
Setelah mereka selesai makan siang, Jeanne memutuskan untuk mengirim pesan kepada Karl untuk membawakan seragam bersih tentu saja tanpa menjelaskan alasannya kepada Karl. Karl sempat beberapa kali menanyakan alasan tapi karena tidak ingin membuat khawatir semua orang, Jeanne memilih untuk tetap diam.
Setelah mengirim pesan pada Karl, Jeanne berjalan kearah kamar mandi untuk merapikan penampilannya. Begitu masuk kamar mandi, Jeanne segera menengok kanan dan kiri untuk memastikan kehadiran Vivian dan Noelle.
"Fyuh~ Aman..."
Setelah semua aman, Jeanne segera menatap pantulan dirinya pada cermin itu.
'Benar-benar berantakan sekali...'
Jeanne menatap dirinya sendiri dengan tatapan iba dan berdesis sejenak, melihat penampilannya yang buruk dan acak acakan itu, Karl pasti akan melaporkannya pada Ayahnya. Jeanne segera menggelengkan kepalanya dan memperbaiki penampilannya.
Mungkin jika Arnold melihatnya seperti ini, dia akan melarang Jeanne untuk sekolah seperti anak normal lainnya.
Beberapa menit kemudian, Jeanne akhirnya selesai membersihkan dan merapikan penampilannya, walau bau jus dari rambutnya masih begitu pekat. Jeanne segera mengambil botol parfum yang ada di dalam tasnya dan menyemprotkan beberapa ke rambutnya.
"Apa ini bisa menutupi bau jusnya? ah sudahlah"
Jeanne segera merapikan rambut dan roknya lalu segera keluar dari toilet kemudian mulai berjalan kearah lobby sekolah tanpa Matt.
Sebenarnya Matt ingin ikut tapi dilarang oleh Jeanne, jadi Matt kembali ke kelas untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya.
Untungnya sepanjang koridor tidak banyak siswa yang berlalu lalang. Beberapa siswa yang lewat juga kadang menatap Jeanne dan berbisik-bisik. Melihat hal itu, Jeanne hanya bisa menunduk sambil mempercepat langkahnya.
Langkah kaki Jeanne terdengar sangat nyaring saat menyusuri koridor yang sepi itu. Dan akhirnya Jeanne sampai ke lobby sekolah. Jeanne menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat duduk dan menduduki tempat duduk tersebut.
Sesekali Jeanne menatap layar ponselnya untuk melihat balasan Karl ataupun Jam.
"Karl kemana ya? kenapa lama sekali?"
Jeanne tampak terlihat sangat panik sampai Jeanne berjalan mondar-mandir keluar dari lobby sekolah. Tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Karl.
Ah mungkin sebentar lagi Karl sampai. Aku akan menunggunya beberapa menit lagi
Jeanne kemudian kembali masuk ke lobby dan duduk di tempat duduk yang tadi dia duduki. Jeanne bersenandung kecil sambil menggoyangkan kakinya dan menggenggam ponselnya.
1 menit
5 menit
10 menit
15 menit
Jeanne kembali kebingungan dan menggaruk pipinya karena Karl tidak kunjung datang juga.
Dengan sigap Jeanne segera menyalakan ponselnya dan segera ingin mengirim pesan kepada Karl.
Tapi belum sempat Jeanne mengirim pesan, sebuah tangan memegang tangannya. Jeannepun segera mendongak untuk melihat siapa yang memegang tangannya itu. Jeanne tampak terlihat sedikit terkejut namun juga lega, karena yang memegang tangannya adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut.
Jeanne melirik name-tag guru tersebut yang bertuliskan 'Stephany Almoire' kemudian dengan perlahan menatap mata guru tersebut yang sudah sedari tadi memandangi Jeanne.
"Kau..." dengan nada dingin guru itu menatap Jeanne dengan mata mengintimidasi
"I-iya miss?" Jeanne menjawab dengan gugup dengan tangannya yang mulai berkeringat dan dingin
"Bukannya sekarang masih jam pelajaran ya? Apa yang kau lakukan disini?" ucap Miss Stephany sambil melepaskan genggaman tangannya
"Ah itu Miss... Saya--" ucapan Jeanne terpotong karena Miss Stephany menarik tangannya dengan kasar
"Berdirilah yang tegak! Apa seperti itu sopan santunmu pada gurumu?"
Dengan sedikit terkejut Jeanne segera membenarkan sikapnya dan kemudian menunduk.
"Kau tau apa peraturan di sekolah ini?"
"Ya Miss.."
"Kalau sudah tau, kenapa kau tidak mengikuti pelajaran dan malah bermain ponselmu itu di lobby? Benar-benar besar sekali ya nyalimu ini!"
