanne membawa tasnya sendiri.