The Mafia's Twins

The Mafia's Twins
Bab.24 Terima kasih



Jeanne hanya mengangguk sambil berdiri dan membersihkan roknya. Kemudian Jeannepun tak lupa membawa tasnya sendiri. Memang Matt sudah menawari untuk membawakan tas Jeanne tapi Jeanne tetap bersikukuh untuk membawa tasnya sendiri.


Mereka berjalan menuruni tangga dan mencapai pintu dimana mereka masuk tadi dan dengan perlahan Matt membuka pintu tersebut.


Matt menjulurkan kepalanya kedepan untuk melihat situasi koridor tersebut. Matt menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian menghela nafas ringan sambil mengelus dadanya dan menoleh kearah Jeanne.


Matt berjalan kearah luar lalu memberi isyarat dengan tangannya untuk mengikutinya.


"Ah... benar-benar membuat jantungku hampir berhenti berdetak" ucap Matt sambil bersandar di dinding sambil mengelus dadanya.


Jeanne yang berdiri di samping Matt hanya bisa tersenyum lebar dan membiarkan Matt mengambil nafas. Jeanne kemudian menoleh kearah kiri dan melihat bahwa Jo dan 2 teman laki-lakinya berjalan di koridor dan menuju ke arah Jeanne.


"Ah... Ka-!"


Saat Jo melintas di depan Jeanne, Jeanne hendak menyapa Jo dan melambai, tapi itu tidak terjadi karena Jo menatap Jeanne dengan tatapan dinginnya. Melihat tatapan Jo padanya, Jeanne merasa seperti tercekik dan udara tidak bisa masuk ke paru-parunya.


Jeanne kemudian mengurungkan niatnya dan menunduk lesu, tanpa menyapa Jo yang melintasinya ataupun sepatah kata yang terucap dari bibirnya.


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki Jo semakin menjauh dari Jeanne, sedangkan Jeanne hanya bisa menatap punggung kakaknya itu sambil menggigit bibirnya.


Matt yang sedari tadi melihat hal tersebut, mengulurkan tangannya untuk memegang dagu Jeanne sambil menatap Jeanne dengan sendu


"Bibirmu bisa berdarah kalau sekeras itu kau menggigitnya"


Jeanne yang sedikit terkejut segera melepas gigitan di bibirnya dan memegang tangan Matt untuk menjauhkan tangan Matt dari dagunya


"Ah.. Ya..."


Melihat Jeanne yang murung itu, Matt dengan cepat menggandeng tangan Jeanne dan menariknya untuk berjalan mengikutinya.


Lagi dan lagi, karena tingkah Matt, Jeanne sedikit kaget. Tapi kemudian Jeanne hanya pasrah dan segera mengikuti langkah Matt.


"Kita mau kemana lagi Matt?"


"Ke kantin .. Aku lapar hehe"


Mendengar jawaban yang dikatakan oleh Matt, Jeanne sedikit kesal dan hanya bisa tersenyum. Temannya yang satu ini benar-benar tidak bisa ditebak. Tapi di sisi lain dia juga bersyukur karena ada yang menemani dan menghibur dirinya.


Akhirnya merekapun sampai di kantin, kantin sekolah ini memang tidak pernah sepi kecuali saat jam pelajaran.


Kemudian Jeanne dan Matt segera mengantri untuk mengambil piring dan makan siang mereka.


Setelah beberapa menit mengantri, piring Jeanne dan Matt sudah di penuhi oleh makanan dari sekolah yang enak dan sangat bergizi.


Matt segera menatap ke sekelilingnya untuk mencari meja kosong untuk mereka berdua.


"Disana! Yuk Jen.." ucap Matt sambil menunjuk kearah sebuah meja yang kosong di dekat jendela sambil berjalan pelan menuju ke meja kosong tersebut


Jeannepun menoleh kearah yang ditunjuk oleh Matt dan kemudian mulai berjalan mengikuti Matt dari belakang.


" Ah.. si ****** ya..."


