
"Aku ada suatu permintaan"
"Aku bukan jin yang bisa mengabulkan permintaan" ucap Jo sambil menyeruput tehnya
"Dasar bocah tengik, dengarkan dulu kakak mu berbicara" ucap Salzano sambil melempar remah kue kearah Jo
Jo dengan segera memundurkan tubuhnya dan membuat remahan itu terjatuh ke arah gelas teh milik Jo.
Jo hanya bisa terdiam melihat tehnya penuh dengan remahan kue. Kemudian dia mendongak dan menatap kakaknya itu, sedangkan kakaknya hanya bisa tersenyum bodoh sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal itu
"Hah~ kak... Bisa tolong tunjukkan sedikit saja wibawamu padaku"
Kemudian Salzano pun berdehem lalu merapikan bajunya sambil menoleh ke arah pelayan dan menyuruh pelayan tersebut untuk membersihkan kekacauan yang ada di meja dan juga menyajikan teh untuk Jo yang baru.
Para pelayan mendengar perintah Salzano itu pun langsung segera melaksanakan perintah yang diberikan Salzano dengan baik.
Beberapa menit kemudian, para pelayan telah selesai membersihkan kekacauan dan juga sudah selesai menyajikan teh yang baru untuk Jo.
Jo yang sedari tadi duduk itu hanya bisa diam menatap sarjana dan juga pelayan yang melakukan aktivitas tersebut dengan diam tanpa keluar kata-kata apapun dari mulutnya
Keheningan mengalir diantara mereka, hanya ada suara angin yang berhembus dan daun yang menari-nari melewati Jo dan Salzano.
Karl tiba-tiba melihat dan merasakan kalau atmosfer di sekitar mereka berdua menjadi sedikit lebih berat. Kemudian Karl pun berdehem untuk memecah keheningan diantara mereka.
Kemudian Jo mendongak dan menatap lurus ke arah Salzano yang canggung itu. setelah menatap Salzano beberapa menit dengan serius itu, Jo menghela nafas panjang dan kemudian duduk sambil menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya
"Jadi apa permintaan kakak?"
Mendengar perkataan Jo itu, Salzano kemudian mulai menarik nafas dalam dalam sebelum akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara
"Apa kau bisa melindungi Jeanne di sekolah? Tentu saja sebagai kakaknya"
"...."
Wushhhh
Entah kenapa angin berhembus kencang sampai-sampai membuat beberapa helai daun berterbangan kearah Jo.
Salzano hanya diam sambil menatap Jo yang tak berekspresi itu. Karl yang mendengar permintaan Salzano tersebut mulai panik dan beberapa kali melirik Jo.
Apa ini tuan muda? Bukankah itu permintaan yang tidak masuk akal?!
Jo masih senantiasa memasang wajah datarnya. Beberapa menit tanpa reaksi. Jo kemudian menghela nafas panjang dan membuka mulutnya.
"Hah~ Permintaan sampah apa itu?"
Mendengar perkataan Jo, Salzano kemudian membuka matanya lebar-lebar terkejut dengan apa yang keluar dari mulut Jo.
Kemudian ekspresi Jo pun berubah menjadi sangat kesal kerutan di dalamnya benar-benar terlihat jelas dan otot-otot di lehernya juga..
"Bukankah ada bodyguard yang bisa melindunginya, hal tersebut membuang-buang waktuku"
"Kau kan kakak-"
"Kalau kakak terus berbicara omong kosong seperti ini, lebih baik kakak pergi karena aku masih banyak berkas yang harus ditandatangani"
Mendengar nada bicara Jo yang semakin kasar dan juga dingin, Salzano hanya bisa menghela nafas panjang dan kemudian beranjak berdiri dari tempat duduknya sambil berbalik
"Kau bukan orang sedingin ini dulu Jo" ucap Salzano sambil berjalan pergi dari situ.
"Kalian semua yang membuatku seperti ini" gumam Jo sambil menatap Salzano yang perlahan menjauh itu.
Karl yang mendengarkan gumaman Jo itu walaupun sangat pelan itu sedikit tersentak.
Kemudian Jo meminjamkan matanya sejenak dan meregangkan kedua lengannya
"Benar-benar memuakkan"
Mendengar perkataan Karl yang keluar tanpa permisi itu, Jo terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa dengan kencang.
Melihat Jo yang tertawa dengan sangat kencang itu, Karl dan juga dua pelayan yang sedang membereskan cemilan dan juga gelas teh itu kebingungan tak karuan.
