
'Tamu kehormatan kita adalah..... Tuan Joshua Alpa D'Rioz Chevron, Ahli waris termuda dari Keluarga Mafia Chevron yang sangat terkenal genius dalam segala bidang'
Dengan segera semua mata tertuju pada Jo.
Jo yang mendengar hal itu, segera mengalihkan pandangannya ke si MC itu.
Si MC sedang tertawa sambil menaikan satu alisnya. Jo menatap dingin kearahnya sambil sedikit mencodongkan tubuhnya ke arah depan.
"Hah... Apa-apaan lagi ini..." ucap Jo sambil menyunggingkan senyum smirk dengan tatapan matanya yang lurus kearah MC bak elang yang sedang menemukan mangsanya
Melihat tatapan Jo padanya, sang MC pun sedikit melangkah mundur sambil menelan ludahnya.
"Hey, apa ini acara pertamamu?" tanya Chester sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya
"
'Tatapan itu membuatku merasa sedikit tercekik' batin si MC
Badan si MC sedikit bergetar dan beberapa kali mengambil nafas untuk menetralkan badannya yang bergetar ketakutan itu
"Kalau begitu silahkan cicipi makanannya sebelum kita memasuki area survive"
Setelah perkataan MC, beberapa pelayan dengan jas membawa nampan berisi makanan dan juga beberapa pelayan lain menata makanan diatas meja.
Jo hanya menatap dingin orang-orang yang mulai mendatangi meja yang penuh makanan itu.
"Kau tumben sekali tidak mau menyembunyikan kehadiranmu" ucap Shuzo sambil menatap Jo.
Jo tidak menghiraukan perkataan Shuzo dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian Jo berjalan kearah koridor untuk kembali ke kamarnya.
Jo melewati beberapa orang dan mereka melempar tatapan tajam pada Jo. Tapi Jo benar-benar tidak menanggapi atau menoleh hanya untuk sekedar menatapnya, Jo juga sering dijuluki "Es kutub berjalan"
Jo menatap lurus ke depan dengan langkah santainya untuk kembali ke kamarnya. Jo juga tidak menyentuh makanan yang disajikan karena Jo sempat membaca sekilas dokumen yang di berikan Karl.
'Peraturan tidak tertulis
1.Mereka tidak suka basa basi apalagi sampai memberi sesuatu perjamuan bagi penerus, mereka bisa dibayar untuk melakukan sesuatu'
Setelah ada di depan kamarnya, Jo segera memasukan kunci ke lubang kunci dan kemudian membuka pintu kamarnya lalu masuk ke kamarnya.
Braakkk
Jo menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras lalu mengunci pintunya. Jo melihat ke sekeliling kamarnya dan mendapati adanya rak besi. Lalu Jo mendorong rak itu ke arah pintu untuk menahan pintu itu.
Jo menghela nafas panjang, kemudian mencari dokumen yang diberikan Karl dan membaca semua penjelasan serta informasi tentang survive kali ini
Setelah selesai membaca dokumen itu, Jo merebahkan badannya ke kasur. Jo tersenyum dingin begitu dia tau kalau di acara kali ini dia sudah di "targetkan"
"Hahaha... Lagi-lagi trik murahan" ucap Jo sambil.menatap langit-langit kamarnya
Jo merogoh kantongnya, dan mengeluarkan kapak kecil. Lalu dia bangkit dan berjalan mendekat kearah bagian kanan kamarnya.
Tak lupa Jo menyalakan musik sangat kencang dengan ponselnya dan mulai memukul-mukul dinding kanan dengan kapaknya.
"Ah ini tidak terlalu mudah.. Tapi kalau aku tetap disini, aku akan segera mati."
Jo terus memukul-mukulkan kapaknya ke dinding kamarnya, sesekali Jo mengusap keringatnya. Jo juga harus memperhatikan ponselnya untuk melihat durasi musik yang diputar agar tidak di curigai oleh awak kapal.
Setelah beberapa jam melakukan hal itu, akhirnya Jo berhasil membuat lubang besar.
Jo dengan segera mengecek lubang tersebut, untungnya saja kamarnya tidak ada di bawah air dan kamarnya tepat 45cm dari permukaan air.
Dengan segera Jo menarik tas ransel miliknya dan kemudian membuka tasnya sambil mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
Jo menarik keluar sebuah tas kecil bergambar perahu karet. Jo membaca tulisan yang ada di bagian belakang tas kecil itu dan kemudian menghela nafas lega setelah membaca
"Perahu karet ini akan menggembung otomatis saat anda menarik tali merah di bagian kiri tas"
Jo segera melemparkan tas itu ke air sambil menarik tali merah di bagian kiri tas. Dan dengan otomatis perahu karet tersebut menggembang.
"Kalau begitu, kira-kira perjalanan ke pulau itu hanya tinggal 1 jam. Dan orang orang di kapal ini selain anak buah kapal dan orang event survive, semuanya sudah pingsan."