Matt langsung terdiam melihat wajah Jeanne yang pucat dan keringat yang mulai membasahi kening Jeanne. Sedangkan Jeanne hanya diam saja dan mencoba mengatur nafasnya. Kenapa Jeanne terlihat sangat ketakutan? karena ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu oleh teman sekolahnya.


Jeanne menarik nafas panjang dan hendak menoleh kearah sumber suara itu tapi kemudian..


Sraaaaaaaahh~


Air dari kotak jus sari buah mangga mengalir dari kepala Jeanne menuju ke wajah Jeanne.


"Ugh..."


"Upss~ Maaf... Tanganku terpeleset.. hahaha"


Matt membelalakkan matanya melihat kejadian yang terjadi di depannya itu. Dengan cepat Matt segera menampik kotak jus buah itu dan menarik Jeanne kebelakang punggungnya.


"Sialan! Kau ini apa-apaan?!" Matt segera menarik kerah baju Vivian yang sedang tertawa itu


Sontak hal tersebut membuat seisi kantin memperhatikan mereka dan dengan segera Jeanne menarik Matt untuk melepaskan cengkeramannya. Tapi usaha Jeanne sia-sia karena Matt mencengkramnya dengan kuat.


Noella yang sedari tadi di sebelah Vivian segera menatap dingin Matt tapi tatapan itu tidak membuat Matt melepaskan cengkeramannya. Sedangkan Vivian terlihat memberontak dan beberapa kali memukul tangan Matt.


"Hey hey... Lepaskan tanganmu!" bentak Noella yang mulai kesal


Kemudian Matt segera menghempaskan Vivian sampai tersungkur dan segera berhadapan dengan Noella


Mata Matt yang tajam dan menusuk itu tidak pernah di tampakkan pada siapapun apalagi pada Jeanne. Melihat tatapan Matt, Noella hampir mundur. Kemudian Noella segera mendorong mundur Matt.


"Sekali lagi kuliat kalian melakukan itu... Aku benar benar akan memukulmu.."


Jeanne kemudian segera menarik tangan Matt untuk menjauh dari Vivian dan Noella, tapi beberapa kali Matt memberontak dan ingin melakukan 'sesuatu' pada Vivian dan Noella. Ketika sudah sampai di meja yang kosong, Jeanne segera menekan pundak Matt agar duduk di kursi.


Dengan tatapan seluruh siswa di kantin ini yang tertuju pada mereka. Jeanne hanya bisa diam dan menunduk sambil membersihkan wajahnya dengan tisu yang ada di atas meja.


Matt memperhatikan Jeanne beberapa saat, sebelum akhirnya dia menghela nafas dan beranjak dari tempat duduknya.


"E-Eh kamu mau kemana--"


Jeanne sempat panik melihat Matt yang berdiri dan pergi dari meja itu, tapi kemudian dia melihat Matt berjalan menuju ke pihak kantin untuk meminta sesuatu yang sesuatu itu adalah handuk putih bersih.


Jeanne menatap Matt yang berjalan perlahan dengan membawa handuk bersih itu kearahnya dengan perasaan campur aduk.


Jeanne menggelengkan kepalanya sejenak sebelum akhirnya tersenyum kearah Matt yang sudah ada di depannya itu.


Matt memberikan handuk bersih itu kedepan Jeanne. Jeanne pun kemudian terlihat mengatur nafasnya lagi sebelum kemudian mendongakkan kepalanya


"Terimakasih" ucap Jeanne sambil suaranya yang terdengar sedikit bergetar itu


Jeanne sambil mengambil handuk itu dan menahan diri agar tidak menangis namun sayangnya air matanya menetes.


Matt segera maju dan mengelus lembut rambut Jeanne, sementara Jeanne mengusap air matanya dan mulai membersihkan jus dari wajahnya itu.


"Aku akan melindungimu meski aku bukan siapa-siapa"


Mendengar perkataan Matt itu membuat hati Jeanne tersentuh tapi Jeanne tidak bisa menjawab perkataan Matt karena pastinya suaranya akan sangat gemetar. Jadi Jeanne mengganggukkan kepalanya beberapa kali.