Dari wajah mereka bertiga mungkin bisa tergambarkan kebingungan mereka bertiga. Wajah mereka seperti berkata 'Sebenarnya apa yang sedang ditertawakan oleh Jo sampai orang yang benar-benar bermuka bak sebuah bongkahan es batu besar itu bisa tertawa terbahak-bahak seperti itu'
"Apa yang sebenarnya kau harapkan Karl? Aku akan menuruti perintah Kak Salzano? Itu hanya ada di imajinasi mu" ucap Jo sambil menyeka air mata yang menetes dari sudut matanya.
Kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya sejenak untuk mengatur ekspresinya agar kembali seperti Joe yang bermuka datar tersebut
Kemudian Jo menyuruh kedua pelayan tersebut untuk bergegas merapikan karena sejak tadi dua pelayan tersebut menatap Jo dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang hampir seperti mau keluar itu.
Setelah meja tersebut bersih dari kekacauan, Jo segera mengambil berkas baru di sisi lain meja tersebut dan segera fokus membaca berkas tersebut dengan wajahnya yang kembali menjadi datarnya itu
Karl yang melihat semua kejadian itu benar-benar tak habis pikir tapi dia hanya diam menatap Jo.
......................
Di sisi lain, Jeanne sedang terduduk merenung di kursi balkon kamarnya. Cuacanya yang memang sangat cerah itu membuat Jeanne ingin berjalan-jalan keluar tapi sayangnya saat ingin keluar Jeanne melihat Jo sedang ada di halaman belakang.
Jadi Jeanne memutuskan untuk tidak berjalan-jalan di halaman belakang yang luas itu karena takut akan merusak perasaan Jo, apalagi Jo sedang mengerjakan berkas-berkas yang diberikan oleh ayahnya dan kembali ke kamarnya
"Ugh... Aku benar-benar bosan... Apa kakak disana masih lama ya..." ucap Jeanne sambil menaruh dagunya ke meja di depannya.
Beberapa kali Jeanne menarik nafas panjang Jeanne benar-benar sangat kebosanan sampai-sampai rasanya seperti tidak ada kegiatan yang bisa Jeanne dilakukan hari ini.
Melihat nonanya yang sangat lesu itu seorang pelayan yang ada di kamar Jeanne, segera berjalan maju mendekat ke arah Jeanne dan sedikit membungkukkan badannya
"Anu... Nona..."
Mendengar suara seseorang seperti memanggilnya Jeanne segera menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Ya?"
"Bagaimana kalau nona melukis saja?" saran dari si pelayan tersebut.
Seketika Jeanne langsung bangkit dan duduk dengan posisi yang sempurna sambil mengembangkan senyum terindahnya.
"Ide bagus.. Tolong bawakan peralatan melukisku ya!" ucap Jeanne dengan sumringah itu.
Sang pelayan pun mengangguk dan mulai berjalan keluar dari kamar Jeanne untuk mengambil perlengkapan melukis milik Jeanne
Beberapa saat kemudian, si pelayan pun kembali sambil membawa kanvas cat air dan perlengkapan melukis lainnya.
Jeanne yang melihat sang pelayan mendekat kemudian langsung berdiri agar si pelayan tersebut bisa menata semua peralatan melukis tersebut di meja dengan rapi
Setelah si pelayan selesai menata semuanya Jeanne segera duduk di kursi yang menghadap ke kanvas. Tapi kemudian Jeanne hanya menatap ke arah kanvas itu tanpa melakukan apapun
Si pelayan pun yang melihat nonanya terdiam itu kembali bingung. Belum sempat si pelayan ingin bertanya kenapa kepada nonanya tersebut. Jeanne menoleh dengan cepat kearah pelayan itu sambil menggembungkan pipinya itu.
"Tapi aku tidak tau mau melukis apa..." rengek Jeanne
Si pelayan sedikit terkejut tapi kemudian si pelayan tersebut tertawa ringan.
"Nona bisa melukis pemandangan di luar misalnya"
Mendengar perkataan dari simpulan tersebut tiba-tiba Jeanne kembali tersenyum sambil menoleh ke arah luar balkon.
Jeanne melihat pemandangan halaman belakangnya yang sangat asri dan juga melihat Jo yang seperti pangeran sedang bekerja di sana.
Kemudian sebuah ide brilian pun muncul di pikiran Jeanne. Sambil tersenyum dan mengambil salah satu kuas, Jeanne pun berkata
"Ah iya kau benar.. Aku akan melukis pemandangan di luar... Ada kak Jo duduk disana seperti seorang pangeran juga... Lukisan ini pasti keren"
Dengan begitu, Jeannepun segera mulai melukis pemandangan dan juga Jo. Si pelayan yang di sebelah Jeanne itu hanya diam dan tersenyum menanggapi nonanya yang manis itu