Jo segera melemparkan tasnya ke perahu karet lalu Jo segera menaiki kapal tersebut dan menarik dayung portabel yang sudah dipersiapkan di dalam tasnya.
Jo mengeluarkan kompas miliknya, untuk menentukan arah pulau tersebut. Setelah memastikan koordinatnya, Jo dengan segera mendayung perahu karetnya ke arah yang sudah Jo tentukan.
Jo berhasil menjauh dari kapal tersebut, Jo menatap beberapa orang yang ada diatas sana yang sedang berlalu lalang sepertinya mereka belum menyadari Jo sudah menghilang. Jo tersenyum sebentar sebelum kemudian dia kembali mendayung perahu karetnya lagi.
1 jam berlalu tanpa ada masalah, Jo terus mendayung perahu itu dengan di temani oleh angin laut yang dingin.
"Tcih..." beberapa kali Jo berdecak sebal karena kelelahan.
Yah tapi Jo juga bisa bernafas lega karena jika dia tetap di kapal itu, mungkin Jo sudah mati dari beberapa waktu lalu.
Setelah beberapa menit Jo mendayung, Jo akhirnya bisa melihat pulau di depannya.
Jo dengan semangat mendayung ke arah pulang tersebut.
"Hah akhirnya" Jo segera menyandarkan perahunya tersebut. Kemudian Jo mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan bahwa dia orang pertama yang menginjakkan kakinya di pulau ini.
Setelah memastikan tidak ada orang, Jo dengan segera mengempeskan perahu karetnya dan melipat dayung portabelnya. Setelah itu Jo memasukan kedua benda itu ke dalam tasnya dan menggendong tas ranselnya.Tak lupa Jo mengambil kayu untuk menghapus jejaknya.
Tanpa istirahat, Jo segera berjalan memasuki pulau yang masih ditumbuhi oleh hutan yang terlihat masih belum di jamah manusia itu.
Jo sempat terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu. Kemudian Jo berbelok ke kanan dan meneruskan langkahnya terus berjalan ke depan sambil berusaha untuk tidak membuat jejak atau merusak tanaman seminimal mungkin
Kenapa Jo berbelok? Jo juga memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia biasa. Manusia biasa akan berjalan lurus ke depan untuk memperpendek waktu dan tenaga. Jo memilih jalan memutar untuk mencari tempat persembunyian sambil mencari buah untuk dia makan.
Walau ini memakan banyak waktu, tapi karena Jo adalah orang pertama, Jo bisa dengan leluasa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjelajahi pulau itu.
...----------------...
...----------------...
2 jam yang lalu,
Di atap kapal, Chester dan Shuzo masih berada di tempat yang sama dan memperhatikan orang orang yang sedang bercengkrama dan menyantap makanannya.
Tak ada percakapan diantara mereka, mereka hanya memperhatikan keadaan sekitar sambil beberapa kali mengalihkan pandangannya ke lautan.
Chester yang sedang merokok dengan cerutu itu juga beberapa kali menghembuskan asap dari mulutnya, sampai kemudian cerutu milik Chester habis terbakar.
Bruk...
Brukk Brukk Brukk
Satu persatu orang yang awalnya ceria dan berjalan kesana kemari kini tumbang bak sebuah pin bowling.
Hingga akhirnya semua peserta tumbang, kini tersisa beberapa orang termasuk Chester dan Shuzo, Si MC, pelayan dan beberapa anak buah kapal juga kapten.
Chester dan Shuzo bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekat kearah kapten kapal sambil beberapa kali melangkahi, menginjak bahkan menendang peserta yang berjatuhan itu.
Tak hanya Chester dan Shuzo yang berdiri tepat di depan kapten, ada beberapa pria lain yang berdiri
"Selamat kalian sudah lulus ujian yang pertama walaupun tidak sempurna" ucap Si Kapten sambil memberi beberapa tepuk tangan
"Tuan muda Chevronlah orang pertama yang berhasil mendapatkan nilai sempurna sejauh ini" lanjut si kapten
"Kami akan menyiapkan makanan asli dan membereskan kekacauan ini, jadi dimohon untuk para tuan muda lainnya untuk kembali ke kamar masing-masing " ucap si Kapten sambil sedikit membungkuk.
Mendengar hal itu, Chester tersenyum dengan senyum yang sedikit menyeramkan. Shuzo yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sambil berjalan pergi kearah koridor kamar.
Di perjalanannya menuju ke kamar, ada sebuah kamar dengan beberapa awak kapal di dalamnya. Shuzo melihat sebentar, ternyata sebuah lubang besar terbuka lebar disana.
Para anak buah berusaha memperbaiki lubang tersebut. Shuzo tersenyum dan memasukan tangannya ke saku celananya sambil melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamarnya.
'Yah, Bocah itu pintar juga'