
Krriieetttttttt
Suara pintu utama Mansion terbuka dan terdengar sangat nyaring. Jeanne melangkahkan kakinya masuk ke Mansion dengan senyum yang mengembang nan manisnya itu.
Tatapan Jeanne terfokus pada ayahnya, Arnold yang sedang terburu-buru memakai jasnya dan ibunya, Felly yang berusaha menahan Arnold. Dan Jo yang terdiam disana melihat tingkah kedua orangtuanya. Sedangkan Salzano beberapa kali tertawa.
Jeanne hanya diam membisu memperhatikan semua itu.
'Mereka tanpa aku... pasti akan benar-benar baik-baik saja kan?'
Senyum sedih terukir di pipi Jeanne, dan tanpa sadar mata Jeanne yang indah itu meneteskan air mata
Tes..
"Ugh..."
Menyadari air matanya yang menetes itu, Jeanne dengan panik berbalik badan dan segera menghapus air matanya.
Disisi lain, Jo melihat kedua orang tuanya yang terlihat seperti kucing yang bertengkar karena anaknya di culik itu dengan tatapan gusar. Jo duduk sambil menaruh dagunya di tangannya.
"Lebay ..."
Kata-kata yang singkat tapi sangat menusuk, ya tapi memang kedua orangtuanya itu terlihat sedikit 'overeacting' begitu tau Jeanne tidak bisa dihubungi. Beberapa kali Jo menghela nafas ringan dengan mata bosannya itu.
Kemudian dari sudut mana Jo terasa seperti ada seseorang di depan sana. Dan kemudian Jo segera mengalihkan pandangannya dan melihat siapa yang ada di depan pintu itu. Jo kemudian menegakkan tubuhnya begitu tau, dia adalah Jeanne.
Jo bangkit dari duduknya dengan malas dan menghela nafas sebelum akhirnya membuka mulutnya.
"Hentikan tingkah kalian berdua, anak kesayangan kalian sudah pulang tuh" ucap Jo sambil berjalan pergi.
Mendengar perkataan Jo, Arnold, Felly dan Salzano serentak menoleh kearah pintu utama. Dan seketika bernafas lega karena melihat Jeanne disana yang sedang memunggungi mereka bertiga.
Felly dan Arnold seketika berlari ke arah Jeanne, Jeanne yang sedang menunduk seketika menoleh begitu menyadari sebuah tangan ada di pundaknya
Jeanne berbalik dan kemudian Felly dengan dramatisnya memeluk Jeanne. Sedangkan Arnold mengelus rambut rambut Jeanne dengan lembut.
Jeanne sedikit terkejut melihat kedua sikap orang tuanya tersebut, tapi kemudian Jeanne membalas pelukan ibunya dan mendongak menatap ayahnya.
Tapi kemudian ekspresi Jeanne berubah karena Arnold di sana sedang memasang tatapan yang sangat-sangat menakutkan.
Kemudian Felly mengendurkan pelukannya dan menatap Jeanne yang sedang menunduk ketakutan.
"Sayang, kamu dari mana saja? Kenapa kamu pulang telat"
Belum sempat Jeanne menjawab, Arnold dengan segera melontarkan beberapa pertanyaan
"Katanya sebentar lagi pulang, tapi kamu lihat sekarang jam berapa? lalu kenapa telfon ayah tidak diangkat? Apa kamu mematikan ponselmu? Memangnya ada ap--"
Ucapan Arnold terhenti begitu Felly mencubit pinggang Arnold dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Sayang, jawabnya pelan pelan saja ya" ucap Felly sambil memeluk pundak Jeanne dan mengarahkan Jeanne untuk duduk di sofa.
Dengan perlahan-lahan, Jeanne duduk di sofa. Dengan ayahnya yang duduk di kursi sebrang dan juga ibunya
Setelah beberapa menit hening, Jeanne menarik nafas dalam-dalam sebelum kemudian mengangkat wajahnya dan membuka mulutnya
"Maaf ayah, ibu dan kakak... Aku sudah membuat kalian khawatir. Aku tadi dihukum dan ponselku kehabisan daya" dengan sekali nafas Jeanne mengucapkannya
"Aku lupa membawanya"
"Jeanne apa kamu tau, kamu sangat ceroboh.. Aku bahkan menyuruh Karl dan Teressa untuk menyusuri seluruh kota" ucap Arnold sambil mengusap wajahnya kasar dan kemudian berdiri sambil mengambil ponsel Arnold yang ada di kantongnya. Jeanne berpikir Arnold pasti menelfon Karl dan Teressa dan menyuruh mereka kembali.
