
Tes
Tes
Tes
Suara air keran yang menetes menggema di seisi kamar mandi. Terlihat kamar mandi yang sangat bersih dan mengkilap. Ini adalah kamar mandi terakhir yang di bersihkan oleh Jeanne. Jeanne terduduk di lantai sambil melihat keadaan kamar mandi yang sudah bersih tersebut. Sambil mengelap keringat yang membasahi kening dan lehernya, Jeanne bersandar pada dinding yang ada di belakangnya.
"Huft... Akhirnya selesai juga!"
Setelah beberapa menit duduk dilantai kamar mandi yang masih setengah kering itu, Jeanne menatap jam tangannya. Alangkah terkejutnya Jeanne melihat pukul berapa sekarang. Sekarang jam di tangan Jeanne menunjukkan jam 4 sore. Ini sudah waktunya pulang sekolah,
'Pantas saja kamar mandi ini sepi dan koridorpun juga begitu'
Dengan sedikit bergegas, Jeanne bangkit dari posisinya dan segera merapikan alat-alat kebersihan.
Setelah merapikan semua alat kebersihan itu dan menaruhnya ke sudut ruangan. Jeanne bergegas keluar dari kamar mandi sambil merapikan seragamnya dan berjalan menyusuri koridor kearah ruangan milik Miss Stephany.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya Jeanne sampai di depan ruangan milik Miss Stephany. Jeanne segera mengetuk pintunya dan kemudian berjalan memasuki ruangan tersebut.
Didalam ruangan tersebut, terlihat Miss Stephany sedang duduk di kursinya sambil mengerjakan beberapa berkas yang tertumpuk di mejanya.
Dengan perlahan-lahan, Jeanne berjalan maju dan mendekati meja Miss Stephany. Sedangkan Miss Stephany yang sedari tadi menatap berkas di depannya, mendongak karena menyadari kehadiran seseorang.
"Oh.. Kau ternyata.. " ucap Miss Stephany sambil melepas kacamata yang terpasang rapi di hidungnya yang mancung itu
"Apa kamar mandi koridor ini sudah selesai kau bersihkan?" tanya Miss Stephany sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Sudah, Miss" ucap Jeanne sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Miss Stephany tampak melihat penampilan Jeanne dari atas sampai bawah seperti mesin scan. Setelah beberapa menit hening, akhirnya Miss Stephany menghela nafasnya panjang dan kemudian mulai berbicara
"Jadi? Apa kau sudah mengerti apa kesalahanmu?"
Mendengar perkataan Miss Stephany, Jeanne yang sedari tadi menunduk mulai perlahan menatap Miss Stephany
"Iya Miss, saya tidak akan mengulanginya lagi"
"Hah.. Yasudah, ambil barang-barangmu dan langsung pulang.. Jangan sampai aku melihatmu bolos pelajaran lagi"
"Baik, Miss"
Jeanne pun segera berbalik dan mengambil tas dan juga ponselnya yang ada di keranjang tadi. Dan kemudian berjalan pelan kearah pintu dan menutup pintunya dengan pelan dan sopan
...----------------...
Jeanne menyusuri koridor dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa sambil beberapakali melihat jam tangan di ponselnya.
Bagaimana tidak tergesa-gesa, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Karl, Arnold dan juga Salzano. Bahkan yang lebih mengejutkan bagi Jeanne, adalah pesan milik Arnold
Lime
Ayah
-Sayang?
-Apa kamu mengikuti kegiatan tambahan? (15.35)
...Panggilan tak terjawab (200x)...
-Kapan kamu pulang? (15.45)
...Panggilan tak terjawab (10x)...
-Ayah akan menjemput mu (16.00)
-Tidak usah dijemput, aku akan segera pulang ayah..(send) (16.15)
"Haduh.... Ayah... Jangan sampai membuat sekolah heboh"
Jeanne mempercepat langkahnya menuju ke arah lobby sekolah. Dari kejauhan Jeanne melihat para guru yang sedang berkerumun dan ada juga beberapa siswa perempuan yang berbisik-bisik
'Semoga saja itu bukan ayah'
Dengan langkah gugupnya Jeanne mendekati kerumunan itu, dan kemudian saat Jeanne mengintip siapa yang ada di tengah kerumunan. Dan kemudian Jeanne bisa sedikit menghela nafas lega karena yang ada di tengah-tengah kerumunan itu bukan ayahnya yang berpenampilan nyentrik
'Ah untung saja bukan ayah'
Kemudian Jeanne melangkah keluar dari lobby sekolah dan menoleh ke kanan-kiri untuk mencari keberadaan Karl atau siapapun itu
"Ah? Masih belum datang ya?"