Miss Stephany bahkan tidak membiarkan Jeanne untuk menjawab atau menjelaskan perihal keadaannya sekarang. Malah Miss Stephany terus mencecar Jeanne dengan 'ceramahnya' itu. Jeanne hanya bisa menunduk pasrah mendengarkan semua hal yang terlontar dari mulut gurunya tersebut.
Miss Stephany juga mengambil ponsel Jeanne, dan berkata akan mengembalikannya saat sudah melakukan hukuman yang akan diberikannya.
Setelah kurang lebih di 'ceramahi' oleh Miss Stephany, Miss Stephany akhirnya berhenti dan menghela nafas panjang.
"Hah~ Ayo ikut aku ke ruang tata tertib"
Miss Stephany segera berbalik badan dan melangkah pergi dari lobby dengan diikuti oleh Jeanne.
Tibalah Jeanne di depan ruang tata tertib itu, Miss Stephany segera membuka pintu ruangan tersebut dan masuk. Sedangkan Jeanne menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk dan berharap bahwa hukuman yang dia terima tidak terlalu buruk.
"Kau ambil alat bersih-bersih itu dan bersihkan semua toilet di koridor ini, jangan lupa letakan tas mu disitu" ucap Miss Stephany sambil menunjuk sebuah keranjang di dekat rak buku.
"Hah~ Anak muda jaman sekarang... " ucap Miss Stephany sambil menggelengkan kepalanya dan bersandar ke kursinya
Di sisi lain, Jeanne berjalan gontai kearah kamar mandi pertama di koridor ini.
Brakk!!
Jeanne meletakkan peralatan tersebut dan melihat kondisi kamar mandi itu. Memang kamar mandinya tidak sekotor dugaannya atau bayangannya selama ini.
Tapi ini adalah pertama kalinya Jeanne melakukan pekerjaan semacam ini dan itu membuatnya sedikit bingung.
"Mulai dari mana dulu ya?"
Setelah agak lama berpikir, Jeanne menepuk-nepuk pipinya pelan dan mulai menggulung lengan seragamnya kemudian mulai membersihkan kamar mandi atau toilet tersebut.
...----------------...
Disisi lain, beberapa waktu yang lalu, ada sepasang mata yang memperhatikan Jeanne. Sepasang mata yang sangat akrab bagi Jeanne namun Jeanne sendiri tidak menyadari keberadaannya. Dan dia jugalah yang menyebabkan ini semua terjadi. Dialah Jo.
Jo menggenggam ponsel ditangannya dengan erat dan tersungging senyum tipis di bibirnya.
Di layar ponsel Jo, terbuka sebuah jendela pesan dan juga ada percakapan disana.
Flash back On
Beberapa menit setelah Jeanne masuk ke toilet untuk membersihkan diri
-Si Cerewet Tua Bangka-
Karl, bisa tolong cek kan berkas perusahaan X.
Jika sudah tolong kirim ke email-ku
Ini sangat penting
Dan tolong jangan banyak tanya
(Send at 13.01)
Kemudian Jo mengikuti Jeanne tanpa sepengetahuan Jeanne.
Bzz Bzzz
Sebuah pesan masuk, dan terlihat jelas di layar ponsel Jo kalau itu dari Karl. Jo dengan segera membuka pesan tersebut.
-Si Cerewet Tua Bangka-
Saya akan mengerjakannya setelah saya mengirim seragam milik Nona Jeanne
(Read)
Jo membaca pesan tersebut sambil menghela nafasnya. Dan kemudian mulai mengetik pesan balasan untuk Karl
-Si Cerewet Tua Bangka-
Aku yang akan mengurusnya
(Send)
Segera setelah Jo mengirimkan pesan tersebut, Jo menaruh ponselnya ke saku celananya dan memperhatikan Jeanne dari kejauhan.
Tap
Tap
Tap
Suara sepatu high heels terdengar nyaring, Jo yang menyadari hal itu segera bersembunyi di balik tumpukan meja di seberang.
"Kau..."
Mendengar suara seseorang guru wanita itu, Jo segera menoleh kearah Jeanne dan ternyata Jeanne sedang di marahi oleh si guru wanita itu.
Jo melihat ekspresi Jeanne yang gugup itu dan kemudian duduk dan bersandar pada dinding sampingnya.
"Yah... Ini sedikit hadiah dariku karena menganggu makan siangku tadi.."
Jo terus mendengarkan semua omelan guru wanita itu kepada Jeanne bahkan sampai Jeanne masuk ke kamar mandi atau toilet sambil membawa peralatan pembersih.
Jo tersenyum puas melihat adiknya yang lemah itu sedikit menderita, itulah kali pertama Jo tersenyum lebar setelah beberapa tahun tanpa ekspresi. Lalu kemudian Jo berbalik dan berjalan pergi kembali ke kelasnya sambil beberapa kali bersenandung kecil
"Ini jadi sedikit menyenangkan"