Jeanne sangat sangat merasa bersalah karena sudah membuat banyak orang khawatir, apalagi sampai merepotkan Karl dan Teressa. Sementara ibunya, Felly tidak bisa apa-apa dan hanya bisa pasrah melihat anaknya itu
"Kalau begitu, mandi kemudian langsung makan. Pelayan akan mengantarkan makan malammu"
Jeanne yang mendengar hal itu mengangguk paham dan kemudian membawa tas dan mengambil ponselnya yang dia tadi taruh di meja. Jeanne berjalan kearah kamarnya dengan langkah gontai dan lesu
Felly dan Arnold juga tidak bisa apa-apa, ini dilakukan agar Jeanne bisa mandiri dan bisa bertanggung jawab. Walaupun sejujurnya mereka sangat khawatir tapi ini harus dilakukan. Felly dan Arnold kemudian saling menatap dan kemudian pergi.
......................
KLAK
Suara pintu kamar terbuka, Jeanne masuk ke kamarnya dengan langkah gontai sambil menyalakan lampu kamarnya. Jeanne berjalan kearah meja di pojok kamarnya untuk menaruh tasnya. Kemudian pandangannya tertuju kepada charger berwarna tosca yang tertata rapi disana
"Hah... Gara gara kamu... Kenapa kamu ga loncat ke dalam tas ku sendiri sih?" ucap Jeanne sambil mendengus sebal.
Jeanne kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan badannya yang terasa sakit semua itu ke tempat tidurnya yang sangat empuk dan besar itu.
Jeanne menatap langit langit kamarnya, teringat momen saat dia dan Zetsya bercengkrama dengan santainya di atas motor yang melaju itu. Walau kadang mereka berdua tidak mendengar perkataan satu sama lain karena kencangnya angin.
Tapi itu cukup membuat Jeanne penasaran dan juga kebingungan. Kenapa sifat dan tingkahnya berbeda begitu ada di depan kelas? Saat Jeanne terhanyut dalam pikirannya sendiri, sebuah ketukan pada pintu membuyarkan pikirannya begitu saja
Tok tok tok
"Nona..."
Sebuah suara terdengar dari sisi lain pintu, dan dengan sigapnya Jeanne segera bangkit dan berlari kecil kearah pintu kemudian membukakan pintunya
Begitu Jeanne membukakan pintunya seorang pelayan dengan troli makanan masuk ke kamar Jeanne dan diatas troli tersebut tersaji makanan dan juga Pai lemon kesukaannya
Melihat Pai lemon itu, senyum Jeanne pun mengembang dan merekah seperti sebuah mawar. Pelayan tersebut undur diri dan tak lupa sedikit membungkuk sebelum akhirnya pergi dari kamar Jeanne
"Woah... Pai lemonn~"
Dengan bahagianya Jeanne, segera menyantap makanan yang tersedia diatas troli makanan tersebut sampai habis.
Semua perasaan buruk yang melanda hati Jeanne tampak hilang seketika saat melihat sebuah Pai lemon cantik itu.
Setelah beberapa menit berlalu, semua makanan sudah habis dan piringnya bersih tanpa sisa. Disamping makanan tersebut enak, semua makanan itu adalah kesukaan Jeanne.
"Woah... kenyangnya..." ucap Jeanne sambil menepuk-nepuk pelan perutnya yang membuncit itu.
Kemudian Jeanne bangkit dari duduknya dan berjalan kearah balkon kamarnya dan membuka balkon tersebut untuk menghirup udara segar.
Jeanne melihat ke arah langit, langit yang begitu cantik dengan bulan sabit dan satu bintang yang bersinar paling terang disisinya
Jeanne menatap bulan dan bintang itu beberapa saat, kemudian Jeanne berjalan masuk ke kamarnya dan mengambil handuk.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Jeanne mendorong troli makanan tersebut keluar dari kamar dan menaruhnya di dekat pintu.
Jeanne masuk ke kamar mandi dan kemudian berendam di bathtub nya sambil memutar alunan piano. Jeanne merendam kepalanya masuk ke dalam bathub yang penuh dengan air hangat dan beberapa essence yang sangat wangi itu