Tapi saat Jeanne melihat layar ponselnya, ternyata ponselnya kehabisan daya. Dan hal itu membuat Jeanne sedikit kesal dan segera merogoh tasnya untuk mencari charger ponsel miliknya namun nihil.
Charger ponselnya tidak ada di tasnya. Jeanne mendengus sebal karena sepertinya semua nasib buruk menimpanya hari ini.
Jeanne berdiri agak lama di depan sekolah dan langit pun mulai mendung, hal itu membuat Jeanne semakin cemas. Jeanne terlihat mondar mandir di depan pintu lobby sekolah.
Brukk!!
"Aw..."
Saat Jeanne mondar-mandir di depan pintu lobby sekolah, ternyata di arah yang berlawanan ada seorang laki-laki yang memakai helm dan jaket sedang berjalan keluar.
Ya, mereka bertabrakan, walau akhirnya Jeanne yang terjatuh sementara laki-laki itu masih berdiri dengan tegapnya disana
"Ah maaf"
Dengan segera Jeanne menepuk-nepuk pelan roknya dan bangkit. Sementara laki-laki tersebut tampak diam, Jeannepun juga tidak bisa melihat ekspresi ataupun wajahnya dikarenakan helm full face milik si laki-laki itu
"Harusnya aku yang minta maaf, karena sudah mondar-mandir tidak jelas"
".... Jadi apa yang sedang kau lakukan disini?" ucap si laki-laki.
Jeanne mendengar dengan jelas suara tersebut dan segera membuka mulutnya
"Ah aku menunggu jemputan tapi ponselku ternyata mati" ucap Jeanne sambil menunjukkan layar ponselnya yang mati itu pada si laki-laki
Si laki-laki itu membuka kaca helmnya dan sedikit mendekatkan wajahnya ke layar ponsel milik Jeanne. Lalu laki-laki itu merilekskan pundaknya dan menutup kaca helmnya lagi
"Ayo ikut aku.. aku akan mengantarmu pulang" ucap si laki-laki sambil berjalan melewati Jeanne. Setelah beberapa langkah, si laki-laki itu menoleh karena tidak mendengar langkah kaki.
Dan benar saja, Jeanne sedang terdiam disana sambil memeluk tasnya. Si laki-laki itu melihat ekspresi Jeanne yang terlihat seperti seekor anjing yang tersesat itu.
"Hahahaha... Aku bukan orang jahat, aku Alexander Zetsya, ketua OSIS" ucap Alexander sambil tertawa-tawa
Mendengar nama yang di ucapkan oleh Alexander. Jeanne segera mengenali si ketua OSIS itu dan kemudian berjalan perlahan mendekat kearah Alexander sambil berpikir
'Padahal dulu dia orang yang sangat pendiam... Aku tidak tau kalau dia bisa tertawa juga'
"Maaf Alexander..."
"Haha... Panggil aku Zetsya saja, ayo ikut aku ke parkiran dan setelah itu aku akan mengantarmu."
Jeanne hanya bisa mengangguk sambil mengikuti Zetsya dari belakang.
Setibanya di parkiran motor milik sekolah, Zetsya segera menaiki motornya dan menyalakan mesinnya.
"Naiklah"
Jeanne mengangguk dan kemudian Jeanne pun naik ke motor Zestya. Dan mereka berdua pun meninggalkan area sekolah itu
...----------------...
Saat lampu merah, Jeanne mengatakan alamat lengkap tempat tinggalnya pada Zetsya dan Zetsya yang mendengar hal itu menanggapi Jeanne dengan sebuah anggukan kecil.
Hening~
Hanya suara kendaraan lain dan juga angin yang berhembus terdengar sangat kencang di telinga mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, motor yang di kendarai oleh Zestya sudah sampai di depan gerbang utama Mansion milik Keluarga Chevron.
Zetsya segera mematikan motornya agar Jeanne bisa lebih leluasa turun dari motornya tersebut
"Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah"
"Ya tak masalah, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Zetsya sambil mengangguk pelan dan menyalakan motornya.
"Hati-hati dijalan!"
Zetsya mengacungkan jempolnya sebelum pergi melajukan motornya dari depan gerbang Mansion. Jeanne menatap Zetsya sampai punggungnya menghilang dari pandangan Jeanne. Kemudian Jeanne berbalik dan menatap penjaga gerbang.
Penjaga gerbang yang sedari tadi berdiri disana dan sudah membukakan gerbangnya hanya bisa berdiri diam sambil sedikit membungkuk
"Selamat sore nona"
"Ah selamat sore pak, saya masuk dulu ya?"
"Siap nona"
Jeanne dengan riangnya berjalan masuk ke halaman